Dampak Globalisasi Terhadap Kaum Perempuan

By On Sunday, April 16th, 2017 Categories : Sains

Fenomena globalisasi secara terminologis dapat dimaknai sebagai intensifikasi relasi-relasi sosial seluas dunia yang menghubungkan lokalitas-lokalitas berjauhan sedemikian rupa sehingga peristiwa di satu tempat ditentukan oleh peristiwa lain yang terjadi bermil-mil jaraknya dari tempat tersebut dan sebaliknya.

Terminologi ini menekankan karakteristik khusus globalisasi yang menjadi ruang hidup manusia modern yang ditandai oleh keluasan (extencity), kekuatan (intencity), kecepatan (velocity), dan dampak (impact) yang luar biasa dan yang belum terbayangkan sebelumnya.

Fenomena globalisasi dipicu oleh kemajuan industri, teknologi informasi, dan transportasi sehingga limitasi jarak kini bukan menjadi hambatan (borderless). Jika ditilik dari sisi ini globalisasi seakan-akan menjadi fenomena sosial lainnya, pada dirinya terkandung paradoksal dan ambivalensi.

Paradoks dan ambivalensi ini terlihat manakala fenomena ini ditempatkan pada tataran relasi-relasi antarindividu dan relasi-relasi antarnegara yang telah direduksi hanya pada dimensi ekonomi.

Dominasi karakteristik ekonomi pada fenomena globalisasi inilah yang semestinya perlu dicermati karena kini telah berkembang menjadi isme yang dikenal dengan sebutan neoliberalisme.

Pada awalnya, neoliberalisme pertama-tama bukan urusan ekonomi, tetapi suatu proyek filosofis yang beraspirasi menjadi teori komprehensif tentang manusia dan masyarakat. Dengan kata lain neoliberalisme suatu bangunan ideologi tentang manusia dan pengaturan masyarakat.

Namun relasi-relasi kultural, politik, legal, sosial, psikologis, estetik, spiritual, dan lainnya ditopang oleh transaksi laba rugi yang berlaku dalam kinerja ekonomi pasar.

Kemudian, neoliberalisme diproyeksikan sebagai desain kerangka normatif tentang bagaimana manusia dan tata masyarakat harus menjadi melalui: pertama, dengan proyek normatif memandang semua relasi manusia sebagai relasi pasar, neoliberalisme mengajukan sosok homo eoconomicus sebagai teori kodrat manusia dalam semua bidang kehidupan manusia. Kedua, setiap manusia perlu mengubah dirinya sesuai idiom pasar dan bisnis.

Artinya setiap apa saja yang melekat padanya adalah modal (capital) yang mesti diubah menjadi laba. Ketiga, karena setiap manusia dipandang sebagai homo eoconomicus, maka kemiskinan disebabkan kesalahan manusia itu sendiri.

Kemiskinan bukan masalah sosial, melainkan kegagalan mengubah asset diri menjadi laba.

Solusinya bukan social welfare, tetapi individual self-care. Keempat, sesudah homo eoconomicus menjadi model perilaku manusia, maka Pemerintah juga harus dirubah menjadi pemerintah ekonomi (economic government).

Negara/pemerintah sebagai perusahaan adalah idiom khas neoliberal. Perubahan ini membutuhkan landasan hukum melalui hukum yang mengatur aspek-aspek tata Negara (hukum tata Negara).

Kelima, perentangan prinsip pasar merambah tidak hanya pada bidang-bidang yang secara tradisional bukan wilayah ekonomi, tetapi juga menciptakan cabang serta ranting transaksi-transaksi baru yang sudah ada.

Dengan kata lain dari suatu proses transaksi pasar diciptakan beberapa subtransaksi, kemudian dikembangkan berbagai sub-sub transaksi lain. Melalui proses ini muncul apa yang disebut ekonomi maya dengan buihnya yang sama sekali tidak punyai kaitan apapun dengan perkembangan ekonomi sektor riil.

Dampaknya Terhadap Kehidupan Perempuan
Beralihnya fungsi pemerintah sebagai pemegang kewajiban pemenuhan social welfare menjadi tanggung jawab individu (self-care) berdampak marginalisasi kelompok-kelompok rentan seperti kelompok perempuan, kelompok anak, kelompok miskin, dan kelompok rentan lainnya. Marjinalisasi ini dikarenakan kelompok rentan ini tersingkir tidak saja oleh kinerja prinsip daya beli menentukan jaminan penikmatan hak, tetapi juga oleh penghapusan jaring pengaman sosial.

Fenomena komodifikasi melalui mekanisme pasar layanan sosial mendasar seperti pendidikan, kesehatan, permukiman, air bersih, pangan yang kini terjadi merupakan bukti empiris marjinalisasi kelompok rentan. Kondisi ini diperparah dengan politik kebijakan anggaran publik yang menghilangkan subsidi layanan sosial mendasar dan subsidi lain yang dibutuhkan untuk menopang kehidupan warga negara.

Doktrin neoliberal menganggap alokasi anggaran tersebut dianggap membuang sumber finansial secara cuma-cuma yang sebenarnya bisa dialokasikan ke sektor lain yang lebih menguntungkan dan berpotensi mengakumulasi peningktan keuntungan ekonomis.

Dampak sistem ekonomi neoliberal terhadap pengalaman perempuan dalam perspektif feminisme berbeda satu perempuan dengan perempuan yang lain. Oleh karenanya dalam menganalisis dampak tersebut harus berangkat dan merujuk dari pengalaman perempuan itu sendiri. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai feminisme yang menitikberatkan pada pengetahuan dan pengalaman individu perempuan.

Seiring dengan fenomena globalisasi, muncul feminisme global guna menjawab penindasan terhadap perempuan akibat dari kebijakan dan praktik-praktik globalisasi.

Feminisme global menekankan bahwa penindasan terhadap perempuan di satu bagian dunia seringkali disebabkan oleh apa yang terjadi di bagian dunia yang lain.

Charlotte Bunch mengidentifikasi 2 (dua) tujuan jangka panjang feminisme global:
Hak setiap perempuan atas kebebasan memilih, dan kekuatan untuk mengendalikan hidupnya sendiri di dalam dan di luar rumah. Memiliki kekuasaan atas hidup dan tubuh perempuan sendiri merupakan hal yang esensial untuk memastikan adanya rasa kebanggaan dan otonomi pada setiap perempuan
Penghapusan semua bentuk ketidakadilan dan penindasan dengan menciptakan tatanan sosial dan ekonomi yang lebih adil secara nasional dan internasional. Hal ini berarti keterlibatan perempuan dalam perjuanagan kebebasan nasional, dalam perencanaan pembangunan nasional, dan perjuangan bagi perubahan di tingkat lokal dan global