Ciri-ciri Ciliata

By On Friday, February 24th, 2017 Categories : Sains

Ciri-ciri Ciliata antara lain bergerak dengan rambut getar (silia); bentuk tubuh tetap; memiliki pelikel, trikosis, mikronukleus dan makronukleus, vakuola makanan

Ciliata (Latin, cilia = rambut kecil) atau Ciliophora (Yunani, phora = gerakan) adalah Protozoa yang bergerak dengan menggunakan silia (rambut getar). Ciliata disebut juga Infusoria (Latin, infundere = menuang), karena biasanya hidup di dalam air buangan yang banyak mengandung zat organik.

a. Bentuk dan struktur tubuh Ciliata

Ciliata memiliki bentuk tubuh yang tetap karena memiliki pelikel. Pelikel merupakan selaput protein atau glikoprotein yang keras untuk menyokong membran sel. Bentuk tubuh Ciliata bervariasi, ada yang menyerupai sandal, lonceng, terompet, atau oval. Tubuh Ciliata memiliki rambut getar (silia) berukuran pendek, yang membentuk barisan di seluruh permukaan tubuh atau hanya di bagian-bagian tertentu dan permukaan sel. Silia berdiameter sekitar 0,25 mm dengan panjang 2 – 20 mm.

Jumlah silia sangat banyak, bahkan mencapai ribuan. Sejumlah silia berkumpul dan bersatu di bagian tubuh tertentu dan membentuk cirri. Silia tersebut dipergunakan untuk bergerak, meluncur, berenang di dalam medium air, serta menangkap dan membantu memasukkan makanan ke dalam sitoplasma. Selain silia, Ciliata juga memiliki alat untuk mempertahankan diri dari musuhnya, yaitu trikosis. Tubuh Ciliata mudah diamati dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa, namun silianya tidak dapat terlihat dengan jelas.

Di dalam sitoplasma terdapat organel Sel, yaitu mitokondria, ribosom, lisosom, nukleus (inti sel), vakuola makanan, dan vakuola kontraktil (vakuola berdenyut). Alat pencernaan makanan terdiri atas bagian corong mulut atau celah mulut (oral groove), sitostoma (mulut sel), sitofaring (gullet atau kerongkongan sel), vakuola makanan, dan lubang anus pada bagian tertentu dari membran sel. Vakuola kontraktil berbentuk mirip kantong, berfungsi untuk osmoregulasi, yaitu mengatur tekanan osmotik cairan di dalam tubuh.

konjugasi pada Paramecium

konjugasi dan reproduksi pada Paramecium

Ciliata memiliki ciri yang unik, yaitu mempunyai dua jenis nukleus. Nuldeus pada Ciliata terdiri atas satu inti berukuran besar (disebut makronukleus) dan beberapa inti yang berukuran kecil (disebut mikronukleus). Makronukleus berfungsi untuk menyintesis RNA, mengatur aktivitas dan pertumbuhan sel, dan alat reproduksi vegetatif (pembelahan biner). Sementara itu, mikronukleus berfungsi sebagai alat reproduksi generatif (konjugasi). Pada Paramecium terdapat 1 hingga 80 bentuk mikronukleus.

b. Cara Ciliata menangkap dan mencerna makanan

Makanan Ciliata berupa bakteri dan serpihan bahan organik. Ciliata menggunakan rambut getar di sekitar corong mulut untuk mendorong makanan agar masuk ke dalam sitostoma. Kumpulan makanan dari sitostoma kemudian masuk ke sitofaring. Makanan dari sitofaring akan masuk ke sitoplasma dan membentuk vakuola makanan. Vakuola makanan akan bergabung dengan lisosom yang menghasilkan ezim pencernaan makanan. Pada saat makanan dicerna, vakuola makanan bergerak dari bagian anterior (depan) ke bagian posterior (belakang). Sari makanan hasil pencernaan yang berasal dari vakuola makanan masuk ke sitoplasma secara difusi. Sementara sisa-sisa makanan yang tidak tercerna akan dilepaskan ke luar sel melalui lubang anus atau pori-pori membran.

c. Reproduksi Ciliata

Ciliata dapat bereproduksi secara vegetatif maupun secara generatif. Reproduksi vegetatif terjadi dengan cara pembelahan biner. Pembelahan biner diawali dengan pembelahan makronukleus. Makronukleus memanjang, kemudian membelah menjadi dua. Pada pembelahan biner tidak terjadi pembelahan secara mitosis. Selanjutnya, sitoplasma membelah secara transversal (membujur) sehingga dihasilkan dua sel anakan.

