Asma’ Binti Abu Bakar Shiddiq Penjaga Rahasia Besar

By On Tuesday, March 4th, 2014 Categories : Cerita

Jarang sekali menemukan seorang wanita seperti Asma’ “Si Dua Sabuk.” Dia adalah putri dari Abu Bakar Shiddig r.a ini terkumpul seluruh segi mulai dari kehormatan, kehormatan dunia dan kehormatan akhirat.

Asma adalah seorang wanita yang hebat. Dalam sejarah Rasulullah, tidak dapat tidak mesti menyebut nama Asma’, karena ia ikut langsung menjadi arsitek dari Islam. Ia adalah wanita satu-satunya yang muncul dalam peristiwa hijrah dan pelarian Rasulullah, dan dia pulalah yang pulang-pergi mengantarkan makanan dan minuman beliau dan para sahabat ke gua Tsur.

Tidak ada seorang wanita pun di dunia ini mempunyai kehormatan seperti itu. Satu buku yang tebal belumlah cukup untuk menulis riwayat hidupnya, kepribadian, kehidupan sehari-hari, kegiatan, serta kelebihan-kelebihan lainnya. Hanya dia diantara teman-temannya yang benar-benar seorang perempuan yang didalam sejarah hidupnya ditemukan unsur seorang gadis yang budiman. Unsur seorang istri yang berbakti, dan unsur seorang ibu ideal yang memiliki sifat-sifat dan kelebihan-kelebihan tersendiri yang jarang ditemukan di dalam diri seorang wanita.

Asma’ adalah putri Abu Bakar Shiddig, sahabat Rasulullah, dan orang Islam pertama yang mengorbankan kekayaan dan jiwanya untuk perjuangan menegakkan agama. Ibunya adalah seorang wanita terkemuka dalam pergaulan wanita-wanita bangsawan, bernama Katilah binti Abdul Uzza, yang diceraikan suaminya, Setelah Asma’ lahir, ibunya pulang kembali ke tengah keluarganya, sedangkan Asma’ tetap tinggal di bawah asuhan ayahnya. Abu Bakar Shiddiq.

Asma’ adalah salah seorang yang pertama kali masuk Islam. Urutannya adalah yang ketujuh belas dari orang yang mula-mula beriman dan mengakui Allah dan Rasul-Nya. dan imannya adalah iman yang melibatkan seluruh pikiran, hati dan perasaannya.

Ketika tekad Rasulullah sudah bulat untuk berhijrah, dan waktunya sudah beliau tentukan, serta beliau sudah berangkat bersarna sahabat setia beliau, Abu Bakar Shiddiq, ke gua Tsur untuk bersembunyi. Asma’ adalah satu-satunya wanita yang mengetahui gerak-gerik dan rencana Rasulullah serta Abu Bakar juga tiga orang lainnya. Yaitu saudaranya, Abdullah bin Abu Bakar, Amir bin Fuhairah dan Abdullah bin Uraiyath.

Banyak orang mengatakan bahwa wanita tidak bisa dipercaya. Tetapi gerak-gerik dan pelarian Rasulullah itu merupakan suatu rahasia yang sangat besar. dan yang.tahu rahasia itu adalah seorang wanita. Tetapi rahasia itu tidak sampai bocor, tetap.tertutup rapat.

Seandainya Asma’ membuka rahasia itu, apakah yang akan terjadi? Seandainya rahasia itu sampai ke telinga orang-orang kafir maka umat manusia ini pasti akan tenggelam di dalam penyembahan berhala yang terkutuk itu sampai hari kiamat nanti. Meski dengan tindakannya menyimpan rahasia itu sangat besar resikonya, tetap ia mampu lakukan. Dan ia selalu berusaha agar tidak diikuti oleh mata-mata atau pengintai-pengintai saat Asma’ mengirim makanan dan minuman ke gua Tsur. Dan Islam pun berjalan di dalam garis yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.

Telah menjadi kenyataan bahwa Islam telah menunjukkan, laki-laki bukanlah satu-satunya pembangun kebesaran Islam. Tetapi wanita pun telah ikut andil dengan jiwa, harta, dan martabatnya, serta seluruh tenaga dan daya yang diberikan Tuhan kepadanya.

Siti Khadijah, misalnya, telah mendukung Rasulullah dengan segenap kekayaan, harga diri, dan kemampuan yang dimilikinya. Khadijah telah memberi Rasulullah ketenangan hidup, sehingga beliau dapat beribadat sepenuhnya. Kemudian ikut berdakwah ketika Muhammad telah diangkat menjadi Nabi dan harus menyampaikan risalahnya, serta menjadi rekan dan pembantu terbaik.

