Bloody Hell (Welcome to Diary of Psycopath) Part 3

By On Wednesday, March 15th, 2017 Categories : Cerita
Gratis Samsung

“Aku dengar, anak baru itu menjadi korban selanjutnya!”
“Korban apa?”
“Pembunuhan ZZ, siapa lagi?”
“Serius? Hah, padahal aku naksir pada anak itu.”
Aku tersenyum miring saat mendengar celotehan mereka. Cih, naksir sama Fudo? Aku sarankan kalian jangan sampai naksir Fudo. Fudo itu menyebalkan.
Lagipula, dia sudah tenang.
Aku menutup lokerku sebelum seseorang melihat apa yang kutulis besar-besar di dinding lokerku.
I AM A PSYCOPATH, ALDEMAR FRANK REZZ!

“Aisley, titip tas ya. Aku mau ke kamar mandi nih,” kata Alde sambil menyerahkan tasnya pada kekasihnya. Aisley menerimanya sambil menggerutu kecil, membuat Alde tak tahan untuk tidak mengacak rambutnya.
“Cih, tas segini berat banget. Isinya apaan ya?” tanya Aisley pada dirinya sendiri. Dia duduk di bawah pohon sambil memeriksa tas Alde.
Hm, hanya buku-buku pelajaran biasa. Tapi tas ini benar-benar berat ..
Cringg
Aisley melihat apa yang terjatuh dari tas Alde. Matanya terbelalak lebar.
Sebuah .. pisau?
Aisley memungutnya. Untuk apa Alde membawa pisau ke sekolah? Apa dia ada ekskul memasak?
Ah, tidak. Alde selalu langsung pulang karena dia tidak suka dengan ekskul. Katanya, lebih baik belajar di rumah. Ada benarnya, tapi sama saja dia meng-antisosial-kan dirinya.
Mungkin ini pesanan tetangganya, mengingat Alde hanya sebatang kara di dunia.
Aisley memasukkan pisau itu kembali ke tempatnya. Saat dia hendak mengembalikan pisau itu, dia menemukan sebuah buku yang menarik perhatiannya.
Buku itu bertuliskan Diary of Psycopath. Aisley mengenyit.
Apa selama ini Alde mengidap psyco?
Gadis terlalu penasaran. Maka, dia memasukkan buku Alde ke dalam tas merah mudanya, lalu menutup tas Alde. Dia menaruh tas Alde di samping tasnya, bertopang dagu sambil menunggu Alde kembali.
“Hei, lama ya? Maaf ya,” kata Alde sambil ikut duduk di samping Aisley. Aisley tersenyum kecil. Mungkin dia masih syok setelah menemukan pisau di dalam tas Alde. Sesaat Aisley menatap Alde, namun dia dengan cepat menyadari tatapan kekasihnya. Alde mengembangkan seringaian jahilnya.
“Kenapa lihatin aku sampai segitunya? Apa kamu baru mengagumi pacarmu yang tampan ini?”
Aisley tertawa sambil menepuk pundaknya. “Hahaha, kamu ini. Iya, kamu memang pacarku yang paling tampan,” kata Aisley sambil memeluknya dari samping.
Alde balas memeluk Aisley, meletakkan kepalanya di atas kepala Aisley.
“Jangan pernah tinggalkan aku, Aisley. Berjanjilah.”
Entah kenapa lelaki itu mengeluarkan kalimat seperti itu. Rasanya terdengar aneh. Namun Aisley mengangguk.
“Ya, Alde. Aku takkan pernah meninggalkanmu.”
Alde tersenyum. Kemudian dia menarik diri dari pelukan mereka ..
Untuk mencium Aisley.

Aisley tengah sibuk di meja belajarnya.
Tapi, dia bukan sibuk karena belajar. Dia sibuk karena membaca buku diary milik Alde.
Ya, buku itu memang buku diary Alde. Judulnya Diary of Pscyopath. Isi diary itu sungguh tak terduga. Aisley sendiri sampai merinding ketakutan.
Di dalam diary itu, diceritakan bagaimana awal mulanya Alde melakukan pembunuhan, alasan kenapa Alde melakukan pembunuhan itu, dan korban-korbannya.
Yang aneh, di sudut kiri bawah halaman selalu tertulis nama yang berbeda.
Frank dan Aldemar.
Aisley mengingat kembali nama panjang kekasihnya itu.
Aldemar Frank Rezz.
Aisley menutup mulutnya, tak percaya. Yaampun, Alde yang dikenalnya sebagai lelaki baik-baik, ternyata ..
Seorang pembunuh.
Isi diary terakhir yang ditulis Alde :

