Biografi Rasuna Said

By On Wednesday, March 8th, 2017 Categories : Biografi

Biografi Rasuna Said dikenal sebagai seorang tokoh pendidikan pejuang wanita Indonesia yang ternama dari Sumatra Barat. Tokoh ini lahir pada tanggal 14 September 1910. Ia memiliki nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Pendidikan pertama diperolehnya di Sekolah Desa Maninjau. Setelah itu, ia memasuki Diniyyah Putri di Padangpanjang.

Pada masa itu, di Ranah Minang telah berdiri sekolah Holandsch Inlandsche School (HIS). Namun Rasuna tidak berkeinginan masuk sekolah itu. Anak perempuan kedua dari lima bersaudara ini lebih suka meninggalkan kampung halamannya untuk kemudian sekolah di AI-Madrasah Ad-Diniyah atau lebih popular disebut Diniyah Putri.

Biografi Rasuna Said

Sekolah ni khusus untuk perempuan muslimah, terletak di Kota Padang Panj ang, sekitar 60 km dari Maninjau. Kala itu, Rasuna masih berumur belasan tahun. Keberaniannya meningalkan kampung halaman menunjukkan watak dan karakter Rasuna yang militan. Padahal, pada masa itu, jarang sekali wanita yang berani.

Ketika masih berstatus pelajar, ia sudah dipercaya untuk mengajar di kelas bawahnya. Di kala itu, kegiatan politik di kalangan guru-guru Islam di Minangkabau meningkat, sehingga Rasuna Said berani mengemukakan dan menanamkan pentingnya politik dan perlunya partisipasi pelajar di dalamnya.

Ketika bersekolah di Diniyah Putri, Rasuna masuk sebagai kader pilihan Sumatera Thawalib Padang Panjang. Di Sumatera Thawalib inilah, Rasuna Said digodok menjadi muslimah yang tangguh. Bahkan, ketika alumni Mesir memproklamasikan Sumatera, Thawalib menjadi partai politik bemama Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) tahun 1930, Rasuna langsung diamanahkan duduk dalam barisan Pengurus Besar (PB).

Permi kemudian berkembang menjadi partai politik Islam kedua terbesar setelah PSII. Dalam rapat-rapat akbar Permi, Rasuna terkenal sebagai tokoh yang pahng keras suaranya dan tajam orasinya. Rasuna adalah pengurus partai politik pertama yang menyatakan secara terbuka bahwa Belanda adalah penjajah kafir yang harus diusir dari negeri ini.

Rasuna pula yang mencanangkan, bahwa Permi adalah partai politik yang telah mengubah khitthah partai dari kooperatif menjadi non-kooperatif terhadap Belanda. Sikap melawan yang ditunjukkan Rasuna membuat Belanda marah. Akhirnya, ia ditangkap pada tahun 1932, dengan alasan mengganggu ketenteraman umum.

Ia dijatuhi hukuman pembuangan ke Jawa dan dimasukkan ke penjara wanita “BULU’ di Semarang selama 13 tahun. Saat itu usianya baru 22 tahun. Dan tercatat, dialah politikus – wanita pertama yang dijebloskan ke penjara oleh Belanda. Usai menjalani hukumannya, Rasuna kembali ke Padang Panjang Namun betapa kagemya ia setalah mendapati kantor Permi dan Sumatra Thawalib sudah rata dengan tanah, hanya menyisakan puing-puing yang berserakan.

Rupanya, Belanda telah lama membumihanguskan kedua organisasi itu. Dalam kepedihan hatinya, Rasuna bukannya pulang ke Maninjau, kampung halamannya, tapi malah lujrah ke kota Padang. Di kota ini, Rasuna menemui Baginda Khatib Sulaiman. Mereka berdua bersepakat untuk mendidik para pemuda Padang dan membentuk Barisan Perlawanan Pemuda pacia tahun 1947.

Lagi-lagi, usaha Rasuna menemui sandungan, Jepang yang saat itu masih menjajah Indonesia terus mengincar gerak-gerik Rasuna. Dan, belum sempat Barisan Perlawanan Pemuda diproklamasikan, Rasuna dan Khatib Sulaiman keburu diciduk oleh tentara Padang dan dijebloskan dalam tahanan di Muaro Padang.