Nama Khadijah selalu beliau sebut-sebut dengan indah, karena sampai beliau meninggal dunia selalu beliau lukiskan dengan lukisan paling bagus yang pernah diterima oleh seorang wanita, atau lebih dari itu lagi.
“Rasulullah hampir selalu menyebut-nyebut nama Khadijah bila saja hendak pergi, lalu memuji-mujinya,” kata Aisyah r.a.
Pada suatu hari Rasulullah memuji-muji Khadijah. Kali ini aku tak tahan, sehingga aku berkata, perempuan nenek-nenek begitu, padahal Allah telah memberi gantinya dengan yang lebih baik. Rasulullah marah sekali, sehingga jidat beliau bergerak-gerak karena sangat marahnya.

“Tidak, demi Allah. Allah tidak pernah menggantinya dengan yang lebih baik. Ia beriman kepadaku di saat-saat semua manusia kafir. Ia beriman kepadaku di saat seluruh manusia durhaka, dan ia mengorbankan seluruh harta kekayaannya di saat-saat orang tidak ada yang rnembantuku, serta darinyalah Allah mengaruniaiku beberapa orang anak, sedangkan dari yang lain-lain tidak ada,” katanya.

Keikutsertaan wanita di dalam membangun singgasana Islam adalah suatu keikutsertaan yang wajar, tangguh, dan efektif. Mereka ikut serta dengan jiwa dan harta benda mereka. Dalam berhijrah ke Abbsinia, wanita bergandeng bahu dengan laki-laki serta berjuang dengan sungguh-sungguh.

Salah seorang dari mereka adalah Asma’, putri Abu Bakar. Dia adalah orang ketiga perencana menyembunyikan diri dan hijrah, yaitu Muhammad, Abu Bakar dan Asma’. Tidak ada seorang pun yang tahu selain dia, tentang rencana yang berbahaya itu. Dan tidak ada seorang pun selain Asma’ yang mengetahui di mana Nabi dan Abu Bakar bersembunyi.

Asma’ berkali-kali mengunjungi rnereka dengan sangat hati-hati, sehingga jejaknya tidak dapat diikuti oleh orang-orang Ouraisy yang sedang mencari Muhammad dan sahabat-sahabat beliau untuk mereka bunuh.

Asma’ digelari “Si Dua Sabuk”, sebagai penghormatan dan penghargaan atas tindakannya membelah dua ikat pinggangnya untuk mengulurkan makanan dan minuman Rasulullah. Meskipun ada di antara orang-orang Islam yang mencemari kehormatan beliau. Seperti penduduk Syria dan Hajjaj bin Yusuf As Sagafi, yang membunuh putra Rasulullah, Abdullah.

Hijrah Rasulullah dihiasi oleh banyak pengorbanan Asma’. Yang terpenting, ketika ayahnya mengangkut semua harta benda yang dimilikinya tetapi Asma tidak mengeluh, bahkan senang dan berbahagia.

Abu Quhafah ayah Abu Bakar, sampai berkata kepada Asma’ setelah beliau pergi.
“Demi Allah, ia terlalu kejam kepada kita dengan meninggalkan dan membawa seluruh miliknya!”
“Tidak, Kek. Banyak sekali kebaikan yang beliau tinggalkan buat kita.” jawab Asma’.
Asma’ lalu mengambil beberapa butir batu, kemudian meletakkannya di sela-sela dinding tempat ayahnya biasa menyimpan barang-barangnya. Lalu rnenutupnya dengan kain. Dipegang tangan kakeknya, lalu dimasukkan ke dalam lubang itu.
“Ini Kek, barang-barang yang ditinggalkan ayah buat kita!” katanya.
“Hmm, baik. Bila ini yang ditinggalkan buat kita. Sungguh baik dia, dan ini cukup untuk bekal kita!” kata kakek Asma’. Padahal Abu Bakar tidak meninggalkan sesuatupun. Tindakan Asma’ itu hanya sekedar untuk menenangkan hati kakeknya.

Peristiwa di atas menunjukkan tentang kepribadian Asma’. Ia tidak mengeluh karena ayahnya membawa semua harta bendanya. Ia menyadari bahwa sang ayah pergi untuk menemani Rasulullah. Mereka akan pergi ke suatu negeri yang belum mereka kenal, dan perjalanan itu memerlukan bekal. Sementara Asma’ hidup di negeri sendiri, yang tentu dapat mudah mengurus diri, mengusahakan kebutuhan sendiri. Hati Asma’ gembira dengan nasehat yang ditinggalkan ayahnya, dan membuat ia tenang tinggal bersama kakeknya. Sehingga ia tak cemas dengan apa yang akan terjadi dalam kehidupan mereka nantinya. Kepribadiannya yang terbesar dalam krisis keuangan itu memang ketabahannya serta ketenangan dan tidak susah menerima cobaan yang kelihatannya perih, tetapi pada hakekatnya membahagiakan. Hal itu karena Asma’ rela dan senang dengan tindakan ayahnya. Oleh karena itu ia tidak mengeluh dan tidak mementingkan diri sendiri.

Asma’ binti Abu Bakar adalah seorang wanita muslimah dan mukminah, dan salah seorang pembangun sejarah umat manusia dan Masyarakat Islam yang dicita-citakan. Semoga kita dapat memiliki apa yang dimiliki wanita pejuang yang besar seperti dia.