Asuhan kebidanan komprehensif

By On Monday, February 29th, 2016 Categories : Sains
Advertisement
Asuhan kebidanan komprehensif adalah suatu pemeriksaan yang 
dilakukan secara lengkap dengan adanya pemeriksaan laboratorium 
sederhana dan konseling (Varney, 2006).
Asuhan kebidanan komprehensif
 mencakup empat kegiatan pemeriksaan berkesinambungan diantaranya adalah
 asuhan kebidanan kehamilan (antenatal care), asuhan kebidanan 
persalinan (intranatal care), asuhan kebidanan masa nifas (postnatal 
care), dan asuhan bayi baru lahir (neonatal care) (Varney, 2006).

A.    Antenatal (Kehamilan)
1.    Pengertian Kehamilan
Masa
 kehamilan normal dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya 
kehamilan normal adalah 280 hari atau 40 minggu dihitung dari hari 
pertama haid terakhir. Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun 
emosional dari ibu serta perubahan sosial di dalam keluarga. Ibu hamil 
sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin 
semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan 
antenatal (Saifuddin, 2002).

2.    Antenatal Care
Antenatal 
care adalah kegiatan pengamatan dan pengawasan secara seksama sebelum 
persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin 
dan rahim, yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Antenatal care 
adalah pengawasan intensif sebelum kelahiran (Mochtar, 2006)
Antenatal
 Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada 
pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.  Prenatal care adalah 
pengawasan intensif sebelum kelahiran                 (Mochtar, 2006).

3.    Tujuan Antenatal Care
a.    Tujuan umum
Menyiapkan
 seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama kehamilan, 
persalinan dan nifas, sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat 
(Saifuddin, 2002)
b.    Tujuan khusus
1)    Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas.
2)    Mengenali dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini mungkin
3)    Menurunkan angka mortalitas dan morbiditas ibu dan anak
4)    Memberikan nasihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga berencana, kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi
5)    Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
6)    Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
7)    Mengenali secara dini adanya ketidak normalan dan komplikasi yang mungkin terjadi.
8)    Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu dan bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
9)    Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan memberikan ASI eksklusif.
10)   
 Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar
 dapat tumbuh kembang secara normal (Saifuddin, 2002)

4.    Jadwal Pemeriksaan Antenatal
a.    Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat satu bulan
b.    Periksa ulang 1x sebulan sampai kehamilan 7 bulan
c.    Periksa ulang 2x sebulan sampai kehamilan 9 bulan
d.    Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan
e.    Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan (Saifuddin, 2002)

5.    Standar Minimal Pelayanan Antenatal “7T”
a.    Timbang berat badan
b.    Ukur Tekanan darah
c.    Ukur Tinggi badan 
d.    Pemberian imunisasi TetanusToksoid TT lengkap
e.    Pemberian Tablet zat besi, minimal 90 tablet selama hamil
f.    Tes terhadap penyakit menular seksual
g.    Temu wicara dalam rangka rujukan (Saifuddin, 2002)



Manfaat dari masing-masing pemeriksaan tersebut adalah: 
a.    Timbang Berat Badan 
Pemantauan
 berat badan sangat penting selama masa kehamilan. Kenaikan berat badan 
menunjukan kesehatan dan petumbuhan janin. Oleh karena itu sebaiknya 
berat badan selama hamil jangan terlalu melonjak maupun terlalu minim. 
Ibu yang berat badannya terlalu melonjak akan berakibat pada preeklamsi,
 diabetes mellitus, jantung dan lain-lain.. Ibu yang memiliki berat 
badan kurang maka selama masa kehamilan kenaikan berat badannya harus 
mencapai 12-16 kg, ibu yang memiliki berat badan seimbang atau normal, 
kenaikan berat badan selama hamil antara 9-12 kg, dan ibu yang memiliki 
berat badan berlebih, kenaikan berat badan selama kehamilan adalah 6-9 
kg. 
b.    Tekanan Darah 
Saat kondisi tubuh normal , tekanan 
darah diastole berkisar antara 60-80 mmHg dan sistol 90-120 mmHg. Akan 
tetapi saat hamil terjadi penurunan tekanan darah. Setalah usia 
kehamilan 20-32 minggu tekanan darah kembali normal. Peningkatan tekanan
 darah harus selalu dilihat selama masa kehamilan untuk menghindari 
hal-hal buruk seperti eklamsia, gagal ginjal, penyakit jantung koroner 
dan lain-lain. Standar pemeriksaan tekanan darah adalah 4x selama masa 
kehamilan, yakni 1x pada trimester pertama, 1x pada trimester kedua dan 
2x pada trimester ketiga. 


c.    Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid 
Imunisasi
 ini diberikan untuk memberikan pelindungan untuk ibu dan janin terhadap
 penyakit tetanus. Biasanya diberikan secara berulang dengan selang 
waktu (interval), diberikan inial 2x pada ibu hamil.
Tabel 2.1
Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid

Antigen    Interval    Perlindungan    Perlindungan %
TT 1    ANC 1    0    0
TT 2    4 mgg TT1    3 th    80%
TT 3    6 bln TT 2    5 th    95%
TT 4    1 th TT 3    10 th    99%
TT 5    1 th TT 4    25 th    99%

Paling lambat 2 minggu sebelum melahirkan
(Sumber: Saifuddin, 2002)
d.    Pemberian Tablet Besi 
Tablet
 besi diberikan minimal 90 tablet selama masa kehamilan. Setiap tablet 
mengandung 320 mg FeSO4. Tablet ini berfungsi untuk pembentukan sel 
darah merah. Seorang ibu hamil akan mengalami penambahan volume darah 
selama kehamilannya, sehingga darah menjadi lebih encer dan kondisi ini 
yang dinamakan anemia kehamilan. Anemia pada kehamilan akan 
mengakibatkan kelelahan, asupan oksigen sedikit mengakibatkan kecacatan,
 atonia uteri pada saat kelahiran dan perdarahan pasca salin. 
e.    Ukuran Tinggi Fundus Uteri 
Pengukuran
 fundus uteri selama kehamilan dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan 
janin di dalam rahim, tinggi fundus juga untuk menentukan tuanya 
kehamilan. 
f.    Tes terhadap penyakit menular 
Hal ini dilakukan
 untuk mengetahui ada atau tidaknya bibit penyakit 
(virus/mikroorganisme) yang dapat menimbulkan penyakit dan dapat 
mempengaruhi petumbuhan dan perkembangan janin. 
g.    Temu Wicara dengan ibu dan keluarga 
Hal
 ini dilakukan sebagai perencanaan, antisipasi dan persiapan dini untuk 
pengambilan keputusan dalam melakukan rujukan jika terjadi komplikasi 
(Saifuddin, 2002)

6.    Tanda dan Gejala pada Masa Antenatal 
Menurut
 Wiknjosastro (2005) dalam buku Ilmu Kebidanan  bahwa pada wanita hamil 
terdapat beberapa tanda atau gejala, antara lain : 
a.    Amenorhe
Penting
 diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat ditentukan 
tuanya kehamilan dan bila persalinan diperkirakan terjadinya.
b.    Mual dan Muntah.
Pengaruh
 dari hormon progesteron, terjadi pengeluaran asam lambung yang 
berlebihan sehingga menimbulkan mual dan muntah yang berlebihan.
c.    Ngidam
Sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan.

d.    Pingsan/Singkope
Terjadi
 ganguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan Iskemia 
susunan saraf pusat dan menimbulkan Singkope. Keadaan ini akan hilang 
setelah usia kehamilan  minggu.
e.    Payudara tegang
Pengaruh estrogen dan progesteron dan somatropin deposit lemak, air, dan garam pada payudara.
f.    Anoreksia/ tidak ada nafsu makan
Pada bulan-bulan pertama terjadi anoreksia, tetapi setelah itu nafsu makan akan kembali timbul.
g.    Sering miksi/ kencing
Oleh karena desakan rahim kedepan sehingga menekan Vesika Urinaria pada Trimester III
h.    Obstipasi
Pengaruh progesteron sehingga menghambat Peristaltik usus menyebabkan kesulitan untuk buang air besar (BAB)
i.    Pigmentasi Kulit
Sekitar
 pipi : Cloasma Gravidarum penyebab dari Melanophore Stimulating Hormon 
(MSH), Dinding perut : Striae livide, Striae Nigra, Linea Alba semakin 
hitam dan Sekitar payudara : Hiperpegemntasi Areola Mamae, puting susu 
makin menonjol dan kelenjar Montromery menonjol.
j.    Epulsi
Hipertropi gusi disebut dapat terjadi bila hamil. 

k.    Varises/ penekanan pembuluh darah vena
Karena
 pengaruh dari Estrogen dan Progesteron terjadi penampakkan pembuluh 
Vena, terutama bagi mereka yang mempunyai bakat penampakkan pembuluh 
darah, dapat terjadi disekitar genitalia ekterna, kaki, betis dan 
peyudara. Ini akan hilang setelah persalinan.
Pada kehamilan muda bisa pula ditemukan : 
l.    Tanda Hegar
Hipertrofi ishmus mengakibatkan menjadi panjang dan lunak.
m.    Tanda Chadwick
Vagina dan vulva merah agak merah agak kebiruan (livide).
n.    Tanda Piscaseck
Uterus membesar kesalah satu jurusan.
o.    Tanda Braxton-Hicks
Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Tanda ini khas untuk uterus dalam masa hamil.

7.    Pemeriksaan Ibu hamil
Sebelum
 melakukan pemeriksaan kehamilan hendaknya pemeriksa melakukan pendataan
 berdasarkan keluhan umum ibu sehingga dapat membuat suatu diagnosa 
adapun langkah-langkah dalam pemeriksaan ibu hamil adalah sebagai 
berikut: (Varney, 2006) :
a.    Anamnesa
1)    Anamnesa identitas istri dan suami: nama, umur, agama, pekerjaan, alamat dan sebagainya 

2)    Anamnesa umum :
a)    Tentang keluhan-keluhan, nafsu makan, tidur, BAK, BAB, perkawinan dan sebagainya 
b)    Tentang haid, kapan mendapat haid terakhir (HPHT)
c)    Tentang kehamilan, persalinan, keguguran dan kehamilan ektopik    atau kehamilan mola sebelumnya
b.    Pemeriksaan diagnostik  
1)    Pemeriksaan umum meliputi: 
2)    Keadaan umum 
3)    Keadaan status gizi
4)    Keadaan jantung dan paru-paru 
5)    Adanya oedema
6)    Reflek
7)    Berat badan 
8)    Tanda-tanda vital (tekanan darah, suhu badan, dan respirasi) 
9)    Pemeriksaan laboratorium
c.    Pemeriksaan status obstetrikus 
1)    Inspeksi
Pemeriksaan pandang seluruh tubuh meliputi muka, leher, dada, perut, vulva, ekstremitas atas dan bawah dan sebagainya. 
2)    Palpasi
a)    Pemeriksaan raba untuk menentukan umur kehamilan dengan mengukur besarnya rahim, menentukan berat janin dan lain-lain.
b)   
 Ibu hamil disuruh berbaring terlentang, kepala dan bahu sedikit lebih 
tinggi dengan memakai bantal. Pemeriksa berdiri di sebelah kanan ibu 
hamil. Lakukanlah palpasi bimanual terutama pada pemeriksaan payudara
c)    Palpasi perut untuk menentukan :
(1)    Besar dan konsistensi rahim 
(2)    Bagian-bagian janin, letak persentasi
Manuver palpasi menurut leopold :
Leopold I
•    Pemeriksaan menghadap ke arah muka ibu hamil 
•    Menentukan TFU bagian janin dalam fundus 
•    Konsistensi uterus
Variasi menurut Knebel
•    Menentukan letak kepala atau bokong satu tangan di  fundus dan tangan lain diatas simfisis
Leopold II 
•    Menentukan batas samping rahim kanan kiri 
•    Menentukan letak punggung janin 
•    Pada letak lintang tentukan dimana kepala janin 
Variasi menurut Budin :
•    Menentukan letak punggung dengan satu tangan menekan di fundus 
Leopold III
•    Menentukan bagian terbawah janin 
•    Apakah bagian terbawah tersebut sudah masuk atau masih bisa digoyang 
Variasi menurut Ahlfeld:
•    Menentukan letak punggung dengan pinggir tangan kiri diletakan tegak perut 
Leopold IV 
•    Pemeriksa menghadap ke arah ibu hamil 
•    Bisa juga menentukan bagian terbawah janin apa dan seberapa jauh sudah masuk pintu atas panggul 
(3)    Gerakan janin
(4)    Kontraksi rahim Braxton-Hicks dan his
Tabel 2.2
Ukuran Tinggi Fundus Uteri menurut Spiegelberg

Umur kehamilan dalam minggu    Tinggi Fundus Uteri dalam cm
22-28 minggu    24-25 cm diatas sympisis
28 minggu    26,7 cm diatas sympisis
30 minggu    29,5-30 cm diatas sympisis
32 minggu    29,5-30 cm diatas sympisis
34 minggu    31 cm diatas sympisis
36 minggu    32 cm diatas sympisis
38 minggu    33 cm diatas sympisis
40 minggu    37,7 cm diatas sympisis


    Memantau Taksiran Berat Badan Janin (TBBJ) 
Taksiran
 berat badan janin ditentukan berdasarkan rumus Johnson-Tausak. 
perhitungan ini penting sebagai dasar pertimbangan memutuskan rencana 
persalinan pervaginam secara spontan. 