1st of March 2003
Finally, I killed Fudo.
Aku benci dia. Dia sangat cerewet, menggangguku, membuatku telingaku panas karena pertanyaannya, dan masih banyak kelakukan menyebalkan lainnya.
Aku selalu membunuh semua orang yang kubenci.
Dan akhirnya aku membunuh Fudo, orang baru yang langsung kubenci.
Hah, menjadi seorang pembunuh sekaligus siswa berprestasi yang memiliki seorang kekasih di saat yang bersamaan agak susah, tapi aku melakoninya.
Apa sih, yang tidak bisa dilakukan ZZ?
-Frank-

Aisley menahan isakannya. Dia menutup diary itu, menekuk lututnya di atas kursi, lalu memeluk lututnya sendiri. Dia menangis terisak di sana.
Ahh .. Aldemar .. kekasihnya ternyata ..
Seorang pembunuh berdarah dingin.

Alde baru saja menutup lokernya saat sebuah tangan menyentuh pundaknya.
Dia mengenali sentuhan ini. Sentuhan lembut yang selalu disukainya. Dia berbalik, mendapati Aisley di depannya.
Namun hari ini, gadis itu tidak tersenyum saat melihatnya.
“Hai, tumben sekali kamu datang pagi. Ada apa?”
Aisley menggigit bibir bawahnya. Tangannya sedikit gemetar dan berkeringat dingin. Dia takut akan sosok di depannya. Siapa tahu laki-laki itu akan membunuhnya?
Alde menyadari ada yang tidak beres. Dia memegangi kedua pundak Aisley, dan gadis itu bergetar.
“Ada apa Aisley? Apa kamu sakit?”
Aisley menggeleng. Dia benar-benar ketakutan. Tapi, dia harus melawan ketakutannya. Alde tidak akan membunuhnya, kan?
“A-aku harus ngomong sama kamu. Dan aku butuh tempat yang sepi.”
Akhirnya dia bisa menguasai dirinya lagi. Alde menatapnya sedikit penasaran. Dia menarik tangan Aisley menuju taman. Sementara Aisley, dia sedikit merinding saat tangan dingin Alde menariknya.
Tangan itu sudah merengut ratusan nyawa.
Untung di taman sedang sepi. Alde langsung mendudukkan Aisley di sebuah bangku taman. Alde mengerutkan alisnya. Ada yang mencurigakan dari sikap Aisley pagi ini. Tapi dia berusaha menahan rasa penasarannya dan membiarkan Aisley berbicara.
“A-aku mau minta maaf sama kamu, sebelumnya.”
Aisley mengeluarkan sebuah buku berwarna merah bergaris hitam dari dalam tasnya.
Diary of Psycopath.
Alde menahan napasnya. Darimana Aisley mendapatkan buku itu? Dia tidak pernah membawa buku itu ke sekolah, kan?
“Aku menemukan diarymu di dalam tasmu, saat kamu menitipkan tasmu kepadaku. Maafkan aku sudah lancang membuka tasmu. Aku penasaran karena tasmu sangat berat. Dan juga, aku menemukan sebuah pisau di dalam tasmu. Awalnya aku mengira itu hanya titipan tetanggamu atau bagaimana. Tapi setelah membaca diarymu .. aku sadar itu bukan milik tetanggamu, tapi milikmu.”
Alde mengambil bukunya. Dia membuka halaman terakhir. Dan dia merutuki dirinya sendiri.
Bodohnya. Dia sempat menulis satu kalimat yang tentu saja akan dipahami anak secerdas Aisley.
Apa sih yang tidak bisa dilakukan ZZ?
“Apa kau memiliki dua kepribadian? Karena kalau iya, aku akan berusaha mencintai sisi gelapmu juga. Namun bila tidak .. bila kau memang dilahirkan sebagai psikopat dan pembunuh berdarah dingin paling ditakuti di Singapura ..”
Aisley tak sanggup menahan air matanya.
“Maka kita sampai disini saja.”
Tanpa menunggu jawaban dari Alde, Aisley berlari meninggalkan Alde. Meninggalkan laki-laki yang identitasnya sudah terbongkar oleh kekasihnya sendiri.
Alde menatap nanar diary yang sudah dibaca oleh Aisley.
Aisley sudah mengetahui siapa dirinya.
Aisley sudah tahu siapa ZZ.
Aisley sudah tidak bersamanya lagi.
Aisley meninggalkannya.
Dia sendirian.
Alde meremas diary itu sampai sedikit lecek. Dimasukkannya diary itu ke dalam tasnya, kemudian dia berdiri dari bangku taman. Tatapan membunuh ditebarkannya pada siapapun yang berpapasan dengannya.
Dia sangat ingin melakukan sesuatu yang dapat menyenangkan dirinya. Dia ingin melupakan kenyataan bahwa dia benar-benar sebatang kara sekarang. Dia ingin bersenang-senang.
Dan satu-satunya cara Alde untuk bersenang-senang adalah bermain-main dengan darah seseorang ..

