Bloody Hell (Welcome to Diary of Psycopath) Part 2

By On Thursday, March 16th, 2017 Categories : Cerita

“Malam tadi kembali terjadi pembunuhan. Korban yang tewas adalah Hailey dan Daniel. Korban ditemukan tewas dengan luka tusukan di bagian mata, perut, dan tenggorokan. Di kening korban terdapat ukiran berinisial ZZ.
“Masih belum diketahui motif pembunuhan. Polisi masih mencoba un-“
Kumatikan lagi televisi. Hah, cepat sekali berita itu tersebar. Aku bahkan belum sempat menelepon Aisley.
Hei, tapi apa hubungannya?
Aku segera mengambil ponselku. Sebelum aku menekan nomor Aisley, dia sudah terlebih dahulu meneleponku. Langsung saja kuangkat.
“Halo?”
“Kau sudah dengar berita? Hailey dan Daniel dibunuh!”
Aku memakan chip potato. “Hm, lalu?”
Kudengar Aisley berdecak sebal. “Ih! Itu berarti semua pembully di sekolah kita sudah menghilang! Oh, aku bersyukur. Korban bullying di sekolah kita bisa menghela napas lega.”
Aku tertawa kecil. “Termasuk aku.”
“Ya. Aku bersyukur mereka sudah tiada. Kau juga harus bersyukur mereka tidak ada.”
“Kau bilang, kau ingin ada cara supaya ZZ tidak membunuh mereka. Kenapa kau malah bersyukur mereka mati?”
Hening sesaat.
“Karena semua sudah terjadi. Aku bisa apa? Memanggil ZZ untuk bertanggung jawab? Hah, tidak. Aku takut padanya, dan aku tak mau mencari masalah dengannya.”
Aku menyeringai. Andai Aisley tahu yang sebenarnya ..
“Bagaimana bila kita – kau dan aku – merayakan bebasnya dirimu dari bullying di sekolah?”
“Hm, tapi antek-antek Kenneth masih banyak.”
“Dan aku yakin mereka tidak berani menindasmu bila ketiga ketua mereka sudah merenggang nyawa. Mereka takut pada ZZ, aku yakin.”
Ucapan Aisley membuatku sedikit meringis. ZZ begitu ditakuti, ya? Hm ..
“Oke. Akan kujemput kamu sekarang.”
Terdengar pekik senang Aisley di seberang sana. Aku tersenyum kecil membayangkan dia sedang loncat-loncat di kasur saking senangnya.
“Aku akan siap dalam 30 menit lagi. See you, I love you.”
Dan dia tidak akan menutup telepon sampai aku membalas, “I love you too.”
Tuuutt
Aku melempar ponselku ke kasur. Kemudian tanpa sadar aku tersenyum miring. Tawaku lolos begitu saja dari bibirku.
Andai Aisley tau ..

Aku menyela duduk di antara Aisley dan temannya. Selalu.
“Memangnya kamu tidak bisa mencari bangku sendiri, Alde? Selalu menyerobot bangku orang.”
Aku hanya menunjukkan innocent smirk. Semua yang ada di meja itu memutar bola mata. Kurasa mereka sudah bosan melihat senyuman tanpa dosaku sehingga mereka sudah kebal.
Aisley terkekeh kecil melihat wajah bete teman-teman cheers dan basketnya.
“Aku denger, katanya besok akan ada anak baru,” celutuk salah satu teman Aisley.
“Wah, seriusan? Kenapa pindah pertengahan semenster? Telat banget!” balas Aisley heboh. Ya, biasalah. Cewek. Gosip. Nggak jauh-jauh.
“Enggak tahu deh. Katanya nih, anaknya cowok lho.”
“Dia ganteng enggak?”
Aku mengusap pelan pelipis Aisley. Duh, bocah ini. Kalau ada cowok baru, langsung dilirik. Lupa kalau punya pacar, ya?
Aisley sepertinya sadar bahwa sikap posesifku keluar lagi, langsung nyengir lebar.
“Maaf Al, lupa kalau ada kamu.”
Aku memutar bola mata. Terserah deh, terserah.
Hm, anak baru ya?
Apa aku boleh mencicipinya?