Rumus tersebut : 




Keterangan : 
N= 13 bila kepala belum melewati pintu atas panggul 
N= 12 bila masih berada diatas spina isciadica 
N= 11bila sudah berada dibawah spina isciadica 
(Tim dokter FK UI, 2001) 

3)    Auskultasi               
Jantung
 janin merupakan observasi esensial tentang kesejahteraan janin dan 
harus diauskultasi pada setiap pemeriksaan abdomen dan setelah 
pemeriksaan apapun. Mengetahui presentasi dan posisi janin berarti 
mengetahui di bagian mana alat tersebut diletakkan di abdomen ibu agar 
dapat mendengar bunyi jantung janin. Jantung janin dikaji : 
keberadaannya, frekuensinya normalnya 120/160 x/menit, keteraturannya, 
dan variabilitasnya (Johnson,  2004).
d.    Pemeriksaan Laboratorium
Ibu
 hamil hendaknya diperiksa air kencing dan darahnya sekurang-kurangnya 
2x selama kehamilan, sekali pada permulaan dan sekali lagi pada akhir 
kehamilannya.
e.    Ultrasonografi
Dibandingkan dengan pemeriksaan
 roentgen, USG tidak berbahaya untuk janin, karena memakai prinsip sonar
 9 bunyi O. Jadi boleh dipergunakan pada kehamilan muda.
8.    Nasehat-nasehat untuk Ibu pada Masa Antenatal 
a.    Nutrisi (Diet) ibu hamil 
Wanita
 hamil yang menyusui harus betul-betul mendapat perhatian susunan 
dietnya, terutama mengenai jumlah kalori, protein yang berguna untuk 
pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Kekurangan nutrisi dapat 
menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus, inertia uteri, 
perdarahan pascasalin, sepsis puerpuralis dan lain-lain.. Sedangkan 
makan berlebihan, karena dianggap untuk dua orang ibu dan janin, dapat 
mengakibatkan komplikasi seperti gemuk, pre eklampsi, janin besar, dan 
sebagainya. Zat-zat yang diperlukan dalam pemenuhan gizi ibu hamil 
antara lain: potein, karbohidrat, zat lemak, mineral dan bermacam-macam 
garam, terutama kalsium, fosfor dan zat besi (Fe), vitamin dan air 
Makanan
 diperlukan antara lain untuk pertumbuhan janin, plasenta, uterus, buah 
dada, dan kenaikan metabolisme sebagai pengawasan kecukupan gizi ibu 
hamil dan pertumbuhan kandungannya dapat diukur berdasarkan kenaikan 
berat badannya. Kenaikan berat badan rata-rata 6,5 sampai 16 kg (10-12 
kg)
Kenaikan berat badan yang dianjurkan Committee of the national Academy of Science : 
1)    Untuk ibu dengan BB di bawah berat seharusnya (underweight) kenaikan yang dianjurkan 12.5-18 kg 
2)    Untuk ibu dengan BB normal kenaikan yang dianjurkan adalah antara 11.5-16 kg 
3)    Untuk ibu dengan BB berlebih (overweight) kenaikan BB yang dianjurkan antara 7-11.5 kg 

Body Mass Index ( BMI ) 
Mengukur
 tubuh dengan dengan rumus “Body Mass Index“. Nutrisi dan kalori yang 
dibutuhkan selama kehamilan adalah 300 kalori. Kenaikan berat badan 
berdasarkan BMI yaitu : 
BMI= BB/TB2 
•    Underweight  : < 19,8 kg/m2 
•    Normoweight : 19,8-26 kg/m2 
•    Overweight    : 26 kg/m2 

b.    Merokok 
Jelas bahwa bayi dari ibu perokok mempunyai berat badan lebih kecil. Karena itu wanita hamil dilarang merokok. 
c.    Obat-obatan 
Prinsip
 jika mungkin dihindari pemakaian obat-obatan selama kehamilan terutama 
pada triwulan pertama. Perlu dipertanyakan mana yang lebih besar 
manfaatnya dibandingkan bahayanya terhadap janin, oleh karena itu harus 
dipertimbangkan pemakai obat-obatan tersebut. 
d.    Gerakan badan 
Gerakan
 badan atau olahraga ringan sangat berguna bagi ibu hamil, dimana dapat 
membantu sirkulasi darah menjadi lebih baik, nafsu makan bertambah, 
pencernaan lebih baik, dan tidur lebih nyenyak. Dianjurkan 
berjalan-jalan pada pagi hari dalam udara yang masih segar
e.    Kerja 
Kehamilan
 bukanlah suatu penyakit yang mengharuskan ibu untuk istirahat, oleh 
karena ibu hamil tetap dapat melakukan aktivitas seperti biasa asalkan 
ibu hamil beristirahat dengan cukup dan makan secara teratur serta 
memeriksakan kehamilan dengan teratur.
f.    Bepergian 
Wanita 
hamil tetap dapat bepergian asalkan tidak terlalu melelahkan dan tidak 
duduk terlalu lama. Hal ini dikarenakan duduk lama dapat menyebabkan 
Vena Staganis yang mana dapat menyebabkan tromboflebitis dan kaki 
bengkak.
g.    Pakaian 
Pakaian wanita hendaknya memakai pakaian 
yang longgar, bersih dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut. 
Pemakaian kutang yang dapat menyokong payudara dan memakai pakaian dalam
 yang selalu bersih supaya ibu tetap nyaman. Sepatu dengan tumit yang 
terlalu tinggi dianjurkan tidak dipergunakan oleh wanita yang sedang 
hamil.
h.    Istirahat dan rekreasi 
Wanita hamil sangat 
memerlukan istirahat yang lebih, terutama pada kehamilan trimester 
ketiga. Waktu tidur pada malam hari sebaiknya selama 8-9 jam, dan pada 
minggu berikutnya ditambahkan tidur siang selama 2 jam dan sebaiknya 
dilakukan di tempat tidur atau di kursi panjang yang dapat menyangga 
kedua kaki
i.    Mandi 
Mandi diperlukan untuk kebersihan. 
Terutama perawatan kulit, karena fungsi ekskresi dan keringat bertambah.
 Dianjurkan menggunakan sabun lembut/ringan 
j.    Koitus
Koitus tidak dihalangi kecuali ada riwayat:
1)    Sering abortus/prematur
2)    Perdarahan per vaginam 
3)    Pada minggu terakhir kehamilan, koitus harus hati-hati
4)    Bila ketuban pecah koitus dilarang 
5)    Dikatakan orgasme pada hamil tua dapat menyebabkan kontraksi uterus partus prematurus
k.    Kesehatan jiwa
Kehamilan
 dan persalinan adalah suatu hal yang fisiologis, namun banyak ibu-ibu 
yang tidak tenang. Merasa kuatir akan hal ini. Untuk itu bidan harus 
dapat menanamkan kepercayaan kepada ibu hamil dan menerangkan apa yang 
harus diketahuinya karena kebodohan, rasa takut, dan sebagainya dapat 
menyebabkan rasa sakit pada waktu persalinan ini akan mengganggu 
jalannya partus, ibu akan menjadi lelah dan kekuatan hilang. Untuk 
menghilangkan kecemasan harus ditanamkan kerja sama pasien-penolong 
l.    Perawatan payudara
Payudara
 merupakan sumber air susu ibu yang akan menjadi makanan utama bagi 
bayi, karena itu sebelumnya harus dirawat. Untuk mencegah puting susu 
kering dan mudah pecah, maka puting susu dan areola payudara dirawat 
baik-baik dengan menggunakan air sabun. Bila puting susu masuk ke dalam,
 hal ini diperbaiki dengan jalan menarik-narik keluar atau dengan cara 
hoffman.
m.    Pergerakan Janin
Berkurang atau hilangnya 
pergerakan janin dapat merupakan suatu tanda gawat janin yang dapat 
berakhir dengan kematian janin. Karena itu sebaiknya ibu mengerti cara 
menghitung pergerakan janin.
Kepentingan dari menghitung gerakan 
janin ini adalah agar ibu terbiasa menyadari jika ada sesuatu yang salah
 pada janin yang dikandungnya. Berkurangnya gerakan janin berkaitan 
dengan kesejahteraannya dalam rahim, jika ibu merasakan janinnya kurang 
bergerak, segera hubungi dokter karena kemungkinan janin ibu mengalami 
gangguan yang dapat menyebabkan gawat janin, jika tidak segera diatasi 
dapat berakibat kematian janin dalam rahim.
Pemantauan gerakan janin 
harus sudah dimulai sejak awal, yakni sejak ibu mulai merasa pergerakan 
anak, karena ibu sendirilah yang paling tahu dan mungkin mendeteksi 
kesehatan janinnya, biasakan memperhatikan gerakan anak setiap hari. 
Dianjurkan untuk memperhatikannya pada malam hari, saat itu janin sedang
 bangun.
Cara menghitung pergerakan janin ; Ibu berbaring (malam 
hari) dan menghitung pergerakan janin selama 20 menit . Janin yang sehat
 akan bergerak lebih dari 5x dalam 20 menit. Apabila ini terjadi janin 
ibu akan baik selama 24 jam berikutnya, sehingga dengan memantau gerakan
 janin ibu dapat memprediksi kesehatan janin setidaknya 24 jam ke depan.
 Apabila janin bergerak kurang dari 5x dalam 20 menit. Segera hubungi 
rumah sakit untuk mendapatkan pemantauan yang lebih akurat dengan cara 
Non Stres Test. (Wiknjosastro, 2005).

9.    Perubahan-perubahan yang Terjadi selama Masa Antenatal
Pada
 antenatal terjadi perubahan pada seluruh tubuh wanita, khususnya pada 
alat genitalia eksterna dan interna dan pada payudara. Antenatal akan 
mengakibatkan terjadinya perubahan seluruh sistem tubuh yang cukup 
mendasar. Tentunya perubahan ini akan menunjang proses pertumbuhan dan 
perkembangan janin di dalam rahim. Setelah bayi lahir, 
perubahan-perubahan tersebut akan kembali keadaan semula secara 
perlahan.Pada dasarnya, perubahan sistem tubuh wanita terjadi karena 
pengaruh berbagai hormone (Wiknjosastro, 2005).
Berikut ini diuraikan tentang organ-organ yang mengalami perubahan selama antenatal. 
a.    Perubahan Fisiologis
1)    Sistem reproduksi
a)    Uterus
Pada
 keadaan normal, rahim mempunyai rongga dengan diameter sekitar 10 ml. 
Struktur rahim hampir padat yang beratnya sekitar 70 gram. Selama 
kehamilan, rahim akan berubah bentuk menjadi sebuah organ moskuler. 
Dinding rahim relatif tipis dengan kapasitas yang cukup untuk menerima 
janin, plasenta (ari-ari), dan cairan ketuban. Terjadinya perubahan 
rahim ditunjukan oleh otot-otot rahim yang menjadi lebih besar, lunak, 
dan dapat mengikuti pembesaran rahim yang terjadi selama antenatal.
•    Minggu ke-12, bagian atas rahim berada pada posisi 3 jari di atas tulang sympisis.
•   
 Minggu ke-16, tinggi bagian atas rahim pada pertengahan jarak antara 
bagian pusat dan garis lengkung bawah pusat (sympisis).
•    Minggu ke-20, tinggi bagian atas rahim sekitar 2 jari di bawah bagian pusat.
•    Minggu ke-24, posisi atas bagian rahim  tepat di tepi atas bagian pusat.
•    Minggu ke-28, tinggi bagian atas rahim sekitar 3 jari di bagian atas pusat.
•    Minggu ke-32, tinggi bagian atas rahim sekitar 1 jari atau rahim pada pertengahan jarak antara pusat dan ujung tulang dada.
•    Minggu ke-40, tinggi bagian atas rahim turun sekitar 3 jari di bawah ujung tulang dada (Mochtar, 2006).
b)    Serviks uteri
Serviks
 mengalami perubahan karena hormon estrogen dan vaskularisasimya 
meningkat sehingga menimbulkan konsistensi serviks menjadi lunak disebut
 tanda goodell. Kelenjar endoservikal membesar dan mengeluarkan banyak 
cairan mukus. Karena pertambahan dan pelebaran pembuluh darah, warnanya 
menjadi livid disebut tanda Chadwick. (Mochtar, 2006).

c)    Vagina dan vulva
Karena
 pengaruh estrogen terjadi perubahan pada vagina dan vulva.  Akibat 
hipervaskularisasi. Vagina dan vulva terlihat lebih merah atau kebiruan.
 Warna lipid pada vagina dan portio serviks disebut tanda chadwick 
(Mochtar, 2006).
d)    Dinding perut 
Pembesaran rahim menimbulkan
 peregangan dan menyebabkan robeknya serabut elastic di bawah kulit, 
sehingga timbul striae gravidarum. Bila terjadi peregangan yang hebat, 
misalnya pada hidramnion dan kehamilan ganda, dapat terjadi diastasis 
rekti bahkan hernia. Kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasimya
 disebut linea nigra (Mochtar, 2006).
e)    Ovarium darah
Pada 
permulaan antenatal masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai 
terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu.Korpus luteum 
graviditatis berdiameter kira-kira 3 cm. Kemudian mengecil setelah 
plasenta terbentuk. Korpus luteum mengeluarkan hormon estrogen dan 
progesterone. Lambat-laun fungsi ini akan di ambil oleh plasenta 
(Wiknjosastro, 2005).
2)    Volume darah
Selama kehamilan, volume 
darah semakin meningkat. Jumlah serum darah besar dari pertumbuhan sel 
darah sehingga terjadi semacam pengenceran darah (hemodilusi). Proses 
ini mencapai puncaknya pada usia kehamilan 32 minggu. Serum darah 
(volume darah) bertambah sebesar 25-30%, sedangkan sel darah bertambah 
sekitar 20%. Curah jantung akan bertambah sekitar 30%. Bertambah 
pengenceran darah mulai tampak pada usia kehamilan 16 minggu (Manuaba, 
2002).
3)    Sistem respirasi
Wanita hamil kadang-kadang mengeluh 
sesak nafas. Hal ini disebabkan oleh desakan diafragma karena dorongan 
rahim yang membesar pada umur kehamilan 32 minggu. Sebagian kompensasi 
terjadi desakan rahim dan kebutuhan O2 yang meningkat, ibu hamil akan 
bernafas lebih dalam sekitar 20 sampai 25% dari biasanya (Mochtar, 2006)
4)    Sistem pencernaan
Karena pengaruh estrogen, pengeluaran asam lambung meningkat yang dapat menyebabkan :
a)    Pengeluaran air liur berlebihan (hipersalivasi)
b)    Daerah lambung  terasa panas
c)    Terjadi mual dan sakit/pusing kepala terutama pada pagi hari, yang disebut morning sickness
d)    Muntah, yang terjadi disebut emesis gravidarum 
e)    Muntah berlebihan sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari, disebut hiperemesis gravidarum
f)    Progesteron menimbulkan gerak usus semakin berkurang dan dapat menimbulkan  obstipasi (Manuaba, 2002)

5)    Traktus urinarius
Pada
 kehamilan ureter membesar untuk dapat menampung banyaknya pembentukan 
urin, terutama pada ureter kanan karena peristaltik ureter terhambat 
karena pengaruh progesterone, tertekan rahim yang membesar dan terjadi 
perputaran ke kanan, dan terhambat kolon dan sigmoid disebelah kiri yang
 menyebabkan perputaran rahim ke kanan. Tekanan rahim pada ureter kanan 
dapat menyebabkan infeksi pielonefritis ginjal kanan (Manuaba, 2002).
6)    Payudara
Payudara
 mengalami perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat 
laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh 
hormon saat kehamilan, yaitu estrogen, progesterone, dan 
somatomammotropin. 
a)    Estrogen berfungsi :
•    Menimbulkan hipertropi system saluran payudara.
•    Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta garam sehingga payudara tampak makin membesar.
•    Tekanan serat saraf akibat penimbunan lemak, air dan menyebabkan rasa sakit pada payudara.
b)    Progesterone berfungsi :
•    Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi.
•    Menambah jumlah sel asinus.

