Bus Hitam Kursi Nomor Tiga

By On Monday, March 6th, 2017 Categories : Cerita

Hari ini tiba waktunya punggungku harus menempel di kursi penumpang bus selama tiga jam. Ya, dihitung juga dengan berhentinya kira-kira segitulah, kalau lebih ya disimpan saja. Ah lupakan. Aku berjalan menapaki jalanan yang sepi bagai jalan ini milik diriku sendiri. Bukan, ini bukan kisah seram, melainkan keadaan yang mendung sangat kelam membuat orang enggan keluar melewati jalan ini. Beda dengan diriku, aku rela malampauinya demi melepas kerinduan dengan orang-orang tercinta. Sudah sampai kakiku melewati jalan itu, langsung angkutan umum menyapaku dan aku naik itu demi sampai di terminal Landungsari, Malang. Di situlah aku berlabuh menunggu bus selanjutnya parkir untuk keberangkatan. Nah, nah, nah, mendung mulai memberi notifikasi akan datang hujan. Air jatuh sedikit demi sedikit. Air itu tahu rasanya jatuh makanya dia jatuh perlahan ke bumi agar tidak sakit.

Seorang kernek menghampiriku menyuruhku naik bus yang menurutku hanya ada satu di situ, Puspa Indah, tapi desain warnanya hitam. Padahal yang lain berwarna biru.
“Yaah, sepi, cuma ada bapak-bapak. Pasti lama ini berangkatnya. Nunggu penuh. Pasti,” aku pun berkata pada diri sendiri.

Kupilih kursi nomor dua di belakang sopir di dekat jendela. Nah, nah, nah, ada rasa yang tidak nyaman. Aku bertahan beberapa menit, lima belas menit hingga banyak orang masuk mengambil duduk. Namun, aku tetap tidak nyaman. Akhirnya, aku pindah di kursi nomor tiga dan waktu itu masih kosong, dekat jendela. Itulah isyarat alam kepadaku, bila sudah tidak nyaman dengan sesuatu yang terus dipertahankan, pindahlah dengan sesuatu yang lain yang lebih nyaman.

“Mbak, permisi mau tanya, ini bus kok bangus banget ya? Apa ini mahal? Atau ini patas? Tadi aku baca di sana AC tarif biasa. Emang ada tarif yang luar biasa?” mendadak aku kaget dengan pertanyaan orang yang di belakangku.
“Oh jangan khawatir mbak, semua bus sama tarifnya kok kalau ke Kediri. Beda lagi Jombang itu kayaknya ada yang patas,” aku menjawab dengan wajah sok tahu.

Aku memang tidak sabaran. Waktu baru berjalan 45 menit saja sudah ingin terjun keluar mencari pelarian bus yang lebih berangkat dahulu. Aku bertanya pada kernek pukul berapa ini akan berangkat. Padahal, bus sudah penuh. Belum sih, ada yang belum terisi, tiga kursi. Kernek menjawab kalau bus akan berangkat sekitar pukul setengah 4 yang artinya jam 15.30 an atau kalau lebih ya disimpan saja. Aku terkaget mendengar kata setengah 4, wah, masih lama itu artinya. Aku bisa tidur dulu sampai mimpi ke pulau dewata. Ya, mimpi. Biarkan hanya mimpi yang penting tidak terlalu gila mengharap yang belum pasti.

Pada waktu yang belum setengah 4 sopir sudah naik dan bus jalan. Wah masih parkir. Ya sudahlah aku tunggu walau hati rasanya ingin marah-marah, teriak, dan banting bus ini kalau bisa. Namun, keadaan itu seakan terbalik saat aku lihat pangeran yang mungkin jatuh dari langit masuk dari pintu depan. Aku menganga, melongo seperti orang bodoh. Dia meminta izin untuk duduk di sampingku. Wajahku yang kucel dan sebal waktu itu masih menerjemahkan dan melihat kanan, kiri, belakang tempat mana yang masih kosong. Ya, ternyata hanya punyaku.

