Ayah, Semoga Kita Bisa Segera Berkumpul Bersama Lagi di Rumah

By On Saturday, March 18th, 2017 Categories : Cerita
Jarak yang memisahkan membuat kita makin menghargai arti kebersamaan. Apalagi jika jauh dari Ayah, pasti ada rasa rindu yang selalu menyapa seperti kisah yang ditulis sahabat untuk Lomba Menulis Spesial Hari Ayah ini.

Sudah 20 tahun aku hidup. Aku tahu setidaknya tidak sedikit perjuangan dan pengorbanan yang sudah Ayah lakukan buat aku. Aku tahu bahwa dialah yang satu-satunya bisa menyelamatanku ketika aku hampir meninggal sewaktu kecil, hanya dengan suapan beberapa sendok air putih yang membuatku bertahan untuk dibawa ke rumah sakit dan akhirnya aku pun selamat dari kejadian yang hampir membuatku tidak bisa menginjak umur 20 tahun ini.

Waktu itu aku dan keluargaku sedang berenang. Ada momen ketika aku tersengat lebah di pucuk kepala dan jari manisku sewaktu berenang. Ayah dengan sigap langsung mengusir lebah dari kepalaku ketika aku berteriak dan dia langsung menghisap pucuk kepalaku dan jari manisku yang disengat lebah tersebut. Aku suka melihat Ayah ketika menyedot jari manis dan pucuk kepalaku karena aku tersengat lebah sewaktu berenang dengan tujuan agar racunnya tidak menjalar ke seluruh darah di tubuhku, meskipun awalnya aku sempat berpikir, “Ngapain sih Ayah ini, lebay banget.” Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa dia terlihat keren di situ.

Ayah juga yang selalu terkejut kalau tahu anak perempuannya mulai berpacaran atau ada yang mendekati. Dia terkejut karena kami tidak pernah bercerita kisah itu kepadanya dan hal itu membuatnya tidak tahu apa-apa tentang kisah percintaan anak perempuannya, membuatku ingin tertawa setiap melihat dan mendengar Ayah hanya bisa mengucapkan “Hah? Si ‘ini’ sudah punya pacar rupanya?” saking terkejut karena tidak tahu apa-apa.

Foto: copyright Gracia Annalina

Harus kuakui bahwa aku memang salah satu anak Ayah yang paling nakal, paling sering melawan, tidak pernah mau belajar, suka tidak mau nurut, dan tidak banyak menunjukkan rasa sayangku untuk Ayah. Aku yang labil adalah aku yang selalu membuat Ayah kecewa. Tapi di balik setiap tindakan kekecewaan yang Ayah rasakan karena aku, percayalah, selalu ada rasa penyesalan mendalam pada diriku yang membuatku ingin menangis dan selalu menyesal dengan sikap ini.

Ayahku bekerja sebagai seorang PNS. Sudah hampir lima tahun Ayah tinggal jauh dari kami. Aku kagum dengan perjuangan Ayah sebagai kepala keluarga. Tinggal di Maluku demi menjalani tuntutan pekerjaan membuat Ayah harus berada jauh dari kami yang berada di Jakarta. Tidak ada hari tanpa telepon ke masing-masing anaknya untuk menanyakan kabar, meskipun jarang aku mengangkat telepon darinya karena Ayah selalu menelpon di saat aku masih terlelap dalam tidur atau sedang sibuk dengan kegiatanku. Tidak jarang akhirnya kita hanya bertelepon satu kali seminggu, setidaknya untuk mengucapkan “Selamat Hari Minggu” dan mengingatkan ke gereja di setiap Minggu. Dan aku rindu ketika Ayah pulang ke Jakarta.

Ayah adalah orang yang selalu mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepada anak-anaknya pertama kali di setiap subuh dengan pelukan dan bisikan lembut di telinga kami sambil membangunkan kami. Bahkan, meskipun Ayah jauh, Ayah tetap muncul sebagai sosok yang memberi ucapan “Selamat Ulang Tahun” pertama kali melalui sms atau media sosial.

Aku tahu kekhawatiran Ayah yang selalu menelepon hampir setiap menit pada anak-anak dan istrinya jika jam 10 malam lebih belum berada di rumah, meskipun aku pribadi sempat risih karena kecerewetan Ayah kalau jam 10 malam lebih aku belum tiba di rumah. Pada akhirnya aku sadar bahwa sikap itu merupakan salah satu wujud tanggung jawab Ayah meskipun tidak berada di dekat kami, terlebih kepada aku yang juga sedang merantau dan hidup sendiri di Bandung.

Ayah aku rindu ketika Ayah selalu membantuku saat aku kesusahan dengan segala kesibukanku. Ayah aku rindu ketika Ayah bisa dengan mudah memenuhi segala kebutuhanku karena tidak ada jarak di antara kita. Ayah aku rindu dengan lelucon-lelucon jayus Ayah. Ayah aku rindu dengan keras kepala Ayah. Ayah aku rindu meninju lenganmu tanpa alasan. Ayah aku rindu ketika kamu selalu memanjakanku dengan berbagai makanan lezat dan nikmat untuk memperbaiki giziku selama merantau. Semoga kita bisa segera berkumpul lagi di rumah kita di Jakarta.

Selamat hari Ayah, AyahDaddy.

Baca Juga

Ngerinya Serangan Terror di Westminster

Bahaya Skinny Jeans Yang Wajib Kamu Tau!!

Penampakan Wajah Seram di Bendungan

Article / informasi tentang Ayah, Semoga Kita Bisa Segera Berkumpul Bersama Lagi di Rumah yang disadur dari berbagai sumber yang ada di internet. Semoga informasi mengenai Ayah, Semoga Kita Bisa Segera Berkumpul Bersama Lagi di Rumah yang sedikit ini dapat berguna dan bermanfaat untuk Anda khususnya, dan untuk semua pembaca yang tengah mencari pembahasan tentang Ayah, Semoga Kita Bisa Segera Berkumpul Bersama Lagi di Rumah pada umumnya.