Ciri , Klasifikasi , dan Cara Hidup Nemathelminthes

By On Monday, July 21st, 2014 Categories : Sains

Nemathelminthes (Yunani, nematos = benang, dan helminthes = cacing), sering disebut sebagai cacing gilig. Nemathelminthes merupakan kelompok cacing yang tubuhnya menyerupai benang. Tubuh tidak besegmen, triboblastik, pseudoselom karena rongga tubuhnya semu. Alat pencernaan Nemathelminthes mulai dari mulut, kerongkongan, usus, dan anus.

Alat reproduksinya terpisah, di mana individu jantan lebih kecil dan ujung posteriornya bengkok. Tempat hidupnya tersebar di mana-mana, ada yang hidup sebagai parasit pada manusia, hewan maupun tumbuhan, dan ada yang hidup bebas.

Cacing gilig atau filum nemathelmintes mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Tubuh bilateral simetris. Mempunyai tiga lapisan tembaga.
Tidak mempunyai alat respirasi, anggota tubuh, dan probosis.
Tubuh tertutup lapisan kutikula, sehingga tahan terhadap pengaruh lingkungan luar.
Alat pencernaan memanjang dari mulut di ujung anterior hingga anus di ujung posterior
Sistem saraf berupa cincin saraf yang mengelilingi esofagus yang dihubungkan enam serabut saraf ke bagian anterior dan posterior
Berkembang biak secara kawin, dioseus fertilisasi internal
Cacing jantan berukuran lebih kecil daripada cacing betina dan ujung ekor cacing jantan bengkok.
Tidak mempunyai sistem peredaran darah tetapi mempunyai cairan tubuh.
Telurnya dapat membentuk kista

Beberapa contoh dari filum nemathelminthes ini adalah Ascaris lumbricoides (cacing perut pada manusia), Enterobius vermicularis (cacing kremi), Ancylostoma duodenale (cacing tambang),dan Wuchereria bancrofti (menyebabkan penyakit filariasis).

a. Ascaris lumbricoides (Cacing Perut)
Cacing ini hidup sebagai parasit pada saluran pencernaan manusia. Cacing jantan berukuran sekitar 10-30 cm, sedangkan betina sekitar 22-35 cm. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). Pada cacing betina, pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang kopulasi.

Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Seekor cacing betina dapat bertelur hingga sekitar 200.000 telur per harinya. Telur yang telah dibuahi berukuran 60 x 45 mikron. Sedangkan telur yang tak dibuahi, bentuknya lebih besar sekitar 90 x 40 mikron. Telur yang telah dibuahi inilah yang dapat menginfeksi manusia.

Daur Hidup Cacing Perut
Pada tinja penderita askariasis yang membuang air tidak pada tempatnya dapat mengandung telur askariasis yang telah dubuahi. Telur ini akan matang dalam waktu 21 hari. bila terdapat orang lain yang memegang tanah yang telah tercemar telur Ascaris dan tidak mencuci tangannya, kemudian tanpa sengaja makan dan menelan telur Ascaris.

Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus. Larva akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran, yakni hati, jantung dan kemudian di paru-paru.

Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa.

Cacing akan menetap di usus dan kemudian berkopulasi dan bertelur. Telur ini pada akhirnya akan keluar kembali bersama tinja. Siklus pun akan terulang kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada tempatnya.

b. Ancylostoma duodenale (Cacing Tambang)
Cacing tambang hidup sebagai parasit di dalam usus manusia. Ukuran tubuhnya antara 1-1,5 cm, hampir sama dengan ukuran tubuh cacing kremi.

Cacing ini biasa hidup bergerombol mengisap darah dari inangnya. Pada bagian mulut yang terletak di ujung anterior terdapat gigi-gigi kitin yang berfungsi untuk melukai dinding usus inangnya. Mulutnya mengeluarkan zat anti pembekuan darah. Dengan demikian, penderita cacingan akan mengalami anemia (kekurangan darah merah). Pada ujung posterior cacing tambang jantan terdapat bursa kopulasi. Alat ini digunakan untuk menangkap dan memegang cacing betina saat kawin. Cacing betina memiliki vulva (organ kelamin luar) yang terdapat di dekat bagian tengah tubuhnya.

Cacing tambang ini (Ancylostoma duodenale) banyak ditemukan di Timur Tengah, Afrika Utara, India, dan Eropa bagian selatan. Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh cacing tambang ini. Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk.

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah:
Gangguan pencernaan berupa mual, muntah, diare, dan nyeri di ulu hati.
Pusing, nyeri kepala
Anemia
Lemas dan lelah
Gatal di daerah masuknya cacing
Kadang kadang tanpa ada gejala
Keluhan tidak spesifik, kelelahan dan berat badan menurun
Jarang terjadi: sakit perut, kembung dan sumbatan usus
Biasanya dikenali setelah beberapa lama misal antara 4-5 tahun setelah infeksi.