Arghh!! Kenapa diary sialan itu bisa terbawa di tasku?!
Aku memasang jaket hitamku dan memasukkan beberapa belati ke tas kecilku. Tak lupa aku memakai masker. Tapi selama menunggu, lebih baik aku melepas maskerku agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tak kan ada yang curiga bahwa aku adalah Aldemar Frank Rezz, pelajar SMA Brooklyn sekaligus ZZ, pembunuh berdarah dingin.
Oh ya, kamu mau tahu darimana inisial ZZ itu berasal?
Mudah saja. Dari kata Rezz, aku mengambil dua huruf belakangnya.
Hari masih siang. Aku sengaja membolos hari itu. Aku menunggu seseorang. Ya, seseorang. Bisa dibilang, dia separuh hidupku.
Aku sudah bilang kalau aku tidak bisa hidup tanpanya, kan?
Ya, karena dia yang menjagaku untuk tetap waras dan tidak mengeluarkan sikap psikopatku lagi.
Tapi sekarang dia sudah meninggalkanku. Otomatis aku kehilangan ‘obat warasku’. Aku kehilangan dia. Aku membuatnya meninggalkanku ..
Tidak. Jika dia tidak lancang membuka tasku, dia tidak akan pernah menemukan diaryku. Jika dia tidak penasaran, maka dia tidak akan meninggalkanku.
Argh, semua ini salah dia!
Ya! Salahkan dia jika aku menjadi brutal! Dia sudah menarik diri dariku, sehingga aku kehilangan ‘obat warasku’ dan menjadi gila lagi. Ya, aku gila. Gila darah, lebih tepatnya.
Hm, kalian takkan menyangka bahwa bau darah begitu nikmat. Awalnya aku sangat ketakutan pada darah, tapi saat jari Ibuku terluka dan mengeluarkan banyak darah, aku justru mendekatinya. Kusentuh jarinya, lalu kuamati darah yang menempel di tangankku.
Lengket.
Kemudian aku mencicipinya.
Hm, tidak buruk. Aku menyukainya.
Dan semenjak itu, mungkin aku bisa dibilang ketagihan.
Saat itu umurku baru 6 tahun. Dan aku sudah ketagihan darah. Waw, jiwa psikopatku muncul begitu dini, ya?
Dan kebiasaan minum darah itu berlanjut sampai akhirnya aku muak dengan darah. Aku memutuskan untuk menghirupnya saja. Aromanya juga tidak terlalu buruk. Aku menyukainya juga.
Dan tentang membunuh itu ..
Hm, ya. Aku mulai membunuh di usiaku yang menginjak 11 tahun.
Saat itu orangtuaku meninggal. Aku tak punya siapapun. Kerabat? Sanak saudara? Tidak ada. Ayah dan Ibu, masing-masing anak tunggal, mereka tak punya saudara. Otomatis, aku sendirian.
Aku memang masih terlalu belia untuk tinggal sendiri di sebuah rumah mewah dengan puluhan pelayan serta beberapa bodyguard. Namun aku sudah bisa mandiri. Paling tidak aku bisa menyiapkan makanku sendiri – meski hanya menggoreng telur – menata kasur, mandi, membereskan buku .. beberapa hal kecil lain yang bisa dilakukan anak kecil.
Aku punya beberapa peliharaan. Satu kali seminggu, hewan-hewan itu menghilang. Bagaimana bisa?
Aku membunuh mereka.
Pelayanku tahu kelakuanku. Mereka menjadi ketakutan dan menjaga jarak denganku. Aku tak mempermasalahkannya. Toh aku masih punya teman dan penjaga.
Tuhan, dan bayanganku.
Saat usiaku menginjak 15 tahun, aku memecat semua pelayan dan bodyguard. Aku butuh ketenangan, kau tahu?
Aku menjual rumah itu, meninggalkan semua barang-barang orangtuaku disana. Hanya membawa pakaianku dan segempok uang tunai serta beberapa kartu kredit.
Apa aku merindukan kedua orangtuaku?
Jawabannya adalah : tidak.
