Belajar dari Kindegarten

By On Monday, April 17th, 2017 Categories : Sains

ALL I REALLY NEED TO KNOW about how to live and what to do and how to be I learned in kindergarten. Wisdom was not at the top of the graduate-school mountain, but there in the sandpile at Sunday School.

These are things I learned:

Share everything. Play fair.
Don’t hit people.
Put things back where you found them.
Clean up your own mess.
Dont take things that aren’t yours.
Say you’re sorry when you hurt somebody.
Wash your hands before you eat. Flush.
Warm cookies and cold milk are good for you.
Live a balanced life –learn some and think some and draw and paint and sing and dance and play and work every day some.
Take a nap every afternoon.
When you go out into the world, watch out for traffic, hold hands, and stick together.
Be aware of wonder.
Remember the little seed in the Styrofoam cup: The roots go down and the plant goes up and nobody really knows how or why, but we are all like that.
Goldfish and hamsters and white mice and even the little seed in the Styrofoam cup –they all die. So do we.
And then remember the Dick-and-Jane books and the first word you learned –the biggest word of all– LOOK.
Think what a better world it would be if we all –the whole world– had cookies and milk about three o’clock every afternoon and then lay down with our blankies for a nap. Or if all governments had a basic policy to always put things back where they found them and to clean up their own mess.

And it is still true, no matter how old you are –when you go out into the world, it is best to hold hands and stick together.

Fulghum, R. 1988. All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten. New York: Fawcett Columbine
Profesi: Jangan Mau Dibilang Basi

27 Jul 01 05:30 WIB (Astaga.com)
Siapa mau dibilang kuno, norak, atau tulalit? Nggak ada, kan? Tapi, itu mungkin terjadi kalau ada orang yang tidak nyambung saat diajak ngobrol. Habis, kelihatan banget sih tidak mengikuti perkembangan zaman. Nah, kalau Anda termasuk orang yang seperti itu, jangan salahkan orang lain bila Anda dicap ‘basi’ …

Ngomong-ngomong soal tren, di dalam dunia kerja pun, Anda tak boleh sampai ketinggalan informasi. Perkaya ilmu dan wawasan Anda dengan mau belajar kepada siapa, kapan, dan di mana pun. Paling tidak, itu kunci utama yang harus dipegang. Caranya? Simak ini:

Asuransikan masa depan dengan melanjutkan sekolah

Dalam dunia kerja yang kian kompetitif, tingkat pendidikan jadi salah satu faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilan seseorang. Bahkan beberapa ladang pekerjaan seperti akunting, kedokteran, dan hukum yang merupakan profesi keahlian, bila tak mengikuti perkembangan ilmu, pasti bakal ketinggalan zaman alias obsolete.

Jenjang pendidikan bisa menjadi satu jaminan dalam meraih masa depan. Coba saja perhatikan, perusahaan besar pasti lebih memilih tamatan master (S2) ketimbang lulusan S1. Belum lagi gaji yang diterima, pasti berbeda pula.

Pendidikan tak hanya bisa diperoleh dari bangku sekolah atau yang formal saja, tapi bisa juga didapat dari jalur non-formal seperti pendidikan singkat, kursus-kursus, seminar, atau pun semacam workshop.

Bangun jaringan atau relasi

Investasi lain yang perlu dilakukan agar tak ketinggalan zaman adalah selalu membangun jaringan atau relasi, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sosial. Apakah dengan menjadi anggota organisasi di kantor atau organisasi lingkungan sosial kemasyarakatan. Selain menjadi anggota perkumpulan, cara lain yang bisa dilakukan untuk membangun jaringan adalah dengan lebih sering menghadiri pertemuan-pertemuan seperti konferensi atau seminar yang sangat membantu memperluas wawasan dan pengetahuan.

Kumpulkan informasi walau sekecil apa pun

Seiring dengan kemajuan zaman, siapa pun yang bisa menguasai informasi, maka dialah yang berkuasa. Sekecil apa pun informasi yang didapat, pasti punya arti penting dan sangat berharga. Karenanya, coba selidiki dan cermati kejadian apa yang tengah terjadi di sekeliling Anda.

Kombinasikan pengetahuan dan referensi yang dimiliki

Dalam ilmu manajemen, dikenal istilah SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan identifikasi kelemahan, kekuatan, kesempatan, dan ancaman.

Dasar ilmu itu, bisa Anda adopsi atau kombinasi dengan pendidikan yang Anda terima supaya Anda lebih kaya. Bisa saja kemampuan analitis Anda menjadi lebih tajam, sehingga pengambilan keputusan pun bisa lebih cermat.

Gemar membaca adalah hobi yang sebaiknya dikembangkan.

Pasalnya, dengan gemar membaca, pengetahuan bakal terus bertambah. Dan dengan ilmu itu, Anda akhirnya bisa tetap survive atau bahkan unggul di dalam dunia kerja. Dan sudah pasti, nggak bakal basi, deh …(hannie k.wardhanie)
Doa Malam Yang Letih
by Arief Dharmawan

malam yang letih dengan cahaya neon bertebaran
kupunguti serpihan sukmaku
di bilahan rasa sepi yang membeku
keganjilan menjadi duri
menyela waktu yang sendiri

siapakah kamu
wahai jiwa yang gelisah
yang setiap kali kujumpai
berenang di lautan mimpi
tidak pernah menemukan tepi
lalu tenggelam di dasar hati yang perih
sambil berkali-kali menunjuk ilusi
‘itulah akhir segala pujianku pada-Nya’ serumu
dan kamu meninggalkan jejak kegagalan
pada setiap generasi yang kehilagan keyakinan

ya Allah bersihkanlah wajah kami yang kotor dan lapuk ini
atau kutuklah dengan kasihmu
ya Allah
karena kami sering sombong dan menipu
karena kami menjadi bara bagi rahmat-Mu
kami menyerah sepenuhnya walaupun hina
Ya Allah
karena kerinduan yang tidak pernah selesai setiap
menemui-mu
bisikkan walalupun hanya sepatah kata
bahwa engkau tetap menjadi lamabang cinta kami

Dikirim oleh QONITA ke millis FISIP UI

14084027, 14084028, 14084029, 14084030, 14084031, 14084032, 14084033, 14084034, 14084035, 14084036, 14084037, 14084038, 14084039, 14084040, 14084041, 14084042, 14084043, 14084044, 14084045, 14084046, 14084047, 14084048, 14084049, 14084050, 14084051, 14084052, 14084053, 14084054, 14084055, 14084056, 14084057, 14084058, 14084059, 14084060, 14084061, 14084062, 14084063, 14084064, 14084065, 14084066