“Aku Deon, namamu?” aku merasa ini sangat cepat, perubahan keadaan suasana hatiku. Aku masih bingung menjawab apa. Aku takut kalau menjawab nanti bau mulutku tidak enak, bagaimana nanti kalau dia pingsan. Apa hanya aku yang merasakan seperti ini? Ah sudahlah.
“Aku Livia,” beginikah rasanya? Beginikah kelihatannya? Aku merasa ada yang nyaman saat kami berdua tidak sengaja saling tatap. Sumpah bukan mendramatis, ini seperti di sinetron-sinetron.
“Turun mana?” aku tidak konsentrasi menjawab pertanyaanya karena beralih ke ketampanan wajahnya. Sumpah ini seperti pangeran. Namun, basa-basinya sangat basi. Biarlah yang penting sudah ada perantara untuk mengobrol.
“Oh aku turun Kediri, kamu mana?” aku sok tidak peduli. Padahal, aku sangat mengharap aku bisa berbicara banyak layaknya sudah akrab.
“Oh sama dong kalau gitu. Eh omong-omong kuliah ya?” aku menjawab iya dan dia juga anak kuliah. Tidak terasa bus sudah keluar dari terminal. Aku tidak menghiraukan sekitarku apakah ada pemandangan menarik atau tidak. Aku masih mengagumi Deon. Sumpah kalau kalian benar-benar melihat ini orang, dunia tidak akan berarti bagi kalian.

Kernek atau kondektur sudah mulai beraksi seakan-akan dia yang berkuasa di tempat ini. Dia memintai uang dari penumpang-penumpang dan jumlahnya sesuai jurusan. Dia menarik uangku dan uang Deon. Deon terkaget katanya aku turun di Kediri kok hanya bayar sedikit. Aku menjawab aku bukan turun di terminal, tapi di sebuah perempatan. Lalu, dia juga membahas di mana dia turun, di perempatan juga, tapi lebih dahulu dia daripada aku. Lumayan dekat hingga membuat dia terheran dan bertanya-tanya kok sepertinya kenal.
“Oalah kamu turun di situ. Nah kita tetangga desa dong,” aku hanya menjawab kalau di situ rumah tanteku bukan rumahku. Rumahku ada di Kediri. Dia hanya bilang O saja.

Lama kelamaan kami kehabisan bahan obrolan. Kami diam dan tidak saling bicara. Aku lebih memilih pemandangan gunung. Itulah yang membuat aku terkaget. Betapa sudah jauh perjalanan yang aku tempuh. Sudah sampai sini? Begitu kataku dalam hati. Lekuk-lekuk jalanan dan tikungan membuat Deon mengantuk. Dia terpejam seperti ditimang-timang. Namun, aku heran dengan diriku mengapa aku tidak mengantuk? Padahal, biasanya saat pulang kampung pasti aku tidur dari awal sampai akhir.
Ini beda sekali, sangat beda. Entahlah. Mendadak aku tertawa melihat Deon tidur, aneh. Kakinya bisa melebar ke mana-mana hingga mulai mendekat denganku. Lalu, dia ditegur bapak-bapak yang tidak dapat tempat duduk. Di situ dia mengatakan kalau kakinya menghalangi bapak itu berdiri. Aku mengok ke arah bapak saat Deon terkaget dan terbangun dalam tidurnya. Wah ternyata di sebelah bapak sampai ke belakang banyak sekali penumpang yang berdiri. Aku sampai tidak sadar, apakah ini namanya dialihkan perhatianku.

“Deon, kamu aneh-aneh saja bisa sampai di situ kakimu,” dia hanya tertawa bersama rasa heran juga.
“Aku nggak tahu Liv, semua terjadi begitu saja,” aku mengangguk saja.

Iya memang semua terjadi begitu saja, seperti aku saat ini ada di sebelahmu. Apa hanya aku yang merasakan hal ini. Rasa apa ini? Aku tidak tahu. Suka? Kalau suka pada pandangan pertama mungkinkah? Ah aku tidak tahu, yang jelas ini hanya kupendam sendiri. Deon kembali terpejam. Aku mengatakan sesuatu dalam hati, dasar laki-laki, tidur saja kerjaannya. Ini orang tidak tertarik apa berbincang denganku? Aku merasa tidak ada rasa lelah yang menempel padaku. Padahal, biasanya akan ada rasa cepat turun dari bus karena duduk terlalu lama.

