CONTOH-CONTOH TARI PRIMITIF DI INDONESIA

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Sains

 1. Tari Perang

Tari Perang adalah salah satu nama tarian yang berasal dari Papua Barat. Tarian ini melambangkan kepahlawanan dan kegagahan rakyat Papua. Tarian ini biasanya dibawakan oleh masyarakat pegunungan. Digelar ketika kepala suku memerintahkan untuk berperang, karena tarian ini mampu mengobarkan semangat

Tari Perang dari masyarakat Papua Barat ini mengarah pada karya seni pertunjukkan periode prasejarah. Masyarakat Papua, hingga hari ini tetap menjaga dan melestarikan tarian ini sebagai bentuk penghormatan terhadap nenek moyang dan harga diri sebuah bangsa atau suku. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan masyarakat dan keseniannya tidak merupakan perkembangan yang terputus satu sama lain, melainkan saling berkesinambungan. Mereka percaya bahwa sejak dahulu nenek moyang masyarakat Papua selalu berharap, bahwa budaya yang telah diwariskan kepada setiap generasi tidak luntur, tidak tenggelam dan tidak terkubur oleh berbagai perkembangan zaman yang kian hari kian bertambah maju. Seperti halnya budaya tarian-tarian yang telah mereka ciptakan dengan berbagai gelombang kesulitan, kesusahan dan keresahan tidak secepat dilupakan oleh generasi berikutnya.

Tarian perang Papua ini termasuk dalam tarian grup, atau bahkan bisa menjadi tarian kolosal. Karena tidak ada batasan jumlah penari. Seperti umumnya tarian di Papua, tarian perang pun diringi tifa dan alat musik lainnya, yang menjadi pembeda adalah lantunan lagu-lagu perang pembangkit semangat. Dengan mengenakan busana tradisional, seperti manik-manik penghias dada, rok yang terbuat dari akar, dan daun-daun yang disisipkan pada tubuh menjadi bukti kecintaan masyarakat Papua pada alam

 

2. Tari Tobe

Tari Tobe sering dimainkan saat ada upacara adat. Tarian ini dilakukan oleh 16 orang penari laki-laki dan 2 orang penari perempuan. Dengan gerakan yang melompat atau meloncat diiringi irama tifa dan lantunan lagu-lagu yang mengentak, membuat tarian ini terlihat sangat bersemangat. Tarian ini memang dimaksudkan untuk mengobarkan semangat para prajurit untuk pergi ke medan perang.

Kebudayaan suku Asmat masih tergolong asli dan belum tergerus oleh arus modernisasi. Kebudayaan mereka sangat unik. Adalah tugas kita sebagai rakyat Indonesia untuk melestarikan kekayaan budaya yang berlimpah dengan cara mempelajarinya dan menyaksikan pertunjukan-pertunjukan seni daerah di pusat-pusat adat dan kebudayaan yang tersebar di seluruh Indonesia.

 

3. Tarian ular

Tarian ini sangat sakral dalam kehidupan masyarakat Kamoro di Kampung Pigapu, Papua karena merupakan penghormatan pada leluhur Kampung Pigapu, Mapuru Puau. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum tarian ular digelar. Nama Mapuru Puau juga menyisakan kontraversi lantaran ada yang menyebutnya Mapurupiyu. Tarian ular pernah dipertunjukan saat warga Pigapu menggelar ritual adat pada peletakan batu pertama pendirian tuguh Mapuru Puau.

Selain itu hanya orang-orang tertentu, tetua adat atau keturunan Perapoka, Mapuru, yang boleh terlibat sejak proses persiapan hingga tarian ular dilakukan. Bila hal ini dilanggar, pelakunya bisa jatuh sakit atau mengalami kesusahan dalam hidupnya.