c)    Somatomammotropin berfungsi :
•    Mempengaruhi sel asinus untuk membuat kasein, laktalbumin, dan laktoglobulin.
•    Penimbunan lemak sekitar alveolus payudara.
•    Merangsang pengeluaran kolostrum pada kehamilan.
Penampakan payudara pada ibu hamil adalah sebagai berikut:
•    Payudara menjadi lebih besar.
•    Areola payudara semakin hyperpigmentasi
•    Glandula montgomeri makin tampak.
•    Puting susu semakin menonjol.
•   
 Pengeluaran ASI belum berlangsung karena prolaktin belum berfungsi 
karena hambatan dari PIH (Prolaktin Inhibiting Hormone) untuk 
mengeluarkan ASI.
•    Setelah persalinan hambatan prolaktin tidak ada sehingga pembuatan ASI dapat berlangsung (Manuaba, 2002).
7)    Kulit
Pada
 kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hipperpigmentasi karena 
pengaruh melanophore stimulating hormone lobus hipofisit anterior dan 
pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpegmentasi ini terjadi pada striae 
gravidarum livide atau alba, areola mamae, linea nigra. Setelah 
persalinan hiperpigmentasi ini akan menghilang (Manuaba, 2002).
a)    Metabolisme
BMR
 meningkat hingga 15-20% pada triwulan ke-3 penambahan berat badan 
wanita hamil dalam triwulan pertama kurang lebih 1 kg, triwulan II 
kurang lebih 2,2 kg. Penambahan berat badan yang terjadi selama 
kehamilan dibutuhkan untuk bertambahnya berat janin, pertumbuhan 
plasenta, cairan ketuban, pembesaran payudara, peningkatan volume darah 
ibu dan menyimpan cadangan makanan ibu (Mochtar, 2006).
b)    Berat Badan
Kenaikan
 berat badan selama hamil cukup bervariasi tergantung dari kebudayaan 
dan pola makan. Umumnya, kenaikan berat badan yang normal 6,5 – 16,5 kg,
 bahkan ada juga yang lebih (Mochtar, 2006).
b.    Perubahan Psikologis
Menurut Varney (2006) perubahan-perubahan psikologis yang terjadi pada ibu hamil adalah sebagai berikut:
1)    Trimester pertama
Pada
 trimester pertama seorang ibu akan selalu mencari tanda-tanda lebih 
meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. Setiap perubahan yang terjadi 
pada tubuhnya akan selalu diperhatikan dengan seksama. Karena perutnya 
masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu mungkin 
diberitahukan kepada orang lain atau dirahasiakannya.
Hasrat untuk 
melakukan hubungan seks, pada wanita pada trimester pertama ini 
berbeda-beda. Walaupun beberapa wanita mengalami kegairahan seks yang 
lebih tinggi, kebanyakkan mereka mengalami penurunan libido selama 
periode ini, keadaan ini menciptakan kebutuhan untuk berkomunikasi 
secara terbuka dan jujur dengan suami. Banyak wanita merasa kebutuhan 
untuk dicintai dan merasakan kuat untuk mencintai, namun tanpa seks. 
Libido sangat besar dipengaruhi oleh kelelahan, rasa mual, pembesaran 
payudara, keprihatinan dan kekhawatiran. Semua ini merupakan bagian 
normal dari proses kehamilan pada trimester pertama. 
2)    Trimester kedua
Trimester
 kedua biasanya adalah ibu merasa sehat. Tubuh ibu terbiasa dengan kadar
 hormon yang lebih tinggi dan rasa tidak nyaman karena hamil pun sudah 
berkurang, perut ibupun belum terlalu besar sehingga belum dirasakan 
sebagai beban. Pada trimester ini pula dapat dirasakan gerakan bayinya. 
Dan ibu mulai merasakan bayinya sebagai seseorang diluar dari dirinya 
sendiri.
3)    Trimester ketiga
Trimester ketiga ini sering kali 
disebut periode menunggu dan waspada. Sebab pada trimester ini ibu tidak
 sabar menunggu kelahiran bayinya. Trimester ketiga adalah persiapan 
aktif untuk kelahiran bayi dan menjadi orang tua, keluarga mungkin 
menduga-duga apakah bayinya laki-laki atau perempuan dan akan mirip 
siapa?

6.    Ketidaknyamanan yang Terjadi pada Ibu Hamil Trimester III 
a.    Konstipasi (susah buang air besar) 
Pencegahannya : 
1)    Asupan air yang cukup (8 gelas/hari) 
2)     Banyak makan makanan sayuran dan buah-buahan yang mengandung serat 
3)     Cukup istirahat 
4)     Minum air hangat pada pagi hari untuk menstimulasi peristaltik 
5)    Biasakan buang air besar secara teratur 
6)   
 Tidak diperkenankan memberikan obat-obatan yang mengandung laxan. 
Gunakan pembentuk bahan padat atau emulsion. Hindari minyak mineral, 
perangsang saline. 
Tanda bahaya : 
1)    Rasa nyeri hebat di perut, tidak mengeluarkan gas 
2)    Rasa nyeri di kuadran kanan bawah 
b.    Haemorhoid 
Pencegahan : 
1)    Hindari konstipasi, tindakan pencegahan paling efektif menghalangi ketegangan selama defekasi 
2)    Mengurangi bengkak dan sakit dengan merendam  bokong dengan air hangat dan gunakan kompres 
c.    Kram pada kaki 
Pencegahan : 
1)    Massage dan hangatkan otot yang terserang 
2)    Menghindari tekanan pada jari-jari kaki, pada waktu  berjalan gunakan tumit 
3)     Latihan (senam) 
4)    Diet yang mencakup kalsium 
d.    Oedema 
Pencegahan: 
1)    Menghindari pakaian yang ketat 
2)    Kaki ditinggikan jika tidur 
3)    Hindari berdiri lama, duduk lama 
4)    Posisi miring kiri jika berbaring 
e.    Sering buang air kecil 
Pencegahan: 
1)    Kosongkan saat terasa dorongan untuk berkemih 
2)    Batasi minum bahan diuretic alami (teh, cola, kafein) 
3)    Perbanyak minum pada siang hari 
4)    Jangan mengurangi minum pada malam hari untuk  menghindari nocturia. 
f.    Pegal pada kaki dan pinggang 
Pegal
 pada kaki dan pinggang merupakan salah satu ketidak nyamanan pada ibu 
hamil. Hal ini terjadi karena tekanan yang disebabkan penyandangan beban
 yang tidak biasanya pada masa-masa kehamilan, atau peningkatan distensi
 abdomen yang yang membuat pinggul miring ke depan, penurunan tonus otot
 dan peningkatan beban berat badan pada akhir kehamilan. Dan kompresi 
saraf panggul statis vaskuler, akibat pembesaran uterus dapat 
menyebabkan perubahan pada tungkai bawah. (Maria, A. Aros). 
g.    Tanda-tanda bahaya pada ibu hamil
1)    Sakit perut yang hebat atau bertahan lama
2)    Perdarahan atau terjadi bercak di vagina
3)    Muntah Ibu muntah terus-menerus dan tidak mau makan
4)    Bengkak di kaki, tangan dan wajah atau sakit kepala  disertai  kejang
5)    Demam tinggi
6)    Keluar air ketuban sebelum waktunya
7)    Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak
h.    Risiko dan kegawat-daruratan obstetri pada kehamilan
1)    Perdarahan pada kehamilan muda
a)   
 Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat 
tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau 
buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan.
b)    
Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi,
 implantasi terjadi di luar endometrium kavum uteri. Hampir 90 persen 
kehamilan ektopik terjadi di tuba uterina.
c)    Kehamilan Mola 
adalah suatu kehamilan dimana setelah fertilisasi hasil konsepsi tidak 
berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi dari vili korialis 
disertai dengan degenerasi hidropik, kavum  uteri hanya berisi oleh 
jaringan seperti rangkaian buah anggur.
2)    Perdarahan pada kehamilan tua
a)   
 Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah 
rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum
b)    
Solusio Plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya 
yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan (Saifuddin, 2002)
3)    Hipertensi, preeklampsia dan eklampsi
a)    Hipertensi
Sakit
 kepala, kaki bengkak dan nyeri ulu hati juga merupakan tanda terjadinya
 keracunan  kehamilan. Kaki bengkak disini merupakan kaki bengkak yang 
disebabkan oleh hipertensi dan menyebabkan kejang-kejang (Solihah, 2006)
b)    Preeklampsia Berat
Kenaikan
 tekanan diastolik 25 mmHg atau lebih 90 mmHg dalam dua pengukuran 
berjarak 1 jam atau tekanan diastolik sampai 110 mmHg , protein uri 
lebih sama dengan +2, oliguria kurang dari 400 ml per 24 jam, nyeri 
epigastrium, gangguan penglihatan, nyeri kepala hebat tidak berkurang 
dengan analgesik biasa, hiper—efleksia.
c)    Eklampsi
Gejala-gejala preeklampsi berat dan kejang

10.    Persiapan Persalinan
Sejak
 awal kehamilan, pasangan suami istri dianjurkan untuk merencanakan 
hal-hal yang berhubungan dengan persalinan untuk mengantisipasi berbagai
 kesulitan yang mungkin terjadi.
a.    Bekerjasama dengan ibu, 
keluarga, serta masyarkat untuk mempersiapkan rencana kelahiran, 
termasuk mengidentifikasi penolong, tempat bersalin, serta perencanaan 
tabungan untuk mempersiapkan biaya persalinan.
b.    Bekerjasama dengan ibu, keluarga, dan masyarkat untuk mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi, termasuk :
1)    Mengidentifikasi kemana harus pergi dan transportasi untuk mencapai tempat tersebut.
2)    Mempersiapkan donor darah.
3)    Mengadakan persiapan financial.
4)    Mengidentifikasi pembuatan keputusan kedua jika pembuatan keputusan pertama tidak ada di tempat.
(Depkes RI, 2004)

11.    Promosi Kesehatan
a.    Memberikan umunisasi TT
Tabel 2.3
Pemberian Imunisasi TT

Antigen    Intervensi
(selang waktu minimal)    Lama perlindungan    %
lindungan
TT1    Pada kunjungan antenatal pertama    -    -
TT2    4 minggu setelah TT1    3 tahun    80
TT3    6 bulan setelah TT2    5 tahun    95
TT4    1 tahun setelah TT3    10 tahun    99
TT4    1 tahun setelah TT4    25 tahun/seumur hidup    99
(Sumber : Saifuddin, 2002)

b.   
 Memberikan suplemen zat besi dan menjelaskan bagaimana cara 
mengkonsumsi dan memungkinkan efek samping. Tiap tablet mengandung 
FeSO4320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 ug, minimal 
masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh
 atau kopi, karena akan menggangu penyerapan.
c.    Memberikan tambahan vitamin A jika diperlukan.


B.    Intranatal (Persalinan)
1.    Pengertian Intranatal
Intranatal
 atau persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban
 keluar dari rahim ibu, persalinan dianggap normal jika prosesnya 
terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa 
disertai adanya penyulit (Depkes RI, 2002).
Partus adalah suatu 
proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus 
melalui vagina ke dunia luar                   (Wiknjosastro, 2005)

2.    Tujuan Asuhan Persalinan
Tujuan
 asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama 
persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan 
aman, dengan mempraktikan aspek sayang ibu dan sayang bayi (Saifuddin, 
2002).
.
3.    Benang Merah dalam Persalinan
Ada lima benang 
merah yang penting dan saling terkait dalam asuhan persalinan yang 
bersih dan aman. Berbagai aspek tersebut melekat pada persalinan, baik 
normal maupun patologis. Lima benang merah tersebut adalah :

a.    Membuat keputusan
b.    Asuhan sayang ibu dan sayang bayi
c.    Pencegahan infeksi
d.    Pencatatan (rekam medik)
e.    Rujukan

4.    Perubahan-perubahan yang Terjadi dalam Persalinan
a.    Tenaga yang mendorong anak keluar
1)    His
His adalah kontraksi otot rahim pada persalinan
a)    Braxton Hicks (His palsu/His pendahuluan)
His
 biasanya terjadi bulan terakhir kehamilan sebelum persalinan dimulai. 
Kontraksinya pendek dan tidak bertambah kuat bila dibawa berjalan, maka 
sering berkurang dan tidak mempunyai pengaruh pada serviks.
b)    His persalinan
c)   
 Kontraksi dari otot-otot rahim yang fisiologis dan bersifat nyeri yang 
disebabkan oleh anoxia dari sel-sel otot waktu kontraksi, gerakan pada 
ganglia dalam serviks dan segmen bahwa rahim oleh serabut-serabut 
otot-otot yang berkontraksi, regangan dari serviks karena kontraksi atau
 regangan dan tarikan pada peritoneum waktu kontraksi.
2)    Tenaga Mengedan
Setelah
 pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang mendorong anak 
keluar selain his, terutama disebabkan oleh kontraksi otot-otot dinding 
perut yang mengakibatkan peninggian tekanan intraabdominal. Tenaga 
mengedan ini hanya dapat berhasil, kalau pembukaan sudah lengkap dan 
paling efektif sewaktu kontraksi rahim.
b.    Perubahan-perubahan pada uterus dan jalan lahir dalam persalinan
1)    Keadaan segmen atas dan segmen bawah rahim pada persalinan
a)    Segmen atas rahim
Memegang
 peranan yang aktif karena berkontraksi dan dindingnya bertambah tebal 
dengan majunya persalinan dan mendorong anak keluar.
b)    Segmen bawah rahim
Memegang
 peranan pasif dan makin tipis dengan majunya persalinan karena 
direnggang, dan serviks mengadakan relaksasi dan dilatasi dan menjadi 
saluran yang tipis dan teregang yang akan dilalui bayi.
2)    Perubahan bentuk rahim
Pada
 tiap kontraksi sumbu panjang rahim bertambah panjang sedangkan ukuran 
melintang maupun ukuran muka belakang berkurang. Pengaruh perubahan 
bentuk ini ialah :
a)    Tulang punggung menjadi lebih lurus dengan 
demikian kutub atas anak tertekan pada fundus, sedangkan kutub bawah 
ditekan ke dalam pintu atas panggul
b)    Karena rahim bertambah 
panjang, maka otot-otot memanjang diregang dan menarik segmen bawah dan 
serviks. Hal ini merupakan salah satu sebab dari pembukaan serviks.

3)    Faal ligamentum rotundum dalam persalinan
a)   
 Pada tiap kontraksi, fundus yang tadinya bersandar pada tulang punggung
 berpindah kedepan mendesak dinding perut depan kedepan.
b)    Fundus uteri tertambat sehingga waktu kontraksi fundus tidak dapat naik ke atas.
4)    Perubahan pada serviks
Pembukaan serviks ini biasanya di dahului oleh pendataran dari serviks.
5)    Pendataran dari serviks
Adalah
 pemendekan dari canalis carvicalis, yang semula berupa sebuah saluran 
yang panjangnya 1-2 cm, menjadi suatu lubang dengan pinggir yang tipis. 
Pendataran dari serviks ini terjadi dari atas ke bawah, mula-mula bagian
 serviks didaerah ostium internum ditarik keatas dan menjadi lanjutan 
dari segmen bawah rahim sedangkan ostium extemum sementara tidak 
berubah.
6)    Pembukaan dari serviks
Pembesaran dari ostium 
externum yang tadinya berupa suatu lubang dengan diameter beberapa 
millimeter menjadi lubang yang dapat dilalui anak, kira-kira 10 cm.
7)    Perubahan pada vagina dan dasar panggul
Dalam
 kala I ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina, setelah ketuban 
pecah, panggul diregang menajdi saluran dengan dinding-dinding yang 
tipis. Waktu kepala sampai di vulva menghadap kedepan atas. Dari luar 
peregangan oleh bagian depan nampak pada perineum yang menonjol dan 
menjadi tipis sedangkan anus menjadi terbuka.

