Cerita Cinta: Mawar Untuknya

By On Sunday, August 17th, 2014 Categories : Cerita
Advertisement

/Siang dokter/ sapa hangat gadis belia berperawakan tinggi semampai dengan rambutnya yang terurai indah. /siang cantik, bagaimana perkembanganmu akhir-akhir ini?/ Tanya dokter Feni menyambut panasnya terikk matahari di siang itu. Gadis itu hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan yang baru saja diutarakan kepadanya.

“Sabarlah Disa, percayakan dirimu bahwa kau akan segera sembuh. Saya yakin Hepatitis autoimun yang kamu idap ini pasti akan segera sembuh. Tidak akan lama lagi, percayalah” dengan nada meyakinkan.” gadis itu hanya tersenyum pesimis dan kembali terdiam seakan terhayut dalam kegundahan hatinya.

“ya, aku yakin dok” tegasnya dengan senyuman manis dibibirnya yang tipis sesaat setelah gadis itu terlepas dari kegundahan yang ia ciptakan tadi.

6 bulan setelah kejadian itu
Aku tau ini adalah momen terindah dalam hidupku, setelah aku dinyatakan sembuh dari sakit lamaku yang sudah aku idap bertahun-tahun. Entah apa yang mungkin akan aku lakukan pertama kali untuk memulai kisah hiduku yang baru ini.
Aku teringat pada sosok laki-laki berperawakan hitam manis dengan tubuh khas Asianya yang sungguh mempesona. Tanpa berpikir panjang, aku segera bergegas beranjak menuju cafe favorit kami, tempat ia berada saat ini.

Entah apa yang sedang aku rasakan ini, mungkin aku sudah terlanjur terhanyut dalam kebahagiaanku, sampai aku lupa bahwa aku baru saja hampir menabrak pengendara lain dihadapanku. “Oh Tuhan ternyata aku memulainya dengan kejadian ini” batinnya sambil tersenyum.

Setibanya di ???cafe (cafe Furui)
“soree……. sudah lama menungguku disiniku?” sapaku pada seseorang yang sedang duduk di meja nomor 5 itu. “sore juga sayang. tidak terhitung lama kok untuk menunggumu disini”balasnya dengan senyumannya yang sangat khas dimataku. Pikiran itu kembali muncul dibenakku. Apa yang akan aku lakukan untuk mengatakan ini semua. Ini memang begitu indah, namun terasa begitu sulit untukku memulainya. entah harus dari bait mana akan kusampaikan berita bahagia ini.
“hmm…. Reza, aku harap kamu bersimpati dengan ceritaku ini”ujar Disa dengan penuh rasa kebahagian yang diiringi rintik hujan seakan menyambut indahnya melodi sore ini.
“Apa yang hendak kau bicarakan Dis?”sahut Reza dengan matanya yang berusaha menelusuri sudut pikiran Disa.
“Ini untukmu Za. Baca dengan teliti ya”Sambil menyodorkan berkas surat berwarna merah.

Reza mulai merasakan getaran yang sangat dahsyat yang menyerang jiiwanya. Air matapun mulai terbendung dalam sudut gelap matanya. Entah apa yang ia rasakan. Bahagia yang berkecamuk dengan kehancuran hatinya membuat ia merasa sungguh tak berdaya.
“Oh Tuhannn…. . kekasih macam apa aku ini. Yang harus segera pergi meninggalkannya demi wanita lain yang sama sekali tidak aku cintai”Air matanya mulai terjatuh mengikuti arah gravitasi bumi. Angin pun terasa begitu dalam menghembuskan desahan kebimbangan hati. “Aku tak mungkin meniup lilin yang baru saja menyala untuk menerangi seluruh jagad raya”Lirih Reza dalam hati sambil mengepal telapak tangannya dengan ototnya yang mulai mengencang.
“Kamu pasti menangis bahagia ya sayang?akupun demikian dengan kamu, aku selalu meneteskan air mata haru bahagia kerap kali ku buka tiap lembarannya”Ujar Disa memecahkan keheningan suasana kebimbangan hati Reza. “I I iiyaa sayang, aku sangat bahagia ternyata kamu sembuh. Kamu tau?kamu adalah wanita terhebat yang pernah aku kenal. Kamu adalah sosok terindah dalam hidupku yang pernah ku miliki”Ujar Reza dengan matanya yang basah. Tangannya senantiasa menggenggam erat tangan Disa yang selalu berusaha untuk menghapus air matanya. “Kamu aneh. Kamu kenapa?aku tau, kamu menyembunyikan sesuatu hari ini”Reza hanya tersenyum kecil pada Disa yang sedang mencoba membaca titik mata Reza yang sama sekali sulit untuk dilihat.
***