Potongan batang pohon Kaukurako yang sudah dibawa pulang, kemudian diukir dan dipahat menyerupai kepala ular. Setelah selesai, kepala ular ini diwarnai dengan warna-warna tradisional. Bagian-bagian tubuh ular lainnya akan dirangkai secara bertahap, dan bagian mata ular akan dipasang paling akhir, beberapa saat sebelum tarian ular digelar.

Penduduk Pigapu percaya bahwa mata adalah simbol kehidupan, ketika dipasang di patung ular roh ular akan hidup dan menjaga penduduk Kampung Pigapu. Sambil menunggu hari pelaksanaan tarian, patung ular tanpa mata ini biasanya disimpan di rumah tetua adat.

Hari pementasan tari ular pun tiba, penduduk sudah mengenakan pakaian adat lengkap dengan berbagai asesorisnya. Ada yang memakai hiasan bulu burung kasuari. Sebagian lagi mengenakan hiasan burung Cenderawasih atau daun sagu kering.

Penduduk juga melumuri tubuh mereka dengan hiasan menggunakan kapur putih dan tanah merah. Sementara kaum perempuan menghiasi rambut mereka dengan bunga warna-warni. Semua berkumpul di rumah panggung besar untuk melaksanakan tarian ular. Sebelum pementasan, seorang lelaki Kamoro akan meniup mbiti—sepotong buluh yang mengeluarkan suara lenguhan keras—untuk mengundang seluruh penduduk agar segera berkumpul.

Sebelum patung ular dibawa keluar tetua adat memasang mata pada patung ular. Dalam tradisi ini, hanya tetua adat saja yang boleh membawa patung ular dan memasang mata patung ular.

4.      Tari Manaweang (Yapen Barat)

Tari manaweang berasal dari Kabupaten Yapen Barat,Papua yang menceritakan kisah seorang pemuda yang gagah dan mempunyai ilmu gaib tinggi, ilmu pemuda ini sering di sebut suanggi. Pemuda Suanggi ini suka membuat warga takut dan tidak bisa melakukan aktifitas sehari-hari seperti, nelayan dan bertani.

Menurut warga Yapen, setiap kali manaweang atau suanggi muncul, maka selalu ada korban jiwa. Perbuatan manaweang ini membuat masyarakat resah. Akhirnya kepala suku dan masyarakat sepakat untuk membunuh manaweang. Dan upaya kepala suku serta masyarakat pun berhasil membunuh pemuda manaweang.
Setelah manaweang dibunuh, masyarakat bersuka cita, karena sudah tidak ada manaweang atau suanggi lagi, yang mengganggu mereka. Tarian manaweang ini, ditarikan oleh empat belas orang, dengan menggunakan tujuh gerakan dasar tari.
5. Tejalu Meto’e

Kampung Te Tape atau yang lebih di kenal dengan Skow, terletak Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Di Kampung Skow Berdiam, Keret Rollo, Ramela, Patipeme dan Membilong.
Salah satu ceritra yang menarik dari keempat keret tersebut adalah Suku Membilong, menurut sejarah, mereka berasal dari Wutung, Vanimo, Papua Nugini.

Kisah perjalanan Suku Membilong dari Wutung, sampai di Skow diceritakan ulang dalam bentuk tarian Tejalu Met’o.Dengan Tarian Adat Tejalu Met’o, Suku Membilong mencari dana, untuk pembangunan gereja. Sebelum di lakukan tarian adat, kaum ibu dan anak-anak menghiasi tubuh mereka dengan menggunakan daun bungga yang berwarna kuning, dan mayang pinang. Daun berwarna kuning, yang digunakan di tubuh menandakan mama-mama yang cantik, manis, yang sudah melahirkan anak-anak peranakan, dari Suku Membilong.

Sedangkan mayang pinang atau weja merupakan simbol kehidupan, atau melambangkan kebiasaan masyarakan menankap udang, mecari bia dan melaut.
alam tarian tersebut, setiap anak-anak peranakan, wajib menggunakan daun kuning, sebagai simbol, bahwa anak tersebut adalah anak peranakan yang berasal dari suku Membilong.