5.    Fisiologis Persalinan
Persalinan
 dan kelahiran seorang bayi yang merupakan peristiwa sosial yang ibu dan
 keluarga menantikannya selama 9 bulan. Ketika persalinan dimulai, 
peranan seorang ibu adalah untuk melahirkan bayinya, peran petugas 
kesehatan adalah memantau persalinan untuk mendeteksi dini adanya 
komplikasi, disamping itu bersama keluarga memberikan bantuan dan 
dukungan pada ibu bersalin.
Persalinan dimulai (inpartu) pada saat 
uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan 
menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum
 inpartu jika kontraksi tidak mengakibatkan perubahan pada serviks.
Adapun teori fisiologi persalinan adalah sebagai berikut
a.    Penurunan kadar progesterone
Progesterone
 menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya estrogen meninggikan 
kerentanan otot rahim. Dengan menurunya kadar progesterone pada akhir 
kehamilan dapat menimbulkan his.
b.    Teory oxytosin
Pada akhir kehamilan oxytosin bertambah sehingga timbul kontraksi otot-otot rahim.
c.    Keregangan otot-otot
Dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot dapat menimbulkan kontraksi.

d.    Pengaruh janin
e.    Teori prostaglandin
f.    Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua dapat menimbulkan kontraksi myometrium.

6.    Pembagian Tahap/Fase Persalinan
Tahapan-tahapan dalam persalinan dibagi menjadi 4 (empat) kala persalinan yaitu:
a.    Kala I
Klinis
 dapat dinyatakan partus mulai bila timbul his dan wanita tersebut 
mengeluarkan lendir yang bersemu darah (Blood show). Lendir yang bersemu
 darah ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai 
membuka dan mendatar. Sedangkan darahnya berasal dari 
pergeseran-pergeseran ketika serviks terbuka.
Persalinan dimulai 
(inpartu) pada saat uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada 
serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta 
secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak 
mengakibatkan perubahan pada serviks.
Tanda-tanda inpartu termasuk diantaranya:
1)    Penipisan dan pembukaan serviks 
2)    Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekwensi minimal dua kali dalam 10 menit).
3)    Keluarnya lendir bercampur darah melalui vagina 
Kala
 satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan
 serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm) persalinan kala satu 
dibagi menjadi dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif 
1)    Fase laten persalinan 
a)    Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap
b)    Pembukaan serviks kurang dari 4 cm 
c)    Biasanya berlangsung dibawah hingga 8 jam 
2)    Fase aktif persalinan 
a)   
 Frekwensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi 
dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 
10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih)
b)    Serviks membuka dari 4 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap (10 cm)
c)    Terjadi penurunan bagian terbawah janin 
d)    Fase aktif dibagi menjadi tiga fase yaitu:
(1)    Fase akselerasi: dalam waktu dua jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm
(2)    Fase dilatasi maksimal: dalam waktu dua jam pembukaan menjadi sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm 
(3)    Fase deselerasi: Pembukaan menjadi lambat kembali dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap  
Fase-fase
 tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida pun terjadi 
demikian, akan tetapi fase laten, fase aktif, fase deselerasi terjadi 
lebih pendek.
Pertama primigravida, ostium uteri internum akan 
terbuka terlebih dahulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis, 
baru kemudian ostium uteri eksterrnum membuka. Sedangkan pada 
primigravida ostium uteri internum sudah sedikit terbuka. Ostium uteri 
internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi 
dalam saat yang sama. Ketuban akan pecah sendiri pada saat pembukaan 
hampir lengkap atau telah lengkap. Bila ketuban pecah sebelum pembukaan 5
 cm disebut ketuban pecah dini
Tabel 2.4
Perbedaan antara Primigravida dan Multigravida

Primigravida    Multigravida
Serviks mendatar (effacement) dulu baru dilatasi    Mendatar dan membuka bisa bersamaan
Berlangsung 13 -14 jam    Berlangsung 6 – 7 jam
Sumber : Wiknjosastro, 2005


Selama
 fase laten persalinan semua asuhan, pengamatan dan pemeriksaan harus 
dicatat. Hal ini dapat direkam secara terpisah dalam catatan kemajuan 
persalinan atau kartu menuju sehat (KMS) ibu hamil. Tanggal dan waktu 
dituliskan setiap kali membuat catatan selama fase laten persalinan. 
Semua asuhan dan intervensi harus dicatat.
Kondisi ibu dan bayi harus dicatat dengan seksama yaitu: 
a)    Denyut jantung janin : selama 30 menit
b)    Frekwensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap 30 menit
c)    Nadi: setiap 30 menit
d)    Pembukaan serviks : selama 4 jam 
e)    Tekanan darah dan suhu setiap jam 
f)    Produksi urine, aseton dan protein: setiap 2-4 jam 
Jika
 ditemui tanda-tanda penyulit, penilaian kondisi ibu dan bayi harus 
lebih sering dilakukan. Lakukan tindakan yang sesuai apabila dalam 
diagnosis kerja ditetapkan adanya penyulit dalam persalinan. Jika 
frekwensi kontraksi berkurang dalam 1 atau 2 jam pertama, nilai ulang 
kondisi aktual ibu dan bayi. Bila tidak ada tanda-tanda kegawatan atau 
penyulit, ibu dipulangkan dan dipesankan untuk kembali jika kontraksi 
menjadi teratur dan lebih sering. 
Semua keadaan dalam fase aktif dicatat di dalam partograf. Adapun partograf dibagi menjad dua halaman yaitu:
a)    Halaman depan partograf
Halaman
 depan partograf mencantumkan bahwa observasi dimulai pada fase aktif 
persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil 
pemeriksaan selama fase aktif persalinan, termasuk :
(1)    Kolom tentang ibu :
(a)    Nama dan umur
(b)    Gravida, para, abortus
(c)    Nomor catatan medis/puskesmas
(d)    Tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah, tanggal dan waktu persalinan mulai merawat ibu)
(e)    Waktu pecahnya selaput ketuban 
(2)    Kondisi janin
(a)    DJJ
(b)    Warna dan adanya air ketuban 
(c)    Penyusupan, molase kepala janin 
(3)    Kemajuan persalinan 
(a)    Pembukaan serviks
(b)    Penurunan bagian terbawah janin atau persentasi janin
(c)    Garis waspada dan garis bertindak 
(4)    Jam dan waktu
(a)    Waktu mulai fase aktif persalinan 
(b)    Waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian 
(5)    Kontraksi uterus 
Frekwensi dan lamanya
(6)    Obat-obatan dan cairan yang diberikan 
(a)    Oksitosin
(b)    Obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan 
(7)    Kondisi ibu 
(a)    Nadi, tekanan darah dan suhu tubuh
(b)    Urin (Volume, aseton dan protein) 
(8)   
 Asuhan, pengamatan dan keputusan dan klinik lainnya (dicatat dalam 
kolom yang tersedia disisi partograf atau dicatatan kemajuan persalinan)
b)    Halaman belakang partograf
Halaman
 belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi
 selama proses persalinan kala I sampai kala IV (termasuk bayi baru 
lahir). Itulah sebabnya bagian ini disebut sebagai catatan persalinan. 
Nilai dan catatan asuhan yang diberikan pada ibu dalam masa nifas 
terutama selama persalinan kala IV untuk memungkinkan penolong 
persalinan mencegah terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik 
yang sesuai. Dokumentasi ini sangat penting untuk membuat keputusan 
klinik, terutama pada pemantauan kala IV (mencegah terjadinya perdarahan
 pascasalin). Selain catatan persalinan (yang diisi dengan lengkap dan 
tepat) dapat pula digunakan untuk menilai sejauh mana telah dilakukan 
asuhan persalinan yang bersih dan aman.

b.    Kala II
Kala II 
persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan 
berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II dikenal juga dengan kala 
pengeluaran. 
1)    Tanda dan gejala kala II
a)    Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi 
b)    Ibu merasakan semakin meningkatnya tekanan pada rektum dan vagina 
c)    Perineum kelihatan menonjol
d)    Vulva vagina dan spingter ani terlihat membuka
e)    Peningkatan pengeluaran lendir dan darah 


2)    Diagnosis Kala II
Diagnosis kala II dapat ditegakan atas dasar hasil pemeriksaan dalam yang menunjukan antara lain :
a)    Pembukaan serviks telah lengkap
b)    Terlihatnya bagian kepala bayi dan introitus vagina atau kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm
Tabel 2.5
Kategori Kala II

Kategori    Keretangan
Kala II berjalan dengan baik     Ada kemajuan penurunan kepala bayi
Kondisi
 kegawatdaruratan  pada kala II     Kondisi kegawat daruratan 
membutuhkan perubahan dalam penatalaksanaan atau tindakan segera. Contoh
 kondisi tersebut termasuk eklamsi, kegawatdaruratan bayi, penurunan 
kepala terhenti, kelelahan ibu
(Sumber : Saifuddin, 2002)


3)    Penanganan 
Kala
 II persalinan merupakan pekerjaan yang sulit bagi ibu. Suhu tubuh ibu 
akan meninggi, ia mengedan selama kontraksi dan ia kelelahan. Petugas 
harus mendukung ibu atas usahanya untuk melahirkan bayinya. Berikut 
tindakan yang harus dilakukan selama kala II


Tabel 2.6
Asuhan Kala II

Tindakan     Deskripsi dan keterangan 
Memberikan dukungan terus-menerus kepada ibu     Kahadiran seseorang untuk ;
1.    Mendampingi ibu agar merasa nyaman
2.    Menawarkan minum, mengipasi dan memijit ibu
Menjaga kebersihan diri    1.    Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi. 
2.    Bila ada darah, lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan. 

Melakukan masase
    Menambah kenyamanan bagi ibu 
Memberikan dukungan mental     Untuk mengurangi kecemasan dan ketakutam ibu dengan cara : 
1.    Menjaga privasi ibu
2.    Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan 
3.    Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu
Mengatur posisi yang nyaman buat ibu     Dalam meminpin mengedan dapat dipilih posisi:
1.    Jongkok menungging
2.    Tidur miring
3.    Setengah duduk 
4.    Posisi tegak ada kaitanya dengan berkurangnya rasa nyeri, mudah mengedan, kurang trauma vagina dan perineum dan infeksi
Menjaga kandung kemih tetap kosong     Ibu dianjurkan untuk berkemih sesering mungkin 
Memimpin mengedan    1.    Ibu dipimpin mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambil napas
2.   
 Mengedan tanpa diselingi bernapas kemungkinan dapat menurunkan pH pada 
arteri umbilikalis yang dapat menyebabkan denyut jantung tidak normal 
dan nilai apgar rendah 
Bernapas selama persalinan     Minta ibu 
untuk bernapas selagi kontraksi ktika kepala akan lahir. Hal ini menjaga
 agar perineum meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala dan 
mencegah robekan
Pemantauan denyut jantung janin     Periksa DJJ 
setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami 
bradikardi (<120). Selama mengedan yang lama akan terjadi pengurangan
 aliran darah dan oksigen ke janin
Melahirkan bayi     1.    Menolong kelahiran kepala
a.    Letakan satu tangan ke kepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat
b.    Menahan perineum dengan satu tangan lainnya bila diperlukan 
c.    Mengusap muka bayi untuk membersihkan ari kotoran  lendir/ darah 
2.    Periksa tali pusat 
Bila
 lilitan tali pusat terlalu ketat di klem pada dua tempat kemudian 
digunting antara dua klem tersebut, sambil melindungi leher bayi
3.    Melahirkan bahu dan anggota seluruhnya 
a.    Tempatkan kedua tangan pada kedua sisi kepala dan leher bayi 
b.    Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan 
c.    Lakukan tarikan lembut keatas untuk melahirkan bahu belakang 
d.   
 Selipkan satu tangan anda ke bahu dan lengan bagian belakang bayi 
sambil menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke punggung 
bayi untuk mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya 
e.    Pegang erat bayi agar janin jangan sampai jatuh 
Bayi
 dikeringkan dan dihangatkan dari kepala sampai seluruh tubuh     
Setelah bayi lahir segera selimuti dan keringkan dengan menggunakan 
handuk atau sejenisnya, letakan pada perut ibu dan berikan bayi untuk 
menetek
Lakukan rangsangan taktil pada bayi     1.    Biasanya dengan melakukan pengeringan cukup memberikan rangsangan pada bayi
2.    Dilakukan dengan cara mengusap-ngusap pada bagian punggung atau menepuk telapak kaki bayi 
(Sumber : Saifuddin, 2002)


c.    Kala III
Waktu
 yang paling kritis untuk mencegah perdarahan post partum adalah ketika 
plasenta lahir dan sesegara setelah itu. Ketika plasenta lepas atau 
sepenuhnya terlepas tapi tidak keluar, maka perdarahan terjadi di 
belakang plasenta sehingga uterus tidak dapat sepenuhnya berkontraksi 
karena plasenta masih di dalam. Kontraksi pada otot uterus merupakan 
mekanisme fisiologis yang menghentikan perdarahan. 
Kala III batasanya adalah dimulai setelah bayi lahir dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban. 
1)    Fisiologi kala III
Pada
 kala III persalinan, otot uterus berkontraksi mengikuti berkurangnya 
ukuran rongga uterus secara tiba-tiba telah lahirnya bayi. Penyusutan 
rongga uterus ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat implantasi 
plasenta. Karena tempat implantasi menjadi semakin kecil, sedangkan 
ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan menekuk. Menebal 
kemudian dilepaskan dari dinding uterus. Setelah terlepas plasenta akan 
turun ke bagian bawah uterus atau bagian atas vagina.
Tanda-tanda pelepasan plasenta, yaitu:
a)   
 Perubahan bentuk dan tinggi fundus : uterus berbentuk bulat penuh 
(diskord) dan tinggi fundus biasanya turun hingga dibawah pusat. Pada 
saat berkontraksi uterus menjadi bulat dan fundus berada diatas pusat
b)    Tali pusat memanjang. Tali pusat terlihat keluar memanjang atau terjulur melalui vulva dan vagina (tanda ahfeld)
c)   
 Semburan darah tiba-tiba. Menandakan bahwa darah yang terkumpul 
diantara tempat melekatnya plasenta dan permukaan maternal plasenta, 
keluar melalui tepi plasenta yang terlepas (Depkes RI, 2004)
2)    Pimpinan kala uri
a)   
 Memeriksa keadaan ibu tentang : status lokalis obstertik dengan cara 
palpasi fundus uteri dan konsistensinya, memeriksa keadaan vital ibu 
:TD, nadi, respirasi
b)    Mengawasi perdarahan
c)    Mencari tanda-tanda pelepasan uri
d)    Memberi tekanan pada fundus
3)    Manajemen aktif kala tiga
Tujuannya
 adalah untuk menghasilkan kontraksi uteus yang lebih efektif sehingga 
dapat memperpendek waktu kala III persalinan dan mengurangi kehilangan 
darah dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis.
Keuntungan-keuntungan manajemen aktif kala III :
a)    Kala III persalinan yang lebih singkat 
b)    Mengurangi jumlah kehilangan darah 
c)    Mengurangi kejadian retensio plasenta.
Manajemen aktif kala III terdiri dari tiga langkah utama:
a)    Pemberian suntikan oksitosin 
b)    Melakukan penegangan tali pusat terkendali
c)    Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri (masase)
(Depkes RI, 2004).

