Dari Buku KKPK Menjadi Sahabat

By On Friday, March 10th, 2017 Categories : Cerita

“Hai! namaku Afhseen Myesha Frisca. Panggil aku Myesha. Aku pindahan dari Sdn Bina Cerdas. Nama ayahku Afif, umiku bernama Fifa. Aku mempunyai kakak yang bernama Yunny. Oya alamat rumahku di sini Perum Bukit Permata blok BB 109 Rt 3 Rw 5. Aku harap kalian bisa berteman baik denganku. Sekian,” perkenalan di kelas 5-1 Sdn Bangsa Cemerlang. Namanya Myesha.
“Ok, Myesha. Kamu duduk sama Feni. Yang memakai kerudung berkacamata yang di barisan 3 bangku nomor 3!” perintah wali kelasnya, bu Zintya. Myesha menuruti perintah wali kelasnya yang baru.

“Halo! namaku Fenindya Zhirra! Salam kenal,” sahut Feni pada Myesha.
“Halo! aku Myesha! salam kenal juga!!” sahu Myesha.
Mereka mulai pelajarannya.

Ting.. Tong.. Bell…
Bel istirahat berbunyi. “Eh, ke kantin, yuk, Sha!” ajak Feni. Myesha mengangguk. Mereka menuju kantin.

Usai membeli makanan, mereka makan di kelasnya. “Sha, mau nggak jadi sahabatku?” tanya Feni yang mulutnya masih dipenuhi makanan. “Hush! dikunyah dulu baru ditelan, Fen!” tegur Myesha lembut. “Mau nggak?!” tanya Feni lagi. “Iyalah,” ujar Myesha. Mereka pun jadi sahabat.

Pada menginjak hari ke 11 persahabatan mereka hampir rapuh. Semakin hari semakin jauh. Myesha bingung, apa salahnya? Pada hari kamis, kebetulan Feni ada acara keluarga. Jadi ia duduk sendiri. Sebelum masuk kelas, Myesha membaca buku KKPK yang dibawa dari rumah. Ia membaca di bangkunya.

“Hai Sha! lagi baca, ya?” sapa teman sekelasnya, Hayfana Salvira Anjani atau Hayfa. “Hai Fa! iya lagi baca buku KKPK,” kata Myesha yang masih menatap lembaran buku KKPK. “KKPK? apa itu KKPK, Sha?” tanya Hayfa yang sudah duduk di samping Myesha. “KKPK itu, singkatan dari Kecil-Kecil Punya Karya. Kayak buku cerita, tapi ada gambarnya setiap bab. Banyak pilihannya!” jelas Myesha. “Owh… Ehem, boleh minjem, tak?” tanya Hayfa. “Boleh! kebetulan, aku bawa 3,” katanya seraya mengambil buku KKPKnya dari tas, lalu diberi keHayfa. Mereka baca bersama. “Kamu kutubuku, ya Sha?” tanya Hayfa disela membaca. “Iya!” jawab singkat Myesha. Semenjak itu, Hayfa sering meminjam buku KKPKnya.

Sementara Feni, belum baikan. Malah, Feni mengajak salah satu teman kelas 5-1, namanya Tyas untuk duduk bersama. “Coba, Hayfa ngajak aku duduk bareng samanya. Kebetulan, Ita (teman sebangku Hayfa) pindah ke Sekolah lain,” pikir Myesha sembari duduk di kursi depan kelas. Kebetulan, kelasnya belum dibuka. Tak lama, kelas pun dibuka. “Sha, duduk bareng ama aku, yuk!” ajak Hayfa. Myesha menganggukan kepala. “Ternyata, Hayfa bisa baca pikiranku! Hihihi…,” gumam Myesha dalam hati.

Sejak saat itu, Myesha dan Hayfa bersahabat. Tak ada yang bisa memisahkan. Bahkan, mereka membuat janji bahwa tak ada yang bisa memisahkannya kecuali maut. Myesha bisa melupakan Feni. Feni menyesal karena memusuhi Myesha. Sebenarnya, Feni terhasut omongan Gerrla, teman sekelas. Gerrla memang membenci Myesha.