Dalem Yang Mengajariku Banyak Hal

By On Friday, March 17th, 2017 Categories : Cerita

Manda adalah seorang anak kota yang masih duduk di kelas 4 bangku Sekolah Dasar. Sejak kecil segala kebutuhan Manda tercukupi dengan lengkap, maklumlah, karena sang ayah bekerja sebagai Wakil Direktur di sebuah perusahaan ternama, begitupula dengan sang Bunda, adalah seorang pengusaha kue yang memiliki toko sendiri. Apa yang Manda inginkan selalu dipenuhi oleh kedua orangtuanya. Itulah penyebab sifat kemanjaan yang saat ini melekat pada diri Manda.

Setiap hari Manda berangkat ke sekolah diantar oleh sang Ayah dengan mobil mewahnya. Tapi pagi ini ia harus berangkat sendiri dengan sebuah taksi yang sudah dipesan oleh Ayahnya.

“Bunda… Ayah kemana si kok udah jam segini belum siap? Kalau Manda telat gimana?”, Tanya Manda kepada sang Bunda…
“Ayahmu sudah berangkat nak, Karena dia pagi ini harus memimpin rapat” jawab Bunda ..
“Terus aku berangkat dengan siapa? Masa iya harus jalan kaki” sahut Manda dengan nada jengkel…
“Sejak kapan Manda mau pergi ke sekolah dengan jalan kaki nak?, lagian mana mungkin sih ayah sama bunda, membiarkan kamu untuk pergi ke sekolah jalan kaki?, ayah tadi sudah memesankan kamu sebuah taksi, ayo cepat berangkat, kasihan lo pak supir sudah menunggumu dari tadi” jawab Bunda
“yah .. taksi lagi” ucap Manda dengan keluhan.
“Manda Sayang, seharusnya kamu bersyukur, lihat di luaran sana masih banyak orang yang kurang beruntung, ayolah sayang mulai sekarang hilangkan sifat manjamu” Bunda mencoba menasehati…
“iya iya bunda..” sahut Manda
Manda pun akhirnya berangkat ke sekolah dengan sebuah taksi yang sudah dipesan oleh sang Ayah..

Berbeda dengan kehidupan Manda yang penuh dengan kemewahan, di tempat lain di sebuah Desa yang bernama desa Dalem hidup seorang anak kecil yang seumuran dengan Manda, dia bernama Surti.
Kehidupan Surti memang jauh berbeda dengan Manda. Abah Surti yang hanya bekerja sebagai buruh tani, dan sang emak yang hanya penganguran. Kehidupan keluarga Surti memang hampir sama dengan keluarga lainya, yang berada di desa Dalem, yaitu sederhana dan Pas-pasan. Namun demikian Surti selalu bersyukur dan hidup bahagia, karena dia dapat tinggal di sebuah desa yang Makmur, tentram, dan masih menjaga kelestarian budaya seperti desa Dalem ini.

Hari itu Ayah manda mendapat sebuah tugas baru dari sang atasan, dia ditugasi untuk memperluas cabang produksi, dengan membuat cabang baru di sebuah desa, desa itu adalah desa Dalem, tempat dimana Surti dan keluarganya tinggal. Dengan otomatis keluarga Manda akan juga berpindah dari kota ke desa Dalem.

Ketika sedang makan malam ayah manda menyampaikan hal tersebut kepada Bunda dan Manda. Namun ketika mendengar hal itu reaksi Manda langsung menolaknya.

“Bunda, Manda .. ayah mendapat tugas dari kantor, ayah ditugasi untuk memperluas cabang perusahaan di sebuah desa yang jauh, yaitu desa Dalem, jika ayah mendapat tugas seperti itu kita berarti harus pindah juga ke desa itu.” kata Ayah
“Apa yah? Kita akan pindah ke desa? Pokoknya Manda enggak setuju! di Desa itu enggak enak yah, anaknya kumel-kumel, nggak ada supermarket buat shoping, lagian temen Manda di sini sudah banyak yah, Manda di sana nanti nggak punya temen” sahut Manda yang tidak setuju dengan pernyataan sang ayah…
“tapi nak, inilah tugas Ayah.., ayah harus mengabdi kepada atasan ayah, lagi pula kalau masalahnya hanya karena supermarket atau teman baru itu mudah untuk diatasi nak, nanti di sana kamu akan mendapat teman baru” jawab Ayah dengan nada membujuk.
“iya nak, benar ayahmu.. sudahlah Manda.. seiring berjalanya waktu, manda akan betah di desa, di desa kan enak, udaranya sejuk dan masih bersih. dari pada di kota” kata Bunda yang juga membujuk Manda.
“pokoknya Manda nggak mau..” jawab Manda dengan nada yang menggerutu.
Manda menolak untuk pindah ke desa, namun setelah berhari-hari sang Ayah dan Bunda membujuknya, akhirnya dia mau dan bersedia pindah ke desa, walupun itu ia lakukan dengan rasa terpaksa.

