Cerita Memasuki Kota Makhluk Halus Pantai Selatan

By On Wednesday, March 1st, 2017 Categories : Cerita

Halo juragan… Kisah mistis ini terjadi beberapa puluh tahun silam, yaitu pada masa penjajahan jepang sekitar tahun 1942-1945. Kejadian mistis ini dialami oleh seorang pekerja romusha (pekerja paksa pada zaman jepang) yang dipekerjakan untuk membuat sebuah jalan di wilayah pantai selatan pulau jawa (segoro kidul) di selatan kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Seorang manusia tanpa sengaja memasuki sebuah perkotaan yang ramai yang ternyata kota itu adalah sebuah kota gaib yang dihuni oleh para makhluk halus. Setelah sadar, ternyata kota besar tersebut berada di atas lautan yang luas di selatan pulau jawa atau biasa disebut segoro kidul yang terkenal angker dan sangat mistis.

Bagaimana ceritanya? Silakan simak dengan seksama pengakuan seorang mantan pekerja romusha yang bernama Suradi.

Menjadi romusha

Pada zaman jepang (antara 1942-1945), saya pernah dikirim ke Blitar oleh tentara jepang untuk dipekerjakan jepang sebagai romusha atau kerja paksa di daerah pesisir selatan kabupaten Blitar atau biasa disebut pantai jolosutro. Saya bersama orang-orang dari berbagai desa dan daerah diwajibkan bekerja mulai pagi hari sampai menjelang senja tanpa dibayar sepeserpun, kecuali hanya diberi makan gaplek bakar (singkong kering dijemur lalu dibakar di atas bara api) beserta bekicot bakar sebagai lauknya.

Pada suatu senja hari selesai bekerja, saya beristirahat bersama orang-orang yang lain dengan merebahkan tubuh di pinggir pantai. Waktu itu saya berbaring di bawah sebuah pohon besar bersama tiga orang rekan saya yang juga sama-sama pekerja romusha, karena mereka adalah sama-sama warga satu desa dengan saya di di daerah Malang.

Karena saking capeknya bekerja selama seharian akhirnya saya tertidur bersama 3 rekan saya (seorang di antaranya adalah anggota tentara PETA Blitar yang juga merupakan tetangga desa saya di Malang). Namun beberapa menit kemudian saya tersentak bangun karena dikagetkan oleh suara deru mesin kendaraan bermotor serta suara orang-orang yang ramai seperti di kota. Maka saya langsung bangun dan berdiri untuk mencari tahu dari mana suara tersebut berasal.

Melihat kota besar

Ternyata saya melihat sebuah kota besar yang sangat ramai di depan saya. Tanpa basa- basi saya langsung melangkahkan kaki untuk mendekat dan menyaksikan keramaian kota besar yang belum pernah saya lihat sepanjang hidup saya.

Benar-benar luar biasa dan menakjubkan, saya dibuat kagum ketika menyaksikan kota itu dari dekat. Kota itu benar-benar ramai, banyak mobil mewah berlalu lalang di jalan raya dan ada pula kendaraan dokar (kereta ditarik kuda) yang dihiasi oleh perhiasan-perhiasan kereta yang sangat indah. Banyak gadis-gadis cantik sedang melakukan aktivitasnya di kota besar.

Saya juga melihat ada sebuah istana yang megah dengan tangga meliuk-liuk dilapisi permadani hijau. Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, saya langsung mendekat dan langsung mencoba masuk ke istana tersebut namun dihadang oleh penjaga sehingga saya kembali lagi.

Anehnya, di kota tersebut tidak ada matahari, namun suasana sangat terang benderang serta tidak ada hawa panas atau gerah. Udaranya benar-benar sejuk dan menyenangkan.

Bertemu tetangga

Ketika saya hendak pergi menjauh dari istana, ada seseorang yang memanggil nama saya. Setelah saya tengok, ternyata dia adalah Suwarni, seorang wanita tetangga yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Suwarni wajahnya terlihat sangat letih dan pucat seperti orang yang bekerja keras tanpa istirahat sedikitpun, ia mengenakan pakaian compang-camping dengan dandanan ala tradisi jawa serta mengenakan konde khas jawa namun baunya apek dan anyir.

Kemudian saya menanyakan padanya mengapa ia bisa berada di kota besar seperti ini. Lalu ia mengatakan bahwa dirinya sudah lama bekerja sebagai pembantu di istana megah dan mewah tersebut. Ia bekerja tanpa istirahat dan setiap hari harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang berat yang sudah menjadi tugasnya.