“Waduh Deon, apa-apaan dia ini?” aku melihat dia, kepalanya sudah tidak sengaja bersandar di pundakku. Awalnya tidak menempel hanya ada jarak 10 senti. Akhirnya menempel di pundakku. Aku heran aku ingin menyingkirkannya, tapi takut dia terkaget bangun lagi. Aku biarkan saja, tapi benar-benar tidak ada rasa lelah di pundakku. Aku mulai menyingkirkan perlahan agar tidak dikira aku nyaman dengan dia.
“Wah Liv maaf. Sorry. Aku nggak sengaja,” aku bertanya padanya kalau tidur memang tidak bisa diam? Dia hanya menjawab iya.

Dua jam berlalu kami mengobrol tentang kesukaan kami tinggal di Malang. Dia serentak mengatakan aku merugi karena saat ditanya sudah pernah ke mana saja. Aku hanya menggeleng. Dua tahun di Malang, aku ditanya, sudah pernah ke Jatim Park? Paralayang? Selecta? BNS? Aku hanya menggeleng. Rumah makan mana yang pernah aku hinggapi menongkrong dengan teman-teman, aku menggeleng lagi. Pasar parkiran? Sengkaling? Cafe-cafe yang ada di Malang? Semua aku menggeleng kecuali Matos dan Bingso. Bahkan dia tertawa terbahak-bahak hingga mukaku memerah saat dia bertanya pernahkan aku ke alun-alun Malang? Aku menggeleng.
“Super sekali kamu Livia, kamu semedi di kos? Atau kamu susah cari teman untuk ke mana-mana? Atau bagaimana sih? Aku nggak habis pikir jalan otakmu. Rugi tahu. Jangan serius-seriuslah kuliah. Santai, Malang itu santai.”
“Bukan gitu Deon. Kamu nggak ngerti. Ah pokoknya aku belum pernah deh. Kalau ada kesempatan aku sempatin deh.”
“Ih sumpah aku yakin pasti ada kesempatan deh Liv. Tinggal niat kamu aja. Ah kalau saja aku masih semester awal. Aku ajak kamu sama teman-temanku kalau mau. Ini mungkin aku dua bulan lagi sudah wisuda.”

Aku menyayangkan hal itu juga. Aku tidak tahu harus bilang bagaimana pada Deon. Bukan karena kesempatan, aku hanya memikirkan keluargaku. Di sana mereka berjuang demi aku. Di sini aku senang-senang. Namun, aku juga ingin cari pengalaman. Aku mendapat beberapa rupiah dari usahaku sebenarnya aku rencanakan untuk hal itu. Lalu, membeli baju untuk aku pakai di sini daripada aku membawa dari kampung berkoper-koper, lebih baik beli di sini yang murah. Namun, saat pulang kampung dan lihat keadaan rumah, orangtuaku, aku jadi memilih menabung uang itu. Bahkan pernah aku berikan ke mereka semua. Sudahlah, jalan ada sendiri. Biarkan aku mengalir. Aku tidak tahu menabrak apakah saat aliran sangat deras dan mengayuh dengan apakah saat alirannya tenang. Pasti aku akan sampai pada ujungnya.

“Deon, kamu jangan ketawa terus! Lebih baik kamu tidur,” aku juga merasa mengantuk, tapi aku susah tidur memikirkan perkataan Deon. Aku? Apakah aku rugi? Ah tidak juga.

Aku tidak sengaja telah mengantuk. Padahal, sudah sampai Kasembon yang memungkinkan aku akan sampai? Aku terlelap dan tidak tahu menahu apa yang terjadi. Aku sedikit tenang hingga tangan menggenggam kepalaku yang membuatku kaget. Aku terbangun, masih beberapa menit aku tidur. Doen yang memegang kepalaku. Dia bilang aku terlalu mendekat padanya dia akan menyingkirkannya seperti yang kulakukan padanya.