Akhirnya keluarga itu pun pindah dari kota yang penuh kebisingan, ke sebuah desa asri yang penuh dengan kesejukan dan ketentraman. Manda juga pindah sekolah, tapi di sekolah barunya ini manda tidak mempunyai teman, karena Manda tak ingin berteman dengan mereka anak-anak desa. Dia malah menyibukan diri dengan barang-barang dan alatnya yang canggih. Hingga akhirnya Surti si Anak yang baik hati itu mengajak Manda untuk berteman.
“hai, kamu Manda ya? Anak kota yang baru pindah kesini? Perkenalkan aku Surti, aku ketua kelas di kelas ini, selamat datang ya Manda semoga kamu betah di sini” kata Surti dengan penuh senyuman
“Iya, nggak enak ya di sini, desanya terpencil sekali, nggak ada apa-apanya. Enak di kota peralatan seraba canging, banyak maianan bagus-bagus” ketus Manda
“Bukannya tidak enak, di sini enak kok, hanya saja Manda belom terbiasa dan Manda terlalu meyibukan diri dengan barang-barang Manda yang dari kota itu, kalau Manda ingin bermain aku mau kok mengajak Manda untuk mengenal desa ini lebih jauh, agar Manda betah di sini” ajak Surti.
Awalnya Manda menolaknya, tapi kemudian setelah iya berpikir, tak ada salahnya menerima tawaran Surti, barangkali dia akan betah tingaldi desa ini.

Pagi itu hari minggu Surti mengajak Manda untuk ke pasar, mereka berjalan kaka, di tengah perjalanan mereka melihat seorang yang sedang membajak sawah dengan kerbaunya. Bagi Surti hal itu sudah biasa, namun bagi Manda sang anak kota itu merupakan pemandangan yang asing sekaligus mengasyikan

“Sur.sur. itu orang membajak sawah ya? di kota enggak ada yang seperti ini, aku baru kali ini melihat pak tani yang membajak sawah dengan kerbau secara langsung, biasanya aku hanya mendengar hal itu dari guruku, atau mungkin hanya melihatnya di TV, tapi kali ini aku melihatnya secara langsung.” kata Manda dengan penuh kegembiraan.
“iya Man, itu sudah menjadi sebuah kebiasaan warga di sini setiap musim panen, karena setelah mereka memanen padi mereka akan menanamnya kembali, tapi sebelum ditanami tanaman padi, tanahnya harus dibajak terlebih dahulu, di desa ini semuanya masih sederhana, warga di sini tidak ada yang mengunakan mesin untuk membajak, jadi setiap membajak sawah mereka memanfaatkan tenaga dari kerbau” jelas Surti..
“Wah, hebat ya Sur. rajin banget mereka, padahal sekarang udah ada mesin yang canggih.” dengan kekaguman Manda memperhatikanya..
“itulah masyarakat desa ini Man, kalau kita semua mengunakan barang praktis, dan mengunakan semua peralatan baru, lantas siapa yang akan menjaga kelestarian ini? untuk itu warga disini sadar akan pentingnya sebuah kelestarian, walaupun ini hanya hal yang sepele. Lagian ini lebih ramah lingkungan dan murah Man”.
“wah, hebat ya orang-orang di sini, walau mereke kebanyakan berpendidikan rendah tapi mereka mengerti dan peduli terhadap sebuah kelestarian” sahut Manda.
“Mari mar kita lanjutkan perjalanan kita” ajak Surti

Ketika Surti dan Marni berjalan menuju pasar, mereka bertemu dengan Ayah dan Bunda manda yang hendak bepergian. Melihat sang anak sudah mendapat teman baru, ayah dan Bunda Manda sangat bahagia sekali, itu berarti manda sudah mulai betah tingal di desa ini. Ia selalu menceritakan kegiatannya kepada ayah dan Bundanya.

Sore itu Surti dan Manda pergi ke sungai untuk sekedar bermain, dan melihat rutinitas warga desa yang sedang mencari ikan dengan jala. Manda terlihat sangat bahagia. Karena dia slama ini tidak pernah melihat atau meraskan hal yang seperti ini, biasanya dia hanya sibuk dengan barang-barang canggihnya.

Surti dan Manda dekat sekali, mereka sering melakukan aktivitas bersma-sama, Setiap hari Surti mengajak Manda untuk ikut dengannya, agar Manda lebih mengenali desa Dalem ini.

Malam itu Surti dan Manda pergi ke Masjid. Sebenarnya, malam itu tidak ada kegiatan yang khusus di Masjid. Seperti malam-malam biasanya hanya ada kegiatan salat berjamaah dan belajar mengaji, sebelum salat Isyak. Hanya saja, malam itu adalah malam bulan purnama, tepatnya tanggal 15 pada kalender tahun Hijrah.

