Cinta Di Balik Pulau

By On Friday, March 17th, 2017 Categories : Cerita

Rumput hijau bermandikan embun, sewarna dengan pepohonan hutan nan asri, aku masih kesal pada ayah kenapa aku diajak hidup di hutan seperti ini.

“Nay, kamu mau ikut nggak?”, “Kemana, bu?”, “Ke rumah tante Lina, mau ada urusan sebentar”, “Iya deh aku ikut” kuganti baju santaiku dengan kaos tipis yang tidak panas di kulit, sehingga aku bisa tahan berjalan di bawah terik matahari.

Aku berjalan di belakang ibu, deretan rumah kayu sederhana beratap barisan seng menghiasi kiri kanan jalan. Daerah transmigrasi yang baru terjalamah 5 tahun yang lalu ini belum tersentuh kata modern, suasananya juga masih sangat asri dan tentram. Desa ini adalah salah satu dari bagian kota cengkeh, dimana cengkeh menjadi figur utama di pulau ini.

Sesampainya di rumah tujuan, aku terpaku pada tempat pembangkit yang berada di ujung perempatan. Selama ini masyarakat biasa menggunakan tenaga surya untuk listrik, jika mendung bahkan hujan kami hanya memiliki listrik pada malam hari dan itupun sangat terbatas.

Ibu masuk tanpa mempedulikan aku, tak lama aku berjalan ke arah samping rumah tiba-tiba seseorang juga berjalan dari selatan, aku melihat dia adalah teman satu kelas Asraf tetanggaku. Entah apa yang dia perhatikan, tapi aku merasakan tatapannya tertuju padaku. Aku berjalan melihat tanaman yang ada di sekitar rumah, dia pun masuk melalui pintu belakang. Di sekitar rumah ini ada ubi, ada nanas, ada jeruk dan juga pandan.

Setelah selesai, ibu pun mengajakku pulang “Loh kok nggak masuk tadi, saya kira ibunya sendirian” ucap tante Lina, “Oh iya tante nggak usah, aku juga sekalian liat-liat sekeliling rumah banyak tanaman” aku berjalan mengikuti ibu, karena penasaran aku pun menanyakan apa yang ada dalam fikiranku. “Bu, tante Lina punya anak berapa?”, “Tiga”, “Cewek apa cowok?”, “Cowok semua”, “Siapa aja namanya”, “Julman, Jalmin sama Justam”, “Oh mereka kelas berapa”, “Yang pertama harusnya udah lulus SMP mau ke SMA tapi dia milih bantuin bapaknya kerja, yang kedua kelas satu SMP temennya Asraf, trus yang ketiga kelas 3 SD dulu temen sekelasnya adekmu tapi adek nggak naik kelas”, “Ehm… berarti yang tadi namanya Jalmin” gumamku dalam hati, “Kenapa nanya-nanya gitu?”, “Oh nggak kok bu, pengen tahu aja” ibu tersenyum melihatku salah tingkah. Aku berjalan menikmati suasana ini, tempat indah yang masih dikelilingi pepohonan pada pegunungan tinggi.

Siang ini sangat panas, sengatan cahaya matahari membakar ubun-ubun, daerah khatulistiwa ini memang sangat panas apalagi atap rumah masih terbuat dari seng. Aku selesai mengerjakan tugas harian mencuci baju, kulihat sepertinya seseorang yang tak asing di mataku. Dia ada di jalan, kulihat ia tersenyum begitu manis “Hey, ngapain di situ?” tanyaku, “Eh nggak ada” kembali kulihat lesung pipinya, kenapa dengan hatiku? Apa yang terjadi sehingga aku menjadi salah tingkah, senyumnya masih melekat di mataku. Bahkan sampai malam menjelang aku tetap teringat, apa ini yang sering disebut jatuh cinta? Entahlah aku hanya ingin menikmati rasa bahagia ini.

Undangan pernikahan temanku sudah hampir minggu ini, aku mencari kado untuknya tanpa sengaja aku bertemu Jalmin di toko souvenir. Dia tersenyum lebih dulu kepadaku, “Hai”, “Hai, cari apa?”, “Nggak ada, nggak tahu juga ini mau nyari apa”, “Kok gitu, emang ke sini sama siapa?”, “Sama kakak, itu orangnya lagi di situ”, “Ouwh gitu, ya udah temenin aku aja bisa nggak?”, “Bisa, emang lagi nyari apa sih?”, “Kado buat Tyas, kira-kira aku ngasih apa ya?” Jalmin mengambil jam weker berbentuk hati, “Ini bagus, ada tempat fotonya juga lagi”, “Iya ya, ya udah ini aja, makasih ya udah milihin”, “Sama-sama” kembali dia tersenyum begitu manis.