d.    Kala IV
Batasannya
 adalah dua jam setelah plasenta lahir. Masa post partum merupakan saat 
yang paling kritis untuk mencegah kematian ibu terutama kematian 
disebabkan karena perdarahan. Selama kala IV petugas harus memantau ibu 
setiap 15 menit pada jam pertama setelah kelahiran plasenta dan setiap 
30 menit pada jam kedua setelah persalinan. Yang dipantau pada kala IV 
adalah tekanan darah, nadi, temperatur, tinggi fundus uteri, kontraksi 
uterus, kandung  kemih dan perdarahan.
Darah yang keluar harus 
ditajar sebaik-baiknya. Kehilangan darah pada persalinan biasa 
disebabkan oleh luka pada pelepasan uri dan robekan pada serviks dan 
perineum. Rata-rata dalam batas normal, jumlah perdarahan adalah 250 cc 
biasanya 100-300 cc. Bila perdarahan lebih dari 500 cc ini sudah 
dianggap abnormal.
Sebelum meninggalkan ibu yang baru melahirkan, harus memperhatikan 7 (tujuh) pokok penting, yaitu:
1)    Kontraksi rahim : baik atau tidak dapat diketahui dengan palpasi. Bila perlu lakukanlah masase dan berikan uterotonika
2)    Perdarahan : ada atau tidak, banyak atau biasa
3)    Kandung kencing : harus kosong, kalau penuh ibu disuruh kencing dan kalau tidak bisa lakukan kateter.
4)    Luka  -luka : jahitannya baik atau tidak, ada perdarahan atau tidak
5)    Uri dan selaput ketuban harus lengkap
6)    Keadaan umum ibu : Tensi, nadi, pernapasan, rasa sakit
7)    Bayi dalam keadaaan baik

7.    Posisi ibu dalam Persalinan
Ibu
 bersalin dapat mengganti posisi secara teratur selama kala II 
persalinan karena hal inidapat mempercepat kemajuan persalinan. Posisi 
ibu dalam kala II persalinan diantaranya :
a.    Posisi duduk atau setengah duduk
Seringkali
 nyaman bagi ibu dan ibu bisa beristirahat dengan mudah diantara 
kontraksi jika merasa lelah. Keuntungan dari kedua posisi ini adalah 
memudahkan melahirkan kepala bayi.
b.    Posisi jongkok atau berdiri
Dapat membantu mempercepat kemajuan kala II persalinan dan mengurangi rasa nyeri yang hebat.
c.    Posisi merangkak atau berbaring miring ke kiri.
Bisa
 lebih nyaman dan lebih efektif bagi ibu untuk meneran. Kedua posisi ini
 mungkin baik jika ada masalah bayi yang akan berputar posisi oksiput 
anterior. Merangkak seringkali merupakan posisi yang baik bagi ibu yang 
mengalami nyeri punggung saat persalinan.
d.    Posisi berbaring miring ke kiri
Merupakan
 posisi yang baik bagi ibu jika kelelahan karena ibu bisa beristirahat 
dengan mudah diantara kontraksi, posisi ini juga bisa membantu mencegah 
laserasi perenium.
(Depkes RI, 2002).

8.    Tanda Bahaya Persalinan
Tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai pada saat persalinan diantaranya :
a.    Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak mulai terasa mules.
b.    Perdarahan sebelum melahirkan dan setelah lahir.
c.    Air ketuban berbau busuk atau berwana keruh.
d.    Tali pusat atau anggota badan bayi keluar lebih dulu.
e.    Ibu tidak kuat mengedan.
f.    Ibu kejang-kejang.

9.    Asuhan Sayang Ibu pada Masa Persalinan
Salah
 satu prinsip dasar sayang ibu adalah dengan mengikut sertakan suami dan
 keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Adapaun asuhan 
sayang ibu selama persalinan tersebut adalah sebagai berikut:
1)    Panggil ibu sesuai namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai martabatnya.
2)    Jelaskan asuhan dan perawatan yang akan diberikan pada ibu sebelum memulai asuhan tersebut.
3)    Jelaskan proses persalinan.
4)    Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut dan khawatir.
5)    Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
6)    Berikan dukungan, berdasarkan hatinya dan tentramkan perasaan ibu beserta anggota keluarga yang lain.
7)    Anjurkan ibu untuk ditemani suami atau keluarga yang lain selama persalinan dan kelahiran bayinya.
8)   
 Ajarkan suami dan anggota keluarga mengenai cara-cara bagaimana mereka 
dapat memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran 
bayinya.
9)    Lakukan praktek-praktek pencegahan infeksi.
10)    
Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik, dan bahan-bahan
 perlengkapan dan obat-obatan yang diperlukan. Siap melakukan resusitasi
 bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayi.


C.    Postnatal (Masa Nifas)
1.    Pengertian
Masa
 nifas (peurperium) dimulai setelah kelahiran plasenta berakhir ketika 
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas 
berlangsung kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2002).

2.    Tujuan Asuhan Masa Nifas
a.    Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis
b.   
 Melaksanakan skrining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati 
atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya 
c.    
Memberikan perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, 
menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat 
d.    Memberikan pelayanan keluarga berencana
Asuhan
 masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis 
baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat 
kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas 
terjadi dalam jam pertama.
Masa neonatus merupakan masa kritis dari 
kehidupan bayi, dua pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah
 persalinan dan 60% kematian bayi baru lahir dalam waktu 7 hari setelah 
lahir. Dengan pemantauan melekat dan asuhan pada ibu dan bayi masa nifas
 dapat mencegah beberapa kematian ini.

3.    Kunjungan pada Masa Nifas
a.    Kunjungan I ( 6- 8 jam)
Tujuannya:
1)    Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
2)    Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan merujuk bila perdarahan berlanjut.
3)   
 Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga 
bagaimana mencegah perdarahan pada masa nifas karena atonia uteri.
4)    Pemberian ASI awal.
5)    Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
6)    Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
b.    Kunjungan 11 (6 hari pasca persalinan)
Tujuan: 
1)    Memastikan involusi uterus berjalan, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal.
2)    Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
3)    Memastikan ibu mendapat cukup makan, cairan dan istirahat.
4)    Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyakit.
5)   
 Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat dan
 menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-ari.
c.    Kunjungan III (2 minggu pasca persalinan)
Asuhan yang diberikan sama dengan 6 hari post partum.
d.    Kunjungan IV (6 minggu pasca persalinan)
1)    Menanyakan ibu tentang penyakit yang dialami ibu dan bayi.
2)    Memberikan konseling untuk KB secara dini
e.    Kunjungan Rumah
Suatu
 proses untuk membantu klien atau keluarga mempelajari dan menemukan 
kebutuhan kesehatan dengan tujuan untuk membantu menyadari adanya 
masalah kesehatan, menegakkan pengertian bersama mempelajari kebutuhan 
kesehatan melaksanakan tindakan yang sesuai wewenang, memberikan 
keyakinan dukungan dan menurunkan stress. (Saifuddin, 2002)

4.    Pembagian Masa Nifas
Masa nifas dibagi menjadi tiga periode, yaitu:
b.    Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan 
c.    Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu
d.   
 Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat 
sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai 
komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu–minggu, bulanan, 
atau tahunan.

5.    Perubahan Fisiologi yang terjadi pada masa nifas
Terdapat dua perubahan penting pada masa puerperium, yaitu :
a.    Involusi uterus dan pengeluaran lochea
Involusi
 atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke 
kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gr. Proses involusi uterus 
adalah sebagai berikut :
1)    Autolisys
Merupakan proses 
penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot uterin, enzim 
proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur 
hingga sepuluh kali panjangnya dari semula dan lima kali lebar dari 
semula selama kehamilan.
2)    Terdapat polymorphin phagolitik dan macrophages didalam sistem vaskuler dan system limphatik.
3)    Efek oksitosin
Penyebab
 kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga akan mengkompres pembuluh 
darah yang akan mengurangi masukanya darah ke uterus. Proses ini 
membantu untuk mengurangi tempat implantasi plasenta serta mengurangi 
perdarahan.





Tabel 2.7
Proses Involusi Uteri

Involusi    Tinggi Fundus    Berat Uterus
Plasenta Lahir
7 hari (1 minggu)
14 hari (2 minggu)
42 hari (6 minggu)
56 hari (8 minggu)    Sepusat
Pertengahan pusat simpisis
Tak teraba
Sebesar hamil 2 minggu
Normal    1000 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram
(Mochtar.R, 1998)


Lochea
 adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas, lochea mempunyai reaksi
 biasa yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada 
kondisi asam yang ada pada vagina normal, lochea mengalami perubahan 
karena proses involusi.
Pengeluaran lochea dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya, sebagai berikut :
a)    Lochea Rubra (Kruenta)
•    1 sampai 3 hari, berwarna merah hitam.
•    Terdiri dari sel desidua, vemiks caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneuml, sisa darah.
b)    Lochea Senginolenta
•    3 sampai 7 hari
•    Berwarna putih bercampur darah.
c)    Lochea Serosa
•    7 sampai 14 hari
•    Berwarna kuning kekuningan
d)    Lochea Alba
•    Setelah hari ke 14
•    Berwarna putih (Mochtar, 2006).
b.    Perubahan Psikis
Tiga tahap perilaku ibu post partum menurut Rubin :
1)    Talking in (1-2 hari)
a)    Ibu menceritakan pengalaman persalinan membandingkan dengan yang lain.
b)    Membutuhkan bantuan orang lain dan terlihat pasif
c)    Susah mengambil keputusan
d)    Berfokus pada diri sendiri
e)    Depresi 
2)    Talking hold (3-5 hari)
a)    Menerima peran baru dan belajar
b)    Merasa lebih nyaman dan tenang mulai pulih kembali
c)    Ibu berkeinginan merawat bayinya
d)    Letting go (2-4 hari)
e)    Ibu telah sembuh
f)    Ibu menerima peran baru sebagai orang tua
g)    Dapat melakukan sehari-hari
h)    Merasa tanggung jawab terhadap perawatan bayi.
c.    Laktasi/pengeluaran Air Susu Ibu
Produksi
 ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang selalu ada dalam 
keadaan sedih, tertekan, kurang percaya diri dan berbagai bentuk 
ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan memungkinkan 
tidak terjadi produksi ASI.
Terdapat dua refleks yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa ibu, yaitu :
1)    Refleks Prolaktin
Pada
 waktu bayi menghisap payudara ibu, maka ibu menerima rangsangan nero 
hormonial pada puting dan aerola, rangsangan ini melalui nervus vagus 
diteruskan ke hypophysa lalu ke lobus anterior, lobus anterior akan 
mengeluarkan hormone prolaktin dan masuk melalui peredaran darah sampai 
pada kelenjar-kelanjar, pembuatan ASI terangsang untuk memproduksi ASI.
2)    Refleks Let Down
Refleks
 ini mengakibatkan memancarnya ASI keluar, isapan bayi akan merangsang 
puting susu dan aerola yang dikirim lobus posterior melalui nervus vagus
 dari grandula pituitary posterior dikeluarkan hormon oksitosin kedalam 
peredaran darah yang menyebabkan adanya kontraksi otot-otot myoepitel 
dari saluran air susu, karena adanya kontraksi ini maka ASI akan 
terperas ke arah ampulla.

6.    Tindakan yang Baik Selama Asuhan Masa Nifas
a.    Kebersihan diri
1)    Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.
2)    Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air.
3)    Sarankan ibu untuk mengganti pembalut setidaknya 2 hari sekali.
4)    Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
5)    Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.
b.    Istirahat 
1)    Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
2)   
 Sarankan ia untuk kembali ke kegiatan rumah tangga secara 
perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat pada saat bayi
 tidur.
3)    Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal:
a)    Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
b)    Memperlambat proses involusi dan memperbanyak perdarahan.
c)    Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.

c.    Latihan
Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti :
1)   
 Dengan tidur terlentang dengan lengan di samping, menarik otot perut 
selagi menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan
 angkat dagu ke dada, tahan satu hitungan sampai 5, rileks dan ulangi 
sebanyak 10 kali.
2)    Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dasar panggul (latihan kegel).
3)   
 Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot pantat dan 
pinggul dan tahan sampai lima hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan 
sebanyak lima kali.
Mulai dengan mengerjakan lima kali latihan untuk 
setiap gerakan. Setiap minggu naikan jumlah latihan lima kali lebih 
banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap
 gerakan sebanyak 30 kali.
d.    Gizi
Ibu menyusui harus :
1)    Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari.
2)    Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan viatamin yang cukup.
3)    Minum sedikitnya tiga liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui).
4)    Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.
5)    Minum kapsul viatamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI-nya.
e.    Menyusui
       
 ASI mengandung semua bahan yang diperlukan bayi, mudah dicerna, memberi
 perlindungan terhadap infeksi, selalu segar, bersih dan siap untuk 
diminum.
1)    Tanda ASI cukup
a)    Bayi kencing setidaknya enam kali dalam 24 jam dan warnanya jernih sampai kuning muda.
b)    Bayi sering buang air besar berwarna kekuningan “berbiji”.
c)    Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun dan tidur cukup. Bayi yang selalu tidur bukan pertanda baik.
d)    Bayi setidaknya menyusu 10-12 kali dalam 24 jam.
e)    Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui.
f)    Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran ASI setiap kali bayi mulai menyusu.
g)    Bayi bertambah berat badannya.
2)    ASI tidak cukup
       
 Bayi harus diberi ASI setiap kali ia merasa lapar (setidaknya menyusu 
10-12 kali dalam 24 jam) dalam dua minggu pasca persalinan. Jika bayi 
dibiarkan tidur lebih dari 3-4 jam atau bayi diberi jenis makanan lain 
atau payudara tidak dikosongkan dengan baik tiap kali menyusui, maka 
pesan hormonal yang diterima otak ibu adalah untuk menghasilkan susu 
lebih sedikit.
3)    Meningkatkan Produksi ASI
a)    Untuk Bayi
•    Menyusui bayi setiap dua jam siang dan malam hari dengan menyusi 10-15 menit setiap payudara.
•    Bangunkan bayi, lepaskan baju yang menyebabkan rasa gerah dan duduklah selama menyusui.
•    Pastikan bayi menyusu dengan posisi menempel yang baik dan denganrkan suara menelan yang aktif.
•    Susui bayi ditempat yang tenang dan nyaman, serta minumlah setiap kali menyusui.
•    Tidurlah bersebelahan dengan bayi.
b)    Untuk Ibu
•    Ibu harus meningkatkan istirahat dan minum.
•   
 Petugas kesehatan harus mengamati ibu yang menyusui bayinya dan 
mengoreksi setiap kali terdapat masalah pada posisi penempelan antara 
mulut bayi dengan puting.
•    Yakinkan bahwa ia dapat memproduksi susu lebih banyak dengan melakukan hal-hal tersebut diatas.
f.    Perawatan payudara
1)    Menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama puting susu.
2)    Menggunakan BH yang menyokong payudara.
3)   
 Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada 
sekitar puting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap 
dilakukan dimulai dari puting susu yang tidak lecet.
4)    Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok.
5)    Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat minum parasetamol 1 tablet setiap 4-6 jam.
6)    Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan :
a)    Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama lima menit.
b)    Urut payudara dari arah pangkal munuju puting.
c)    Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak.
d)    Susukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI sisanya keluarkan dengan tangan.
e)    Letakan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
g.    Keluarga Berencara
1)    Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya dua tahun sebelum ibu hamil kembali.
2)   
 Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia 
mendapatkan lagi haidnya selama meneteki (amenore laktasi). Oleh karena 
itu metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali 
untuk mencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko cara ini ialah 2% 
kehamilan.
3)    Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, 
penggunaan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu sudah haid
 lagi.
4)    Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu :
a)    Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektivitasnya.
b)    Kelebihan/keuntungannya.
c)    Kekurangannya
d)    Efek samping
e)    Bagaimana menggunakan metode itu
f)    Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita pasca salin yang menyusui.
5)   
 Jika seorang ibu/pasangan telah memilih metode KB tertentu, ada baiknya
 untuk bertemu dengan lagi dalam dua minggu untuk mengetahui apakah ada 
yang ingin ditanyakan oleh ibu/pasangan itu untuk mengetahui apakah 
metode tersebut bekerja dengan baik (Saifuddin, 2002).

