Bloody Hell (Welcome to Diary of Psycopath) Part 1

By On Thursday, March 16th, 2017 Categories : Cerita
Gratis Samsung

Pisau berkilau milikku mulai membuat sayatan memanjang.
Aku menggoreskan pisau tajam itu di bagian dadanya. Lelaki itu menjerit-jerit. Ya, sebenarnya suara jeritannya seperti wanita, melengking tinggi dan memekakkan telingaku. Namun dengan cepat aku menyumpal mulutnya dengan saputanganku. Saputangan penuh darah kering.
Katakan aku seperti g*y, karena kini aku tengah menopang kepalanya untuk mengukir bagian dadanya. Haha, aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah satu.
Cairan berwarna merah kental yang mengalir dalam tubuh lelaki ini.
“Kamu berisik sekali bung,” bisikku pelan. Aku mengambil saputangan lain di kantongku. Lalu aku mengelap darah yang mengalir dari dadanya. Kudekatkan saputangan itu ke indra penciumanku.
Hmm .. the smell like fruit ..
Bau darah seperti buah? Haha, entahlah. Aku hanya berkhayal bahwa darah itu seperti buah cherry. Mereka sama-sama berwarna merah. Dan sama-sama menggiurkan.
Oke, aku terdengar mengerikan sekarang. But, who’s care?
“S-siapa k-k-kamu?” ucapnya dengan terbata-bata dan sedikit parau.
Sialan. Laki-laki ini masih bisa berbicara. Sial sial sial. Seharusnya aku merobek saja. Dan langsung menikam jantungnya, kurasa.
Ah, tidak.
Aku akan menikmati buruanku terlebih dahulu.
Menyiksanya perlahan, mungkin.
“You don’t know me?”
Aku membuat sayatan di pipinya, membentuk tanda silang. Aku ******* bola mata lelaki di depanku. Darah yang keluar langsung kutadahi dengan saputangan. Biarkanlah merembes, karena aku menyukai sensasinya ..
Aku menempelkan pisau dapur milikku di lehernya. Aku tertawa puas. Hahaha, aku menyukai ini.
“I’m ZZ.”
Dan pisau itu memotong urat nadi di lehernya.

13th of Januari 2003
Aku membunuh laki-laki itu. Akhirnya. Setelah sekian lama aku menunggu waktu yang tepat, dan ternyata waktunya adalah hari ini. Malam ini.
Aku tak sengaja melihatnya berjalan keluar dari club. Dia terlihat sedang mabuk berat. Kesempatan ini kupakai untuk membunuhnya. Oh, tidak. Aku tidak langsung membunuhnya. Aku memainkannya terlebih dahulu.
Katakan aku ini tidak punya rencana pasti. Ya, aku memang tidak punya rencana yang pasti. Aku melakukan pembunuhan kali ini agak mendadak. Agak, karena aku memang selalu menyiapkan pisau dapur kecil dan tajam di saku hoodie ku.
Laki-laki itu cukup bajingan. Beraninya dia memasang foto bersama kekasihku? Hah, aku sudah cukup sabar menghadapi orang seperti itu. Aku membiarkannya menyentuh kekasihku. Aku membiarkannya berteman dengan kekasihku. Tapi memasang foto dengan pose kelewatan? Tidak. Aku tidak akan tinggal diam.
Selamat tinggal, Janson. Kau hanyalah kenangan yang terlupakan.
-Frank-

Hai. Aku Aldemar, atau lebih sering dipanggil Alde.
Aku hanya seorang remaja berusia 17 tahun yang tinggal sebatang kara di sebuah kota yang cukup terkenal akan tingkat kedisiplinannya.
Singapura.
Hah, bagaimanapun, negara ini masih tidak bisa melacak seorang pembunuh berdarah dingin.
Pembunuh itu kira-kira masih berusia belasan tahun. Dia sangat gesit dan pandai menyembunyikan jati diri. Setiap dia selesai membunuh orang, dia akan menuliskan inisial panggilannya di tubuh korbannya.
ZZ.
Tak ada yang pernah tahu motif pembunuhan yang dilakukan ZZ. Dia memilih korbannya dengan random, acak. Tapi aku tahu kebenarannya. Aku tahu dia tidak memilih korbannya sembarangan. Aku tahu motif pembunuhannya. Aku tahu alasannya.
I know the truth.

