Bunga Terakhir

By On Friday, March 3rd, 2017 Categories : Cerita

Sekarang kebahagiaanku sudah sangat terasa lengkap. Hal pertama! Aku mempunyai kedua orangtua yang sangat baik dan pengertian, hal kedua! Aku mempunyai dua sahabat yang sangat sejati, mereka humoris selalu berhasil membuat hidupku penuh warna dan hal ketiga! Aku mempunyai seorang kekasih yang sangat setia sudah hampir dua tahun ini aku selalu bersama dengannya, sudah banyak hal yang aku lalui dengannya mulai dari bertengkar, ngambek, cuek-cuekan bahkan sampai saling cemburu tetapi hal itu cuma kami anggap bahwa kami tak mau kehilangan satu sama lain.

Udara sangat dingin pagi ini, aku tengah berdiri di depan rumahku dengan seragam rapi mengenakan baju putih dan rok abu-abu tak lupa sepatu di bagian kaki dan tas yang menempel anggun di punggungku. Aku melihat benda yang melingkar di pergelangan tanganku jam menunjukan pukul 06:30 ini sudah menjelang siang tak biasanya orang yang selalu kutunggu terlambat menjemputku seperti ini. Ada apa? Ada masalahkah di jalan? Aku terus mencoba tenang membuang jauh-jauh pikiran negatifku terhadapnya. 10 menit kemudian terdengar suara klakson di telingaku, aku langsung bergegas keluar dari pagar rumahku. Orang yang kutunggu sudah datang, langsung aku memasuki mobilnya dan kami pun berjalan menaiki mobilnya menuju ke sekolah.

“Maaf ya sayang aku terlambat, soalnya tadi kesiangan karena semalam bergadang mengerjakan tugas biologi” tuturnya
“Iya gak apa-apa, aku ngerti kok”

Aku mempercayai semua omongannya, aku tahu Kekasihku ini tidak akan pernah berbohong. Ya! Orang yang aku tunggu-tunggu tadi adalah kekasihku dia bernama Cristian Ali tetapi teman-temannya sering memanggil dan menyapanya dengan nama Crist

Suasana kelas hari ini sangat ramai karena guru yang mengajar di kelasku berhalangan hadir karena sakit. Semua murid sibuk dengan kegiatannya masing-masing, ada yang lagi menulis, ada yang duduk mengarah ke belakang mengobrol sama temannya, ada yang lagi ngobrolin acara film semalam, ada yang sedang mengotak-ngatik handphone dan berselfie dan kegiatan-kegiatan lainnya tetapi berbeda dengan aku dan kedua sahabatku kami lebih memilih duduk di halaman belakang kelas dengan satu gitar yang dibawa oleh salah seorang sahabatku, kami mulai bernyanyi berbagai macam genre musik mulai dari pop, rock, jazz, bahkan sampai ke lagu dangdut. Ini adalah hari yang sangat menyenangkan.

Aku menggenggam erat kedua tangannya, kutatap penuh arti kedua bola matanya seakan aku memberi sinyal bahwa aku tak mau kehilangannya aku ingin terus bersamanya.
Kami duduk berhadapan, meja bundar yang memisahkan tubuhku dan tubuhnya di atas meja itulah aku menggenggam erat kedua tangannya. Kami terdiam sembari menunggu pesanan makanan yang kami pesan. 5 menit kemudian dua mangkok bakso sudah ada di meja bundar tempatku menatap bola mata Kekasihku tadi, satu mangkok berkuah sedikit hitam dan satu mangkok berkuah bening. Kekasihku ini tak suka dengan makanan manis, kami memakan bakso secara bersamaan sesekali aku menyuapkan satu sendok baksoku kemulut Kekasihku tetapi dia selalu mengelak dan menolak karena bakso milikku sudah tercampur dengan kecap yang rasanya manis.

“Segitu gak sukanya sama makanan manis?” Tanya ku

Ia tak merespon pertanyaanku ia menunduk tangan kanannya menutup mulut dan hidungnya aku bertanya-tanya, ada apa? Ada yang salahkah? Apa pertanyaanku salah? Kuberanikan diriku untuk mengeluarkan uneg-uneg yang ada di pikiranku tentangnya.

“Crist. Kenapa? Sakit? Muka kamu pucat, kamu gak apa-apa kan?”

Kukeluarkan pertanyaanku yang beruntun ia menggelengkan kepala menandakan bahwa tak terjadi apa-apa dengannya. Aku memang selalu percaya dengan apa yang ia ucapkan tapi kali ini seperti ada yang ia sembunyikan hal itu terlihat jelas dari wajahnya yang pucat. Aku berdiri dari dudukku dan menghampirinya kubuka tangannya yang sedari tadi menutup mulut dan hidungnya.
Astaga! Aku terkejut, Darah? Darah yang sedari tadi ia tutupi Crist mimisan. Ada apa ini? Aku sangat bingung tanganku langsung mengeluarkan tissue yang ada di saku bajuku dan mengelap darah yang bercucuran itu.

