Ciri-ciri Pyrrophyta

By On Saturday, February 25th, 2017 Categories : Sains

Pyrrophyta (Yunani, pyrrhos = api) atau ganggang api adalah alga uniseluler yang menyebabkan air laut tampak bercahaya

Pyrrophyta (Yunani, pyrrhos = api) atau ganggang api adalah alga uniseluler yang menyebabkan air laut tampak bercahaya (berpendar) di malam hari karena sel-selnya mengandung fosfor. Pyrrophyta atau Dinophyta disebut juga Dinoflagellata (Yunani, dinos = berputar, flagel = cambuk) karena memiliki flagela.

Para dinoflagellata memiliki dua ciri khas: mereka bercahaya, dan mereka beracun. Produksi Cahaya terkait dengan pigmen luciferin yang bertindak dengan enzim lusiferase, konversi yang menghasilkan cahaya tanpa panas. Reaksi terang ini tampaknya dirangsang oleh gangguan seperti ketika perahu melewati air; di malam hari, cahaya terlihat di haluan. Noctiluca dan Gonyaulax adalah contoh dari dinoflagellata bercahaya. Dinoflagellata menghasilkan racun yang parah dan dapat membunuh ikan dan kadang-kadang orang. Racun ini bekerja pada sistem saraf, menyebabkan kelumpuhan. Menariknya, kerang yang mengkonsumsi dinoflagellata tersebut tampaknya tidak menderita efek kerusakan. Namun, mengingat bahwa racun dari dinoflagellata tersebut berkonsentrasi dalam tubuh kerangbahaya besar akan ada orang yang mengkonsumsi mereka.

Kecepatan pertumbuhan populasi ganggang api dipengaruhi oleh suhu, kadar garam dan nutrisi, serta kedalaman air laut. Pada musim tertentu, terjadi putaran arus dari bawah laut yang menyebabkan terangkatnya nutrisi dari dasar laut ke permukaan. Hal tersebut menyebabkan populasi Pyrrophyta yang melimpah (blooming) dan timbul pasang merah (red tide) di laut. Pasang merah berbahaya bagi organisme laut dan manusia karena ganggang api tersebut menghasiikan racun. Jenis-jenis ganggang api penghasil racun antara lain sebagai berikut.

  • Pfiesteria menghasilkan racun yang menyebabkan kerusakan sistem saraf (neurotoksin). Neurotoksin dapat menyebabkan kematian ikan, udang, kepiting, dan burung. Manusia akan mengalami gangguan kesehatan apabila mengonsumsi produk laut yang terkontaminasi neurotoksin.
  • Gymnodinium breve menghasilkan racun brevetoksin atau gymnocin A yang menyebabkan keracunan dengan gejala pusing, muai, muntah, dan ataksia (gangguan koordinasi gerakan otot).
  • Lingulodium polyedrum dan Gonyaulax menghasilkan racun saksitoksin yang dapat menyebabkan muntah, diare, hingga hilangnya koordinasi tubuh jika dikonsumsi manusia.
  • Gambierdiscus toxicus menghasilkan ciguatoksin.

Namun ada spesies ganggang api yang tidak meng hasilkan racun, misalnya Noctiluca scintillans dan Ceratium hirundinella.

Pyrrophyta Fotosintesis adalah autotrof, sedangkan yang non-fotosintetik mungkin heterotrof, ada sebagai parasit pada ikan dan invertebrata air juga. Beberapa spesies autotrofik juga memakan dinoflagellata lain dan organisme uniseluler, dengan menelan mereka. Spesies simbiotik yang juga dikenal(zooxanthellae), yang hidup pada bunga karang, ubur-ubur, anemon, terumbu karang, dll, di mana mereka menyediakan karbon untuk tuan rumah mereka. Kromosom yang sangat padat Pyrrophyta ini terdiri dari tiga unit nukleomorf seperti manik yang berbeda.

Tubuh Pyrrophyta terdiri atas satu sel, memiliki dinding sel berupa lempengan selulosa yang berbentuk poligonal dengan alur membujur dan melintang, memiliki klorofil a, klorofil c, fikobilin, dinoxantin, dan xantofil, serta dua flagela yang terletak di bagian samping atau ujung sel sehingga dapat bergerak aktif. Pyrrophyta bereproduksi secara vegetatif dengan pembelahan biner. Pyrrophyta hidup secara fotoautotrof di laut, dan dikenal sebagai fitoplankton. Namun, beberapa jenis hidup sebagai parasit pada tahap tertentu dalam siklus hidupnya.