Selain itu, mereka menggunakan kain yang bermotif Papua Nugini sebagai tanda bahwa mereka berasal dari kampung mereka di Papua Nugini.

Dalam tarian Tejalu Met’o daun kelapa yang dipikul, merupakan simbol layar perahu, dan pelepah kelapa sebagai dayung dayungnya. Simbol tersebut merupakan peralatan yang dibawa suku Membilong saat bermigrasi ke kampung Skow Yambe.Mereka juga menggunakan la atau noken dari daun kelapa untuk menaruh ikan, dan taa sebagai kalawai untuk menangkap ikan.

Lagu yang di nyanyikan menceritkan, kehidupan anak dari suku Membilong, yang di tinggalkan oleh orang tua, karena meninggal, dan mereka harus mencari makan sendiri.

6. Tarian akhokoy (Yoka, Sentani)
Ratusan tahun yang lalu, di Kampung Honom Papua New Guinea,  berdiam satu suku besar yang hidup dengan damai.Kedamain di Kampung Honom terusik dengan dibunuhnya putra mahkota, anak kepala suku. Akibat pembunuhan tersebut, Suku Honom dibagi-bagi menjadi 12 suku.

Salah satu suku dari 12 suku tersebut melakukan perjalanan ke arah Barat hingga tiba Sentani Papua sebagai tempat perhentian akhir mereka dan mereka namakan Kampung Yoka Hebheybulu. Tempat itu mereka namakan Yoka yang artinya Tempat yang menghasilkan ikan.

 

7. Turuk Langgai

Turuk laggai itulah tarian budaya dari Mentawai adalah tarian adat yang menyimbolkan binatang yang ada di lingkungan mereka tempati. Dalam turuk langgai, liukan tubuh dan rentakan kaki penari mengikuti irama gendang (gajeumak) seperti menirukan tingkah hewan seperti elang, ayam bahkan monyet

Menurut Selester Saguruwjuw (50) tokoh masyarakat Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, mereka melakukan tarian itu karena semua aktivitas keseharian mereka selalu berkaitan dengan alam. “Semua tarian itu memiliki makna dan arti menyatu dengan lingkungan yang mereka tempati dan memiliki kearifan dalam menjaga lingkungannya,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Binatang yang mereka tirukan itu memang binatang yang benar ada di sekitarnya dan mereka lihat. Meski masyarakat Mentawai menjadikan binatang-binatang itu sebagai santapan, mereka juga tetap menjaga pertumbuhan dan kelestarian. “Seperti monyet. Mereka kalau ingin berburu monyet tidak sembarangan memburunya dengan panah. Mereka harus melakukan ritual terlebih dahulu sesuai kepercayaan mereka. Tapi perlu diingat kepercayaan mereka lakukan bukanlah kepercayaan agama saat ini, namum kepercayaan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka yaitu Arat Sabulungan (Kepercayaan kepada Roh-roh gaib),” terangnya.

 

 8. Tari Kuna dan Tari Rontek Singo Wulung

Tradisi ojung merupakan sebuah tradisi yang hingga kini masih tetap dipertahankan warga Desa Klabang, Bondowoso yang bertujuan untuk meminta turun hujan agar desa mereka tak mengalami kekeringan ketika musim kemarau panjang tiba. Tradisi yang pada puncaknya akan digelar sebuah pertandingan saling memukul menggunakan rotan dengan peserta laki-laki yang berusia rata-rata antara 17 hingga 50 tahun ini dibuka dengan dengan pergelaran dua tarian yang masing-masing bernama tarian topeng kuna dan tarian rontek singo wulung.