Ini adalah bulan ke empat setelah Reza mengakhiri hubungan ini dengan alasan yang menurutku antara masuk akal dan tidak. Tapi cukup untuk mengiris batinku. Memang sangat sakit rasanya, ketika seseorang yang begitu kita cintai dan begitu mencitai kita harus pergi meninggalkan kita demi orang lain yang menggantungkan hidupnya pada orang yang kita cintai. Aku ingin sendiri sore ini, aku memilih untuk berdiam diri di cafe tempat favorit kami dulu.

“Di ddi disa. Kau sedang apa?”Tanya seorang laki-laki yang baru saja turun dari mobil berwarna merah marun itu. Aku masih terdiam dalam ratapanku. Aku masih belum bisa memalingkan semua pikiranku dari kegalaauan hatiku. Entah siapa yang datang itu, rasanya aku tidak ingin melihat siapapun kali ini. “Disa…. . Maafkan aku”Tiba-tiba sosok laki-laki itu datang kembali untuk menghampiriku. Reza—ya benar itu dia. Dia kembali, tapi bukan untuk merajut kembali semuanya. Reza segera duduk disampingku, dengan tangannya yang tetap memegang pundakku dari awal tadi. “Hmm…Kamu disinii Za?kamu mau aku pesankan sesuatu”jawabku setelah aku berhasil melawan semua rasa kehancuranku tadi, dengan penuh rasa gugup. Aku masih belum berani untuk melihat matanya itu. Karena aku tau, setiap tatapan matanya itu mampu menusuk batinku ini. Oh Tuhan, mengapa kau munculkan sosok pria ini lagi. Bersalahkah bila kini aku mulai membencinya?

“Aku sedang tidak ingin memesan apa-apa”dengan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca Reza menjawab pertanyaanku tadi. Nada bicaranya mulai melemah. Alunan suaranya mulai bergetar, seiring dengan usahanya untuk menahan air matanya agar tetap pada tempatnya.

Seketika aku mulai memberanikan diri untuk sedikit menoleh pada dua lingkar bola matanya yang mulai basah. Dadaku mulai terasa sesak, batinku ini terasa semakin kering kerontang, aku tak ingin Reza membasahi hati ini kembali dengan air matanya yang sudah sejak tadi ia bendung.
“Cukuplah Reza, aku tak ingin melihat ini semua. Aku ingin berusaha untuk melupakanmu. Aku ingin menghilang dari labirin ingatanmu itu. Ingat Reza, kamu dan aku tidak akan pernah menjadi kita lagi. Semuaa………”Ucapanku terhenti setelah handphone Reza berbunyi. Dengan tergesa-gesa, Reza segera meraih handphone nya yang tergeletak di atas meja cafe tempat kami duduk.

