Belajar Prihatin Dari Kesederhanaan Sate Kere

By On Tuesday, March 21st, 2017 Categories : Cerita
Pernahkah mendengar tentang Sate Kere? Kalo belum pernah, mungkin ada baiknya diperbanyak jadwal piknik dan berwisata kuliner di sudut – sudut kota Jawa Tengah. Di sanalah biasanya sate kere dijual bertusuk – tusuk.

Sesuai namanya, ‘kere’ berarti orang miskin atau gelandangan yang bersemayamnya hanyalah di pojok – pojok kehidupan manusia. Kere, berasal dari Bahasa Jawa yang artinya ‘miskin’. Setidaknya terbukti dari beberapa ‘paribasan’ atau peribahasa Jawa yang menggunakan kata ‘kere’, misalnya: “Kere munggah bale” (Orang miskin yang mendadak kaya) atau frase Bahasa Jawa lainnya dalam bentuk Seloka, “Kere punjen” yang berarti (dua) orang susah yang saling membantu.

Kata ‘kere’ juga bisa menjadi kata yang menyakitkan apabila diucapkan dalam tujuan melecehkan atau menghina orang lain. Sebutan kere juga bisa melukai ego seseorang. Marah pun muncul jika disebut wong kere ketimbang wong melarat.

Sate kere muncul sudah sejak beberapa tahun lamanya dan telah menjadi fenomena tersendiri di masyarakat yang bervariasi dalam aneka tingkat kemapanan. Setidaknya sate kere dan angkringan dengan nasi kucingnya, telah menjadi simbol upaya bertahan hidup dari kejamnya krisis ekonomi dan persaingan hidup. Wujud sate kere yang minimalis, super ekonomis dikemas praktis membuatnya menjadi alternatif pengganjal perut yang lapar bagi kalangan menengah ke bawah dan paling bawah di masyarakat perkotaan maupun di desa – desa.

Berawal dari penggantian daging pada sate dengan tempe, tahu atau gembus. Kemudian cara ini berkembang menjadi alternatif memotong usus, kulit, gajih atau daging kerang sawah dengan tipis dan kecil – kecil seupil, dirangkai dan ditata sedemikian rupa untuk menyesuaikan daya beli masyarakat ekonomi lemah yang tetap membutuhkan asupan gizi dan protein hewani dalam hidupnya sehari – hari. Dengan mengecilkan ukuran dan volume, harga sate kere menjadi tetap terjangkau dan produk masih bisa terbeli oleh para kaum jelata ini.

“Dasar sapi! Masa harganya 35 ribu seporsi!”

Seorang kawan, penggemar bebakaran, malam tadi berkeluh – kesah tentang mahalnya seporsi sate sapi yang dijual oleh salah satu kedai populer di Jogja. Baginya, sebenarnya 35 ribu adalah alokasi dana yang cukup untuk makan bertiga dengan istri dan anaknya. Sebagai tenaga serabutan di sebuah proyek perumahan, 35 ribu berarti sepertiga gaji hariannya.
“Lha, sudah tahu kalo itu sate kere, masih dibeli juga,” Pak RT yang kebetulan ada di lokasi, berusaha meredakan gundah Si Serabutan dengan nada suara menasehati.
“Lho, itu bukan sate kere, Pak RT. Itu sate sapi lho!” Si Serabutan ngotot memberi penjelasan.
“Bagiku tetap sate kere. Setidaknya membuat kita – kita menjadi ‘kere’ kalo keseringan makan di situ,” ujar Pak RT sambil tertawa disambut anggota Tim Siskamling yang turut mendengarkan pembicaraan itu. Termasuk Si Serabutan yang ikut tertawa kecut.

Harga, kuantitas dan kualitas selalu akan berada dalam tingkatan perbandingan lurus. Masyarakat ‘kere’ di piramida terbawah pun sangat memahami hal ini. Hal ini membuat ungkapan ‘kamu adalah apa yang kamu makan’, hanyalah sebagai bahasa promosi dari sebuah produk makanan agar jualannya laris dan lancar jaya. Bisa saja memaksakan diri membeli sate sapi, sate kambing atau bulgogi di hari ini, tapi satu, dua, tiga hari kemudian harus puasa atau ngutang sate kere di angkringan di pojok kampung.

Akhirnya dalam sekejap saja, seluruh anggota tim Siskamling kembali menemukan ceria dan tawanya kembali. Telah melupakan barang sejenak bahasan tentang ‘sate kere – sate kere’ dan ke’kere’an yang semakin merajalela di negeri ini. Ceria, tawa, canda dan bahagia … Bukankah itu kekayaan juga?
Setidaknya itu yang diyakini oleh Bunda Theresa, malaikat para ‘kere’, yang pernah berujar,

“The most terrible poverty is loneliness and being unloved.”