Sama seperti psikopat lainnya, aku tidak mencintai orangtuaku. Aku bersyukur mereka mati. Untung bukan aku yang membunuh mereka. Mereka tertabrak kereta api saat hendak menyeberang menggunakan mobil. Sayangnya mobil Ayah mogok di tengah rel. Dan .. kau tahu sendiri.
Aku takkan menceritakan kronologi aku bertemu Aisley. Aku sudah membenci gadis itu karena beraninya meninggalkanku. Hei, dia sudah berjanji padaku bahwa dia takkan meninggalkanku, tapi apa? Sekarang dia meninggalkanku. Dia memutuskanku. Dia takut padaku.
Ah, andai aku berkata dari awal, apa yang akan terjadi, ya? Apa dia akan tetap berada di sampingku, atau ..
Atau menjauh sejak dini?
Aku tidak tahu.
Yang jelas, kini aku tengah menunggu sosoknya keluar dari gerbang. Dan saat dia keluar, aku akan menariknya dan membawanya ..
“Al ..”
Aku mengenali suara itu. Amat sangat mengenalinya. Aku menyeringai. Meski mulutku tertutup masker, tapi aku yakin dia dapat melihat seringaian licikku. Aku mencengkeram lengannya, segera menyeretnya dari kerumunan orang-orang.
Tapi dia bawel. Dia memberontak dari cengkeramanku.
Karena dia sangat sangat merepotkan, aku langsung memasukkannya ke gang terdekat.
Kuhempaskan tubuhnya ke tembok. Bisa kudengar erangannya yang lirih. Haha, sakit ya? Lebih sakit mana sama terkena pisauku yang tajam, hm?
“A-Alde? Untuk apa kau membawaku kemari? K-k-kau takkan membunuhku kan?”
Aku mendecih. Ya ya, aku takkan langsung membunuhmu. Tapi aku akan menyiksamu terlebih dahulu. Baru setelahnya aku membunuhmu. Think smart.
Tapi tak kuutarakan pemikiranku. Aku hanya tersenyum miring. Melihatnya terpojok .. ah, aku tidak sabar mencicipi seperti apa rasa darahnya. Dan juga .. melihatnya mati ..
“Kau melanggar janjimu.”
Sudah kuduga dia mengenyit. “Janji apa?”
Aku mendecih sekali lagi. Langsung saja aku melemparnya dengan pisau kecilku.
Sreetttt
Tidak kena badannya, tapi mengenai pipinya. Aku menggores pipi mulusnya. Oh, kenapa aku sangat suka melukai pipi? Hm, akan kupikirkan alasannya suatu saat nanti.
“Janji bahwa kau takkan meninggalkanku!”
Aku mulai brutal. Dia mulai ketakutan. Hah, salahkan dirimu sendiri, Aisley! Kau membuatku brutal! Semua ini salahmu!!
Aisley meringkuk ketakutan di bawah. Aku tersenyum lagi, berlutut di hadapannya. Kuusap kepalanya, tapi dia bergerak mundur. Aku terkekeh. Sebegitu menakutkannya ZZ dimananya, ya?
“Aku Alde, orang yang sama. Hanya saja Alde ini adalah orang yang sama dengan ZZ.”
Aisley meringis saat aku mulai mencengkeram lehernya. Kuangkat dia sampai kakinya tak dapat menyentuh tanah. Aku mendekatkan wajahku, hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
“Apa kau memang sangat ketakutan dengan sosok gelap di diriku? Perlu kau tahu, aku satu kepribadian.”
Aisley tidak menjawab, tapi aku bisa menebak bahwa jawabannya : dia sangat ketakutan. Sorot mata tak dapat menipu, ingat itu,
Aku tersenyum, lalu melemparnya ke seberang gang.
Bisa kudengar suara beberapa tulangnya patah. Hm, aku suka mendengarnya. Setelah mendengarnya, gairahku untuk membunuh semakin tinggi. Aku bersandar di dinding gang seberang tempat Aisley terduduk. Dia mengerang sambil memegangi punggungnya.
Oh, sakit ya? Maafkan mantan kekasihmu ini. Tapi mantan kekasihmu adalah seorang psikopat yang tak dapat kau tahan lagi, babe.
