Biografi Ahmad Tohari

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Biografi

Ahmad Tohari – Sebuah karya sastra bisa menjadi refleksi cinta seorang hamba pada Penciptanya. Sastra. juga menjadi semacam “alat” untuk membela orang-orang miskin, kelaparan dan mereka yang tersisih secara politis. Ahmad Tohari membuktikan, dengan menulis sastra dia bisa “menemui” Tuhannya yang melimpahkan kasih sayang pada umat manusia. Ayat-ayat kauniyah Tuhan, berupa keindahan yang tercermin dalam setiap makhluknya, bisa ditangkap dan dituangkannya dengan sangat indah melalui karya sastra. Keindahan semua ciptaan itu seolah menjadi “hutang” bagi Ahmad Tohari. Dan ia seperti melunasi hutang itu dengan menulis karya sastra. Demi pembelaannya pada masyarakat kecil dan tersisih secara politis, Ahmad Tohari menulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1984), dan Jentera Bianglala (1985).

Biografi Ahmad Tohari

Trilogi novel yang fenomenal ini telah diterjemahkan ke 5 bahasa asing. Novel Ronggneg Dukuh Paruk menceritakan hari-hari seorang penari ronggeng, Srintil, yang harus hidup dalam kultur masyarakat pedesaan. Sebagai pewaris dari tradisi ronggeng di desanya, Srintil harus melepaskan keperawanannya pada laki-laki yang “terpilih,”. Ya, sekilas di novel ini memang mengumbar adegan pornografi. Tapi sejatinya Ahmad Tohari hanya ingin memberikan kritik pada masyakatat yang teguh memegang tradisi. Padahal tradisi itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang setiap hari digelutinya. Tuduhan ini memang sangat beralasan. Figur Ahmad Tohari yang sehar L-hari dikenal sebagai seorang santri tulen, tiba-tiba menulis novel yang mengumbar pornografi tentu menimbulkan gejolak bagi kaum santri lainnya.

Namun apa kata Ahmad Tohari? “Saya bicara dari dataran makna, bukan formil. Dari sini pesan kemanusiaan saya bisa menembus batas Iintas agama, suku, keyakinan dan lain sebagainya. Islam itu rahrnatan lil alamin sehingga kita hendaknya tidak berpikir kerdil” Sastrawan memang punya cara tersendiri untuk menyampaikan nilai-nilai Islam. Tidak melalui penyampaian ayat-ayat Al-Quran, hadis maupun fatwa ulama. Pesan dalam sastra tidak bisa ditangkap kedalaman maknanya ‘nanya melalui apa yang ditulis atau disampaikan penulisnya. Pesan itu akan sepenuhnya bisa ditangkap setelah pembaca karya sastra merenung dan memahami esensi cerita yang ditulisnya. Berbagai tuduhan miring, seperti ia hanya memanfaatkan kondisi masyarakat kecil, seperti kemiskinan dan kelaparan hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Ia dianggap hanya mencari materi dan popularitas saja dengan mengorbankan orang-orang kecil. Kondisi ini sempat membuatnya merasa tertekan. Novel Ahmad Tohari memang seolah muncul tanpa dibarengi dengan masalah. NoveInya yang beriudul Jentera Bianglala membuatnya harus bolak-balik tdipanggil aparat negara. Ini karena novel itu dianggap rnembela orang-orang yang terlibat makar dalam PKI. Akibatya, bagian pertama novel ini tidak ikut diterbitkan dan diganti dengan cerita vang lebih halus. Namun, Universitas Hawai berencana menerbitkan novel itu secara utuh, sebagai karya sastra klandestin, dengan menyertakan bagian pertama novel tersebut.

Novelnya yang lain, Lirtgkar Tanah Lingkar Air (1994) menceritakan tentang penindasan politis terhadap orang-orang yang terlibat Sej arah mencatat bahwa mereka dianggap sebagai pemberontak dan harus dilenyapkan dari Indonesia. Dengan karya ini, Ahmad Tohari ingin mendudukkan sejarah secara obyektif, dengan menimpakan kesalahan tidak hanya kepada umat Islam. Politik di masa Orde Baru memang sangat ketat. Pemerintah begitu ketat menyeleksi buku-buku yang akan diterbitkan. Buku-buku sastra yang dianggap menyimpang dari “keinginan” penguasa, harus dibredel atau tidak boleh diterbitkan. Atau, meski diterbitkan, harus menyensor bagian-bagian yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang dib!rikan penguasa atas sebuah karya yang diterbitkan.