Biografi Syarifuddin Prawiranegara

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Biografi

 Syarifuddin Prawiranegara – dilahirkan di Banten pada tanggal 28 Februari 1911. Ayah Syafruddin bernama Arsyad Prawiroadmadja. Dan ibunya bernama Noer’aini. Dalam tubuh Syafruddin mengalir darah campuran Banten dan Minang. Bayutnya, Sutan Alam Intan, masih keturunan Raja Pagaruyung di Sumatera Barat, yang dibuang ke Banten karena terlibat Perang Padri. Ayah Syafruddin bekerja sebagai jaksa. Walaupun bekerja sebagai jaksa, ayahnya cukup dekat dengan rakyat Ia di didik orang tuanya agar disiplin menjalankan syariat Islam Karenanya, ia sudah berpuasa bulan Ramadan pada usia 4 tahun.

Syafruddin kecil pertama memasuki sekolah di Europeesche Lagere School (ELS) di Serang pada tahun 1924. Saat sekolah di ELS, Syafruddin sempat pindah ke Ngawi, karena mengikuti kepindahan tugas ayahnya. Ia menamatkan sekolah ELS pada tahun 1925. Di ELS, bahasa Belanda sebagai pengantarnya. Meski demikian, Syafruddin tidak menemukan hambatan dalam menerima pelajaran. Karena, ayahnya telah membiasakan dirinya dengan berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Sejak kecil, Syafruddin sangat suka membaca. Ia sangat gemar membaca kisah petualangan sejenis Robinson Crusoe.

syarifuddin prawiranegara

Ayahnya memiliki perpustakaan yang lumayan lengkap. Sehingga Syafruddin banyak meluangkan waktunya untuk membaca. Setamat dari ELS, Syafruddin melanjutkan pendidikannya ke Meer U itgebreid Lager Onaerwijs (MULO) di Madiun. Setelah menyelesaikan sekolahnya di MULO pada tahun 1928, ia kemudian melanjutkan studinya di Algemeene Mtddelbare School (AMS) bagian A di Bandung. Ia sengaja memilih bagian A, karena ia menyukai bidang sastra dan Setamat dari Bandung pada tahun 1931, ia Kemudian melanjutkan studinya di Recht Hoge School (RHS), Sekolah tinggi Hukum di Jakarta.

Sebetulnya ia ingin melanjutkan studinya ke jurusan sastra, namun saat itu belum ada perguruan tinggi yang mempunyai jurusan sastra. Di RHS, studi Syafruddin sempat berhenti selama 3 tahun. Pasalnya, ia lebih menyukai kajian sastra dan filsafat daripada kajian bidang blIkum. Namon, setelah ayahnya wafat, Syafruddin sangat bersemangat untuk menyelesaikan studinya. Pada bulan September 1939, ia berhasil memperoleh gelar Master in de Rechten (Mr). Pada tanggal 31 Januari 1941, saat usianya 30 tahun, ia menikah dengan Tengku Halimah anak Raja Sahaboeddin, camat di Buah Batu Bandung. Dari pernikahannya dengan Tengku Halimah lahirlah delapan anak. Syafruddin mempunyai sekitar lima belas cucu. Cucunya ketiga belas lahir di Australia sebagai bayi tabung pertama keluarga Indonesia, 1981.