Ternyata anak baru itu masuk kelasku. Bad feeling, dia akan duduk di sampingku.
“Hai, namaku Fudo Hiraki Ryoichi. Panggil aku Fudo. Aku berasal dari Jepang. Mohon bantuannya ya.”
Cih, perkenalan seperti anak perempuan.
Dan benar, dia duduk di sampingku. Penghuni kelas ini berjumlah ganjil, lebih banyak siswa laki-laki daripada perempuan. Aku duduk sendirian selama hampir satu setengah tahun.
Sekarang di sampingku ada anak baru.
“Halo, siapa namamu?” sapanya dengan riang. Aku hanya tersenyum kecut. Kamu mengajak bicara seorang anak pendiam yang misterius, nak ..
“Aldemar.”
“Oh. Panggilanmu Al, Alde, atau Aldemar?”
Aku mengepalkan tanganku. Untung, nak .. untung aku tidak membawa benda itu.
“Terserah.”
Anak itu bertanya lagi, tapi aku langsung memasang headset di telingaku, mulai belajar sambil mendengarkan suara Taylor Swift menyanyikan lagu “Blank Space”. Katakan aku Swifties, karena memang kenyataannya begitu.
Aisley tidak melarangku menyukai Taylor dan selalu mendengarkanku saat aku bercerita betapa seksi seorang Taylor. Sebaliknya, aku tidak melarang dan selalu mendengarkannya bila sedang menceritakan One Direction atau 5 Seconds of Summer, band yang sedang tenar di dunia.
Kata Aisley, Luke Hemmings itu hot. Dan Zayn Malik itu kece.
Sudahlah, untuk apa membahas hal tidak penting itu.
“Apa itu di lengan kananmu?”
Otomatis aku melihat lengan kananku. Aku langsung menutupinya begitu tahu apa yang ditanyakannya.
Bekas self-harm yang kulakukan seminggu yang lalu.
“Kamu cutting? Untuk apa? Memangnya tidak sakit?”
Aku memejamkan mata sejenak. Tenangkan dirimu, Alde. Kamu bisa mengontrol emosi. Kamu harus bisa. Jangan biarkan laki-laki kurang ajar ini membuatmu lepas kendali. Tenang ..
“Perhatikan pelajaran saja,” gumamku akhirnya. Dia merasakan aura dingin yang kukeluarkan. Dia pun langsung memutar tubuhnya ke depan dan menyimak pelajaran dengan baik, meski sesekali masih melirik ke arah lukaku.
Dengan cepat, aku menarik jaket dan memakainya.
Dasar.

17th of February 2003
Well, ada anak baru. Namanya Fudo .. entahlah. Aku tidak terlalu peduli. Lagipula dia orangnya cerewet. Aku tidak suka.
Sayangnya, dia duduk di sebelahku. Aku tidak suka itu. Sangat tidak suka.
Tapi aku mencoba untuk bersabar ..
Kalau dia tidak macam-macam, akan kubiarkan, seperti teman-teman Aisley.
Tapi kalau dia ikut campur urusanku, menguntitku, mempunyai rasa ingin tau yang besar, melakukan sesuatu pada Aisley ..
Aku takkan tinggal diam.
-Aldemar-

“Apa yang membuatmu melakukan self-harm?”
Lagi-lagi aku harus dihadapkan dengan ujian ini. Ya, uji kesabaran. Kau tahu, aku sangat benci orang yang punya rasa ingin tahu yang tinggi.
Untuk saat ini, yang kulakukan hanya mengacuhkannya saja.
“Apa kau termasuk anak broken home? Kemana Ayahmu? Kemana Ibumu? Apa kau ..”
BRAKK!
Aku muak!
Aku langsung menatapnya yang kini menatapku dengan sebelah alis terangkat. Ergh, aku ingin meremukkan kepala bocah kepo ini.
“Peraturan pertama : jangan kepo. Kedua : jangan cerewet. Ketiga ..”
Aku mendekat, menatapnya tajam dan mengintimidasi.
“Jangan usik dan jangan ganggu kehidupanku.”
Aku berjalan keluar dari kelas XI A-1. Hah, pagi-pagi sudah menghadapi bocah tengil itu? Bukanlah salah satu kegiatan yang menyenangkan. Aku berjalan menuju taman, tempat biasanya aku menenangkan diri.
Sekaligus .. memendam jiwa terpendamku yang perlahan mulai bangkit dan menguasaiku.