Daur Hidup Cacing Tambang
Cacing tambang bersifat dioseus. Pembuahan terjadi secara internal, yaitu di dalam alat reproduksi betina. Seekor cacing betina dapat bertelur hingga 9000 butir setiap hari. Telur yang telah dibuahi keluar bersama sisa-sisa pencernaan makanan. Di tempat yang sesuai telur akan menetas menjadi larva rabditiform. Larva ini akan berubah menjadi larva filariform yang dapat menginfeksi tubuh inang melalui kulit. Larva yang masuk ke dalam tubuh inang beredar mengikuti aliran hati, jantung, paru-paru, trakea, ing, esofagus, dan akhirnya ke dalam usus, cacing tumbuh menjadi dewasa.

Cacing tambang juga dapat masuk ke dalam tubuh inang dengan infeksi pasif. Pada infeksi pasif, larva cacing tambang masuk bersama air minum yang tercemar.

c. Wuchereria bancrofti (cacing filaria)
Wuchereria bancrofti atau disebut juga cacing filaria adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dari filum nemathelminthes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang makanya disebut dengan filaria. Cacing ini memyebabkan penyakit kaki gajah (elephantatis). Cacing ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Culex yang mengandung miklofilaria.

Daur Hidup Wuchereria bancrofti (Cacing Filaria)
Cacing ini hidup pada pembuluh limfe di kaki. Jika terlalu banyak jumlahnya, dapat menyumbat aliran limfe sehingga kaki menjadi membengkak. Pada saat dewasa, cacing ini menghasilkan telur kemudian akan menetas menjadi anak cacing berukuran kecil yang disebut miklofilaria. Selanjutnya, miklofilaria beredar di dalam darah. Larva dapat berpindah ke peredaran darah kecil di bawah kulit.

Jika pada waktu itu ada nyamuk yang menggigit, maka larva tersebut dapat menembus dinding usus nyamuk lalu masuk ke dalam otot dada nyamuk, kemudian setelah mengalami pertumbuha, larva ini akan masuk ke alat penusuk. Jika nyamuk itu menggigit orang, maka orang itu akan tertular penyakit ini.

Dan begitulah seterusnya siklus daur hidup Wuchereria bancrofti atau disebut juga cacing filaria
Kaki gajah yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti

d. Enterobios Vermikularis (Cacing Kremi)
Cacing kremi hidup sebagai parasit di dalam usus besar manusia dan terutama menyerang anak-anak. Ukuran tubuhnya sebesar rambut, dengan panjang lebih kurang 1 cm. Penyebaran cacing kremi lebih banyak di hawa dingin. Cacing kremi betina berukuran 8-13 mm x 0,44 mm dengan ekor panjang dan runcing sedangkan cacing kremi jantan berukuran 2-5 mm dengan ekor melingkar (Bayangkan saja parutan kelapa). Daur hidup cacing ini bekisar antara 2 minggu sampai 2 bulan.

Gejalanya berupa:
Rasa gatal hebat di sekitar anus
Rewel (karena rasa gatal dan tidurnya pada malam hari terganggu)
Kurang tidur (biasanya karena rasa gatal yang timbul pada malam hari ketika cacing betina dewasa bergerak ke daerah anus dan menyimpan telurnya di sana)
Nafsu makan berkurang, berat badan menurun (jarang terjadi, tetapi bisa terjadi pada infeksi yang berat)
Rasa gatal atau iritasi vagina (pada anak perempuan, jika cacing dewasa masuk ke dalam vagina)
Kulit di sekitar anus menjadi lecet, kasar, atau terjadi infeksi (akibat penggarukan)

Daur Hidup Cacing Kremi
Cacing Enterobius vermicularis menyebabkan infeksi cacing kremi yang disebut juga enterobiasis atau oksiuriasis. Infeksi biasanya terjadi melalui 2 tahap. Pertama, telur cacing pindah dari daerah sekitar anus penderita ke pakaian, seprei atau mainan. Kemudian melalui jari-jari tangan, telur cacing pindah ke mulut anak yang lainnya dan akhirnya tertelan.

Telur cacing juga dapat terhirup dari udara kemudian tertelan. Setelah telur cacing tertelan, lalu larvanya menetas di dalam usus kecil dan tumbuh menjadi cacing dewasa di dalam usus besar (proses pematangan ini memakan waktu 2-6 minggu).

Cacing dewasa betina bergerak ke daerah di sekitar anus (biasanya pada malam hari) untuk menyimpan telurnya di dalam lipatan kulit anus penderita. Telur tersimpan dalam suatu bahan yang lengket. Bahan ini dan gerakan dari cacing betina inilah yang menyebabkan gatal-gatal.

Telur dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia selama 3 minggu pada suhu ruangan yang normal. Tetapi telur bisa menetas lebih cepat dan cacing muda dapat masuk kembali ke dalam rektum dan usus bagian bawah.