“Hai, Freak.”
F*cking badass. Aku sedang malas untuk meladeni perkataan curut di depanku. For your information, aku termasuk korban bullying. Salah satu korban bullying, by the way.
Anak yang menyebutku freak tadi, adalah Kenneth. Ayahnya pemilik sekolah ini, so dia cukup terkenal. Kurasa otaknya tidak begitu buruk, dia selalu mendapat peringkat kedua di kelas. Kalau begitu, siapa yang mendapat peringkat satu?
Tentu saja aku.
Mungkin karena itu aku dibully oleh geng Kenneth. Dan parahnya, bullying yang mereka lakukan sungguh kelewatan. Ah, aku takkan menceritakan perbuatan yang mereka lakukan padaku. Itu terlalu .. sudahlah, abaikan.
Aku mengabaikan sapaan Kenneth. Like I care? No. I don’t really care. Kuambil jatah makan siangku dan segera pergi dari Kenneth and the gank. Hah, aku tak mau ambil pusing.
Aku berjalan menuju kerumunan gadis-gadis. Langsung saja aku menyerobot duduk di samping salah satu gadis yang kini memekik kaget.
“Gost, kau tak perlu mengagetkanku, Al.”
Hanya kekehan yang keluar dari mulutku. Ah, aku beruntung bisa memilikinya.
Aisley Floretta Rexxane, adalah seorang gadis yang cukup cantik. Dia adalah kapten cheers di sekolahku. Dia cukup terkenal, sama sepertiku. Ada yang berkata bahwa bila si cewek dan si cowok sama-sama famous, maka hubungan itu takkan bertahan lama. Atau bila si cowok tampan dan si cewek cantik, hubungannya takkan berlangsung lama.
Hah, bullsh*t.
Aku dan Aisley sudah menjalin hubungan selama tiga tahun, semenjak kami duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas 8. Yah, dulu aku bukan korban bullying. Hanya saja semua berubah saat aku masuk ke SMA tahun lalu.
Entah, mungkin memang spesies seperti Kenneth tidak ingin ada seorangpun yang menandinginya? Sudahlah. Aku tidak peduli.
“Kenapa kau selalu berkumpul dengan kami? Kenapa tidak bersama Kenneth? Kalian kan sama-sama pandai di sekolah.”
Aku tersenyum kecut. Ah, apa mereka tidak tahu aku adalah korban bullying? Yang kutahu, berita itu sudah menyebar di seluruh penjuru sekolah ini.
“Apa kau lupa? Aku ini korban bullying mereka? Aku lebih memilih duduk di sini bersama kekasihku. Ya kan Aisley?”
Gadis itu tersenyum malu-malu, menggigit kecil pizza miliknya sambil menyandar di pundakku. Teman-teman Aisley – yang bahkan aku tak tahu nama mereka – hanya tersenyum-senyum menggoda Aisley.
“Enggak bisa lepas dari pacar ya!”
“Nempel terus nih.”
“How cute they are ..”
Aku hanya menanggapi dengan tawa kecil, begitu pula dengan Aisley. Yah, komentarnya tidak hanya sedikit, tapi sangat banyak. Maka dari itu aku tidak berkomentar lebih jauh.
Byurrr
Oh, aku basah kuyup. Ya, aku basah kuyup, dan air itu bukan sekedar air putih biasa. Itu Fanta. Kalian tau kan, Fanta akan meninggalkan bekas di pakaian? Hah, licik.
“Ups, maaf Aisley. Bukan maksudku untuk juga membuat noda di pakaianmu. Aku hanya bermaksud membuat laki-laki ini tampak seperti pembunuh berdarah dingin yang berlumuran darah,” kata Kenneth dengan nada tidak bersalah. Aku memutar bola mata dan berbalik.
Kenneth menatapku dengan alis terangkat sebelah. Tampang sok innocent. Dan aku benci itu. Aku benci dia. Aku benci bullyers!
“Kenapa sih kamu selalu menindas Alde? Apa salah dia?”
Aisley berdiri di depanku, membelaku. Haha, aku yakin Kenneth itu iri padaku. Aku, si Peringkat Satu, berhasil menggaet satu gadis yang menjadi incaran para lelaki mata keranjang di sekolah ini. Heh, aku sudah mendapatkan Aisley semenjak SMP. Bukan salahku dong?
Kenneth menatapku tajam. Aku justru mengangkat daguku. Hah, bodo amat. Yang mem-bully-ku hanya Kenneth dan kawan-kawannya. Siswa lain .. well, kebalikan dari Kenneth, mereka memujiku. Ah, aku merasa tersanjung.
“Kamu diam saja, babe,” kata Kenneth sambil menarik dagu Aisley. Gadis itu jelas-jelas menolaknya, namun Kenneth tetap berkeras.
Wah, sepertinya aku harus menyelamatkan Aisley dari bibir menjijikkan Kenneth.
Langsung saja aku mendorong Kenneth menjauhi Aisley. Dia jatuh menabrak meja kantin. Kutatap Kenneth dengan tatapan membunuh. Haha, aku bisa saja membunuhnya sekarang.
Kenneth bangkit dibantu cecunguk-cecunguknya. Dia balas menatapku tajam. Hah, aku takkan terpengaruh. Aku masih bisa lebih mengintimidasi daripada kau.
“Wah, kamu mau bertarung denganku? Cari masalah denganku, rupanya,” kata Kenneth sambil memasang ancang-ancang bertarung. Aku ikut mempersiapkan kuda-kudaku. Hah, kamu yang mengajakku bertarung. Maka aku akan memberikanmu sebuah pertarungan.
Kenneth berteriak, lalu mulai menyerang. Aku berkelit dengan lincah. Haha, apaan itu? Cuma kayak gitu aja? Cih, kecil.
Dia mulai menyerang lagi. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Langsung saja aku menangkap tangannya yang terjulur hendak meninju rahangku. Kupelintir tangannya sampai berbunyi ‘krakkk’ dengan keras.
Sesuai dugaanku, teman-teman Kenneth langsung memanggil guru. Aisley menatapku syok. Dan para gadis itu menjerit-jerit tak keruan.
Aku tidak peduli. Sungguh, aku tidak peduli.
Aku benci curut ini.
Dan otak cerdik ini mulai bekerja ..
“ALDE! LEPASKAN PELINTIRANMU!”
Sebelumnya, aku akan menuntaskan urusanku dengan guru sialan ini dulu.