Lia :
Syg kamu dmn?Aku udah slesai nih. Jmput d tmpt SPA ya :*

Replay :
Ok. aku kesana sekarang

“Sorry dis, aku harus pergi jemput mamahku di tempat SPA. Lusa kita ketemu lagi di cafe ini jam 4 sore ok”. Dengan sangat terburu-buru, Reza segera bergegas meninggalkanku yang masih duduk terpaku tertahan oleh sakitnya hati ini.
Hati ini terasa semakin pedih, terlebih setelah aku tahu bahwa Reza baru saja berkata bohong padaku tadi. Sebelum ia meraih handphonenya tadi, aku sudah terlanjur membaca nama yang muncul dilayar handphone Reza. rupanya gerakan mataku lebih cepat dibanding gerakan tangannya.

Lia Margareta—nama itu masih sangat teringat jelas dalam memory otakku. Gadis itu adalah mantan kekasih Reza sebelum ia menjalin hubungan denganku dulu. Dan kini Reza kembali menjadi kekasihnya demi membahagiakan Lia sebelum ia pergi. Lia adalah penderita kanker saraf dan telah di vonis dokter kalau Lia hanya memiliki waktu tidak lama lagi. Mungkin ini kisah yang sangat klasik, tapi memang inilah kenyataanya. Terlebih setelah kedua orang tua Lia meninggal dalam sebuah kecelakaan, yang mengakibatkan Lia tidak punya siapa-siapa lagi untuk menjadi penyemangat dalam hidupnya. Sampai pada akhirnya dokter pribadi yang selama ini menangani Lia datang untuk menemui Reza yang saat itu baru saja tiba rumah seusai makan malam kami. Dengan segala cara dan upaya, dokter pribadi Lia membujuk Reza untuk kembali pada Lia dan segera mengakhiri hubungan kami. Lia memang sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dan itulah penyebab mengapa Lia sangat menginginkan Reza kembali padanya. Meskipun harus merelakan hubungan kami yang sudah terjalin cukup lama. Itulah alasan mengapa terkadang sering terlintas di benakku, untuk menjadi seorang black angel saja. mungkin karena saat itu aku merasa lelah untuk bersabar. Tapi inilah hidupku, aku harus segera bangkit meskipun tanpa sayapku. karena aku yakin, aku masih bisa berdiri dan berjalan tanpa harus terbang di atas awan. Dan aku percaya, suatu saat nanti aku akan ada orang yang bisa mengajakku terbang dengan sayapnya yang indah.

Ya tuhan, aku hampir saja lupa. Aku sudah punya janji untuk menjenguk dokter Feni yang sedang sakit. “Aku harus segera pergi sebelum jam besuknya habis”. Aku segera bergegas pergi dan menuju Rumah sakit tempat dokter pribadiku dulu ini menjalani rawat inap.
***

Waktu sudah menunjukkan pukul 17. 30. Aku harus segera pulang ke rumah, lagi pula jam besuk rumah sakit sudah habis. Dengan penuh semangat aku berjalan melewati setiap koridor rumah sakit menuju pintu keluar. Tapi tiba-tiba langkah kakiku terhenti setelah aku bertemu dengan mereka—Reza dan Lia. Mereka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan, dan muncul tepat di jarak dekat pandanganku.
Apa yang harus aku lakukan saat ini. Haruskah aku pergi menghindar, atau aku harus tetap berjalan dan bersikap biasa saja di hadapan mereka.
Jantungku berdegup sangat kencang, dadaku kembali terasa sesak seperti ada benda yang sangat berat menimpa tubuhku. Aku masih tetap memperhatikan mereka berdua. Memperhatikan canda tawa yang mereka perlihatkan kepadaku. Tapi tetap saja, mereka belum bisa menyadari kehadiranku di dekat mereka saat ini.
Hatiku mulai terasa begitu sakit, seiring dengan munculnya tawa riang yang mereka perlihatkan kepadaku. Tawa mereka berdua terasa seperti jutaan bilah pisau yang sedang menyayat-nyayat hatiku. Candaan mereka bagaikan air garam yang sedang menyiram luka hati yang sedang ku rasa.
Aku bisa merasakan air mataku yang mulai jatuh membasahi pipiku ini. Kali ini, rasanya aku sedang tidak ingin membendung air mataku ini. Aku ingin melepaskan kesedihanku ini, meskipun mereka nantinya akan melihat penderitaanku ini.

