Danau Tinta

By On Friday, March 3rd, 2017 Categories : Cerita

Duduk di atas rumput tebal berwarna hijau. Memandang danau yang terlihat sangat luas. Suara burung berkicau seakan sebuah melodi dalam lagu yang membuatku banyak terinspirasi. Meja kecil berada di depanku dengan laptop yang seakan terduduk di atas meja kecil itu. Teknologi semakin berkembang begitu pesat. Tak perlu pena atau kertas untuk menuliskan huruf demi huruf yang sudah menumpuk di otak. Kini dengan benda canggih yang disebut laptop, kita bisa mengeluarkan apa yang ada di otak maupun di hati kita merangkainya menjadi kata-kata Indah.

Beberapa paragraf sudah tersusun rapi, kata demi kata pun sudah terangkai indah di layar laptop di depanku. Walau tak menggunakan pena lalu menggoreskannya pada kertas, dengan cara menekan keyboard pada laptop itulah caraku menulis. Menulis banyak cerita pendek yang setiap hari bahan ceritanya selalu memenuhi otak dan memaksaku untuk mengeluarkannya pada laptop itu.

Awal aku menyukai menulis dimulai sejak aku duduk di bangku kelas 10. Dimulai dari pertama kali seorang sierra jatuh hati pada seorang pria yang yang bernama yusuf. Namun cintaku tak berbalas. banyak orang yang menganggap kalau itu sangat menyakitkan. Ya itu benar, karena sakit itulah aku mulai menulis apa yang menyakitkan itu, membuat karangan cerpen dari kisah nyata itu, yang pada waktu itu berjudul “Bagai Tersenyum pada Angin”.

Dari SMA hingga sekarang duduk di bangku kuliah dengan jurusan Bahasa dan Sastra, tempat yang selalu aku datangi adalah tempat dimana aku mulai menulis cerita-cerita pendek. Walau aku berbeda dengan gadis-gadis seumuranku yang lebih banyak memegang atau membawa handphone dari pada laptop, namun aku lebih menyukai laptop daripada handphone atau smartphone walau massanya jauh lebih berat daripada handphone tapi aku rasa ringan jika memang menyukainya. Gadis-gadis seumuranku lebih suka membuka instagram, line, bbm, wa atau membuat banyak status galau pada facebook, apa artinya semua itu? Sedangkan Aku? Aku lebih suka membuka microsoft word, menekan tombol-tombol keybord lalu merangkainya menjadi kata-kata Indah penuh majas dan rima.

Sebelumnya aku merasa jenuh ketika sekolah, dimana aku tak seperti kakaku satu-satunya yang bernama meri yang sangat pintar yang selalu mendapat prestasi ketika SMA. Tak satupun prestasi bisa kuraih, setiap ulangan selalu remidial kecuali satu pelajaran yang rasanya tak pernah kurang dari KKM yaitu pelajaran B. Indonesia. namun dengan menulis kejenuhanku hilang tanpa syarat, walau kelebihan hanya setitik tinta pada kertas tapi setidaknya ada warna tinta pada kertas itu tak membuatnya kosong seperti sebelumnya.

Dulu ketika sd maupaun smp, cita-citaku ingin menjadi seorang dokter, namun ketika aku mulai mendatangi danau itu cita-cita itu terganti dengan cita-cita baruku yaitu menjadi seorang penulis. Impianku adalah membuat banyak novel yang menginspirasi banyak orang, membangunkan yang tidur, menerangi yang gelap, mengisi kekosongan ataupun membuat pelangi dalam awan hitam. Walau hanya satu novel yang berhasil aku buat ketika duduk di bangku SMA, dengan judul yang mungkin banyak orang berkata “membosankan” juga novel yang tak terlalu laku karena ya memang novel yang sama sekali tak ada apa-apanya dibanding novel pengarang karya Asma Nadia, namun aku cukup bangga telah menyelesaikan satu novel itu.

Tak hanya terus menulis, doa pun selalu aku panjatkan di 1/3 malam terakhir, berdoa agar cita-citaku tercapai juga impian besarku bisa tercapai mulus tanpa halangan dan rintangan yang menghalangi. Tak malu berkata kepada ayah dan ibu untuk mendoakan aku agar menjadi seorang penulis. Tak banyak orang melakuan itu, tapi bukankah meminta doa kepada orang tua terutama ibu itu baik bukan. Ibu dan ayahku kadang bercanda dalam gurauan mereka, kadang berbicara “kemari penulis!” Atau kadang-kadang ayah bertanya yang banyak orang menganggap pertanyaan yang sangat konyol namun bagiku bermakna banyak arti, seperti “apa novelmu yang ke 17 sudah selesai dicetak?”.

Pertanyaan yang banyak orang menganggapnya sebagai pertanyaan konyol, kini menjadi pertanyaan yang pantas diucapkan oleh banyak orang, bertanya tentang novelku yang ke-17. Menyelesaikan 17 novel setelah lulus kuliah merupakan suatu kebanggan bagiku. Walau tak sebagus dan sebaik karya Asma Nadia. Ke 17 novel itu hampir semua bagian kata per kata, kaliamat per kalimat dan paragraf per paragraf kutulis di danau tinta. Aku sering menyebutnya dengan danau tinta, karena Danau itu seakan tinta yang banyak tergores pada kertas duniaku, di sanalah aku mulai menulis juga selanjutnya menulis 17 novel yang insyaallah menginspirasi banyak orang. dan novelku yang 17 berjudul “danau tinta” terinspirasi dari tempat yang selalu ku jadikan sebagai markasku untuk menulis.