Berawal Dari Friendster, Kisah Cintaku Bertahan Hingga 8 Tahun

By On Tuesday, March 21st, 2017 Categories : Cerita
Gratis Samsung
Friendster memang sangat hits pada zamannya, kamu pasti suka main friendster juga kan dulu? Mungkin untuk bertemu dengan teman di dunia maya. Bahkan rela duduk berjam-jam lamanya untuk membuka friendster di warnet. Maklum, pada saat itu internet belum tersebar luas dan handphone pun masih jadul. Namun, lewat Friendster gadis bernama Vania ini menemukan tambatan hatinya yang kini menjadi pacarnya selama delapan tahun.

Awal mula dari Friendster, sosial media yang waktu jamannya hits banget. Awalnya aku nge-add dia. Nge-add pun karena cuma sekedar tahu aja sih kalo dia kakak kelas. Karena Gerva itu kakak kelas aku sewaktu SMP, aku masih kelas satu sedangkan dia kelas tiga. Sewaktu di sekolah, sama sekali nggak kenal, cuma tahu doang, tidak pernah sapa apalagi ngobrol.

Entah kenapa saat di friendster itulah kami kenalan, setelah aku add dan di-accept, muncul comment baru di timeline FS aku dari dia dengan kalimat “Vania adeknya Ardy ya?”. Ardy itu kakak aku, karena kakakku, ternyata kakak kelasnya dia waktu SMP. Lalu comment pun aku bales dengan menjawab “Iya”, sempat balas-balasan comment tiga sampai empat kali, namun tidak dilanjutkan lagi.

Foto: copyright thinkstockphotos.com

Beberapa hari kemudian pesan baru muncul di handphone-ku dengan isi pesan “Ini vania ya?” langsung ku balas “Iya, ini siapa?” dia bales lagi “Gerva” (Hm kaget, kenapa ini orang sampai sms. Tahu nomor aku dari mana) akhirnya lanjut sms-an. Yah dulu belum ada Whatsapp atau Line untuk kita berkomunikasi, jadi sms dan telepon media kita komunikasi.

Dan, lucunya lagi, dia ngomong ke aku “Eh nanti malem gue mau nelpon cewek nih, kira-kira ngomong apa ya?” lalu dalam hati kecil aku sebenarnya (loh telpon mah telpon aja), pas di malam harinya (karena waktu itu masih hits telpon murah tengah malem, hehe) dia nelpon aku untuk pertama kali, spechless “Maksud dia mau nelpon cewek itu ceweknya aku? Hahahahaha, antara malu dan grogi, soalnya pertama kali kita ngobrol.

Singkat cerita sampai pada akhirnya dua bulan setengah kemudian dia nelpon sekitar jam 12 malam (seperti biasa karena nelpon malem murah banget), dan dia menyatakan perasaannya. Tapi di situ aku belum bisa menjawab karena kenal aja baru sebentar, chat via sms juga nggak rutin, dan belum pernah ketemu sama sekali.

Foto: copyright Unpopulart

Akhirnya aku bilang, kasih waktu seminggu ya. Sampai pada akhirnya seminggu kemudian, dia menelfon kembali untuk menagih jawaban atas pernyataan dia. Lalu, entah apa yang membuat aku yakin (mm sebenarnya belum yakin juga sih) hahaha.. Aku menjawab, iya aku terima.

Kenapa dia menyatakan lewat telpon, mungkin kalian bilang nggak gentle, nggak berani atau apa. Karena sewaktu itu aku kelas 3 SMP di Depok, dia SMA di Muntilan Jawa Tengah tetapi rumah kita sama-sama di Depok. Jadi awal kita kenalan sampai jadian pun kita belum face to face.

Paling sedihnya lagi, karena sekolahnya asrama dan peraturan sekolah/asramanya itu dia bisa pegang hanphone saat weekeend aja (jumat sore baru bisa diambil sampai minggu) sedih ya? Baru jadian udah ditinggal, tidak ada kabar, dikabarin cuma weekend aja. Lalu, tiga bulan kemudian pas libur sekolah kenaikan kelas kalau tidak salah, kami pertama kalinya bertemu yang statusnya sudah jadi pacar.

Di situlah kami awkward dan canggung banget. Salah tingkah lebih tepatnya, karena status udah jadian tapi kita kayak belum jadian hahaha. Bingung ngobrolin apa, masih kaku banget. Setelah melewati SMA, akhirnya dari kuliah sampai sekarang kami satu kota dan lebih mudah ketemu.

Photo: Copyright Thinkstockphotos.com

Saat ini hubungan kami sudah berjalan 8 tahun, kalau nyicil rumah sudah bisa, hehehe. Dari yang sempet LDR kurang lebih 2 tahun sampai sekarang setiap hari bisa ketemu. Sampai sekarang pun kami masih membahas ‘kok kami bisa ketemu ya, kenapa nggak waktu masih sekolah bareng pas SMP, kenapa ketemunya di Friendster, kenapa bisa ya’. Dan sekarang kita masih bareng-bareng. Hal tersebut yang masih kami bahas terus-menerus, kayak nggak percaya aja kalau jodoh pasti sudah diatur dengan jalan-Nya.

Tetapi jangan salah, kami berdua sempat putus nyambung nggak cuma sekali, syukurlah sekarang hal seperti itu tidak terjadi lagi, entah karena jenuh atau capek. Tetapi untuk saat ini, karena kami sudah belajar dari sebelumnya, ketika berantem saling menyalahkan, tidak mau salah dan kalah, tapi setelah itu kalau sudah ketemu keesokan harinya, udah kayak biasa lagi, anggep masalah udah clear. *Jangan ikuti kami ya, masalah harus diselesaikan baik-baik*.

Tapi yang membuat aku nyaman dari dia, sikap kedewasaan dia yang bisa membuat aku tenang kalau lagi panik dan stres. Sebenarnya kunci utamanya adalah percaya diri sendiri dan percaya dia. Percaya diri sendiri kalau dia itu memang disuruh Tuhan untuk menjaga aku sekarang dan percaya apa pun yang dia lakukan.

The Dangerous Thief (Stolen Hearts #3), All of You (All In #3), The Intuitionist, Fear Inducer, Michael Jordan: The Life, Direğin Tepesinde Bir Adam, The View from the Cheap Seats: Selected Nonfiction, Running Blind (Jack Reacher, #4), Princes at War: The Bitter Battle Inside Britain's Royal Family in the Darkest Days of WWII, Rustler's Heart (The Kinnison Legacy, #2), Indian Summer: The Secret History of the End of an Empire, How to Speak Dog: A Guide to Decoding Dog Language, Six Months to Live (Dawn Rochelle, #1), Dikmen Yıldızı, Hug It Out!, Harry Potter and the Deathly Hallows (Harry Potter, #7), The Fix (Amos Decker #3), SilverFin (Young Bond, #1), I Surf, Therefore I Am: A Philosophy of Surfing, The Nearness of You (The Thorntons Book 1)