Seketika , air mataku ini semakin deras mengalir dan membasahi pipiku. Apa yang aku lihat barusan begitu sangat terlihat jelas. Sampai pada akhirnya aku menyadari sesuatu.
“itu tas dan sepatu milikku”batinku masih dalam kepedihan. Oh Tuhan…. . Sepatu dan tas yang sedang Lia pakai itu adalah punyaku, kedua barang itu adalah hadiah anniversary yang Reza berikan untukku dulu. Aku sempat menitipkannya dulu sewaktu kamarku sedang dalam renovasi. Sampai pada akhirnya kami berdua putus dan hadiah itu belum sempat aku ambil kembali.
Tapi kenapa harus dia yang memakainya. Kali ini air mataku benar-benar mengalir sangat deras dan membuat tangisku ini semakin tersedu-sedu.

“Aku juga pantas bahagia Tuhan. Bukan hanya dia. Tapi mengapa aku tidak melihat kebahagian itu. Aku hanya bisa melihat kebahagianku yang telah diambil orang lain. Aku nikmati ini semua dengan kepedihan hatiku. Aku tak sanggup untuk melihatnya lagi. Aku harus segera bergegas pergi. Ya, aku harus pergi sekarang” Ucapku dalam hati.
Aku segera membalikan arah dan mencari jalan lain untuk bisa keluar dari tempat ini.
***

3 Bulan Kemudian

Yang berbahagia :

Reza Aditya Putra
&
Lia Margareta

Gedung Cendrawasih – Jakarta
7 Mei 2012

1 Mei 2012 .  Hari ini aku mendapatkan sekaligus tiga undangan pernikahan mereka berdua. Ternyata mereka menyebarkan undangan bukan hanya melalui jasa pengiriman surat, tapi mereka juga menyebarkan melaui internet.
Kenyataan ini ternyata mampu membuat nafsu makanku hilang hari ini. Terlebih, mereka melangsungkan pernikahan tepat di hari ulang tahunku yang ke 24 tahun.
“Belum puaskah mereka berdua?Ternyata penderitaanku selama ini masih saja kurang di mata mereka”.
Tapi sayangnya mataku ini mulai merasa kekeringan dengan ini semua. Aku sudah tidak bisa menangis seperti dulu lagi. Meskipun perih ini masih belum bisa terobati. Tapi aku berusaha kembali menjadi seorang white angel lagi, seperti apa yang diajarkan guruku waktu masih duduk di taman kanak-kanak dulu.

Tapi entah mengapa, air mata ini pun akhirnya jatuh juga. Aku teringat masa-masa indahku bersama Reza dulu.
Aku teringat dengan semua tingkah manja Reza padaku. Tingkahnya yang begitu sangat lucu ketika ia sedang berusaha untuk meminta maaf kepadaku.
Ingatanku masih begitu kuat untuk mengingat peringatan anniversary pertama kami dulu. Reza yang dulu adalah Reza yang rela untuk bermalam di bawah pohon depan rumahku demi menyambutku dengan peralatan sederhana esok paginya.
Reza yang dulu adalah Reza yan sangat Romantis, Reza yang selalu memberiku setangkai mawar putih padaku setiap kita bertemu.
Tapi sayangnya itu semua dulu Disaaa…. Reza yang dulu telah mati. Reza yang dulu rela untukmu, kini rela meninggalkanmu. Reza yang dulu selalu memberimu mawar putih, kini ia memberimu mawar berduri.
“Tapi pada kenyataannya Reza mu itu masih ada Disa. Reza mu itu masih hidup. Nama yang tercantum pada undangan itu adalah nama Reza yang kau miliki dulu—ya benar, Ini memang nama pria yang selalu mengecup keningku dulu. Tapi aku tau, mungkin namanya saja yang sama. Aku yakin, sifat dan orangnya pasti berbeda. Begitu juga hatinya, hatinya bukan mililkku lagi, dan hatinya bukan untukku lagi” Batinku.