Cerita demi cerita berlalu, aku dan Jalmin semakin dekat, “Hah? Loe nggak salah, Nay?”, “Kenapa emang, Her?”, “Loe ini gimana sih, padahal si Aril itu suka sama loe kok loe malah naksir dan jatuh hati sama anak SMP”, “Biasa aja kali Her, kan aku yang suka jadi terserah donk” Hera terkejut mendengar ceritaku, dia tidak menyangka teman kuliahnya ini jatuh hati pada anak kecil. “Emang kenapa, Jalmin manis kok” ujarku dalam hati, “Oey, ngelamun aja, kenapa?”, “Eh Andri bikin kaget aja, nggak kok”, “Ada yang nyariin tuh”, “Siapa?”, “Revan, adikku hahahaha…”, “Ih anak kecil di kasih ke aku”, “Katanya suka biar kecil” aku tersenyum.

Tidak terasa besok adalah hari ulang tahunku, aku ingin tahun ini menjadi tahun yang jauh lebih baik. Andri mengajakku berjalan-jalan bersama teman-temannya, tanpa aku tahu Jalmin juga ikut. Betapa teriris hatiku saat tahu Jalmin berboncengan dengan Fifi yang menurut cerita Andri mereka baru-baru saja berpacaran. Aku terduduk di bangku taman, panorama indah di mataku tak berarti lagi terbalut hancurnya perasaanku, “Kenapa ngelamun?”, “Eh nggak kok”, “Pemandangannya bagus ya”, “He’emb”, “Aku seneng banget hari ini”, “Kenapa?”, “Ya karena aku bisa jalan sama…”, “Fifi?” Jalmin hanya tersenyum, “Kenapa dari tadi diem aja?”, “Nggak apa-apa kok, Ndri”, “Loe cemburu ya?”, “Maksudnya?”, “Loe cemburu ngeliat Jalmin sama Fifi kan?”, “Nggak” aku memalingkan muka, “Udah deh ngaku aja” aku menghela nafas berat, “Gue nggak ngerti sama perasaan gue Ndri, gue tuh nggak suka ngeliat mereka jalan apalagi loe bilang kalau mereka pacaran”, “Fifi itu udah lama ngejar-ngejar Jalmin, tapi Jalmin nya baru ngerespon sekarang”, “Hhh gue emang bodoh, Ndri”, “Kenapa gitu?”, “Iya gue gila, kenapa gue harus suka sama anak kecil macem Jalmin yang jelas-jelas lebih pantes sama Fifi”, “Siapa bilang aku lebih pantes sama Fifi?” Jalmin muncul dengan tiba-tiba, Andri meninggalkanku dan membiarkan Jalmin duduk di sampingku. “Aku tahu, sejak aku liat kamu ke rumah waktu itu aku ngerasa ada yang lain sama kamu dan percaya atau nggak aku terlalu sulit untuk melupakanmu sedetikpun” aku terkejut, “Tapi kan kamu baru aja jadian sama Fifi, percuma aja kalau aku sayang sama kamu karena semua itu terhalang hubungan kamu sama dia” Jalmin meraih kedua tanganku, “Di hari yang istimewa ini, aku mau ngasih kamu sesuatu yang istimewa” Fifi dan Andri dating dengan membawa kue indah bertuliskan namaku ^Happy Birthday Nayla^, “Happy Birthday… Happy Birthday… Happy Birthday… Happy Birthday Nayla” Jalmin menatapku dengan senyum termanisnya. “Aku sayang sama kamu, Fifi emang pernah suka sama aku tapi dia bilang kalau Andri udah jadi orang yang terbaik untuknya dan aku harap kamu bisa jadi yang terbaik untukku” aku tersenyum, “Udah cepet tiup lilinnya” sela Andri, “Jangan lupa berdo’a dulu” tambah Fifi. Setelah meniup lilin ku berikan potongan kue pertama untuk Jalmin, dia memberiku sebuah kalung cantik berukir ~NJ~, “Biar orang berkata apa, aku tetap memiliki cinta ini untuk kamu, meski usia kita berbeda jauh itu bukanlah penghalang yang berarti”, “Thanks Jalmin, sampai kapanpun aku akan selalu bersamamu, mengukir cerita indah berdua” senyum terindah itu dia munculkan lagi. Seseorang yang aku impikan ternyata menjawab impianku, semoga semua ini bukan sekedar mimpi dan kenyataan ini dapat aku gapai bersamanya.

J atuh cinta adalah sebuah rasa yang indah
A ndai kemarau panjang seketika terguyur hujan
L engkung senyuman yang menawan hati
M enyentuh keyakinan akan kegersangan jiwa
I ndah, menyenangkan dan penuh gejolak
N amun perasaan ini hanya bisa ku pendam sendiri
I Love You Unconditionally
K eep my love in your heart
K iss good feel about me
E nding happiness where I can’t live without you…

24279583, 24279584, 24279585, 24279586, 24279587, 24279588, 24279589, 24279590, 24279591, 24279592, 24279593, 24279594, 24279595, 24279596, 24279597, 24279598, 24279599, 24279600, 24279601, 24279602, 24279603, 24279604, 24279605, 24279606, 24279607, 24279608, 24279609, 24279610, 24279611, 24279612, 24279613, 24279614, 24279615, 24279616, 24279617, 24279618, 24279619, 24279620, 24279621, 24279622