“Kenapa kamu menyerang Kenneth?”
Aku membuang es krimku ke tempat sampah. Aisley memberiku sederet pertanyaan bertubi-tubi yang aku sendiri tak ingin untuk menjawabnya. Yah, begini kalau punya pacar. Ribet, harus menjawab pertanyaan inilah, itulah.
Tapi aku sungguh beruntung punya pacar seperti Aisley. Kita sudah seperti terikat kuat oleh sebuah tali tak kasat mata, yang membuat kita saling bergantung satu sama lain.
Oke, kata-kataku mulai seperti cewek.
“Dia kelewatan. Dia membuatku harus memasukan pakaianku ke laundry, padahal besok baju ini harus kita pakai. Aku emosi. Aku tidak bisa mengendalikannya. Dan aku membencinya.”
Aisley menatapku dengan sedikit jenuh. “Kakakku masih punya seragam tidak terpakai. Mungkin akan muat di tubuhmu. Nanti sore kuantar ke rumahmu ya,” tawarnya. Aku menggeleng. “Aku saja yang ke rumahmu. Sekalian mau naruh baju di laundry.”
Aisley mengangguk mengiyakan. Dia membuang bungkus es krimnya lalu kembali duduk di sampingku.
“Apa kau tahu, akhir-akhir ini sering terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh orang yang berinisial ZZ?”
Aku mengangguk. “Ya. Memang kenapa?”
“Aku sedikit takut padanya.”
Aku tertawa. Untuk apa takut? Aku justru kagum pada laki-laki itu. Dia membunuh untuk menyelamatkan para korban bullying. Andai dia menyelamatkanku dari bullying ..
“Dia pembunuh berdarah dingin yang paling ditakuti di Singapura. Meski Singapura adalah negara yang paling terkenal dengan kedisiplinan dan ketaatannya, namun pembunuh itu mencoreng nama baik Singapura. Dia membuat Singapura menjadi negara yang enggan untuk dikunjungi.”
Aku mengulum senyumnya. Seandainya pembunuh itu membunuh Kenneth .. ah, mungkin aku bisa bebas dari bullying.
“Aku berharap dia membunuh Kenneth.”
Aisley membelalakkan matanya tidak percaya. “Kenapa kau berpikiran seperti itu?”
Aku balas mengenyit. “Kamu tidak mau aku bebas dari bullying?”
Aisley menggeleng tak setuju. “Bukan. Kenapa kamu berpikir jauh kesana? Semisal ZZ mengurus masalah bullying, maka kasus yang ditangani si ZZ itu mungkin sudah banyak, mengingat Singapura termasuk negara dengan tingkat bullying tertinggi nomor 5 di dunia. Mana mungkin dia ke kota kecil nan terpencil di sini?”
Aku mengangkat pundak. “Entahlah. Bisa saja dia menyelidik sampai ke sini?”
Aisley ikut mengangkat muka, lalu bersandar di pundakku.
“Berharaplah. Sebenarnya aku juga berharap dia menghentikan Kenneth.”
Aku sudah hendak menyeringai ..
“Tanpa membunuh laki-laki itu.”
Apa?
“Pasti ada cara untuk membuat Kenneth jera, dan aku yakin pasti ada.”
Tidak tidak .. dia berpikiran lain ..
Oh, God.

