Di Balik Jilbab Panjangmu

By On Thursday, March 16th, 2017 Categories : Cerita

Hampir 2 tahun aku mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas di kotaku ini. Sekarang aku duduk di bangku kelas XI-IPA, tentunya selama ini aku memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman. Teman-teman biasa memanggilku Luna, tepatnya Luna Dwi Mahayani. Aku memiliki 2 orang sahabat yang sangat menyayangi dan peduli denganku, mereka tak lain ialah Mia dan Safa. Tanpa mereka mungkin setiap hari aku akan meneteskan air mata.

Bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai, aku memutuskan untuk tetap di kelas walau perutku melilit karena lapar. “Lun, kamu enggak ke kantin?.” Tanya Mia. “Enggak, aku di sini aja lagi males, kalian duluan aja.” Jawabku tenang seraya mengisyaratkan untuk pergi. “Ya udah, aku turun duluan ya.” Ucapnya pergi. Aku membalasnya dengan senyuman.

Setelah hampir 10 menit, sesekali kutengok pintu ruangan tetapi mereka tak kunjung datang dan membuatku merasa kesepian. Sejenak, dan aku memutuskan untuk menyusul mereka di kantin. Ketika aku melangkahkan kakiku untuk ke luar aku berpapasan dengan seorang siswi berjilbab panjang dengan raut wajahnya yang cantik, dan beberapa snack di tangannya. Selama ini aku tidak pernah menjumpainya apalagi mengenalnya. Mungkin karena siswanya yang terbilang ratusan hingga membuatku tak kenal satu sama lain. “Dia siapa?” Ucapku dalam hati. Aku berniat untuk mengejar langkahnya, tapi apa daya langkahnya begitu cepat membuatku hilang pandangan. Dari jauh aku hanya mendengar seseorang yang bercakap-cakap dalam ruangan, entah siapa. Tetapi saat itu aku tidak menghiraukannya dan memilih untuk pergi.

Jam istirahat telah usai, aku dan kedua sahabatku memasuki kelas dan menanti datangnya guru favoritku tak lain ialah Pak Anto guru Matematika. Dan saat itu aku memilih untuk ngobrol dengan Safa, sementara Mia memilih untuk keluar ruangan. “Safa, kamu tahu nggak, siswi yang pakai jilbab panjang itu, dia cantik banget.” Ucapku kagum. “Oh.. iya tahulah, dia itu Nita. Tak cuma itu dia juga pandai.” Jawabnya tenang. “Oh ya… cantik ya orangnya, sholihah Fa, auratnya tertutup semua.” Balasku. “Memang sih cantik, tertutup semua auratnya, tetapi asal kamu tahu, dia berstatus pacaran.” Ucapnya membuatku tersentak kaget. “Pacaran? mana mungkin Fa, dia sholihah lihat auratnya aja tertutup semua, jilbabnya menjulur panjang, jangan bercanda donk.” Jawabku tak percaya berharap ucapannya itu tidak benar. “Jangan tertipu dengan penampilan seseorang.” Ucap Safa seraya menoleh ke arahkku. “Lalu… tapi dia itu seorang muslimah Fa.” Ucapku meyakinkan Safa. “Memang dia muslimah, lalu kenapa?” Jawabnya singkat. “Apa Seorang muslimah berpacaran?” Tanyaku serius. “Menurutmu.” Tanyanya balik. Aku tidak menjawabnya, hanya memikirkan satu jawaban yaitu TIDAK.

Aku segera bangkit dari dudukku dan memutuskan untuk melihatnya, Aku menoleh kesana kemari tapi aku tak kunjung menemukannya. Mataku tertuju pada salah satu ruangan yang terbuka, di sana aku melihat siswa maupun siswi. Ada yang membaca, menulis, ngobrol, dan di sana pula aku melihatnya, meski hanya kulihat dari jilbabnya aku mengenalinya. “Dia itu kan?” Ucapku terkejut ketika aku melihatnya duduk berdampingan dengan seorang lelaki, tak lain adalah kekasihnya. Aku melihatnya tak percaya dan aku berusaha memperjelas pandanganku. Ketika aku membuka mata aku melihatnya begitu jelas, menyuapi kekasihnya, ketawa bareng dan lelaki itu mencubit pipinya yang halus itu dengan manja, aku menatapnya dan mereka terlihat semakin romantis. “Apa ini namanya seorang muslimah?” Ucapku lirih.

Detik berganti menit dan menit berganti jam. Pelajaran hari ini telah usai, Pak Anto mengakhiri pembelajarannya dan bangkit untuk keluar ruangan. “Pak Anto, tunggu.” Panggilku. “Bolehkah saya bertanya.” Tanyaku. “Iya, tanya apa Luna,” Jawab pak anto. “Apakah seorang muslimah itu harus berjilbab panjang dan haruskah menjalin hubungan berpacaran.” Ucapku jelas. “Tidak!!!” Jawabnya tegas. “Kenapa pak.” Balasku. “Luna, seorang muslimah itu adalah seorang wanita yang menutup auratnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, selain wajah dan telapak tangan. Seperti yang kamu katakan berjilbab panjang. Tetapi seorang muslimah tidak akan pernah berpacaran, karena kamu tahu pacaran itu hukumnya haram. Jadi, percuma jika kita berjilbab panjang tertutup aurat kita, tetapi di balik itu kita menjalin hubungan dengan yang bukan mahrom kita.” Jelasnya tenang seraya berusaha membuatku mengerti akan maksudnya.

“Betapa hinanya mereka. Ternyata di balik itu mengandung sejuta kemaksiatan.” Ucapku dalam hati. “Mereka yang berjilbab tetapi berpacaran sama halnya dengan maksiat, dan Luna… Memang di hadapan kita akan terlihat sangat memesona, cantik, anggun, sholihah tetapi di hadapan allah mereka sangat hina, karena mereka mengotori sejatinya seorang muslimah.” Jelas Pak Anto.
Sekarang aku tahu, seorang muslimah sejati pasti akan menjauhkan dirinya dari sentuhan lelaki yang bukan mahromnya serta akan menutup segala auratnya.