Cinta Itu Waktu

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Bukan anak kecil lagi. Duduk di bangku SMA merupakan cita citaku dari kecil. Menjadi sosok yang matang dan dewasa. Aku Olivia Ade Anjani. Sesosok remaja yang baru lulus dari SMP dan sangat semangat buat masuk SMA. Karena hasil belajarku yang tidak buruk, aku diterima di SMA favorit di daerahku. Dari situlah kisahku dan mereka terjadi.

Mereka? Iya mereka Wildan, Shelya, dan Jati. Sahabatku dari awal SMP. Wildan seorang yang tanggung jawab, humoris dan hmm lumayan dibilang keren. Kalo Shelya ini anaknya manja, suaranya merduuu banget dia juga pinter voly. Yang terakhir adalah Jati dia adalah cowok cool yang keren, suaranya merduu tapi kelihatan cuek banget sama orang yang baru dia kenal dan dia adalah milikku sejak awal kelas 9 dulu.

Hari ini hari pertama masuk. Yaitu saatnya MOS dan pembagian kelas. Aku sengaja datang lebih pagi dari temen temen lain. Karena aku takut jika telat dan tidak bisa mengikuti MOS. Semua siswa baru dikumpulkan di lapangan untuk diberi penjelasan tentang kegiatan hari ini. Semua mendengarkan dengan baik tak terkecuali aku. Setelah pengumuman selesai, kakak kakak osis menyuruh kami untuk mencari kelas yang di dalamnya ada nama kami. Aku, Wildan, Shelya dan Jati mencari bersama sama. Dan ternyata kami berempat berada di kelas yang sama di kelas X 3 Ipa. Kami sangat senang. Akhirnya aku duduk bersama Shelya dan Jati bersama Wildan. Hari ini terasa begitu singkat. Begitu juga hari hari selanjutnya. tak terasa liburan semester sudah dekat kita berempat merencanakan liburan ke villa keluarga Wildan.

Liburan telah datang. Entah mengapa rasanya akhir akhir ini aku merasa jika Wildan sering memerhatikanku. Aku sempat menepisnya, tetapi itu semakin jelas sekarang. Hubunganku dengan Jati akhir akhir ini juga tidak begitu baik. Entah aku juga tidak tau apa penyebabnya. Jujur semenjak awal aku kenal dengan Wildan kelas 7 lalu aku juga sudah memiliki ketertarikan terhadapnya. Tetapi aku sudah terlanjur bersama Jati karena dia tidak meresponku. Akhir minggu ini kami akan berangkat, tiba tiba Jati marah tanpa sebab yang membuat aku begitu marah dan memutuskan dia saat itu juga. Setelah itu, Jati menggagalkan acaranya bersama kami. Jadi tinggallah kita bertiga di villa itu.

Aku bercerita kepada kedua sahabatku jika aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Jati. Itu membuat mereka sangat terkejut karena sebelumnya aku terlihat biasa saja. Aku menangis tersedu sedu saat itu. Aku mengingat semua kenanganku dengan Jati. Dengan tenangnya wildan memberikan pundaknya untukku bersandar barulah setelah itu aku merasa tenang. Malam tahun baru kami menyelenggarakan pesta kecil kecilan bersama orangtua Wildan. Orangtua wildan begitu baik dengan aku dan Shelya. Namun timbul kekhawatiran ketika Shelya dekat dengan mereka. Entah apa maksud semua ini.

Tahun baru hidup baru semangat baru. Setelah acara liburan di villa itu, aku menjadi semakin dekat dengan Wildan. Aku sangat merasa nyaman di dekatnya. Aku tidak rela jika dia bersama orang lain. Tapi di sisi lain aku juga masih belum bisa sepenuhnya lupa dari Jati. Malam itu aku sedang belajar di ruang tamu rumah. Tiba tiba terdengar suara motor berhenti. Aku awalnya tidak peduli. Tapi setelah aku lihat siapa yang datang aku sangat terkejut. Karena ternyata yang datang adalah Wildan dan Wahyu teman futsalnya. Aku jadi salah tingkah perasaanku aneh. Padahal bukan sekali ini saja Wildan atau teman lelakiku yang lain datang ke rumah. Dengan segera aku menyuruh mereka masuk dan menanyakan apa maksud kedatangan mereka. betapa terkejutnya aku jika Wildan menjawab dengan mengeluarkan sebuah coklat dan mengatakan jika dia meginkan aku menjadi lebih dari seorang sahabatnya. Aku bingung harus bagaimana menjawabnya. Aku lebih dari senang, aku sangat tidak menyangka jika Wildan memiliki perasaan yang sama denganku.

Hubunganku dengan wildan berjalan indah. bahkan keluarganya pun juga sudah mengetahui semua. Sementara itu Shelya selalu bertanya padaku tentang bagaimana perlakuan Wildan kepadaku. Dan tanpa ada rasa curiga aku menceritakan semua. Sebulan berlalu, aku dan Wildan menjadi seorang kekasih. Memasuki bulan kedua sikap Wildan mulai berubah. Dia sudah mulai acuh kepadaku. Dia pun selalu menghindar jika berada di kelas atau jika bertemu. Itu membuatku merasa sedikit curiga. Aku menanyakan kejanggalan ini kepada Wahyu tapi Wahyu menjawab jika mungkin Wildan hanya ada sedikit masalah. Hari hari berlalu Wildan terasa sangat berbeda. Bahkan dia menolak eye contact denganku. Aku mencari tau tentang kejanggalan ini kepada teman temannya. Ada beberapa orang yang mengatakan jika Wildan dekat dengan orang lain. Tapi aku tidak begitu saja yakin dengan pernyataan dari beberapa temanya itu.