15th of Januari 2003
Aisley menceritakan tentang ZZ. Dia ingin laki-laki itu menghentikan para bullyier-ku tanpa membunuh mereka.
Cih, memangnya ZZ bisa melakukan itu?
Jawabannya adalah : tidak.
ZZ tak kenal ampun.
Apalagi terhadap sosok yang suka menindas.
I know it.
-Aldemar-

“Pada hari Sabtu malam, terjadi pembunuhan di gang kecil dekat kantor pos. Diduga pelaku adalah ZZ, pembunuh berdarah dingin paling ditakuti di Singapura. Inisial ZZ terukir jelas di kening si korban.
“Adapun korban adalah Kenneth, seorang pelajar SMA Brooklyn. Dia tewas di gang kecil dengan keadaan sangat mengenaskan. Rupanya ZZ sedikit bermain-main dengan korban. Anehnya, sangat sedikit darah yang ditemukan di sini.
“Dugaan sementara : ZZ penggemar berat darah dan tinggal di kota i-“
Kumatikan televisi sialan itu. Aku membuang remote sembarangan. Seringaian licik kutampilkan di wajahku.
Hah, aku puas.
Hahaha, aku puas. PUAS!
Tapi, aku belum begitu puas. Tugasku masih banyak. Antek-antek Kenneth cukup banyak. Dan aku .. harus .. membasminya .. satu per satu ..
Because I’m ..

“Aku mendengar dugaan bahwa ZZ tinggal di sini! Dan dia membunuh Kenneth!”
Aku hanya tersenyum kecut mendengar kehisterisan Aisley. Haha, satu penindas, hilang. Hm, selanjutnya siapa?
“Kenapa kamu menyeringai seperti itu? Hiii, kamu terlihat seram.”
Aku cepat-cepat menghilangkan seringaianku, tergantikan dengan senyum manis pada Aisley. “Maafkan aku. Aku hanya sedang terbayang dengan film thriller yang baru saja kutonton semalam. Kisahnya hampir sama dengan pembunuhan Kenneth.”
Haha, padahal aku tidak menonton film tadi malam. Aku hanya .. ya, anak laki-laki. Berkeliaran sepanjang malam.
“Hm, pantas saja. Sudahlah, jangan bahas kisah pembunuhan. Aku merinding,” katanya sambil memeluk dirinya sendiri. Aku beralih dari dudukku dan memeluknya dari belakang. God, I love her very much.
I don’t wanna to tell her now. I .. don’t wanna to lose her. She’s my life. I can’t life without her. She’s my moodbooster ..

