Cinta Di Ujung Perpisahan

By On Thursday, March 16th, 2017 Categories : Cerita

Sudah beberapa hari ini aku merasakan hal yang berbeda dari dia. Dia adalah Septian David Maulana, David biasa ia disapa. Sekarang ini dia begitu perhatian denganku. Awalnya ku resah dan sedikit canggung dengan sikapnya itu. Namun lama kelamaan aku pun merasakan kenyamanan saat bersamanya.

“Udah ada yang jemput?” tanya David padaku.
Aku menggeleng.
“Mau aku antar pulang?” tawarnya.
“Tidak, terima kasih.” Tolakku sopan.
“Sudah tidak apa-apa, sebentar lagi hujan akan turun. Aku tidak akan tega melihatmu sendiri di sini. Ayo cepat naik.” Bujuknya.
Aku tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya itu. Hingga akhirnya, aku pun menurut.

Benar saja yang dia katakan, hujan turun begitu deras. Dia pun melaju semakin kencang.
“Sebaiknya kita menepi terlebih dahulu.” Tawarku.

Akhirnya dia pun menghentikan laju motornya di tepi jalan yang beratap.
Aku menggigil kedinginan.
“Wajahmu pucat.” Ucap David khawatir.
Aku hanya tersenyum menenangkan kekhawatirannya.
Dia pun melepas jaket hitamnya, dan memakaikannya ke tubuhku yang basah.
“Apa masih dingin?” Tanyanya penuh perhatian.
Aku menggeleng berbohong.
“Terima kasih jaketnya.” Ucapku.
Dia pun dengan sigap menggosok-gosokan kedua telapak tangannya, kemudian mengusap wajahku dengan kehangatan yang timbul dari gosokan tangannya itu.
Hujan semakin deras, ditambah suara yang menggelegar dari langit. Aku takut, namun dia mencoba untuk terus menenangkanku. Aku menjadi semakin nyaman bersamanya.

Akirnya huja reda.
“Syukurlah, hujan sudah sedikit reda.” Ucapnya seraya memperhatikan keadaan sekitar.
“Sebaiknya kita langsung pulang saja.” Ucapku.
Dia pun segera menghidupkan mesin kendaraan kesayangannya itu.

Akhirnya sampai juga di rumahku.
“Terima kasih.” Ucapku.
Dia hanya mengangguk seraya tersenyum begitu ramah.
“Kalau begitu, aku pamit dulu yah.”
“Tidak mau mampir dulu?”
“Sudah terlalu malam, lain kali saja.”
Dia pun bergegas untuk pulang.

Senang sekali rasanya bisa menghabiskan hari-hari yang indah ini bersamanya. Jaketnya yang masih melekat di tubuhku rasanya tak ingin kulepas.

Hari berganti begitu cepatnya. Dengan semangat aku bergegas pergi ke sekolah. Tiada lain dan tiada bukan salah satu alasanku sangat bersemangat pagi ini adalah karena aku ingin sekali cepat-cepat melihat batang hidung David.

Setibanya di sekolah, aku segera masuk ke kelas. Bangku yang biasa David tempati masih kosong. Aku menunggunya dengan harapan ia cepat datang menemaniku. Hingga akhirnya bel tanda masuk berbunyi, David tak kunjung datang. Perasaanku berubah resah dan sedikit khawatir.

“Itu surat siapa Mal?” Tanyaku pada kawan David, Maldini.
“David, Zee.” Jawabnya singkat.
“Dia kenapa?” tanyaku tambah khawatir.
“Sakitnya David kambuh, Zee.” Jelasnya.
“Sakit? Dia sakit apa?”
“Aku tak sanggup mengungkapkannya, Zee, sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit”
Aku terdiam mendengar penjelasan Maldini.