Asal-usul dari dua tarian diatas sendiri konon bermula dari sebuah tokoh desa tersebut yang dianggap pahlawan pada masa lalu yakni Juk Seng karena kegigihannya dalam mengusir penjajah. Juk Seng pada masa itu adalah seorang demang yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh pengikut setianya bernama Jasiman bersama murid-muridnya. Konon pada masa itu, untuk membiayai perjuangannya melawan penjajah Juk Seng kerap ngamen dengan menggelar pertunjukan dua tarian tersebut. Dan karena warga tahu bahwa uang hasil dari ngamen itu akan digunakan sebagai penunjang perjuangan maka warga pun tak segan untuk menyawer uang mereka. Tradisi menyawer inilah yang sampai sekarang pun masih tetap dilakukan warga ketika dua tarian ini dipentaskan, tak terkecuali ketika dua tarian tersebut digelar pada tradisi ojung.

Begitu tarian topeng kuna dan tarian rontek singo wulung selesai digelar barulah kemudian warga menyiapkan sesaji-sesaji sambil membakar dupa di samping mata air yang ada di desa itu. Setelah acara doa bersama selesai barulah kemudian warga tumplek blek di samping mata air tersebut untuk makan bersama.

Setelah semua ritual selesai digelar barulah kemudian acar inti pun dilaksanakan yakni sebuah pertandingan saling memukul menggunakan rotan. Ketika wasit memberi aba-aba, semua peserta pun dengan tangkas saling memukul badan lawannya menggunakan rotan. Panasnya sekujur tubuh akibat lecutan rotan lawan inilah yang konon akan mendatangkan rasa iba pada sang pemilik kehidupan untuk segera menumpahkan air hujan agar segala panasnya badan dapat terbasuh

 

10. Tari Tor-tor

             Tari Tor-Tor (dan juga Gondang Sembilan) adalah kesenian yang berasal dari Mandailing, Sumatera Utara.Kata “Tor-Tor” berasal suara entakan kaki penari Tor-Tor diatas papan rumah adat Batak dan penari bergerak dengan iringan musik Gondang yang berirama mengentak yang dimainkan dengan instrumen tradisional seperti gondang, suling, terompet khas batak dan lain-lain.Tujuan tari Tor-Tor itu sendiri untuk upacara kematian, panen, penyembuhan dan pesta muda-mudi.

             Menurut sejarahnya, tor-tor sudah ada sejak abad ke 13 di Sumatera Utara.Nenek moyang orang Mandailing diperkirakan berasal dari suku Karen yang tinggal di perbatasan Burma dan Myanmar.Tari tor-tor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh.Di masa lalu, tari ini dilakukan oleh patung-patung batu yang telah dimasuki roh.Roh itu menggerakkan batu seperti menari namun dengan gerakan yang kaku.Gerakan tersebut meliputi gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

             Pesan dari ritual tersebut ada 3; yaitu takut dan taat pada Tuhan, ritual untuk leluhur dan orang-orang yang masih hidup agar dihormati, dan terakhir pesan untuk khalayak ramai yang hadir ke dalam acara.Makna tarian ini juga ada tiga yakni untuk ritual, penyemangat jiwa dan sarana untuk menghibur. Durasi Tari Tor-tor bervariasi, mulai dari tiga hingga sepuluh menit. Di tanah Batak, hal ini tergantung dari permintaan satu rombongan yang mau menyampaikan suatu hal ke rombongan lain. Dimintalah satu buah lagu pada pemusik.Jika maksud sudah tersampaikan, barulah tarian dihentikan.Meski demikian, sama seperti kebudayaan di dunia ini, Tari Tor-tor juga mengalami pengaruh dari luar yaitu India. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh pengaruhnya bisa tercatat hingga ke Babilonia.

Gerakan dalam Tari Tor-tor

Tari Tor-tor termasuk sangat sederhana dalam hal gerakan.Para penari tor-tor cukup membuat gerakan tangan yang cukup terbatas dengan gerakan kaki jinjit-jinjit mengikuti iringan musik yang disebut sebagai magondangi yang terdiri dari alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain.