Anak itu makin menjadi-jadi.
Aku mendiamkannya setiap hari, namun dia tidak jera. Pernah suatu kali dia bertanya pertanyaan yang begitu banyak namun tidak penting. Dan semuanya tidak ada yang kujawab. Akhirnya dia berhenti karena kelelahan, mungkin. Atau memang ingin memperhatikan pelajaran.
Sampai suatu hari ..
“Kenapa kamu pendiam sekali? Kamu punya teman kan? Kalau pacar punya?”
Aku menggeram pelan, sangat pelan sampai dia sendiri mungkin tidak dapat mendengarnya. Sh*t, kamu meremehkan seorang Aldemar Frank Rezz ..
“It’s not your bussiness. For your information, I have a girlfriend.”
Aku berharap dengan aku menjawab pertanyaannya sekali ini, dia akan berhenti bertanya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
“Whoa, siapa pacarmu? Apa dia cantik? Anggota cheers ya?”
Untuk pertanyaan terakhir, aku langsung menoleh padanya. “Darimana kau tahu?”
Dia tampak salah tingkah. Sambil menggaruk belakang telinganya, dia menjawab, “Kemarin, aku tak sengaja melihatmu duduk di kantin dengan serombongan anak cheers dan basket. Kau tampak merangkul seorang gadis dengan posesif. Aku langsung menyimpulkan bahwa itu pacarmu.”
Aku menatapnya tajam. “Apa kau menguntitku, Fudo Hiraki Ryoichi?”
Fudo lansung menggeleng. “Tentu saja tidak. Aku hanya tidak sengaja melihatmu, itu saja.”
Aku masih menatapnya tajam. Salah satu cara untuk mengetahui apakah orang itu berbohong padaku atau tidak.
Dan ternyata memang tidak.
Aku mendengus, lalu meninggalkannya.
Anak seperti itu .. mungkin butuh dikasih pelajaran.
Haha, itu ide buruk. Kau sama saja membongkar identitas pembunuh, kan?

Fudo berjalan kaki menuju rumahnya.
Hm, sebenarnya tidak.
Dia sedang mengikuti seseorang. Lebih tepatnya, menguntit.
Dia sangat penasaran dengan orang itu. Dia pendiam, jarang tersenyum, dan hanya terlihat bahagia saat bersama pacarnya. Itu pun hanya sedikit.
Tapi anehnya, Fudo merasakan hal aneh.
Dia merasa bahwa anak itu bukan anak baik-baik. Dia bisa membaca aura seseorang, sehingga dia bisa beradaptasi dengan cepat terhadap orang yang berbeda-beda.
Menurutnya, aura yang dipancarkan Aldemar berwarna hitam dan merah.
Dan campuran antara keduanya adalah hal yang sangat buruk serta jahat.
Sejak awal dia berusaha berteman dengan anak itu, namun anak itu tidak menanggapinya. Fudo curiga, ada apa-apa dengan anak itu.
Sesekali dia bersembunyi, karena Aldemar terus-terusan melihat ke belakang. Tapi dia tidak ingin menyerah. Dia terus mengikuti Aldemar sampai ..
“Lho, kemana dia?”
Fudo menengok kesana-kemari. Tak ada jejak Aldemar? Lalu, kemana laki-laki itu?
“Hah, ya sudahlah, aku pulang saja.”
Fudo melangkahkan kakinya berlawanan dengan arah dengan arah yang ditujunya tadi. Dia tidak sadar, bahwa di balik tong sampah besar, Alde tengah mengintipnya.
Alde tersenyum miring.
Dasar penguntit.

Kenapa manusia itu makhluk yang membutuhkan orang lain?
Oke, aku memang membutuhkan Aisley untuk hidup. Sangat membutuhkan. Hanya saja, sekarang ..
Aku lebih memilih untuk menjadi makhluk antisosial.
“Partner kerja kelompok kali ini teman sebangku kalian.”
F*ck! Kenapa harus dengan teman sebangku? Apa-apaan itu? Hei, guru sialan di depan sana, aku protes!
Tapi aku tahu, meskipun aku menolak, permintaanku tak akan digubris. Pasti, karena aku sudah pernah mencobanya.
Dasar.
“Oke, nanti kita kerja kelompok di mana?”
Aku melengos. “Tidak ada kerja kelompok hari ini,” kataku bersamaan dengan bel pulang. Aku langsung berdiri dan meninggalkan kelas, bahkan sebelum guru keluar kelas.
Bodo amat. Yang penting sudah boleh pulang.
“Hei, kamu mau ke mana hari ini?”
Aku mengangkat pundakku malas. “Entahlah. Kamu sendiri?” kataku balas bertanya. Aisley ikut mengangkat pundak. “Sebenarnya aku ada acara keluarga. Dan aku wajib datang. Tapi aku sangat malas untuk datang.”
Aku menyeringai. “Bolos saja. Mending jalan sama aku.”
“Itu dia masalahnya,” kata Aisley sambil berjalan ke pintu gerbang. Spontan aku mengikutinya. “Aku enggak boleh jalan sama kamu untuk beberapa hari ini.”
“Kenapa?”
Aisley terdiam. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. Tapi aku yakin dia akan memberitahuku sebentar lagi.
“Ada dua alasan. Pertama : aku terlalu sering jalan sama kamu sampai lupa belajar. Dan nilaiku merosot sangat tajam. Makanya aku tidak boleh jalan denganmu untuk sementara ini.”
Aku mengulum tawaku. Kuusap kepalanya dengan sayang.
“Maafkan aku, sepertinya aku membawa pengaruh buruk padamu ya?” kataku sambil terkekeh. Dia hanya memanyunkan bibirnya.
“Alasan kedua : ZZ masih berkeliaran di sini. Orangtuaku parno sendiri. Mereka tidak membiarkanku pergi keluar, meski bersama teman. Harus ada salah seorang dari keluargaku yang menemani.”
Aku manggut-manggut. Hm, apa ZZ segitu ditakutinya? Kurasa dia hanya membunuh orang yang benar-benar tepat untuk dibunuh.
“Ya sudah, aku langsung pulang saja. Kamu dijemput kan?” tanyaku. Aisley mengangguk. Aku tersenyum, lalu menunduk untuk mengecup bibirnya sekilas. Tanpa mengatakan apapun lagi, aku berlalu pergi. Membiarkan gadisku tercengang di tengah lapangan seperti orang bodoh.
Hahaha, aku suka rona merah di pipinya.
Hm, aku tak bisa membayangkan hidup tanpa gadisku.
Jika dia meninggalkanku ..
Maka aku harus mendapat pelampiasan.