16th of January 2003
The target : cecunguk-cecunguk Kenneth.
-Frank-

Daniel dan Hailey tengah duduk di sebuah bar dalam club.
“Setelah Kenneth mati, apakah kita juga akan ikut mati?” tanya Hailey sambil menghisap rok*knya. Daniel meminum gelas ketiga Vodka miliknya sambil mengedarkan tatapan ke sekelilingnya, seolah sedang mencari sesuatu.
“Ya, mungkin. Kau tahu, ZZ tak pernah salah sasaran dan selalu mencari informasi sedetail mungkin. Dan kalau Kenneth mati, mungkin kita juga jadi incarannya. That’s my bad feeling.”
Hailey mematikan rok*knya di asbak, lalu menyeret Daniel yang hendak memesan Vodka gelas keempat. Oh, sudahlah! Laki-laki itu sudah mabuk. Dan dia tidak mau mengambil resiko menggotong Daniel yang setengah sadar ke apartemennya. Ayolah! Daniel laki-laki dan dia perempuan. Mana bisa dia menggotong Daniel sendirian ke apartemen laki-laki itu yang berjarak 2 kilometer dari club ini?
“Ayolah Dan, kamu sudah kebanyakan minum,” gerutu Hailey yang hanya ditanggapi Daniel sebagai angin lalu. Dengan sekuat tenaga, dia menyeret Daniel keluar dari club itu.
Finally, Hailey akhirnya memapah Daniel menuju flatnya, yang tak jauh dari club. Sepanjang perjalanan, Daniel terus menerus meneriakkan “ZZ, kami tak takut padamu!” atau “Aku menindas Alde! Bunuh aku ZZ! Tapi jangan siksa aku!”
Hailey memutar bola matanya. Dia tidak mempermasalahkan teriakan itu. Hanya saja, bila ZZ sedang berkeliaran di sini, mungkin itu akan menjadi masalah besar untuknya.
Bad feeling, dia merasa mereka sedang diikuti.
Sontak Hailey menoleh ke belakang.
Tidak. Tidak ada siapapun. Hailey mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Hah, mungkin hanya perasaannya saja.
Hailey kembali berjalan, kini Daniel sudah mulai diam. Mungkin lelah, atau pingsan. Yang jelas kini Hailey bukan lagi memapahnya, tapi menyeretnya.
Fix, laki-laki ini pingsan.
Plaakkk
Tiba-tiba saja pelipis Hailey dipukul seseorang. Otomatis gadis itu terjatuh. Daniel yang masih pingsan tergeletak begitu saja di trotoar. Hailey meraba pelipisnya.
Tangannya penuh dengan darah.
Huppp!
Orang yang memukul dirinya sudah ada di depannya. Dia mengenakan pakaian serba hitam, dari puncak kepala sampai ujung kaki. Di tangannya tergenggam pisau lipat yang cukup tajam.
“S-s-siapa k-kamu?”
Laki-laki itu menyeringai dibalik masker yang dikenakannya. Hanya mata biru kristal yang tampak oleh Hailey. Dia mencengkeram kerah baju Hailey, kemudian mencengkeram tudung jaket Daniel, dan menyeret mereka menuju gang kecil di dekat sana.
Orang misterius itu menyiram Daniel dengan air es, membuat laki-laki itu terlonjak kaget dan bangun.
“Hah, siapa kamu?” tanya Daniel sok berani. Orang bermasker itu mendecih sebal. Dengan gerakan cepat, dia menancapkan pisau lipatnya di pundak Daniel. Untung pisau itu kecil sehingga tidak terlalu melukai Daniel. Namun laki-laki itu menggoyangkan pisau itu maju-mundur, membuat luka sayatan yang cukup lebar.
“Apa yang kau lakukan pada Daniel?!” tanya Hailey. Dia tidak rela temannya disiksa oleh orang asing.
Orang itu memutar bola matanya. Dia mencabut dan memasukkan pisau lipatnya, lalu mengeluarkan pisau lain yang lebih besar dan tajam.
