Biografi Hasan Basri

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Biografi

Hasan Basri – Ia belajar agama di Sekolah Diniyyah Awwaliyah. Di sekolah ini, Hasan i banyak mempelajari ilmu-ilmu agama misalnya, ilmu tauhid, fikih, Al-Quean, hadis, dan bahasa Arab. Hasan Basri adalah seorang murid terpandai dan menjadi murid kesayangan para gurunya. Ketika Hasan Basri masih duduk di kelas tiga, ia sudah disuruh mengajar adik kelasnya. Setelah tamat dari sekolah dasar pada tahun 1933, ia tidak langsung melanjutkan studinya, karena ditugaskan sebagai guru bantu di Madrasah Diniyyah Awwaliyah selama dua tahun.

Setelah itu, pada tahun 1935 ia melanjutkan studinya di Tsanawiya Muhammadiyyah (setingkat SMP) di Banjarmasin. Di sekolah ini, ia mulai mengenal dan mempelapri dunia pemikiran, misalnya pemikiran Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Imam Syafi’i, dan Imam Ghazali. Saat belajar di sekolah ini, kemampuan intelektualnya semakin terasah. Begitu juga dengan kemampuan berpidatonya.

Hasan Basri

Apalagi di sekolah ini terdapat peIajaran Muhadharah (latihan berpidato). Di sekolah inilah, Hasan Basri bertemu dengan ulama besar Prof Dr. Buya Hamka yangsaat itu mengadakan kunjungan di Banjarmasin sebagai utusan Muhammadiyy-ah dari pusat. Hasan Basri sangat terkesan dengan pidato Buya Hamka. Hasan Basri pun bertekad bisa berpidato dan berceramah dengan baik seperti Buya Hamka. Hasan Basri adaIah seorang ularna yang selalu (berjuang menegakkan ukhuwwah Islamiy ah (persaudaraan Islam).

Ia tidak mengikatkan diri pada salah satu mazhab tertentu, tapi juga tidak pula melepaskan diri sama sekali pada mazhab fikih. Ia adalah 1 ulama yang terbuka dalam menghadapi perbedaan dalam masaIah khilafiyyah. Hasan Basri selalu mempersilahkan bagi siapa saja berpegang teguh pada pendapatnya masing-masing, sepanjang tidak membuat umat Islam terpecah. Menurutnya, setiap muslim diperbolehkan berbeda pendapat, tapi ukhuwwah Islamiyyah harus tetap terjaga.

Dalam Risalah Islamiyyah, Rahmat Bagi Semesta Alam, ia berkata : “Bendera yang wajib kita kibarkan hanya satu, bukan bendera golongan, bukan pula bendera lain-lain, tapi bendera umat yaitu ukhuwwah Islamiyah sejati.” Hasan Basri dilahirkan di Muarateweh, Kalimantan Tengah, pada tanggal 20 Agustus 1920. Ia ¬†adalah putra kedua dari pasangan Muhammad Darun dan Fatimah. Ayahnya wafat saat ia masih berusia tiga tahun.

Sejak itu, Hasan Basri diasuh oleh kakeknya bernama Haji Abdullah. Sejak berada dalam asuhan kakeknya, ada salah satu kegiatan rutin yang tidak dapat ditinggalkannya, yaitu berceramah saat menjelang adzan Maghrib. Seperti penceramah hebat, ia berdiri di atas sebuah meja kecil. Isi ceramahnya berkisar kegiatan yang dilakukannya sepanjang hari. Seluruh penghuni rurnah yang mehjadi pendengar setianya.

Pada tahun 1938, ia menamatkan sekolah pertamanya dan melanjutkan studinya di Sekolah Zuama’ Muhammadiyyah Yogyakarta. Sebuah sekolah yang memiliki misi utama mencetak ulama sebagai kader pemimpin Islam. Di sekolah ini, ia dibina dan dididik oleh para tokoh terkenal, misalnya KH. Mas Mansur, KH. Farid Ma’ruf, Prof. Kahar Muzakkir, KH. Baidhawi, dan Buya A.R. Sutan Mansur. Saat menimba ilmu di Zuama’ ini, ia banyak beraktifitas di luar sekolah.

Hasan Basri selalu meluangkan waktunya untuk belajar politik dengan menghadiri rapat-rapat politik Partai Is1am Indonesia (PII) yang digerakkan oleh Dr. Sukiman, Wiwoho Purbohadidjojo, Wali al-Fatah, KH. Taufiqurrahman, Gafar Ismail dan lain sebagainya. Setelah tamat dari sekolah Zuama, ia menikahi gadis cantik bernama Nurhani binti Thawaf Shaleh dari Kandongan Kahmantan Selatan pada tanggal 8 November 1941. Saat itu usia istrinya 17 tahun dan masih kelas tiga di sekolah Zaimat Muhammadiyah Yogyakarta.

Setelah menikah, bersama istrinya Hasan Basri mendedikasikan dirinya dalam dunia pendidikan dengan mengajar di Ibtidaiyyah Muhammadiyah yang didirikan oleh Cabang Muhammadiyah di Marabahan sejak tahun 1942-1944. Sekolah itu merupakan satu-satunya sekolah Muhammadiyah yang ada di masa itu.

Namun sayang, Hasan Basri hanya sempat mengajar selama tiga tahun, karena sekolah ini harus ditutup akibat situasi perang pada saat pensukan Jepang mulai merambah ke Marabahan. Pada tahun 1945, ia diangkat sebagai kepala Kantor Urusan Agama di Muarateweh oleh pemerintahan Jepang. Hasan Basri menjabat sebagai Kadi hanya satu tahun, karena berakhimya pendudukan Jepang di Indonesia. Setelah itu, Hasan Basri mengajak mertuanya pindah ke Banjarmasin.