Malam dimana Bulan menampakkan dirinya secara penuh, memamerkan keindahan, dan memancarkan cahayanya yang terang. Inilah alasan Surti mengajak Manda pergi ke Masjid dan, sudah menjadi kebiasaan anak-anak Desa Dalem, setiap malam purnama, khususnya anak-anak seusia Surti, biasanya akan keluar bermain di luar rumah. Itulah yang mebuat anak-anak desa Dalem sangat bersemangat menyambut setiap datangnya malam bulan purnama.

Anak-anak itu seperti tidak sabar untuk menikmati indahnya Bulan Purnama, ingin segera bermain-main di bawah cahayanya. Dan ternyata benar ini adalah hal yang pertama bagi Manda, Manda yang sebelumnya tidak pernah melihat atau meraskan semua ini merasa kagum, ini adalah sebuah kegiatan yang tak semua anak merasakan.

Karena pada zaman modern sekarang ini banyak yang tidak dapat merasakan indahnya masa kecil, semua moment bermain mereka telah dirampas oleh barang-barang elektro yang serba cangih, yang menjadi teman bermain bagi mereka ada di setiap waktu baik siang ataupun malam hari.

Banyak hal yang dilalui bersama-sama, sekarang Manda mulai mnengenal desa yang ia tempati yanitu desa Dalem. Memang benar pepatah mengatakan.

“memang benar ya sur”. kata Manda.
“Benar apa Man?” tanya Surti kebingungan…
“iya, benar.. seorang pepatah mengatakan Jika tak kenal maka tak Sayang, itulah sat ini yang kurasa” kata Manda dengan senyum-senyum..
“sayang Gimana too Man? Aku nggak ngerti apa maksudmu” tanya surti..
“dulu aku tak mengenal desa ini, akau berangapan desa ini kotor, orang kumel-kumel, menjijikkan, tapi ternyata setelah aku mengenal desa ini itu semua salah, aku menjadi sayang dengan desa ini. Aku betah hidup di sini, di sini semuanya sangat indah seakan tertatata dengan rapi dengan kesederhanan yang masih melekat,” kata Manda.
“ciye Manda, berarti sayang juga dong sama aku” dengan nada menggoda.
“apa sih Surti ini” tersenyum melihat Surti..
“hahahahahah, Syukurlah Man kalau kamu sudah sayang dan betah di desa ini.” Kata Surti..

Manda telah merasakan sebuah kenyamanan di Desa ini. Desa yang masih melestarikan kebiasan-kebiasannya yang penuh dengan kesederhanaan. Bulan kemerdekaan kurang seminggu kedepan, telah menjadi kebiasaan atau bahkan tradisi di desa Dalem, jika bulan agustus mereka menyambut kemerdekaan dengan berbagai lomba. Kegiatan ini telah menjadi rutinitas tiap tahun bagi desa Dalem, karena kegiatan ini penting untuk menumbuhkan rasa Cinta Tanah Air di berbagai kalangan, banyak sekali kegiatan yang dilaksanakan, seperti lomba Menari, menyanyi lagu daerah, balap karung, lomba memakan krupuk atau lombah karnaval.

Surti mengajak Manda untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan kemerdekaan tahun ini. Dan ini adalah pertama kalinya bagi Manda, ia sangat antusias sekali menyambut hari kemerdekaan itu. Setiap hari selama seminggu Surti dan Manda berlatih dan berlatih, surti mengikuti lomba Menyanyi, rencananya ia akan menyanyikan sebuah temabng lagu yang berjudul ”Gethuk”, sedangkan Manda tertarik ingin mengikuti lomba memakan krupuk. Padahal biasanya Manda jika di kota, selalu menyempelekan sebuah kerupuk, tapi di sini makan itu menjadi teman yang menemaninya untuk mendapatkan sebuah juara.
Waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba, Saatnya Surti dan manda merebut sebuah Juara. Tidak anak-anak atau remaja, bahkan tua juga antusias di dalam kegiatan ini. Kebersamaan dan kerukunan di sini sangat terasa.

Setelah mengikuti banyak tahap, akhirnya Surti muncul sebagai pemenang pertama dalam lomba menyanyi lagu daerah, dan manda muncul sebagai juara kedua, mereka buerdua sangat bahagia.
Bagi Manda ini hanyalah sebuah permulaan, tapi tahun depan dia akan membuktikan bahwa dia akan menjadi juara.

Di sini Manda mulai betah. Bahkan sekarang sifat manja Manda perlahan hilang, karena Manda mulai terbiasa dengan kesederhanaan. Ayah dan Bunda sangat Bangga terhadap Manda. Dalem telah mengajari Manda akan banyak hal. mengajari akan indahnya kebersamaan, mangajari kerukunan, dan tentunya Mengajari tentang kesederhanan untuk sebuah kelestarian.