Reproduksi generatif terjadi dengan cara konjugasi. Reproduksi secara konjugasi ini menghasilkan Ciliata dengan sifat kombinasi baru (rekombinasi genetik). Mekanisme konjugasi pada Paramecium adalah sebagai berikut.

1)      Dua sel Paramecium yang cocok untuk kawin saling berdekatan, kemudian saling berlekatan pada sebagian tubuhnya.

2)      Mikronukleus dengan kromosom diploid (2n) pada masing masing sel membelah secara meiosis sehingga masing-masing sel memiliki empat mikronukleus yang haploid (n). Namun tiga mikronukleus akan hancur.

3)      Satu mikronukleus haploid (n) yang tersisa, kemudian membelah secara mitosis menjadi dua mikronukleus yang haploid (n).

4)      Pasangan mikronukleus pada setiap sel kemudian saling bertukar mikronukleus satu sama lain.

5)      Mikronukleus yang didapatkan dari sel lain akan menyatu dengan mikronukleus dari sel asal, membentuk mikronukleus yang diploid (2n) dengan sifat genetik campuran (rekombinasi genetik). Penyatuan mikronukleus dan individu yang berbeda tersebut disebut singami.

6)      Pasangan sel Paramecium kemudian berpisah. Mikronukleus diploid (2n) pada setiap sel kemudian membelah secara mitosis tiga kali secara berturut-turut, sehingga menghasilkan delapan mikronukleus yang diploid (2n).

7)      Makronukleus yang asli pada masing-masing sel akan hancur. Empat mikronukleus diploid (2n) kemudian berkembang menjadi empat makronukleus diploid (2n) yang baru dengan cara replikasi DNA berulang-ulang. Empat mikronukleus diploid (2n) lainnya tetap sebagai empat mikronukleus diploid (2n).

8)      Setiap Sel kemudian membelah dua kali tanpa disertai pembelahan nukleus, sehingga setiap satu sel akan menghasilkan empat sel anak yang identik, yang memiliki satu makronukleus diploid (2n) dan satu mikronukleus diploid (2n). Dari satu kali proses konjugasi yang dilakukan oleh dua sel Paramecium dihasilkan delapan sel anak diploid (2n) dengan kombinasi kromosom antara kedua induknya.

d. Habitat Ciliata

Sebagian besar Ciliata hidup sebagai sel soliter di air tawar maupun air laut. Ciliata banyak ditemukan di air sawah, air sungai, air kolam, dan air selokan, terutama yang banyak mengandung sisa-sisa tumbuhan dan hewan, atau sampah organik. Ciliata yang hidup bebas di Iingkungan berair, contohnya Paramecium caudatum, Vorticella, Stentor, Didinium, dan Stylonychia. Namun beberapa jenis ada pula yang hidup di dalam tubuh hewan, baik sebagai parasit maupun bersimbiosis mutualisme. Contoh Ciliata yang hidup parasit, yaitu Balantidium coli. Sementara Ciliata yang hidup bersimbiosis, yaitu yang hidup di usus hewan pemakan rumput dan dapat membantu mencerna selulosa.

Kesimpulan

Ciri-ciri Ciliata antara lain bergerak dengan rambut getar (silia); bentuk tubuh tetap; memiliki pelikel, trikosis, mikronukleus dan makronukleus, vakuola makanan dan vakuola kontraktil; makanan ditelan secara fagositosis; reproduksi vegetatif (pembelahan biner) dan generatif (konjugasi); dan hidup bebas/parasit/bersimbiosis mutualisme di usus hewan.