Biografi Haji Agus Salim

By On Wednesday, March 8th, 2017 Categories : Biografi

Haji Agus Salim – Beliau dilahirkan di Sumatra Barat pada tanggal 8 Oktober 1884. Nama aslinya adalah Musy. udul Haq. Adapun Agus adalah nama panggilan akrabnya. Ayahnya bernama Sutan Muhammad Salim dan ibunya bemama Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang jaksa tinggi di Pengadilan Tinggi Riau. Suatu jabatan yang cukup terhormat bagi orang pribumi (inlander) ketika itu.

Atas dasar inilah Agus Salim diterima masuk sekolah dasar Belanda, Europeese Lagere School (ELS), yang sesungguhnya hanya diperuntukkan bagi anak keturunan Eropa. Setelah lulus dari ELS pada tahun 1897, Agus Salim meneruskan sekolah di Batavia (Jakarta) untuk melanjutkan di Hogere Burger School (HI3S). Sekolah ini sebetulnya juga khusus untuk anak keturunan Eropa. Sangat tidak lazim waktu itu, anak pribumi bisa sekolah di HBS.

Biografi Agus Salim

Latar Pendidikan Agus Salim

Ketika Agus Salim belajar di HB sesungguhnya hanya ada tiga buah sekolah HB Masing-masing di Batavia, Bandung, dan Surabaya Sejak di ELS, Agus Salim telah menunjukka prestasi dan kecerdasannya. Di sekolah ini, ia merai kesuksesan dan prestasi tertinggi. Ia menjadi juara umum tingkat HBS se-Hindia Belanda. Sebuah prestasi tertinggi yang ditunjukkan oleh orang asli pribumi. Usianya saat itu baru 19 tahun. Berita tentang prestasinya yang sangat istimew menarik perhatian R.A. Kartini untuk turut mendukung rencana studinya di Belanda. Tapi rencana itu gaga Setelah dari HBS, Agus malahan berhasrat besar untu melanjutkan studiliya jurusan Kedokteran. Tapi tak punya biaya.

Menghadapi masalah seperti itu, ia kemudian meminta bcasiswa kepada Pemerintahan Hindia Belanda. Namun permohonannya ditolak, dengan alasan Ji dkriminasi politik, bahwa hanya orang non-pribumi saja yang mendapat beasiswa. Karena ditolak, ia memilih untuk tidak meneruskan sekolahnya. Akhirnya, ia mendapatkan tawaran untuk menjadi pegawai konsulat Belanda di Jeddah Arab Saudi.

Saat itu, usianyabaru 22 tahun. Sebenamya Agus Salim tidak mau untuk bekerja sebagai konsulat Belanda selaku dragoman (ahli penerjemah). Ia sudah kecew2.1 terhadap cita-citanya yang kandas. Ihwal keputusannya itu didasarkan pada pertimbangan keluarga, agar menerima tawaran menjadi konsulat Belanda di Jeddah. Mereka merasakan, gejala praktek keagamaan Agus Salim yang kian menipis setelah beberapa tahun sekolah Belanda.

Di Mekah, diharapkan Agus Salim dapat menimba ilmu agama Islam dari pamannya, Syekh Ahmad Khatib, yang telah bermukim di Mekah sejak tahun 1876 dan menjadi salah satu imam dan guru besar di Masjidil Haram Selama menjadi Konsulat Belanda di Jeddah pada tahun 1906-1911, Agus Salim giat mendalami agama Islarn.

Potensi kecerdasan otaknya yang tinggi membuamya mudah menyerap berbagai cabang ilmu keislaman. Sehingga dalam waktu yang sangat cepat, sejak tahun 1906-1911, pengetahuan agamanya sangat luas. Selain itu, Agus Salim juga telah mempelajari berbagai bahasa. Setelah pulang dari Jeddah, ia menguasai tidak kurang dari tujuh bahasa. Di antaranya, bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki, dan Jepang.