Cara Hidup dan Habitat Cyanobacteria

By On Sunday, February 26th, 2017 Categories : Sains

Cyanobacteria (siano = biru-hijau) adalah jenis ganggang yang terdapat secara alami di lingkungan akuatik dan terestrial. Dalam kondisi yang tepat, cyanobacteria dapat tumbuh pesat mengakibatkan mekar alga (Blooming ).

Faktor-faktor lingkungan seperti cahaya, suhu, dan nutrisi berkontribusi untuk pembentukan mekar. Mekar ganggang ini mungkin tampak hijau, merah, ungu, atau berwarna karat, kadang-kadang menyerupai cat tumpah. Sebuah mekar dapat ditemukan di permukaan air, di bawah permukaan, atau bercampur diseluruh kolom air.

1. Cara Hidup Cyanobacteria

Cyanobacteria dapat hidup secara bebas maupun bersimbiosis mutualisme dengan organisme lainnya. Hal ini disebabkan Cyanobacteria merupakan organisme fotoautotrof yang mampu berfotosintesis untuk menyusun makanannya sendiri dengan menggunakan senyawa sederhana, seperti karbon dioksida (CO2), amonia (NH3), nitrit (NO2), nitrat (NO3), dan ion anorganik lainnya (misalnya fosfat, PO43-). Cyanobacteria memiliki kesamaan dengan alga (ganggang), yaitu memiliki klorofil a, mampu menggunakan air sebagai sumber elektron, dan mereduksi karbon dioksida menjadi karbohidrat.

2. Habitat Cyanobacteria

Cyanobacteria dapat hidup di berbagai habitat, antara lain di air laut, air tawar, rawa, sawah, kolam, air got, tanah, tembok, batu, gurun, bahkan menempel pada tumbuh-tumbuhan. Beberapa spesies dapat hidup di habitat yang ekstrem, misalnya di perairan yang bersuhu tinggi (±72°C) atau di lingkungan asam dengan pH 4, contohnya Synechococcus lividus. Di mata air panas Yellowstone

National Park yang bersuhu 72°C, Cyanobacteria dapat tumbuh subur dan terlihat sebagai lapisan tipis berlendir yang mengambang di permukaan air.

Pada saat-saat tertentu di mana jumlah nutrisi dalam Lingkungan mencukupi, maka populasi Cyanobacteria tumbuh subur dengan cepat, yang disebut blooming. Blooming Cyanobacteria sering terjadi di perairan yang mengandung limbah industri atau limbah pertanian dengan kadar nitrogen atau fosfat yang tinggi. Blooming menyebabkan perairan tertutup oleh Cyanobacteria sehingga oksigen dan cahaya matahari tidak bisa menembus ke bagian bawah perairan. Hal ini dapat menyebabkan kematian tumbuhan dan ikan yang hidup di dalamnya. Blooming Microcystis sp. dan Nodularia sp. ternyata menimbulkan masalah lain, yaitu menghasilkan racun (toksin) yang membahayakan organisme lainnya. Di Australia, sejumlah biri-biri mati setelah meminum air yang mengandung racun akibat blooming Cyanobacteria di suatu telaga.

Jumlah populasi Cyanobacteria yang melimpah, juga dapat memberikan warna tertentu pada habitatnya, seperti Oscillatoria rubescens, Cyanobacteria berpigmen merah yang memberikan warna merah di laut Merah, Timur Tengah. Anabaena azollae yang hidup bersimbiosis mutualisme dengan tumbuhan paku air Azolla pinnata, tampak sebagai hamparan hijau yang mengambang di sawah. Anabaena azollae ini dapat mengikat nitrogen sehingga membantu menyuburkan tanah.

Beberapa jenis Cyanobacteria seperti Nostoc dapat hidup bersimbiosis mutualisme dengan jamur membentuk lichen, yang dapat hidup di tempat di mana organisme lain tidak dapat hidup (misalnya di tembok atau batu), sehingga berperan sebagai organisme perintis (pioner). Organisme perintis mampu membuka lahan baru untuk tumbuhnya organisme lainnya, seperti lumut dan paku-pakuan. Dalam hubungan simbiosis mutualisme ini, Cyanobacteria memberikan makanan berupa senyawa organik bagi jamur, sedangkan jamur menyediakan lingkungan, kelembapan, dan perlindungan bagi Cyanobacteria.

24292446, 24292447, 24292448, 24292449, 24292450, 24292451, 24292452, 24292453, 24292454, 24292455, 24292456, 24292457, 24292458, 24292459, 24292460, 24292461, 24292462, 24292463, 24292464, 24292465, 24292466, 24292467, 24292468, 24292469, 24292470, 24292471, 24292472, 24292473, 24292474, 24292475, 24292476, 24292477, 24292478, 24292479, 24292480, 24292481, 24292482, 24292483, 24292484, 24292485