Siang itu saat istirahat, aku memaksa Wildan untuk bicara denganku. Aku bertanya apakah benar jika dia dekat dengan orang lain dia menjawab tidak dan langsung pergi. Aku sudah tenang dengan pernyataanya. dua hari setelah itu ada 2 orang temannya yang memberitahuku lewat chat jika dia melihat Wildan memberikan coklat kepada Shelya. Aku sangat marah mendengar hal itu bukan marah kepada Wildan tapi marah kepada orang yang memberitahuku. Aku mengira bahwa orang itu hanya bohong dan ingin menghancurkan hubunganku. Aku sangat percaya kepada Wildan. walaupun sudah hampir 2 minggu tanpa komunikasi.

Hingga sore itu seorang temannya dengan wajah memerah membitahuku jika apa yang dikatakannya tempo hari benar dan tidak mengada ada. Dia mengatakan jika dia hanya ingin membantuku karena dia melihatku sangat menyayangi Wildan dan dia tidak ingin melihatku lebih terluka jika aku tidak mengetahuinya sekarang. Mendengar hal itu, pertahananku goyah aku bingung harus percaya kepada siapa. Aku sudah tidak kuat dengan hal ini, saat itu juga aku langsung bergegas menemui Wildan. Belum sempat aku bicara dia sudah mengatakan jika dia ingin menyudahi hubungan kita. Serasa dunia berhenti aku bertanya apa alasan dia seperti ini. dia hanya menjawab aku pantas mendapatkan yang lebih baik. Aku sudah tidak bisa menjawab ataupun mencegah dia pergi. Aku bahkan hanya bisa duduk bersimpuh tanpa setetes airmatapun jatuh. Karena sedih yang sangat dalam yang tak bisa diungkapkan lagi dengan kata kata.

Setelah kejadian itu, aku sempat meminta Wildan untuk kembali. Namun ternyata itu sia sia. Dan pada akhirnya aku harus berusaha melupakannya. Anehnya Shelya tiba tiba menghindar dariku dan hilang seperti ditelan bumi. Ternyata merurut informasi dia pindah ke kelas bahasa bersama Wildan. Aku hanya mengira itu kebetulan. Sebelum aku tidak sengaja melihat beranda di facebook yang memuat foto Wildan dan Shelya sedang makan bersama dengan caption yang intinya jka hari itu mereka menjadi sepasang kekasih. Dan di caption itu juga menyebutkan jika mereka sudah lama menungu moment ini yang artinya mereka bermain di belakangku.

Bukan marah lagi. Aku sangat kecewa dengan mereka berdua. Selama ini mereka menganggapku apa. Mereka bermain di belakangku. Aku menceritakan semua ini keada mama Wildan. Ia sangat terkejut bahkan awalnya tidak percaya dengan perkataanku. Aku pasrah sekarang aku sudah tidak memiliki harapan lagi. Setelah mengetahui hal itu aku sangat menghindar dari kedua makhluk bengis itu. Aku selalu menangis dan menyesali kebodohanku ketika bertemu dengan mereka. Namun disisi lain aku sangat menyayangi Wildan. Tanpa sepengetahuan siapapun aku selalu melihat kegiatannya lewat sosmed di malam hari. Aku tidak menyangka jika perasaanku sedalam ini.

Hari demi hari bulan demi bulan sampai tibalah ujian kenaikan kelas. Sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan dia. Aku sudah mencoba berhubungan dengan orang lain agar aku bisa melupakan dia. Namun hasilnya nihil. ujian kenaikan kelas terlalui tetap dengan bayang bayangnya. Tapi aku sudah mulai berfikir untuk apa memusuhi mereka. Toh itu juga tidak akan merubah keadaan. Akhirnya aku mencoba untuk kembali lagi bersahabat dengan Wildan tapi tidak dengan Shelya. Karena aku selalu muak apabila melihatnya bahkan melihatnya dari jauhpun aku sudah ingin menghempasnya. Ternyata kembali bersahabat denga Wildan tidak terlalu buruk. Dengan begitu aku bisa selalu melihat senyumnya, kekonyolannya, banyolannya dan semua tentang dia aku suka. Aku mungkin sekarang sudah mengalami cidera hati. Karena sampai lulus dari SMA aku masih tidak percaya dengan laki laki. padahal tidak sedikit yang mendekatiku. namun hati kecil ini masih berharap dari sosok masa lalu bisa kembali. Entah bodoh atau apa yang aku fikirkan sekarang hanya bagaimana aku selalu melihat senyumnya. Karena cinta itu tidak harus selalu bersama dalam suatu ikatan yang lama. Tapi cinta itu tumbuh ketika seseorang selalu berada di sekitar kita dan selalu menerima apapun yang kita miliki. Dan aku percaya itu. Sampai kapan? Sampai aku menemukan kebahagiaanku.

9133966, 9133967, 9133968, 9133969, 9133970, 9133971, 9133972, 9133973, 9133974, 9133975, 9133976, 9133977, 9133978, 9133979, 9133980, 9133981, 9133982, 9133983, 9133984, 9133985, 9133986, 9133987, 9133988, 9133989, 9133990, 9133991, 9133992, 9133993, 9133994, 9133995, 9133996, 9133997, 9133998, 9133999, 9134000, 9134001, 9134002, 9134003, 9134004, 9134005