Aku berjalan pulang ke rumah. Kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku. Aku merasa sendiri, padahal tidak.
Aku bersama Tuhan, bayanganku, dan ..
Fudo.
“Apa yang membuatmu berubah pikiran?”
Satu yang kubenci dari Fudo adalah : dia selalu menanyakan pertanyaan yang sama, bila aku tidak menjawabnya.
Seperti saat ini.
“Apa yang membuatmu berubah pikiran?”
Cukup sudah.
Aku muak.
Aku menghentikan langkah kakiku. Fudo berjalan beberapa langkah di depanku, tapi begitu menyadari bahwa aku sudah tidak berjalan di sampingnya, dia menoleh ke belakang.
“Kenapa berhenti?”
Aku tersenyum miring. Dengan tangan kanan menggenggam erat pisau lipatku, dan tangan kiri terkepal kuat di saku, aku mengajaknya menuju gang kecil.
“Ayo, aku tahu jalan kilat untuk sampai ke rumahku.”
Fudo mengikutiku, seperti dugaanku. Hah, selamat datang dalam perangkapku ..
Aku masuk ke sebuah gang kecil dan sepi. Fudo mengikutiku. Setelah kira-kira kita berada di tengah gang, aku berhenti. Fudo tidak mengerem langkahnya, dan dia sukses menabrak punggungku.
Oh, just for your information, aku selalu memakai sarung tangan bila pulang sekolah. Siapa tahu aku memutuskan untuk mencari korban saat pulang sekolah? Aku bekerja tak hanya saat malam, tahu.
Aku menggeram pelan, lalu berbalik.
“Kenapa kau berhenti? Aku menabrakmu kan,” gerutunya sambil mengusap keningnya. Aku tersenyum kecil sambil menatapnya mengintimidasi. Awalnya dia tidak menyadari, tapi setelah dia menyadari keheningan yang tidak wajar, dia mengangkat kepalanya.
Siapapun yang kutatap seperti ini, akan merasakan hawa aneh.
Dan itu terbukti.
Fudo langsung mundur beberapa langkah menjauhiku. Dia terlihat sangat gemetar ketakutan. Terhadapku. Aku mengeluarkan maskerku, dan memakainya. Nah, apakah sekarang aku kelihatan seperti pembunuh?
“K-k-kau ..”
Dengan cepat aku menarik lehernya dan mencekiknya. Pisauku masih di kantong. Aku belum berniat untuk melukainya. Aku akan menyiksanya terlebih dahulu.
“Kau menguntitku, kan?”
Dia tercekik. Tentu saja, bodoh. Mana mungkin dia tidak tercekik. Tanganku ada di sana, mencengkeran lehernya dengan kuat. Wajah Fudo mulai memerah, perlahan mulai berubah menjadi biru.
Aku tidak akan membunuhnya dengan mencekiknya.
Karena itu, aku melepaskannya begitu saja. Dia jatuh terduduk, terbatuk-batuk, berusaha memasukan sebanyak mungkin oksigen ke dalam paru-parunya.
“Jawab aku. KAU MEMANG MENGUNTITKU KAN?!”
Fudo tampak ketakutan saat kubentak. Hah, sisi psikopatku keren juga. Untuk lebih menakutinya, aku mengeluarkan pisau lipatku. Dia terbelalak ketakutan.
Aku berjongkok di depannya. Kumajukan wajahku ke arahnya, sampai ujung hidung kami hampir bersentuhan.
“Satu yang perlu kau tahu dariku. Aku selalu membunuh orang yang aku benci. Dan menyerap darahnya dengan sebuah saputangan, atau menampungnya dengan kantong plastik, atau ..”
Aku menyeringai, seringaian yang biasa kuberikan saat aku akan ‘menyembelih’ korbanku. Kumainkan pisau itu di lehernya, tanpa sengaja menggores lehernya sedikit karena dia bergerak-gerak terus.
“.. meminumnya langsung.”
