Batu Menangis versi Kalimantan

By On Tuesday, November 19th, 2013 Categories : Cerita

Dikisahkan zaman dulu ada sepasang suami-istri. Si suami bernama Awang dan si istri bernama Sari. Setelah beberapa lama menikah, akhirnya Sari mengandung. Ketika tiba waktunya melahirkan, Sari dan Awang begitu gembira. Karena, anaknya sungguh cantik.

Hal yang unik adalah proses kelahirannya. Saat bayi cantik yang dinamai Putri ini lahir, cuaca sungguh tidak bersahabat. Angin bertiup kencang, gelap, dan pertanda buruk alam lainnya. Proses kelahiran inilah kelak mempengaruhi sifat Putri yang tidak sesuai dengan harapan orangtuanya.

Ya, setelah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, perilakunya sedemikian buruk. Putri memiliki jiwa pemalas. Kerjanya setiap hari hanyalah bersolek tanpa pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Sifatnya pun manja dan kekanak-kanakan. Dimana, setiap permintaannya harus dituruti tanpa peduli keadaan kedua orang tuanya.

Suatu ketika, Putri diajak Sari ibunya berbelanja di pasar yang terletak lumayan jauh dari rumahnya. Untuk mencapainya mereka harus berjalan melewati beberapa desa. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Putri bersolek sambil berjalan melenggak-lenggok bak bidadari. Terlebih-lebih ketika perjalanan pulang, Putri yang tidak mau membawa belanjaan membiarkan Ibu kerepotan membawa sendirian.

Hal ini Putri lakukan supaya dirinya terlihat orang-orang lebih dulu saat melewati desa. Dan betul saja, begitu melewati sebuah desa, banyak para pemuda memperhatikan dirinya. Mereka mengagumi kecantikan Putri yang tiada tara. Seorang pemuda sebut saja bernama Jafar memberanikan diri untuk bertanya kepada Putri.

“Hai, gadis cantik,” kata Jafar menyapa putri dengan ramah, “Boleh aku berkenalan denganmu?”

“Tentu saja,” sahut Putri. Dan berbincang-bincanglah mereka dengan akrab sampai akhirnya Jafar bertanya mengenai seorang perempuan renta yang bersamanya.

“Oh, bukan siapa-siapa? Ia cuma pembantuku.”

Kejadian serupa terjadi berulang-ulang setiap kali, Putri dan Ibu melewati desa. Para pemuda bertanya siapa perempuan yang bersama Putri. Dan Putri selalu menjawab dengan jawabanya yang tidak jauh berbeda, seperti “Ia budakku.” “Ia alas kakiku.”

Mendengar jawaban-jawaban seperti itu, Ibu sakit hati. Ia menggumam, “Ya, Tuhan, tega sekali anakku Putri berkata seperti itu kepada orang-orang. Apakah ia tak memikirkan perasaanku sama sekali. Sakit, Tuhan, sakit sekali hatiku mendengarnya. Aku tak tahan lagi. Berilah pelajaran kepadanya…”

Seketika, tubuh Putri membeku. Ia pun berteriak, “Ibu… Ibu… apa yang terjadi pada diriku?”

Ibu yang tidak menduga bahwa omongannya didengar oleh Tuhan, segera menghampiri Putri. Ibu juga menangis melihat keadaan Putri yang perlahan-lahan berubah menjadi batu.

“Ibu… Ibu… apa yang telah terjadi?” tanya Putri lagi.

Ibu menggeleng dan menjauh. “Tidak, Tuhan, tidak! Aku tidak menginginkan Putri menjadi batu. Aku menginginkan Engkau memberinya pelajaran, bukan dijadikan batu.”

Putri pun menangis. Ia tiba-tiba menyadari semua kekeliruannya telah menghinakan Ibunya. Namun, penyesalan selalu datang di akhir cerita. Dan itu terlambat! “Ibu… maafkan aku…” Dan tubuh Putri pun semua menjadi batu.

Konon, saat ini patung batu itu masih mengeluarkan air mata. Orang-orang menyebut batu ini sebagai legenda Batu Menangis.