Pisau dapur.
“Kalian pasti tau tentang kematian Kenneth kan?”
Kini Hailey dan Daniel sontak mundur sampai menabrak dinding. Orang itu tertawa. Haha, dia senang mempermainkan korbannya terlebih dahulu sebelum akhirnya membunuh mereka secara perlahan.
“Aku benci penindas. Dan, yah. Tebakan kalian di club tadi benar. Aku memang mengejar kalian. Apa kalian juga bisa menebak apa motif dibalik pembunuhan yang kulakukan?”
Hailey merasa tubuhnya bergetar. Bagaimana tidak? Dia baru saja menyadari bahwa dia sedang berhadapan langsung dengan ZZ, pembunuh berdarah dingin paling berbahaya di Singapura.
“P-pa-para penindas?” tanya Daniel. Hailey dapat melihat bahwa laki-laki di depannya menyeringai licik. Tanpa aba-aba, dia langsung menghujamkan pisau dapur itu ke perut Daniel. Belasan, bahkan puluhan hujaman sudah bersarang di perut Daniel. Namun laki-laki itu belum puas. Dia mencabut pisaunya, dan kemudian ************** di mata korbannya. Dia mencabutnya, lalu menancapkan pisaunya di tenggorokan korbannya. Dia menarik pisaunya membentuk sayatan panjang.
Daniel tewas.
Laki-laki itu beralih pada Hailey. Gadis itu meringkuk di sudut, takut oleh tatapan tajam yang perlahan mulai dikenalinya. Meski wajahnya tertutup dengan masker, namun Hailey masih mengenali bola mata biru itu.
“I-itu bukan kau, kan?”
Sosok itu tertegun sejenak. Tak lama seringaian muncul lagi. Dia melepas maskernya perlahan, mengangkat dagu pada Hailey saat gadis itu melotot tak percaya.
“Aku tak hanya membunuh penindas ..”
Dia mendekati Hailey. Pisau itu mulai menggores pipi Hailey sedikit. Darah langsung keluar dari pipi gadis itu. Laki-laki yang sudah melepas maskernya itu mendekat, lalu menjilat darah Hailey.
“Aku juga membunuh orang yang berani macam-macam dengan kekasihku. Dan .. aku membunuh orang yang membuatku merasa tidak nyaman.”
Dia menyeringai, kemudian menjauh dari Hailey. Tangannya memutar-mutar pisau di tangannya, seakan itu adalah sebuah mainan yang menyenangkan.
“Bersiaplah dengan kematianmu.”
Kemudian laki-laki itu mulai membunuh Hailey dengan cara yang sama saat dia membunuh Daniel. Menghujam perutnya, ******* matanya, dan menikam lehernya.
Setelah selesai menyiksa Hailey, dia menyeringai puas. Dia mengukir inisialnya di kening masing-masing korbannya.
ZZ.

Broken Hill Bears: Boxed Set (Books 1-3): Bear Shifter Romances, Weddings, Receptions, and Murder: A Craft Circle Cozy Mystery, Cécile is Dead, Why Mosquitoes Buzz in People's Ears, Dividing Eden (Dividing Eden, #1), Manifest Destiny, Vol. 1: Flora & Fauna, This Is My Home, This Is My School, Serena, El enojo de Wiracocha, Fate Hates (Twist of Fate Book 1), Dear Mr. Turner (Mail-Order Bride Ink, #2), The Elite (The Selection, #2), Takdir Untuk Aku, LaClaire Nights: An After Hours Novel (After Hours Series), Sex Criminals, Vol. 1: One Weird Trick, The Devil in Her Way (Maureen Coughlin, #2), Toyota Production System: Beyond large-scale production, Billionaire Unknown: Blake, The Haunting of Hill House, Ydris – kniha první (Odkaz tastedarů, #1)