Aku merasa sangat lelah siang ini. Aku memutuskan untuk segera pulang kerumah, meskipun tugasku dikantor belum semuanya selesai. Tapi aku rasa, aku bisa menyelesaikannya dirumah nanti.
“Kamu sudah pulang Dis?” Sambut mamahku setibanya aku dirumah. “Aku sedang tidak enak badan mah, jadi aku pulang cepat hari ini”Jawabku dengan suaraku yang sudah parau.
Aku segera menuju kamarku untuk berisitirahat sampai sore nanti.
***

“Dissaa…bangun Disaa…. Ayo bangun sayangg”Terdengar suara pria dibalik alam bawah sadarku. Aku mulai berusaha untuk membuka mataku secara perlahan.
“Apa yang sedang terjadi padaku. Tubuhku terasa begitu sakit. Mataku sangat sulit untuk dibuka”Ucapku pada pria yang berbicara padaku tadi.
“kamu gak apa-apa sayang?syukurlah. Ayo bangun”Balasnya dengan nada suara yang begitu bergembira.

Aku mulai bisa membuka mataku secara perlahan-lahan. Meskipun aku sudah bisa membuka kedua belah mataku, tapi pandanganku masih terlihat sangat buram. Aku tetap saja tidak bisa melihat siapa pria yang sedang memelukku sejak tadi itu.

Beberapa saat kemudian, aku berhasil memfokuskan pandanganku. Tapi—Oh Tuhan, Reza. “Sedang apa kamu disini?”tanyaku dengan tegas. Reza merasa aneh, ia mengangkat sebelah alisnya untuk menggambarkan pikirannya itu. “Kamu baru saja mengalami kecelakaan sayang. Tapi syukurlah kamu tidak apa-apa”Ujar Reza dengan tawanya yang sedikit meledekku. “Bukannya kamu seharusnya sedang mengurus pernikahan mu tanggal 7 nanti za?”Tanya ku dengan penuh rasa bingung yang berkemelut dalam otakku.
“hmm. Ok, akan aku jelaskan setelah kamu bangun yang”. Dengan semangat aku segera bergegas untuk berdiri. Tapi entah ini mimpi atau apa. Aku melihat mobilku sudah dalam keadaan yang cukup mengkhawatirkan. ini semua membuatku semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu lihat sekitarmu ini?Kamu baru saja mengalami kecelakaan sebelum kamu menemuiku di cafe tadi. Aku segera ketempat kejadian setelah mendapat kabar dari warga sekitar yang menghubungiku melalui panggilan terakhir di handphone mu tadi. Menurut warga sekitar, kamu menabrak tiang baliho setelah kamu berusaha menghindari mengendarai lain”Jelas Reza sambil meyakinkanku. Dan aku masih tetap saja belum bisa tersadarkan dari kebingungan hatiku ini.
“Hhm. katanya kamu punya berita bahagi. Berita apa itu?”Tanya reza sambil tersenyum manis padaku. “hah berita bahagia?berita apa?aku gak tau Za”Jawabku sambil berusaha mengingat-ingat hal yang dimaksud Reza. “Iya tadi kamu telepon aku. Kamu Ngajak aku untuk ketemuan di cafe karena kamu punya kabar bahagia untuk aku “Jelas Reza dengan pennuh rasa sabar menghadapiku yang mulai merasa aneh.
“Berarti pernikahan ituuuu…. ??aghh. . aku pusingg”

END

Karya:
Rika Dewi Hertiarini

Genre: Cerita percintaan, cerita pendek romantis, cerita anak remaja, cerita kehidupan, Romance, Cerita pendek, Cerita Romantis, Cerpen Cinta

Sumber:
Blogmustamil@blogspot.com

Advertisement (Dibawah ini adalah Iklan)
loading...