Tarian tor-tor Batak ada empat gerakan dasar (urdot) yatu :

  1. Pangurdot (yang termasuk pangurdot dari organ-organ tubuh ialah daun kaki, tumit sampai bahu.
  2. Pangeal (yang termasuk pangeal dari organ tubuh adalah Pinggang, tulang punggung sampai daun bahu/ sasap).
  3. Pandenggal (yang masuk pandenggal adalah tangan, daun tangan sampai jari-jari tangan).
  4. Siangkupna (yang termasuk Siangkupna adalah leher,).

Tari Tor-tor Masa Kini

             Saat ini  makna dan tujuan tor-tor semakin berkembang. Tor-tor sudah tidak lagi diasumsikan lekat dengan dunia roh. Tor-tor menjadi sebuah budaya dan seni yang sudah dikenal masyarakat dunia sebagai budaya tanah air.  Tor-tor yang dilakukan saat ini mencakup pesta adat perkawinan, pesta peresmian rumah parsattian, pesta tugu, pesta membentuk huta/perkampungan, bahkan kalangan pemuda menggelar “pesta naposo”sebagai ajang hiburan dan perkenalan (mencari jodoh). Pesta Naposo, di beberapa daerah disebut juga pesta rondang bulan (Samosir), pesta rondang bintang (Simalungun).

 

11. Tari Perang Sanudhe

Tidak banyak catatan tentang tarian suku pedalaman di Jayapura ini. Tarian Perang ini dilakukan untuk menghormati para leluhur yang telah lebih dulu pergi, serta masih dianggap magis dan sakral. Pada pertengahan tarian para penari lelaki akan kerasukan dan seolah mengamuk. Tarian ini ditarikan secara kolosal dalam berbagai peringatan hari besar suku tersebut.

 

12. Tari Perang Velabhea

Banyak catatan yang mengisahkan peperangan antar suku di Papua pada jaman pra-sejarah, seperti tarian perang Velabhea, yaitu tarian yang mengisahkan perang suku di Sentani. Masyarakat Papua menggunakan tarian perang untuk memberi dorongan spiritual dalam menghadapi peperang. Namun seiring perkembangan zaman dan peraturan pemerintah yang melarang keras adanya peperangan antar suku, tarian ini kini hanya menjadi tarian penyambut tamu undangan.

 

13. Tari Tanju Kophadang
Tari ini berasal dari daerah Papua pedalaman dimana tariannya di dominasi oleh gerakan kaki dan tangan, dan biasanya dipimpin oleh seorang Kepala Suku.
Gerakannya terdapat gerakan peperangan dan dipercaya mengandung daya magis apabila di tarikan oleh masyarakat disana. Awalnya tarian ini hanya di tarikan oleh 20 orang hingga seiring berjalannya waktu tari ini di kembangkan dan di tarikan secara kolosal.
14. Tari Tellu ‘Otul
Sesuai dengan namanya tarian ini ditarikan oleh tiga orang oleh suku Dani, tarian ini menceritakan kisah tentang binatang sehingga gerakannyapun menirukan gerakan binatang seperti melompat, merangkak, berjingkrak-jingkrak layaknya binatang hingga gerakan memburu yang di lakukan oleh satu orang.
Tari ini dulunya dipercaya memiliki kesakralan tetapi lambat laun hanya di tarikan sebagai seni pertunjukan hiburan disaat ada hari hari besar suku tersebut.
15. Tari Sasemba’
Tari ini merupakan sebuah tarian sakral yang dilakukan sebelum upacara adat di Papua. Tarian ini dilakukan orang penari wanita berjumlah genap dengan memakai busana dari daun pisang yang di bentuk menjadi kemben dan rok. Tari ini ditarikan dengan gerakan kaki yg yang dibuka tutup sambil di getarkan yang kemudian penari wanita akan menyanyikan sebuah lagu yang sakral, setelah itu upacara dimulai dengan menghantarkan berbagai sesajen k makam para leluhur guna meminta kedamaian di suku tersebut.