Biografi KH Abdul Karim

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Biografi

Abdul Karim – dilahirkan di Dukuh Banar Desa Diangan Kawedanan Mertoyudan Kabupaten Magelang pada tahun 1856. Nama kecilnya Manab. Ia putra ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Abdul Rahim. Ibunya bernama Salamah. Ayah Abdul Karim adalah seorang petani sederhana. Kadangkala, saat hasil pertanian tida mencukupi untuk kebutuhan keluarga, ayahnya serin berdagang ke kota Muntilan. Saat Manab masih belia, ayahnya meninggal dunia. Karena keterbatasan ekonomi, akhirnya ib Manab menikah lagi dan melahirkan tiga orang anak. Kondisi ekonomi semakin melemah, hingg menuntut Manab harus hidup mandiri. Ia bertekad haru bisa berdiri tegak dengan kaki sendiri. Ia tak ma merepotkan orang lam.

Dalam kondisi demikian, Manab kecil untuk menuntut ilmu semakin besar. I ingin mengikuti jejak kedua kakaknya, Aliman da Mu’min yang belajar di pesantren. Kedua kakakny adalah seorang pengembara ilmu yang ulet. Sebagai kakak, Aliman sangat mengetahui isi ha adiknya yang ingin belajar agama. Akhirnya, saat Alima pulang ke Magelang dari pesantren Jawa Timur. I kemudian mengajak Manab untuk be Eaj ar di Jawa Timur Saat itu usia Manab baru 14 tahun. Pada tahun 1870, Mana.’ berangkat untuk menuntut ihnu di Jawa Timur. Mereka berdua harus berjalan puluhan kilometer. Akhirnya, sampailah mereka di sebuah dusun bernama Babadan Gurah Kediri. Di Kediri, mereka menemukan sebuah mushala kecil dan berguru kepada seorang kiai tentang genyam pendidikan agama. Setelah men Manab kemudian melanjutkan belajar agamanva di an agama di Kediri, Pesantren Cepogo Nganjuk.

KH Abdul Karim

Di Pesantren ini, Manab tidak hanya mengaji tapi juga bekerja. Manab belajar 6 tahun di pesantren ini, dirasa sudah cukup, ia kemudian pindah lagi di Pesantren Trayang Bangsri Kertosono. Tak puas sampai di situ, Manab pun melanj utkan studinya di Pesantren Sono Sidoarjo. Pesantren ini terkenal dengan ilmu nahwu dan sharafnya. Di pondok ini, Manab bisa lebih konsentrasi belajar, karena ia dibiayai oleh kakaknya, Aliman. Karena kakaknya mengetahui kecerdasan dan keuletan Manab, kakaknya merasa sayang jika belajarnya harus terganggu. Di pesantren ini, Manab bertahan sampai 7 tahun. Di pesantren Sono Sidoarjo, Manab banyak mempelajari ilmu nahwu dan sharaf. Kitab kuning Alfiyyah Ibnu Malik dapat dikusainya dengan baik.

Setelah belajar dari pesantren ini, kemudian ia melanjutkan belajar agamanya kepada KH. Khalil Bangkalan. Beliau adalah guru para pemimpin Islam, seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, dan kiai-kiai terkenal lainya. Di Pondok asuhan KH. Khalil ini, Manab menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar dan bekerja. Karena ia sudah tak dibiayai kakaknya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dirinya harus memetik daun Pace dt sekitar pondok. Bahkan, Manab seringkali makan sisa makanan teman-temannya. Ia juga sering makan ampas kelapa. Sebelum belajar kepada KH. Khalil Bangkalan, Manab belajar di pesantren Kedungporo Sepanjang Surabaya. Kemudian baru menyeberang ke Bangkalan Madura.

Pendidikan KH Abdul Karim

Manab terkenal sangat haus ilmu. Karena kecintaannya pada ilmu yang mendalam, Manab rela berjalan kaki dari Magelang ke Bangkalan. Suatu saat, ia pulang ke Magelang. Setelah beberapa hari Manab tinggal di rumah, akhirnya ia hendak kembali ke Bangkalan. Ibunya kemudian membekali Manab uang lima rupiah untuk naik kereta. Karena saat itu ia butuh kitab Minhajul Qawim dan Ibnu Aqil, akhirnya ia rela berjalan ratusan kilometer dari Magelang ke Bangkalan Madura. Itu dilakukan katena uangnya ingin dibelikan kitab. Kadang kala, untuk mendapatkan kitab yang baru (yang belum dibaca), Manab biasanya tukar-menukar kitab dengan temannya. Seringkali pula, Manab harus menjual kitab yang sudah dibacanya dan uangnya dibelikan kitab yang baru. Tak terasa Manab telah menimba ilmu agama di Bangkalan selama 23 tahun. Tak pelak, ilmu Manab sangat mendalam, wawasannya pun juga luas.

Akhirnya, suatu hari KH. Khalil berkata pada Manab, “Nab, Baliyo ilmuloswis entek,” (Nab Pulanglah ilmuku sudah habis). Karena gurunya berkata demikian, Manab pun meninggalkan Bangkalan,, meskipun sesungguhnya ia masih ingin belajar di Bangkalan. Ketika dalam perjalanan, Manab ingat kalau sahabatnya, KH. Hasyi mendirikan Pesantren di Tebuireng. Akhirnya, Manab pun belajar lagi kepada pen NU, KH. Hasyim Asy’ari sampafumur 50 tahun. Karena terlalu cintanya yang mendalam kepada ilmu, ia lupa untuk ment Manab menikah saat usianya 50 tahun. Sedangkan istTinya bemama Khadijah binti Shaleh berumur 15 tahun. Pernikahan itu diadakan pada tahun 1908. Pada ta berikutnya lahir putrinya yang pertarna bernama Hannah.