Berkah Jadi Santri

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Nama gue Sofi, gue siswa di salah satu Mts swasta di Kediri. Gue siswa yang lumayan bandel tapi juga lumayan pinter. Eitzh… bukan bermaksud sombong. Gue hidup serba kecukupan makan cukup, tidur cukup, istirahat cukup, mandi cukup, pokoknya serba cukup Dech…!. Tapi semua itu berubah saat gue berada di sini, di sebuah pesantren yang gue anggep seperti penjara. Maksud gue penjara suci.

“Ma…! Sofi gak mau di sini, Sofi pengen pulang!”, kataku sambil merengek seperti anak kecil kehilangan permennya.
“Sofi…! mama itu pengen kami jadi anak yang bener gak urakan kayak gini”, kata mamaku gak mau kalah.

Dan disinilah kehidupan baru gue dimulai, kehidupan yang penuh dengan aturan menyebalkan. Gak boleh keluar malem, gak boleh pacaran, gak boleh Hp an dan blablabla. Gue bisa gila kalo terus di sini. Ditambah wajah-wajah pengurusnya yang galak kayak harimau kelaperan.

Tiap hari kerjaan gue diomelin pengurus, soalnya gue selalu telat berangkat ngaji, telat berangkat sekolah, telat bangun, telat Ro’an, Eitzh… tapi gue gak pernah telat makan. Selama di sini gue merasa waktu berjalan kayak siput pincang lama… banget (bukannya siput gak punya kaki?). Dua minggu di sini serasa dua tahun lamanya. Dan selama itu pula gue membuat kericuhan di sini mulai dari rebutan makan, rebutan antrian mandi, rebutan tempat tidur sampai rebutan toilet. Al hasil gue gak punya banyak temen di sini. Tapi gue punya satu sahabat baik namanya Yasmin. Entah apa yang membuat dia mau temenan sama gue yang jelas dia yang selalu nasehati gue saat gue lagi di puncak bandel.

Pernah juga sutu hari gue berencana ketemuan sama gebetan gue. Rian.
“Lebih baik jangan dech fi, kamu tahu sendiri kan banyak mata-mata di sini”, kata Yasmin menyarankan.
“Kan kita beraksinya malem gak bakalan tahu, alah… bilang aja lo gak mau kan nganterin gue?”, Sergahku.
“Kalo masalah ini aku gak mau ikutan fi, aku takut ditakzir. Yang penting aku sudah mengingatkanmu”, kata Yasmin sambil berlalu meninggalkanku.
“oke gue bakalan berangkat sendiri, gue kira lo temen baik gue”. Kataku setengah teriak.

Dan akhirnya pada waktu yang telah ditentukan gue benar-benar menjalankan aksi gue. Diam-diam gue buka pintu kamar, sejauh ini suasana aman. Gue terus berjalan bak seorang maling yang akan menjalankan aksinya, hingga akhirnya gue sampai di tempat tujuan dengan selamat.
“Eh… lo udah nunggu lama ya…? sorry-sorry”, kataku setengah berbisik.
“oke oke no problem, nunggu lo di sini sampai pagi pun gue rela asalkan bisa ketemu lo”, jawab Rian dengan gaya lebainya.
“Dasar gombal…!”, umpatku.
Tiba-tiba ekspresi Rian berubah menjadi seperti ketakutan.
“Eh… muka lo kenapa kusut gitu? Kayak nglihat setan aja, mana setannya sini kalo berani sama gue”, kataku sok berani.
“Hm… itu”, jawabnya dengan ekspresi yang masih sama.
Gue perlahan berbalik melihat siapa gerangan yang ada di belakang gue. Sontak mata gue terbelalak, jantung gue serasa berhenti berdetak saat gue tahu sosok di belakang gue adalah dua pengurus pesantren yang tengah berdiri dengan wajah garangnya.
“Sofi…! pergi ke kantor pengurus sekarang!”, teriak mereka berdua serentak.
Dan kini gue harus nyiapin mental gue buat ngadepin semua ini.

Di kantor pengurus, gue kenyang oleh omelan omelan para pengurus yang kejam, dan tak jarang sebuah tongkat besar mendarat mulus di tangan gue.
“Saudari Sofi sampai kapan anda akan terus melanggar aturan seperti ini?”,
Bukkkk!
“Auhw…”, pekikku kesakitan.
“Apakah pentakziran yang selama ini kami berikan pada anda tidak cukup untuk membuat anda jera?”,
Bukkkk!
“Aauhw…”, satu lagi pukulan mendarat mulus di tangan gue. Gue hanya bisa pasrah.
“Kalau memang anda tetap tidak mau menaati peraturan di sini, kami akan menyerahkan anda pada Abah Yai gar beliau turun tangan sendiri”,
“Ja… jangan mbak saya janji gak akan mengulanginya lagi”, jawabku mulai angkat bicara.
“Baiklah tapi anda tetap harus menerima pentakziran yang telah kami tentukan yaitu shalat taubat, istighfar 10.000 kali, shalat tahajud 15 hari, dan puasa senin dan kamis selama satu bulan.
“Baiklah mbak insyaallah”, jawabku lemah.

Gue kembali ke kamar dengan terburu-buru. Air mata gue tek lagi dapat dibendung dan seketika itu juga gue bersimpuh di hadapan Yasmin.
“Maafin gue Yas, gue memang egois. Seharusnya gue dengerin nasehat lo”, kataku sambil menangis.
“Semua sudah terlanjur gak ada yang perlu disesali semua harus diperbaiki. Sini tanganmu berdarah, aku obati”. Kata Yasmin sambil meraih tanganku.
“Terimakasih lo emang manusia berhati malaikat”, Ujarku sambil menahan nyeri.
“Sofi, kita di pesantren ini untuk mencari ilmu bukan untuk bersenang-senang. Apapun peraturan yang ada di sini untuk kebaikanmu, jadi taatilah semua peraturan itu. Orangtuamu ingin kamu berubah menjadi lebih baik. Apa kamu gak ingin membuat mereka bahagia?”, Kata Yasmin menasehati.

Sejenak suasana hening, kata-kata Yasmin bagai peluru yang melesat di otak gue yang akhirnya mendarat mulus menembus relung hati gue yang paling dalam. Berbagai pikiran mulai muncul dalam otak gue, termasuk niat untuk berubah. Tapi apa gue bisa?

Setelah kejadian itu aku (ceritanya udah tobat jadi pakek aku – kamu) telah berubah menjadi Power Rangers. Eitsz….. Maksudku berubah menjadi lebih baik. Aku menjalani pentakziran dengan baik dan ikhlaas tentunya. Dan selama itu pula Yasmin selalu membimbingku dengan sabar.

Terimakasih Ya Allah karena engkau telah menurunkan hidayahmu padaku, serta telah memberikan secercah harapan pada hambamu ini untuk dapat menikmati surgamu. Dan berkah menjadi santri ini aku dapat kembali kejalan lurusmu.

END

8535903, 8535904, 8535905, 8535906, 8535907, 8535908, 8535909, 8535910, 8535911, 8535912, 8535913, 8535914, 8535915, 8535916, 8535917, 8535918, 8535919, 8535920, 8535921, 8535922, 8535923, 8535924, 8535925, 8535926, 8535927, 8535928, 8535929, 8535930, 8535931, 8535932, 8535933, 8535934, 8535935, 8535936, 8535937, 8535938, 8535939, 8535940, 8535941, 8535942