“Aku tidak suka orang yang ingkar janji ..”
Aku mengambil sebuah pisau acak dari tasku, lalu melemparkannya ke arah Aisley. Tepat mengenai lengannya.
“Aku tidak suka orang yang ketakutan bila melihatku ..”
Kuambil sebatang pisau dan melemparnya lagi. Kini mengenai telapak tangannya. Aku tersenyum mendengar jeritannya.
“Aku membenci orang yang seperti itu ..”
Aku mengambil sebuah pisau dapur andalanku, lalu berjalan mendekat. Aku berlutut lagi di depannya, menggoreskan pisau itu di sekitar rahangnya. Dia cukup tenang sehingga pisau itu tidak berhasil melukainya. Haha.
Aku menatap pantulan mataku sendiri di pisau itu, tersenyum kecil, lalu menancapkannya di lengan Aisley tanpa ampun.
“Termasuk KAU!”
Kini aku membabi buta. Kuambil seluruh pisau yang kupunya, lalu melemparkannya satu per satu ke arah Aisley. Gadis itu menjerit-jerit kesakitan. Ada yang mengenai pipi, lengan, tangan, paha, kaki, mata, bahkan – emh – dadanya. Aku hanya tertawa menikmati erangan kesakitan Aisley.
Kedua matanya terkena lemparan pisauku. Aku langsung mencabut pisau itu dan menghujamkannya berkali-kali di tempat yang sama. Darah segar mengalir di bekas hujaman yang kubuat. Aku tertawa, tawa setan.
Tanganku beralih ke sebuah pisau besar di pahanya. Aku mengambil pisau itu, menarik pisau lain yang ada di perutnya. Kemudian, tanpa ampun, aku menghunuskan pisau itu berkali-kali ke perutnya. Dia muntah darah, dan muntahannya sangat banyak. Wah, aku tertarik.
Aku menampung sedikit darahnya di tanganku, menghirup aromanya.
Ahh .. always love this smell ..
Aku masih memegang pisau. Dan sekarang, pisau itu kugoreskan di leher Aisley. Dia memuntahkan darah lagi, kali ini mengenai pakaianku. Hah, untung aku sudah mengenakan pakaian serba gelap.
Aku mencabut salah satu pisau yang paling besar dari tubuhnya. Kulihat Aisley masih bernapas dan masih sadar. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung menghujamkan pisau itu di dada sebelah kirinya. Tepat di jantungnya.
Dia tewas, seketika.
Aku berusaha mengatur napasku. Sambil terengah-engah, aku menatap Aisley yang kini sudah tidak bernyawa. Senyum kecil terukir di bibirku.
“Selamat tinggal, Aisley. Asal kau tahu, aku masih mencintaimu.”
Aku merunduk, untuk mengecup bibir berlumur darah itu, dan menghapusnya dengan alkohol.
Setelah memberesi perkakasku, mengambil sebagian besar darahnya, aku segera mengukir inisialku di dadanya. Hah, aku mencari spot lain selain di kening, tahu.
ZZ.
Kali ini, di sebelah inisial itu, aku menambahkan lambang love.
Mungkin ini akan menjadi awal dari pembunuhan brutal yang akan kulakukan.
Haha, kalau begitu, Aisley menjadi pembukanya.
Kutambahkan tulisan kecil di bawah inisial ZZ.

This is just the beginning.

Vụ Án, Locomotive, Paranormal Romance: Falling into Darkness, The Castle, The One Memory of Flora Banks, Snotgirl #5, The Right Word: Roget and His Thesaurus, Deadly Intent (Linked Inc. Book 1), Kids of Appetite, The Letter, The Adventures of Beekle: The Unimaginary Friend, Beneath a Scarlet Sky, Losing Faith, What Do You Do with an Idea?, Personal Delivery (Billionaire Secrets Book 1), Undone (Will Trent, #3), Taken by the T-Rex, Terms and Conditions, Last Stop on Market Street, Dorothy Must Die (Dorothy Must Die, #1)