7.    Tanda Bahaya pada Masa Nifas
Sebagian
 besar kematian ibu terjadi selama masa post partum oleh karena itu 
sangatlah penting untuk membimbing para ibu dan keluarganya mengenai 
tanda-tanda bahaya yang mendakan bahwa ia perlu segera mencari bantuan 
medis, ibu juga perlu mengetahui kemana ia mencari bantuan tersebut 
(Saifuddin, 2002)
Beritahulah ibu jika mengetahui adanya masalah-masalah berikut, maka ia perlu segera menemui bidan :
a.   
 Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak 
(lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian 
pembalut dua kali dalam setengah jam).
b.    Pengeluaran vagina yang baunya menusuk.
c.    Rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung.
d.    Sakit kepala yang terus menerus, nyeri ulu hati atau masalah penglihatan.
e.    Pembengkakan diwajah atau di tangan.
f.    Demam, muntah, rasa sakit pada waktu buang air kecil atau jika merasa tidak enak badan.
g.    Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan atau terasa sakit.
h.    Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama.
i.    Rasa sakit, merah, lunak dan/atau pembengkakan di kaki.
j.    Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya atau diri sendiri.
k.    Merasa sangat letih atau nafas terengah-engah (Saifuddin, 2002)

8.    Asuhan sayang ibu pada masa Nifas
a.    Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung).
b.    Bantu ibu untuk memulai membiasakan menyusui dan anjurkan memberikan ASI sesuai permintaan.
c.    Anjurkan ibu dan keluarganya mengenai nutrisi dan istirahat yang cukup setelah melahirkan.
d.    Anjurkan suami dan anggota keluarga untuk memeluk bayi dan mensyukuri kelahiran bayi.
e.   
 Ajarkan ibu dan anggota keluarga tentang bahaya dan tanda-tanda bahaya 
yang dapat diamati dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika 
terdapat masalah atau kekhawatiran                    (Saifuddin, 2002)

9.    Kebijakan Program Nasional Masa Nifas–Program dan Kebijakan Teknis
       
 Paling sedikit 4 kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status 
ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani 
masalah-masalah yang terjadi.
Tabel 2.8
Kunjungan Masa Nifas

Kunjungan    Waktu    Uraian
1    6-8 jam setelah persalinan    1.    Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
2.    Mendeteksi dan merawat penyebab lain pada perdarahan, rujuk bila perdarahan
3.   
 Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga 
bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
4.    Pemberian ASI awal
5.    Melakukan hubungan antara ibu dan BBL
6.    Menjaga bayi tetap sehat dengan mencegah hipotermia
2   
 6 hari setelah persalinan    1.    Memastikan involusi uterus berjalan 
normal : uterus berkontraksi fundus di bawah u8mbilicus, tidak ada 
perdarahan abnormal.
2.    Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
3.    Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
4.    Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
5.   
 Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, perawatan tali
 pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3    2 minggu setelah persalinan    Sama seperti kunjungan ke 2 (6 hari setelah persalinan)
4    6 minggu setelah persalinan    1.    Menanyakan ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami
2.    Memberikan konseling untuk KB secara dini
(Sumber : Saifuddin, 2002)


D.    Bayi Baru Lahir
1.    Definisi
Bayi
 yang mampu hidup diluar rahim dengan berat badan lebih dari 2500 gram, 
asuhan segera pada bayi adalah asuhan yang diberikan pada bayi tersebut 
selama jam pertama setelah kehamilan                     (Depkes RI, 
2004)

2.    Tujuan Asuhan Bayi baru Lahir
a.    Membersihkan jalan nafas
b.    Memotong dan merawat tali pusat.
c.    Mempertahankan suhu tubuh bayi.
d.    Identifikasi.
e.    Pencegahan infeksi (Depkes RI, 2004)

3.    Perubahan Fisiologis pada Bayi Baru Lahir
a.    Sistem Sirkulasi
Setelah
 bayi lahir bayi akan bernafas, ini akan menjadikan penurunan pada 
tekanan arteri pulmonalis, sehingga banyak darah mengalir ke paru-paru, 
duktus arterius botali menutup 1-2 menit setelah bayi bernafas. Dengan 
diguntingnya tali pusat maka akan terjadi penurunan pada vena cava 
inferior, sehingga tekanan pada atrium kanan berkurang sebaliknya 
tekanan pada atrium kiri bertambah maka terjadi penutupan foramen ovale 
(Saifuddin, 2002).
O2 janin lebih rendah dari pada orang dewasa. 
Untuk mengimbangi ini peredaran janin lebih cepat, kadar Hb janin tinggi
 (18gr%) dan eritoctnya (5,5 juta/mm3) (Saifuddin, 2002)
Perbedaan Hb janin dan orang dewasa :
1)    Hb janin dibuat dalam hati, Hb dewasa pada sumsum merah.
2)    Hb janin lebih mudah mengambil dan menyerahkan O2 dari pada orang dewasa.
3)    Hb janin baru diganti seluruhnya oleh Hb biasa pada umur 4 bulan atau lebih (Saifuddin, 2002)
b.    Sistem Respirasi
Pernafasan
 bayi baru lahir tidak teratur, kedalamannya, kecepatannya dan 
bervariasi 30-60x/menit. Rangsangan gerakan nafas pertama kali karena 
tekanan mekanis pada toraks sewaktu melalui jalan lahir sehingga terjadi
 kehilangan setengah dari jumlah cairan yang ada di paru-paru, sehingga 
sesudah lahir cairan yang hilang diganti dengan udara, paru-paru 
berkembang dan rongga dada kembali ke bentuk semula.
1)    Penurunan 
tekanan oksigen dan kenaikan CO2 merangsang dengan masuknya darah dari 
paru-paru kedalam atrium kiri, menyebabkan foramen ovale menutup, 
sirkulasi janin berubah menjadi sirkuit bayi yang hidup diluar badan 
ibu.
2)    Kemoreseptor pada sinus karotis rangsangan dingin didaerah
 muka dapat merangsang permulaan gerakan pernafasan (Saifuddin, 2002).
c.    Suhu Tubuh
Saat
 lahir suhu bayi sama dengan suhu ibu, tapi bayi memiliki insulasi 
lemak, luas permukaan tubuh yang besar, sirkulasi yang relative buruk 
serta belum dapat berkeringat dan menggigil maka suhu lingkungan harus 
diatur 36,5-37,20C. Untuk mengurangi kehilangan panas dilakukan 
pengaturan suhu kamar, membungkus badan dan kepala bayi, disimpan 
ditempat tidur hangat                  (Saifuddin, 2002).
d.    Saluran Pencernaan
Pada
 kehamilan 4 bulan pencernaan telah terbentuk dan janin telah dapat 
menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup, absorpsi air ketuban 
terjadi melalui mukosa seluruh saluran pencernaan. Bila dibandingkan 
dengan pencernaan orang dewasa pencernaan neonatus lebih berat dan lebih
 panjang. Enzim pencernaan sudah terdapat pada neonatus kecuali amylase,
 aktivitas lipase terjadi pada janin 7-8 bulan (Saifuddin, 2002).
e.    Keseimbangan Air dan Fungsi Ginjal
Glomerolus
 mulai dibentuk pada janin umur 8 minggu. Pada kehamilan 28 minggu 
jumlahnya sekitar 350.000, ginjal janin mulai berfungsi pada usia 
kehamilan 3 bulan. Hingga umur tiga hari ginjal bayi belum dipengaruhi 
oleh pemberian air minum, sesudah 5 hari ginjal mulai memproses air yang
 didapat dari luar (Saifuddin, 2002).
f.    Susunan Saraf
Pada 
trimester akhir hubungan antara saraf dan fungsi otot-otot menjadi lebih
 sempurna, sehingga janin di atas 32 minggu dapat hidup diluar 
kandungan. Pada kehamilan 7 bulan mata janin sangat sensitif terhadap 
cahaya (Saifuddin, 2002).
Aspek-aspek penting dari asuhan segera bayi baru lahir :
1)    Jagalah agar bayi tetap kering dan hangat
2)    Usahakan adanya kontak antara kulit bayi dengan kulit ibunya sesegera mungkin segera setelah melahirkan badan bayi.
3)    Sambil secara cepat menilai pernafasan, letakan bayi dengan handuk diatas perut ibu.
4)   
 Dengan kain bersih dan kering atau kasa lap darah atau lendir dari 
wajah bayi untuk mencegah jalan udaranya terhalang. Periksa ulang 
pernafasan bayi (Saifuddin, 2002).

4.    Pantalaksanaan Bayi Baru lahir
a.    Penilaian Awal
Nilai kondisi bayi baru lahir secara cepat dengan menilai hal-hal berikut :
1)    Bayi menangis kuat atau bernafas tanpa kesulitan.
2)    Bayi bergerak dengan aktif atau dalam keadaan lemas.
3)    Warna kulit bayi merah muda, pucat atau biru (Varney, 2006).
b.    Membersihkan Jalan Nafas
Bayi
 normal akan menangis spontan segera setelah lahir. Apabila bayi tidak 
langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara 
sebagai berikut :
1)    Letakan bayi pada posisi terlentang ditempat yang keras dan hangat.
2)    Gulung sepotong kain dan letakan dibawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk.
3)    Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang dibungkus dengan kassa steril.
4)    Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar.
c.    Memotong dan Merawat Tali Pusat
1)   
 Klemlah tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2 dan 3 
cm dari pangkal pusat bayi (tinggalkan kira-kira 1 cm diantara klem-klem
 tersebut).
2)    Potonglah tali pusat diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri anda.
3)    Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat.
4)    Periksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih terjadi perdarahan, lakukan pengikatan ulang yang lebih kuat.
d.    Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi
1)    Pastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu.
2)   
 Gantilah handuk/kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan 
selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindung dengan 
baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.
3)    Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15 menit :
a)    Apabila telapak bayi tetap dingin, periksalah suhu aksila bayi.
b)    Apabila suhu bayi kurang dari 36,50C, segera hangatkan bayi tersebut.
Mekanisme kehilangan panas
c)   
 Evaporasi adalah cara kehilangan panas yang utama pada tubuh bayi. 
Kehilangan panas karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh 
setelah bayi lahir karena tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
d)    Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin.
e)    Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi terpapar dengan udara sekitar yang lebih dingin.
f)   
 Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan 
dekat benda yang mempunyai temperature tubuh lebih rendah dari 
temperatur tubuh bayi (APN, 2002).
e.    Memberi Vitamin K
Kejadian
 perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir dilaporkan 
cukup tinggi, untuk mencegah perdarahan tersebut semua bayi baru lahir 
normal dan cukup bulan perlu diberi vitamin K peroral 1  mg/hari selama 3
 hari sedangkan bayi resiko tinggi diberi vitamin K perparenteral dengan
 dosis 0,5-1 mg IM.
f.    Member Obat Tetas/Salep Mata
Di beberapa
 Negara perawatan mata bayi baru lahir secara hukum diharuskan untuk 
memcegah terjadinya oftalmia neonatorum. Pemberian obat mata eritomisin 
0,5 % atau tetraksiklin 1 % dianjurkan untuk mencegah penyakit mata 
karena penyakit menular seksual (klamidia).
g.    Identifikasi Bayi
Apabila
 bayi dilahirkan ditempat bersalin yang persalinannya mungkin lebih dari
 satu persalinan, maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan
 kepada setiap bayi baru lahir dan harus tetap ditempatnya sampai waktu 
bayi dipulangkan. Ukurlah berat lahir, panjang bayi, lingkar kepala, 
lingkar dada, lingkar perut, dan catat dalam rekam medik.
h.    Pemantauan Bayi Baru Lahir
Tujuan
 pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi 
normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir 
yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak 
lanjut kesehatan.
i.    Kontak Dini Dengan Ibu
1)    Berikan bayi pada ibu secepat mungkin. Kontak dini antara ibu dan bayi penting untuk:
a)    Kehangatan mempertahankan panas yang benar pada bayi baru lahir.
b)    Ikatan batin dan pemberian ASI.
2)    Dorongan ibu untuk menyusui bayinya apabila bayi telah “siap” (dengan menunjukan reflex rooting) (Varney, 2006).


5.    Pemantauan Pada Bayi Baru Lahir
Yang harus diperhatikan adalah:
a.    Suhu badan dan lingkungan
b.    Tanda-tanda vital
c.    Berat badan
d.    Mandi dan perawatan kulit
e.    Pakaian
f.    Perawatan tali pusat
Dengan mencatat semua hasil pemantauan (Varney, 2006).