Aku ******* kupingnya. Dia menjerit, namun aku membungkamnya, lagi-lagi dengan saputangan bekas darah kering. Dia terbelalak saat aku menyumpalnya dengan saputangan berbau harum itu. Mungkin dia kaget, hahaha ..
“Aku benci orang yang suka bertanya-tanya ..”
Aku ******** kuping satunya. Dia menjerit, namun lumayan, jeritannya terendam saputangan.
“Aku benci orang yang suka ikut campur urusanku ..”
Aku menghujamkan pisauku di pundaknya. Sayang sekali aku hanya membawa pisau lipat. Andai aku bawa pisau dapur, pasti akan lebih menyenangkan.
“Aku benci orang yang menguntitku ..”
Aku mengeluarkan pisau lipatku yang ada di sepatu. Ya, aku membawa beberapa pisau ke sekolah. Hari ini aku membawa dua, namun biasanya hanya satu. Entah, hari ini rasanya aku ingin membunuh seseorang.
“Dan kau memenuhi semuanya .. kamu memenuhi semua kriterianya ..”
Aku menancapkan pisau satunya di pundak satunya. Aku mendengar jeritannya makin menjadi-jadi. Ck, dia ini bisa diam tidak sih? Aku harus mengorbankan satu saputanganku lagi.
Dengan cepat aku menambah sumpalannya dengan saputangan berbalut darah yang baru saja aku ambil dari lukanya. Bisa kulihat dia mengenyit jijik dan berusaha memuntahkan saputangan itu, namun tidak bisa. Haha, kesusahan ya?
“Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhirmu, Fudo Hiraki Ryoichi. Ada ucapan perpisahan?”
Aku mengambil saputanganku dari mulutnya. Dia megap-megap, meludah ke sampingnya. Haha, jijik? Padahal rasa darah enak. Seperti ada manis-manisnya. Apalagi darah seorang gadis muda atau lelaki muda seperti Fudo. Hm, nikmat ..
“K-kau a-ad-adalah ..”
Aku mengangguk membenarkan ucapannya.
“Kau benar.”
Aku langsung ********** kedua pisauku di bola matanya. Kemudian, tanpa ragu-ragu, aku memutar pisau itu. Darah muncrat keluar dari luka itu. Aku tertawa puas.
Jeritannya mengeras. Ah, aku akan membuatnya diam terlebih dahulu.
Kucabut pisau itu dari matanya, lalu menancapkan salah satunya tepat di tenggorokannya. Dia tercekik.
Kau terlalu cepat, Al. Kau terlalu cepat.
Aku mengeluarkan pisauku, membiarkan Fudo menikmati rasa sakitnya. Aku tersenyum puas melihat dia meringkuk, berusaha menahan rasa sakit yang tercipta akibat tusukan tajamku.
Aku mempersiapkan pisauku, menatapnya sekilas, lalu menancapkannya di kedua paha Fudo. Dia berteriak, menyemburkan darah. Aku mencabutnya dan menancapkannya berkali-kali. Hahaha, aku sedang bersenang-senang.
Oke, kurasa cukup. Aku akan mengakhiri hidupnya.
Kuhujamkan puluhan tusukan di perutnya, berkali-kali sambil berteriak. Dan langkah terakhir: menusuknya tepat di jantung.
Dia tewas, seketika.
Aku tersenyum puas. Aku mengambil air mineral dari tasku, lalu membilas pisauku yang berlumuran darah. Aku juga mencuci kaki dan tanganku yang terkena darah. Untuk jaket dan celana .. aku sudah mengenakan jaket hitam dan mengganti celanaku dengan warna hitam, jadi tak masalah.
Sebelum aku mengukir inisial di tubuh korbankku, aku terlebih dahulu membersihkan sebagian darahnya. Atau lebih tepatnya, mengambilnya.
Setelah itu, aku mengukir dua huruf yang menjadi identitasku selama ini di dadanya.