Kemudian Suwarni menawarkan beberapa makanan enak-enak kepada saya untuk saya makan, rupanya ia tahu saya lapar dan kebetulan perut saya memang sangat lapar sekali karena seharian hanya makan gaplek bakar dengan lauk bekicot bakar. Namun anehnya ketika makanan tersebut saya ambil dan hendak saya makan, saya merasakan bau anyir dan jijik melihat makanan tersebut sehingga tidak jadi saya makan. Beberapa makanan enak yang ditawarkan oleh Suwarni terpaksa saya tolak semuanya.

Suwarni juga menanyakan kepada saya mengapa saya bisa sampai di kota besar ini. Lalu saya menjawab bahwa saya dikirim oleh jepang untuk dipekerjakan sebagai romusha di daerah Blitar selatan bersama beberapa orang rekan saya. Lantas Suwarni menyarankan kepada saya agar saya memanggil teman-teman saya bertiga yang sama-sama sekampung untuk menemui Suwarni di kota ini.

Maka langsung saja saya bergegas menemui teman-teman saya yang saat ini sedang tidur di bawah pohon besar di pingir pantai. Kemudian saya membangunkan dua orang rekan saya yang tertidur pulas di tempat semula, lalu mereka pun terbangun. Lantas saya mengajak mereka menemui Suwarni yang saat ini menunggu saya di kota besar untuk memberikan makanan yang enak-enak.

Tersadar

Tetapi salah seorang teman saya yang bernama Sukardi (anggota tentara PETA Blitar) menanyakan kepada saya tentang dimana kota besar yang saya maksud, dan Suwarni yang saya maksud itu siapa. Lalu saya menunjuk ke arah selatan, dimana disitu terdapat kota besar yang baru saja saya kunjungi, dan Suwarni menunggu kami bertiga di kota itu dengan membawa aneka makanan enak.

Kemudian Sukardi berdiri dan menepuk pundak saya cukup keras sampai pundak saya terasa sakit, dia bilang kepada saya dalam bahasa jawa, “Nyebuto..!!”. (Nyebuto artinya akuilah Tuhanmu). Saya disuruh nyebut, yang di kalangan masyarakat jawa nyebut artinya adalah mengakui Tuhan dan utusanNya dengan cara membaca syahadat dan sholawat. Saya dipaksa nyebut oleh Sukardi, maka saya-pun langsung nyebut, “Asyhadu’ala ilaha ilalloh wa’ asyhadu’ anna muhammadarasululloh”.

Setelah nyebut, betapa terkejutnya saya. Ternyata kota besar yang baru saja saya singgahi tersebut lenyap seketika dan yang ada hanyalah sebuah samudera luas dengan ombak dahsyat yang bergulung-gulung setinggi rumah dan menerjang pantai dengan ganasnya. Ternyata kota besar tersebut adalah perkotaan mahkluk halus yang berada di atas lautan segoro kidul.

Dan Suwarni yang saat ini menunggu saya di kota tersebut ternyata adalah tetangga saya yang kini sudah mati. Ia telah mati beberapa tahun lalu yang diduga melakukan praktek pesugihan di segoro kidul, dan setelah mati kini ia menjadi pembantu disana.

Rupanya saya baru saja kalap (kalap adalah bahasa jawa, artinya tersesat di alam gaib). Dan Sukardi menepuk pundak saya dengan keras tadi maksudnya adalah agar saya tersadar dari pengaruh sihir makhluk halus. Namun karena saya tetap tidak sadar, maka Sukardi menyuruh saya nyebut atau membaca syahadat serta sholawat atas nabi.

Dan setelah saya nyebut maka akhirnya saya sadar bahwa kota besar tersebut adalah kota di alam gaib yang dihuni oleh makhluk halus bersama orang-orang mati yang semasa hidupnya mereka melakukan praktek pesugihan. Maka sejak itu saya terus rajin berdoa sejak bangun tidur, selama bekerja, hingga menjelang tidur kembali. Dengan berdoa kepada Allah maka saya diselamatkan dari pengaruh sihir makhluk halus.

Setelah selesai bekerja menjadi romusha selama beberapa bulan di Blitar selatan, akhirnya saya dipulangkan kembali ke kampung halaman bersama 3 orang rekan saya dan juga puluhan orang-orang dari berbagai desa sekitar saya. Kejadian mistis ini tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, masuk ke kota besar yang ternyata kota tersebut adalah kota gaib yang dihuni oleh makhluk-makhluk gaib serta para pelaku pesugihan yang telah mati.