Ada suara ribut-ribut di belakang. Aku penasaran. Aku dan Deon menengok ke belakang. Eh ternyata orang yang tadi bertanya padaku tarif bus yang ribut dengan kernek. Dia protes mengapa bus tidak lewat memutar seperti biasa. Kernek menjawab karena sudah sore dia lewat jalan pintas.
“Loh pak harusnya kan lewat Ngoro, aku mau turun di situ,” dia penuh emosi meluapkan segalanya yang sedilit tidak jelas suaranya.
“Loh mbaknya tadi bilang mau turun Kediri. Pas kami data nggak ada yang turun di situ ya kami lewat jalan pintas. Hayo gimana?” dia kalah. Perempuan itu memang bilang turun di Kediri. Entah tujuannya apa yang jelas menurutku dia salah.
“Terus gimana ini? Apa aku nanti lapor?”
“Loh mbak ini gimana to? Gini mbak jangan bingung. Santai, tenang. Nantin sampai Kediri, mbak oper bus saja. Beres kan? Lain kali bilang saja tujuan mbak, nggak perlu malu. Kalau nggak tahu ya tanya.”
Perempuan itu tetap tidak terima dengan keputusan kondektur. Namun, apalah daya dia hanya penumpang, bukan sopir. Dia termenung di belakang kemudian kembali ke tempat duduknya.
Dia bercerita kepadaku kalau dia memang tidak sengaja bilang Kediri. Dia pikir daripada bayar kurang mending lebih, tapi sampai. Namun, nasi sudah menjadi bubur.
“Sudah mbak nggak papa, buat pelajaran saja,” dia tidak menggubris aku. Aku juga tidak peduli pada akhirnya.

Aku melihat Deon tertidur lagi. Namun, teleponnya berdering hingga membuat dia bangun. Foto seorang perempuan cantik yang meneleponnya. Aku yakin itu kekasihnya. Dia tidak menjawab kemudian ditelepon lagi. Aku tidak ingin bertanya mengapa tidak dijawab. Aku tahu itu urusan dia. Deon segera menelepon seseorang yang lain dan mengatakan dia sampai di Pare.

Waktu terus berjalan hingga tempat tujuan semakin dekat. Aku seakan tidak rela melepas kebersamaan ini. Bukan aku yang telah jatuh hati, bukan. Aku hanya senang mendapat teman baru saja. Deon sudah mulai menemui titik di mana bus berhenti untuk menurunkan dia. Di perempatan yang dulu pernah aku jatuh dari motor di tempat itu. Aku teringat masa lalu, tapi tidak penting. Aku hanya melongo ternyata dia turun di sini.
“Liv, bye.”
Dia hanya memandangku dan mengatakan hal itu. Dia tidak ada kata-kata lain. Perasaanku berkata seakan tidak rela dia turun terlebih dahulu. Di tengah keramaian penumpang bus, hanya aku yang merasa sepi saat ini. Aku tidak tahu mengapa. Ini bukan pertanda apa-apa, aku mengatakan pada diriku sendiri kalau ini bukan apa-apa. Namun, aku berdiri dan melangkah. Giliranku untuk turun.

Aku masih teringat dengan dia. Mengapa dia tidak meminta nomor teleponku atau yang lain? Mengapa aku juga tidak begitu? Aku tidak tahu. Dia seperti penenang, betapa tidak? Tiga jam serasa hanya setengah jam saja. Aku tidak merasakan lelah. Aku menancapkan kata-kata pada diriku bahwa dia bukan siapa-siapa. Entahlah aku harus bagaimana. Aku hanya ingin mendapat teman baru. Bahkan baru pertama kenal saja bisa seakrab ini. Dia bisa menertawaiku karena kekunoanku dan mengatakanku hanya semedi di kos. Sudah. Aku sudahi saja perasaan ini. Lupa. Aku akan lupakan.