Sepulang sekolah aku langsung pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan David baik-baik saja.
“Tante, David kenapa?” tanyaku pada Ibu David.
Ibu David tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menangis dan langsung memelukku erat.
“Tante, ada apa? Mengapa Tante menangis seperti ini? David tidak apa-apakan Tante?” Tanyaku ikut menangis.
“David…” Ucap Ibu David tak sanggup melanjutkan.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera masuk ke ruangan David berbaring.

“David, bangun Vid, bangun. Aku mohon Vid, bangun.” Tangisku tambah pecah.
David tidak bangun-bangun juga. Aku terus menunggu di sampingnya. Tangan kanan David terus kugenggam.
Perlahan aku merasakan jari-jemari David bergerak. Matanya pun perlahan ikut membuka.
“Zee…” Panggil David lirih.
“David.” Balasku sangat bahagia melihat David sudah siuman. “Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu Vid.”
“Sungguh?”
Aku tersenyum menunduk.
“Zee…” Panggil David.
“Iya, Vid. Ada apa?”
“Aku mau bilang sesuatu ke kamu.”
“Kamu mau bilang apa?”
“Jujur, aku nyaman ketika berada di sampingmu, Zee. Kamu mampu menjadikan hidupku lebih berwarna. Aku mencintaimu, Zee. Tapi aku sadar, aku tidak pantas untuk memilikimu.”
“David, bolehkah aku berkata jujur juga kepadamu?”
David hanya tersenyum mempersilahkanku.
“Begitupun denganku, aku sangat nyaman ketika aku berada di sampingmu, Vid. Aku menyayangi dan mencintaimu seperti aku menyayangi dan mencintai diriku sendiri, bahkan lebih.”
“Sungguh?”
Aku mengangguk.
“Aku sangat bahagia mendengar ucapanmu itu Zee. Aku senang kamu juga memiliki perasaan yang sama sepertiku. Tapi…”
“Tapi? Tapi kenapa Vid?”
“Umurku tidak akan lama lagi Zee.”
“Kamu itu ngomong apa sih?”
“Aku mau dengar untuk terakhir kalinya, tolong ucapkan bahwa kamu itu menyayangi dan mencintaiku.”
“David, kamu itu bicara apa sih? Aku yakin kamu itu laki-laki yang hebat, kamu pasti kuat melawan penyakitmu itu Vid.”
“Zee, aku mohon.”
“Untuk selamanya aku akan selalu dan terus menyayangi serta mencintaimu Vid, walau apapun yang terjadi kau akan selalu ada di dalam hatiku. Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuat hatiku luluh. Aku mencintaimu Septian David Maulana.”
David hanya tersenyum.
“Terima kasih Zee, kamu sudah mewujudkan salah satu impianku. Aku mohon kamu selalu menjadi Zee yang aku kenal. Zee yang tangguh. Zee yang selalu bisa membuat David bahagia, dan yang membuatku bahagia adalah senyuman manismu Zee. Jadi, kumohon, tersenyumlah.”

Tidak beberapa lama kemudian keadaan David drop kembali.
“Davidd… Dokter…” Teriakku.
Dokter segera datang dan langsung memeriksa keadaan David.
Aku menangis di pelukkan Ibu David.

“Maaf Bu, hanya ini yang dapat kami bantu.”
“Maksud Dokter?” Tanya Ibu David.
“David sudah tidak bisa ditolong lagi Bu.”
Aku lemas. Segera kuhampiri David dan langsung ku peluk raganya yang sudah tidak bernyawa itu. Semua peralatan medis yang menempel di tubuhnya perlahan dilepas oleh beberapa suster.

Tubuhku semakin tidak berdaya. Aku tidak percaya semua ini terjadi begitu cepat. David, satu-satunya orang yang mampu membuatku merasakan arti cinta yang sesungguhnya kini telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Namun, aku tidak boleh lemah seperti ini. Aku tidak boleh membuatnya bersedih di sana. Aku harus kuat dan ikhlas menerima semua ini. Aku yakin bahwa Tuhan telah memberikan yang terbaik untukku dan David.