6.    Asuhan pada Bayi Baru Lahir
a.    Asuhan yang diberikan pada periode transisional
1)    Periode Pertama Reaktivitas
a)
 Periode ini berakhir kira-kira 30 menit setelah kelahiran dengan 
memantau frekuensi jantung dan pernafasan setiap 30 menit pada 4 jam 
pertama.
b)   Menjaga kehangatan tubuh bayi (suhu di aksila 36,50 C dan 370 C ), Tempatkan ibu dan bayi bersama-sama.
c) Tunda pemberian tetes mata pada 1 jam pertama untuk meningkatkan interaksi antara ibu dan bayi.
2)  Fase Tidur
a)  Dimulai 30 menit setelah periode pertama reaktifitas dan dan berakhir sampai 2-4 jam  
b)   
 Kebutuhan perawatan yang khusus di perlukan selama fase tidur, bayi 
tidak berespon terhadap stimulus eksternal namun ibu dan keluarga dapat 
memeluk dan menggendongnya
3)  Periode Kedua Setelah Reaktifitas
    a)    Periode ini terjadi sekitar 4-6 jam 
b) Memantau bayi terhadap kemungkinan tersedak, metode stimulus segera jika terjadi apneu
c)     Kaji keinginan bayi (menelan, menghisap)
b.    Asuhan Pasca Tradisional
    Perawatan bayi baru lahirnormal yang mencakup :
1)     Pengkajian tanda-tanda vital 4 jam dan 8 jam 
2)    Perawatan tali pusat selama 8 jam
3)    Pemberian ASI setap 3-4 jam
4)    Mengganti popok bayi jika di perlukan 
5)    Menimbang berat badan bayi 1 kali setiap 24 jam         
c.    Rencana Asuhan 2-6 Hari
Melakukan pengkajian dan penyuluhan mengenai :
1)    Minum
Kebutuhan
 cairan bayi diberikan pada hari pertama masuk sebanyak 60 ml/kg BB dan 
setiap hari ditambah sehingga pada hari ke-14 dicapai 200 ml/kg BB 
sehari. Dalam hari pertama berat badan akan turun karena pengeluaran 
mekonium dan masuknya cairan belum mencapai. Turunnya berat badan tidak 
lebih dari 10%, berat badan akan naik lagi pada hari ke-10 dan 
seterusnya.
2)    Buang Air Besar
Mekonium akan mulai keluar pada 
waktu 24 jam berlangsung sampai hari ke 2-3. Pada hari ke 4-5 warna 
tinja menjadi coklat kehijau-hiajuan, defekasi dapat terjadi 3-8 
kali/hari.
3)    Buang Air Kecil
Air kencing dapat keluar dalam 24 jam.
4)    Tidur
Siklus
 tidur bayi erat kaitannya dengan seberapa sering bayi makan dan 
penyesuaian dengan lingkungan. Bayi akan tidur 12-20 jam dalam 24 jam
5)    Kebersihan Kulit
Ibu harus sudah mampu memandikan bayi secara mandiri
6)    Memandikan Bayi
a)   
 Persiapan alat: pakian bersih, popok, sabun, handuk, selimut, parnel, 
klem tali pusat, waslap, bak mandi, selemek, kassa  steril/DDT
b)    Cuci tangan 
c)    Pastikan ruangan dalam keadaan hangat
d)    Siapkan air hangat tapi tidak terlalu panas dalam bak mandi 
e)    Siapkan pernel, handuk dan pakaian bayi siap pakai
f)    Lepaskan pakaian bayi 
g)    Bersihkan tinja daerah pantat sebelum di mandikan agar air mandi tetap segar 
h)    Letakkan bayi pada pernel
i)    Cuci tali pusat dengan menggunakan air bersih dan sabun, lakukan pengikatan ulang tali pusat bila terdapat perahan 
j)    Sanggalah bayi bersihkan bagian kepala bayi lalu keringkan 
k)    Cuci mukanya terlebih dahulu
l)    Basahi dan sabuni badan bayi lalu keringkan 
m)   
 Jika bayi laki-laki tarik katup (prepesium) ke belakang dan bersihkan. 
Bila bayi perempuan bersihkan labia minora dan mayora
n)    Keringkan betul-betul bayi dengan handuk yang hangat dan kering
o)    Tempatkan bayi pada alas dan popok yang hangat dan kering
p)    Pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena udara dan tutupi dengan kain bersih
q)    Lipat popok di bawah tali pusat 
r)    Jika tali pusat terkena kotoran atau tinja cuci tinja dengan sabun dan air bersih dan keringkakan betul-betul
s)    Yakinkan bahwa ujung atas popok berada di bawah sisa tali pusat
t)    Kenakan pakaian yang bersih dan kering
u)    Selimutilah bayi (Wiknjosastro, 2006)

7.    Refleks-refleks Pada Bayi Baru Lahir
a.    Refleks Moro
Reflek
 ini adalah salah satu reflek yang didapat oleh bayi, sebab reflek ini 
menunjukan status neurologist, ini juga sering disebut reflek kejutan 
b.    Refleks Palmar Grap
Refleks
 ini adalah suatu reflek ketika sebuah benda diletakan ditelapak tangan 
noenatus, refleks menggenggam menyebabkan jari menggenggam benda 
tersebut, refleks ini dapat terlihat sampai umur satu tahun.
c.    Refleks Tonik Neck
Refleks
 ini dapat diobservasi pada neonatus dalam posisi terlentang. Refleks 
ini tidak dapat dilihat pada bayi yang berusia 1 hari, meskipun refleks 
ini dapat diamati sampai usia bayi 3-4 bulan.
d.    Refleks Rooting
Refleks ini ditandai dengan penghisapan secara kuat jari atau putting susu ketika dimasukan ke dalam mulut.
e.    Refleks Menelan
Refleks
 ini ditandai dengan menelan secara tepat cairan yang dimasukan ke dalam
 mulut, reflek ini dapat dengan mudah di observasi pada saat makan.
f.    Refleks Babinski
Refleks
 ini disebut juga refleks hiperektensi jari kaki, terjadi ketika bagian 
lateral dari telapak kaki bayi digores dari tumit ke atas dan menyilang 
pada kaki, reflek ini menghilangkan setelah satu tahun.
g.    Refleks Menginjak
Bayi
 dapat membuat gerakan menginjak yang kadang-kadang disebut gerakan 
menari. Reflek ini kadang-kadang sulit diperoleh sebab tidak semua bayi 
kooperatif, dan menghilang berangsur-angsur pada usia 4 bulan 
(Wiknjosastro, 2006)

8.    Imunisasi
Pengertian imunisasi 
adalah memberikan kekebalan pada bayi, anak dengan maksud mengurangi 
timbulnya kesakitan, menurunkan angka kematian dan mencegah akibat buruk
 lebih lanjut.

Macam-macam imunisasi :
a.    Hepatitis B
Vaksinasi
 dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis 
B/lever. Imunisasi ini dilakukan dengan cara pemberian suntikan dasar 
sebanyak 3 kali dengan jangka waktu 4 minggu antara suntikan pertama dan
 ke-2 dan 4 minggu lagi antara suntikan ke-2 dan ke-3 imunisasi ulang 
diberikan 5 tahun setelah imunisasi dasar.
Jadwal pemberian Imunisasi Hepatitis B :
1)    Hepatitis B1, bisa di berikan pada usia 0 – 7 hari
2)    Hepatitis B2, bisa diberikan 4 minggu setelah Hepatitis B1
3)    Hepatitis B3, bisa diberikan 4 minggu setelah Hepatitis B2
4)    Kekebalan vaksin Hepatitis B cukup tinggi. Yaitu berkisar antara 94-96%
Reaksi Imunisasi Hepatitis B :
Biasanya
 berupa nyeri pada tempat suntikan mungkin disertai dengan 
pembengkakan/rasa panas yang mungkin juga disertai dengan demam ringan
b.    BCG
Pemberian
 imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan aktif terhadap penyakit 
tuberculosis (TBC). Vaksin BCG mengandung kuman BCG (Bacillus Calmette 
Geurin) yang masih hidup. Jenis kuman TBC ini telah dimatikan. Imunisasi
 ini cukup diberikan satu kali saja. Sebaiknya dilakukan ketika bayi 
baru lahir sampai berumur 11 bulan sesuai dengan program pemberiannya 
satu kali.
Jenis Pemberian Imunisasi BCG :
1)     Bayi 0 – 11 bulan sebaiknya diberikan pada umur 0 – 2 bulan dengan dosis 0,01 mg.
2)    Vaksin diulang pada umur 5 tahun, dan sebelum divaksin sebaiknya dilakukan uji mantoux tes dahulu.
c.    DPT
Pemberian
 imunisasi ini untuk memberi kekebalan aktif secara bersamaan (stimulasi
 ) terhadap penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus.
Jadwal  pemberian Imunisasi DPT :
1)    Pada bayi umur 2-11 bulan sebanyak 2 -3 kali suntikan selang waktu 4 minggu secara IM atau Sub Cutan.
2)    Imunisasi lainnya diberikan setelah bayi umur 1,5 – 2 tahun 
3)    Diulang kembali dengan vaksi DT pada usia 5-6 tahun (kelas 1 SD)
4)     Diulang lagi pada umur 10 tahun ( menjelang tamat SD kelas 4)
Reaksi dari pemberian Imunisasi DPT :
1)    Demam ringan
2)    Pembengkakan dan rasa nyeri pada tempat penyuntikan 1-2 hari 
3)    Kadang-kadang reaksi yang lebih berat demam tinggi dan kejang disebabakan unsur pertusisnya.
d.    Polio
Tujuan
 pemberian vaksin ini untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit 
poliomyelitis (penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus polio).

Jadwal pemberian imunisasi polio :
Sejak
 anak baru lahir atau berumur beberapa hari, sebanyak 4 kali pemberian 
dengan dosis 2 tetes dengan jarak pemberian 4 minggu.
1)    Pemberian ulang pada umur 1,5 – 2 tahun.
2)    Vaksin polio diberikan secara bersama-sama dengan vaksin BCG, Hepatitis B dan DPT.
3)    Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi polio 45 – 100 %
e.    Campak
Tujuan
 pemberian vaksin campak untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit 
campak. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah 
dilemahkan.
Jadwal pemberian imunisasi campak :
1)    Umur 9 bulan.
2)    Kekebalan yang diperoleh 96 – 99%.
Reaksi Imunisasi Campak
1)    Demam ringan.
a)    Sedikit bercak merah pada pipi, dibawah telinga pada hari                            ke-7 dan ke-8 setelah penyuntikan.
b)    Pembengkakan pada tempat penyuntikan.
2)    Kejang-kejang ringan pada hari ke-10 sampai ke-12 tidak berbahaya.
3)    Demam sampai 38°C.
4)    Anak mempunyai riwayat kejang diberikan dengan  pengawasan dokter (Mansjoer, 2000)


9.    Tanda-tanda Bahaya yang Harus Diwaspadi pada Bayi Baru Lahir
a.    Pemafasan – sulit atau lebih dari 60 kali per menit
b.    Kehangatan – terlalu panas (38  atau terlalu dingin 36 derajat celcius)
c.    Warna – kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat, memar
d.    Pemberian makan – hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah 
e.    Tali pusat – merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah
f.    Infeksi - suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan (nanah), bau busuk, pemafasan sulit
g.    Tinja/kemih – tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering, hijau tua, ada lendir atau darah pada tinja
h.   
 Aktivitas – menggigil, atau tangis tidak biasa, sangat mudah 
tersinggung lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, kejang halus, 
tidak bisa tenang, menangis terus-menerus (Wiknjosastro, 2006).


E.    Serotinus
1.    Pengertian
Serotinus
 adalah suatu keadaan dimana plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi 
dan pertukaran CO2/O2 sehingga janin mempunyai risiko asfiksia dan 
bahkan kematian dalam rahim (Manuaba, 2002).
Istilah lain dari 
serotinus adalah kehamilan postmatur yaitu kehamilan yang berlangsung 
lebih lama dari 42 minggu, dihitung berdasarkan rumus Naegele dengan 
siklus haid rata-rata 28 hari (Mochtar, 2006).
Kurangnya sirkulasi darah menuju plasenta dapat mengakibatkan hal-hal berikut di bawah ini:
a.    Pertumbuhan janin semakin lambat
b.    Terjadinya perubahan metabolism pada janin
c.    Air ketuban berkurang dan semakin lembek
d.    Sebagian janin bertambah berat sehingga memerlukan tindakan operasi persalinan
e.    Berkurangnya nutrisi dan oksigen ke janin yang menyebabkan asfiksia dan kematian dalam rahim
f.    Pada saat proses persalinan janin lebih mudah mengalami asfiksia 
Kematian
 janin pada kehamilan serotinus dapat terjadi sekitar 25-35% dalam rahim
 dan menyebabkan persalinan dengan tindakan operasi persalinan (Manuaba,
 2002).

2.    Etiologi
Etiologi yang pasti masih belum 
diketahui, Faktor yang dikemukakan adalah hormonal yaitu kadar 
progesterone tidak cepat turun walaupun kehamilan tidak cukup bulan, 
sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Faktor lain 
adalah factor hereditas, karena postmaturitas sering dijumpai pada suatu
 keluarga tertentu.

3.    Tanda-tanda
1)    Biasanya lebih berat dari bayi matur
2)    Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur
3)    Rambut lanugo hilang atau sangat kurang
4)    Verniks kaseosa di badan kurang
5)    Kuku – kuku panjang
6)    Rambut kepala agak tebal
7)    Kulit agak pucat dengan deskuamasiepitel (Mochtar, 2006).

4.    Pengaruh terhadap Ibu dan Janin
a.    Terhadap ibu
Persalinan
 postmatur dapat menyebabakan distosia karena aksi uterus tidak 
terkoordinir, janin besar, dan moulding (kepala kurang). Maka akan 
sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia 
bahu, dan perdarahan postpartum.
b.    Terhadap janin
Jumlah 
kematian bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari kehamilan
 40 minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin 
diantaranya: berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan ada yang
 berkurang, sesuai dengan kehamilan 42 minggu dan ada pula yang bisa 
terjadi kematian janin dalam kandungan.
c.    Penatalaksanaan
1)    Setelah usia kehamilan lebih dari 40 – 42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik – baiknya.
2)    Apabila tidak ada tanda – tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dan di tunggu dengan pengawasan ketat.
3)   
 Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah
 matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi.
4)   
 Bila riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim, 
terdapat hipertensi, pre-eklamsi, dan kehamilan ini adalah anak pertama 
karena infertilitas atau pada kehamilan lebih dari 40 – 42 minggu maka 
ibu dirawat dirumah sakit.
5)    Tindakan operasi seksio sesarea 
dapat dipertimbangkan pada insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks 
belum matang, pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi 
tanda gawat janin atau pada pimigravida tua, kematian janin dalam 
kandungan, pre-eklamsia, hipertensi menahun, infertilitas, dan kesalahan
 letak janin.
6)    Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan 
bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmaturus 
kadang-kadang besar, dan kemungkinan disproporsi sefalo pelviks dan 
distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih 
peka terhadap sedative dan narkosa, jadi harus dipakai anastesi induksi 
dan jangan lupa perawatan neonatus postmaturitas perlu dibawah 
pengawasan dokter anak  (Mochtar, 2006). 