“Kamu kenapa?” Tanyaku yang sedari tadi mengelap darah yang keluar dari Kekasihku ini
“Jangan panik sayang, ini gak apa-apa kok”
“Gak apa-apa gimana?”
“Gesyah sayang, aku tidak apa-apa aku hanya kecapekan karena begadang semalam, kamu jangan khawatir ya”

Ia memegang bajuku kini aku dan dia berhadapan. Hal ini yang membuatku diam tatapannya itu mampu menghipnotisku untuk berkata iya kepadanya aku membuyarkan suasana, kuajak ia untuk ke UKS ia mengangguk menuruti saranku.

Mataku tertuju ke air yang tenang tanganku memeluk erat kedua lututku aku tengah duduk di pinggir kolam rumahku, entah mengapa aku terus kepikiran dengan Crist terlebih atas kejadian di kantin sekolah tadi. Aku takut terjadi apa-apa dengannya.

“Hey” Aku terkejut badanku hampir saja mau tercebur ke kolam yang airnya pasti sangat dingin. Aku menoleh senyum manis keluar dari bibirku. Mereka! Mereka sahabatku yang selalu memberi warna di hidupku mereka mencoba menghiburku dengan canda gurau yang mereka ciptakan sendiri.

“Udah! Crist itu gak mungkin nutupin sesuatu dari loe gak usah dibawah pusing, Crist aja bilang gak ada apa-apa kan?” Ujar sahabatku Karin
“Oh gue tau mungkin Crist lagi kena penyakit bengek” Ceplos sahabatku satunya Pita mendengar ucapannya kami bertiga tertawa.
“Apaan si Pit, Crist itu mimisan bukan sesak nafas, aneh-aneh aja loe” Karin memprotes ucapan Pita melihat kelakuan mereka berdua beban pikiranku sedikit demi sedikit berkurang.

Beberapa hari kemudian lebih tepatnya hari minggu Aku dan Crist berniat untuk jalan-jalan kebetulan hari ini adalah hari libur jadi kami berangkat dari rumah pukul 10:30 WIB, tujuan kami ingin mengunjungi pusat perbelanjaan dan belanja di sana tetapi karena aku ingin ketaman dan menikmati ice cream coklat lalu duduk berdua di sana. Karena niatku tadi Crist dan aku mengurungkan niat untuk pergi ke mall karena menurut kesepakatan kami dengan menikmati ice cream berdua di taman itu akan menjadi moment yang sangat romantis.

Tidak butuh waktu lama kini aku dan Crist sudah berada di sebuah taman yang indah. Karena berhubung ini adalah hari Minggu taman ini sudah banyak didatangi pengunjung. Kami mencari tempat yang pas untuk duduk tak berapa lama kini kami telah menemukan tempat itu yaitu di sebuah bangku panjang di atasnya sedikit ada atap yang ditumbuhi dengan tumbuhan yang merambai.
Crist memang seperti ini orangnya pasti tidak mau bicara duluan kecuali dia mempunyai kesalahan baru dia berani untuk bicara duluan itu pun karena ia ingin meminta maaf. Aku mencoba untuk memulai pembicaraan dengannya.

“Enak ya ice creamnya?”
“Syah aku ingin bicara” Ujarnya aku menoleh kearahnya sembari kuanggukan kepalaku pertanda bahwa aku mempersilakannya.
“Kita udahan aja ya”
“Maksudnya?”
“Aku mau pindah ke Surabaya aku gak mau kamu sendiri di sini, aku izinkan kamu untuk mencari cowok lain”

Kenapa? Kenapa dia berbicara seperti itu? Dia kira melupakan orang yang sangat kita cintai itu mudah. Tidak! Tidak semudah membalikan telapak tangan, pantas dari awal dia memanggilmu dengan sebutkan Syah bukan sayang jadi ini maksudnya.

“Kenapa mendadak seperti ini? Aku mau kok kita LDR”
“Aku tak mau menyakiti hatimu Syah”
Dia berlalu begitu saja meninggalkan aku di sini. Dia tega dia berubah, ada apa dengannya?

Dua Minggu ini aku mengurung diri di kamar aku mogok makan, aku tak mau diganggu, aku menangis. Otakku tak berhenti memikirkan kejadian dua Minggu lalu aku stres pikiranku hanya fokus dengan kejadian itu. Ya! Kejadian disaat Crist memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya sampai saat ini aku masih bingung, mengapa ia memutuskan ini? Mengapa ia mengambil keputusan sepihak tanpa ada persetujuan dariku? Menururku alasannya untuk pindah itu sungguh tidak masuk diakal terlebih aku sudah menawarkan padanya bahwa aku siap untuk berhubungan secara LDR tetapi dia tetap kokoh dengan keputusannya. Lantas aku bisa apa? Aku hanya bisa terima dan menangis seperti ini setiap harinya, apa dia tidak memikirkan ini? Apa mungkin ada pihak ketiga? Aku tersiksa sangat-sangat tersiksa.