 
PANGGUL WANITA

Setiap
 wanita mempunyai anatomi panggul yang unik dan berbeda satu sama lain. 
Panggul terdiri atas bagian keras panggul (dibentuk oleh tulang) dan 
bagian lunak panggul (dibentuk otot, jaringan dan ligamen).
Fungsi bagian keras panggul wanita adalah sebagai berikut:
1.    Panggul besar untuk menyangga isi abdomen
2.    Panggul kecil untuk membentuk jalan lahir dan tempat alat genetalia
Sedangkan fungsi bagian lunak panggul wanita adalah sebagai berikut:
1.    Membentuk lapisan dalan jalan lahir
2.    Menyangga alat genetalia agar tetap dalam posisi normal saat hamil maupun nifas
3.    Saat persalinan, berperan dalam proses kelahiran dari kala uri
Ruang panggul terbagi menjadi dua yaitu:
1.    Panggul besar (pelvis mayor)
2.    Panggul kecil (pelvis minor)
Panggul besar (pelvis mayor)
Panggul
 besar adalah bagian panggul yang terletak di atas linea terminalis 
(false pelvis). Panggul besar berfungsi mendukung isi perut dan 
menggambarkan keadaan panggul kecil.
Panggul kecil (pelvis minor)
Panggul
 kecil adalah bagian panggul yang terletak di bawah linea terminalis 
(true pelvis). Panggul kecil ini merupakan wadah alat kandungan dan 
menentukan bentuk jalan lahir serta penting dalam persalinan.
Panggul terdiri dari bagian yang keras dibentuk oleh tulang dan bagian yang lunak dibentuk oleh otot-otot dan ligamen.
Bagian Panggul Yang Keras
Bagian
 keras dari panggul wanita terbentuk oleh tulang panggul. Tulang panggul
 merupakan sebuah corong, bagian atas yang lebar disebut panggul besar, 
sedangkan bagian bawah untuk menentukan bentuk jalan lahir.
Tulang panggul terdiri atas:
1.    Tulang pangkal paha(os coccae)
2.    Tulang kelangkang (os sacrum)
3.    Tulang tungging (os coxcigys)
Tulang pangkal paha (os coccae)
Tulang
 pangkal paha ada 2 buah. Tulang pangkal paha terdiri dari 3 buah tulang
 yang berhubungan dengan yang lainnya pada acetabulum. Tulang tersebut 
adalah tulang usus (os ilium), tulang duduk (os ischium) dan tulang 
kemaluan (os pubis).
Tulang usus (os ilium)
Tulang usus merupakan 
tulang terbesar panggul yang membentuk bagian atas dan belakang panggul.
 Batas atas yang tebal disebut crista illiaka. Ujung depan maupun 
belakang dari crista illiaka menonjol disebut spina iliaka anterior 
superior dan spina iliaka posterior superior. Tonjolan tulang di bawah 
spina illiaka anterior superior disebut spina illiaka anterior inferior 
dan sebelah bawah spina illiaka posterior superior terdapat spina 
illiaka posterior inferior. Di bawah spina illiaka posterior inferior 
terdapat tekik atau cekungan yang disebut incisura iskhiadika major. 
Garis yang membatasi panggul besar dan panggul kecil disebut linea 
inominata atau linea terminalis.
Tulang duduk (os ischium)
Tulang 
duduk terletak di sebelah bawah tulang usus, pinggir belakangnya berduri
 disebut spina iskhiadika. Di bawah spina iskhiadika terdapat incisura 
ischiadika minor. Bagian pinggir bawah tulang duduk sangat tebal, yang 
dapat mendukung berat badan pada saat duduk, disebut tuber iskhiadikum. 
Tuber iskhiadikum merupakan ukuran melintang dari pintu atas panggul.
Tulang kemaluan (os pubis)
Tulang
 kemaluan terletak di sebelah bawah dan depan dari tulang usus yang 
disebut dengan tulang duduk. Tulang ini membatasi sebuah lubang yang 
terdapat dalam tulang panggul, lubang ini disebut foramen obtoratorium. 
Ramus superior ossis pubis merupakan tulang kemaluan yang berhubungan 
dengan tulang usus. Sedang yang berhubungan dengan tulang duduk disebut 
ramus inferior ossis pubis. Ramus inferior kiri dan kanan membentuk 
arkus pubis. Arkus pubis normal akan membentuk sudut 90-100 derajat.
Tulang kelangkang (os sacrum)
Tulang
 kelangkang ada 1 buah. Tulang kelangkang merupakan tulang yang 
berbentuk segitiga yang melebar di atas dan meruncing ke bawah. Tulang 
kelangkang terletak di sebelah belakang antara kedua tulang pangkal 
paha. Tulang kelangkang terdiri dari 5 ruas tulang senyawa. Kiri dan 
kanan dari garis tampak 5 buah lubang yang disebut foramen sacralia 
anterior. Crista sacralis merupakan deretan cuat-cuat duri yang terdapat
 di garis tengah tulang kelangkang. Bagian atas dari sakrum yang 
berhubungan dengan 5 ruas tulang pinggang dan menonjol ke depan disebut 
promontorium. Jarak antara promontorium dan pinggir atas simfisis 
merupakan ukuran muka belakang dari pintu atas panggul. Ke samping 
tulang kelangkang berhubungan dengan tulang pangkal paha melalui 
articulasio sacro illiaca. Ke bawah tulang kelangkang berhubungan dengan
 tulang tungging.
Tulang tungging (os coxcigis)
Tulang tungging 
ada 1 buah. Tulang tungging berbentuk segitiga dan terdiri dari 3-5 
ruas, tulang yang bersatu. Pada saat persalinan, ujung tulang tungging 
dapat ditolak sedikit ke belakang, sehingga ukuran pintu bawah panggul 
bertambah besar.
Bagian Panggul Yang Lunak
Bagian panggul yang 
lunak terdiri dari otot-otot dan ligamen yang meliputi dinding panggul 
sebelah dalam dan yang menutupi panggul sebelah bawah. Bagian yang 
membentuk dasar panggul disebut diafragma pelvis.
Diafragma pelvis terdiri dari:
1.    Pars Muskularis
2.    Pars Membranosa
3.    Regio Perineum
Pars Muskularis 
Pars
 muskularis yaitu muskulus levator ani. Muskulus levator ani terletak 
agak ke belakang dan merupakan suatu sekat yang ditembus oleh rektum. 
Muskulus levator ani kiri dan kanan terdiri dari 3 bagian yaitu:
•    Muskulus pubokogsigis dari os pubis ke septum anokogsigeum
•    Muskulus illio kogsigeus dari arkus tendineus muskulus levator ani ke os kogsigis dan septum anokogsigeum
•    Musculus ischio coccygis dari spina ischiadika ke pinggir os sacrum dan os coccygis
Pars Membranosa
Pars
 membranosa yaitu diafragma urogenital. Antara muskulus pubio kogsigeus 
kiri kanan terdapat celah berbentuk segitiga yang disebut hiatus 
urigenitalis yang tertutup oleh sekat yang disebut diafragma 
urogenitalis. Sekat ini menutupi pintu bawah panggul disebelah depan dan
 ditembus oleh uretra dan vagina.
Regio Perineum
Regio perineum merupakan bagian permukaan dari pintu bawah panggul. Daerah ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:
•   
 Regio analis disebelah belakang – Pada regio analis terdapat muskulus 
spinter eksternus yang mengelilingi anus dan liang senggama bagian bawah
•   
 Regio urogenitalis – Pada regio urogenitalis terdapat muskulus 
ischiokavernosus dan muskulus transversus perinei superfisialis
Ligamen-ligamen yang penting adalah ligamen sacro illiaka, ligamen sacro spinosum dan ligamen sacro tuberosum.
Panggul Kecil (Pelvis Minor)
Panggul
 kecil merupakan tempat alat reproduksi wanita dan membentuk jalan 
lahir. Panggul kecil mempunyai 4 bidang dengan ukuran yaitu:
1.    Pintu atas panggul
2.    Bidang luas panggul
3.    Bidang sempit panggul
4.    Pintu bawah panggul
Pintu Atas Panggul
Pintu
 atas panggul merupakan batas dari panggul kecil yang bentuknya bulat 
oval. Batas dari pintu atas panggul antara lain: promontorium, sayap os 
sakrum, linea inominata, ramus superior ossis pubis dan pinggir atas 
simpisis.
Ukuran yang dapat ditentukan oleh pintu atas panggul adalah sebagai berikut:
•   
 Ukuran muka belakang (diameter antero posterior, conjugata vera) – 
Conjugata vera mempunyai ukuran normal 11 cm dan bukan merupakan ukuran 
terpendek antara promontorium dan simpisis. Ukuran terpendek adalah 
conjugata obstetrica, dari promontorium dan simpisis. Pada seorang 
wanita yang memiliki panggul sempit, conjugata vera dapat diperhitungkan
 dengan mengurangi konjugata diagonalis 1,5-2 cm. Konjugata vera (CV)= 
CD-1,5 cm.
•    Ukuran melintang (diameter transversa) – Ukuran 
normal dari diameter transversa adalah 12,5-13,5 cm. Diameter transversa
 merupakan ukuran terbesar antara linea inominata diambil tegak lurus 
pada conjugata vera.
•    Ukuran serong (obliqua) - Obliqua merupakan
 ukuran panggul yang diambil garis dari artikulasio sakrailiaka ke 
tuberkulum pubikum dari belahan yang bertentangan. Ukuran normal 13 cm.
Bidang Luas Panggul
Bidang
 luas panggul merupakan bidang dengan ukuran terbesar. Bidang ini 
terbentang antara pertengahan simpisis, pertengahan acetabulum, dan 
pertemuan antara ruas kedua dan ketiga tulang kelangkang. Ukuran muka 
11,75 cm dan ukuran melintang 12,5 cm.
Bidang Sempit Panggul
Bidang
 sempit panggul merupakan bidang panggul dengan ukuran yang terkecil. 
Bidang ini terdapat setinggi bawah simpisis, kedua spina iskhiadika. 
Ukuran muka belakang 11,5 cm, ukuran melintang 12,5 cm, diameter 
sagitalis posterior adalah dari sakrum ke pertengahan antar spina 
iskhiadika 5 cm.
Pintu Bawah Panggul
Pintu bawah panggul terdiri 
dari dua segitiga dengan dasar yang sama. Segitiga depan dasarnya tuber 
ossis ischiadica dengan dibatasi arcus pubis. Segitiga belakang dasarnya
 tuber ossis ischiadica dengan dibatasi oleh ligamentum sacrotuberosum 
kanan dan kiri.
Pintu bawah panggul mempunyai 3 ukuran:
•    Ukuran muka belakang dari pinggir bawah simpisis ke ujung sakrum, normal 11,5 cm.
•    Ukuran melintang, antara ujung sakrum ke pertengahan ukuran melintang, normal 10,5 cm.
•    Diameter sagitalis, dari ujung sakrum ke pertengahan ukuran melintang dengan ukuran normal 7,5 cm.
Ukuran-Ukuran Panggul
Ukuran
 panggul kecil dapat diperiksa secara klinis dengan melakukan 
pemeriksaan dalam ataupun dengan rontgenologi. Ukuran-ukuran panggul 
luar antara lain:
1.    Distantia spinarum
2.    Distantia kristarum
3.    Konjugata eksterna (boudeloque)
4.    Ukuran lingkar panggul
Distantia Spinarum
Jarak antara spina iliaka anterior kiri dan kanan, ukuran normal 23-26 cm.
Distantia Kristarum
Jarak yang terjauh antara krista iliaka kanan dan kiri, ukuran 26-29 cm.
Konjugata Eksterna (boudeloque)
Jarak antara pinggir atas simpisis dan ujung processus spinosus tulang lumbal V, ukuran 18-20 cm.
Ukuran Lingkar Panggul
Dari
 pinggir atas simpisis ke pertengahan antara spina iliaka anterior 
superior dan trochanter mayor sepihak dan kembali melalui tempat yang 
sama, di pihak lainnya ukuran 80-90 cm.
Inclinatio Pelvis
Inclinatio
 pelvis adalah sudut antara PAP dengan bidang sejajar pada wanita 
berdiri. Sudut ini sebesar 55 derajat. Besar dan kecilnya dapat 
mempengaruhi proses persalinan.
Sumbu Panggul
Sumbu panggul adalah
 garis yang menghubungkan pusat-pusat dari beberapa bidang di dalam 
panggul berupa garis lurus di bagian atas sampai suatu titik sedikit di 
atas spina ischiadika dan kemudian melengkung ke depan di daerah PBP.
Bidang Hodge
Bidang hodge adalah bidang khayal untuk menentukan seberapa jauh bagian depan anak turun ke dalam rongga panggul.
Bidang hodge terbagi menjadi:
1.    Hodge I : sama dengan PAP
2.    Hodge II : sejajar hodge I melalui pinggir bawah simpisis
3.    Hodge III : sejajar hodge I melalui spina ischiadica
4.    Hodge IV : sejajar hodge I melalui ujung os coccygis
 
Gambar. Bidang Hodge
Bentuk Panggul
Klasifikasi menurut Caldwell dan Molloy, bentuk panggul terbagi menjadi 4 yaitu:
1.    Panggul gynecoid
2.    Panggul android
3.    Panggul anthropoid
4.    Panggul platypeloid
Panggul Gynecoid
Panggul yang paling ideal. Diameter anteroposterior sama dengan diameter transversa bulat. Jenis ini ditemukan pada 45% wanita.
Panggul Android
Bentuk
 pintu atas panggul hampir segitiga. Umumnya pada panggul pria. Panjang 
diameter transversa dekat dengan sakrum. Pada wanita ditemukan 15%.
Panggul Anthropoid
Bentuk
 pintu atas panggul agak lonjong seperti telur. Panjang diameter 
anteroposterior lebih besar daripada diameter transversa. Jenis ini 
ditemukan 35% pada wanita.
Panggul Platypeloid
Merupakan panggul 
picak. Diameter transversa lebih besar daripada diameter 
anteroposterior, menyempit arah muka belakang. Jenis ini ditemukan pada 
5% wanita.

 
Referensi

ayurai.wordpress.com/2009/06/27/anatomi-tulang-panggul/ unduh 8 Maret 2011 01:05 PM
bidanshop.blogspot.com/2010/04/panggul-wanita-bidang-dan-ukurannya.html unduh 15 Maret 2011 11:05 PM
http://bidanbidan.blogspot.com 
Depkes RI. 1993. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga. Cetakan Ke III. Jakarta.
Kusmiyati, Y. 2010. Perawatan Ibu Hamil. Cetakan ke VI. Fitramaya. Yogyakarta.
Neil, W.R. 2001. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta. Dian Rakyat.
Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. EGC. Jakarta.
Scott, J. 2002. Danforth Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Widya Medika. Jakarta.
scribd.com/doc/21110298/Cakul-Obgyn-Plus-Fkui unduh 15 Maret 2011 10:35 PM
Advertisement (Dibawah ini adalah Iklan)
loading...