Amran dan Mimpi

By On Wednesday, April 30th, 2014 Categories : Cerita

Cerpen anak – AMBILKAN bulan, bu. Ambilkan bulan, bu, yang selalu bersinar di langit. Di langit, bulan benderang. Cahayanya sampai ke bintang. Ambilkan bulan bu, ambilkan bulan, bu. Untuk menerangi, tidurku yang lelap di gelap.

Plok, plok, plok. Suara tepuk tangan menggema di ruang kelas 5 SD Tunas Bangsa. Siulan juga tak kalah bersahutan.

Amran pun turun dari panggung kecil di kelasnya. Teman sebangku Rendy itu pun kembali ke mejanya. “Suaramu bagus, Am. Sangat bagus, kenapa kamu nggak bercita-cita jadi penyanyi saja?” tanya Rendy.

“Ah, nggak boleh sama ibu. Kata beliau, aku harus jadi dokter atau arsitek,” jawab Amran.

“Kenapa? Bukannya kalau jadi penyanyi malah sering masuk tv dan terkenal?”

“Nggak tahu. Ibu nyuruhnya jadi dokter, kalau nggak ya arsitek. Nggak boleh jadi penyanyi,” kata Amran yang membuat Rendy bingung bertanya apalagi.

(***)
“Amran, Amran, ada lomba menyanyi tuh,” kata Shandy, teman sekelas Rendy dan Amran.

“Wah, di mana Shand? Ayo, ikut Am, kamu harus ikut..,” ucap Rendy sambil menyemangati Amran.

“Ah, ngapain. Paling juga nggak boleh sama ibu. Kalau ketahuan, aku bisa dimarahin,” jawab Amran dengan malas.

“Ayolah, Am. Mumpung ada kesempatan lho. Nanti nyesel nggak ikut lomba-lomba seperti ini,” rayu Rendy.

Amran berpikir sejenak. “Iya yah, sayang kalau kesempatan ini nggak dimanfaatin. Tapi kan, ibu melarangku untuk bernyanyi. Jangankan di depan umum, di depan ibu saja aku tidak boleh,” kata Amran dalam hati. “Gimana ya? Aku takut dimarahin. Lagian, itu lomba pasti bayar mahal kan? Mana ada uang?”

“Ah, gampang… Kan ada kita, Am. Jadi kamu nggak perlu khawatir.”

“Apa yang akan kamu lakukan, Ren?” selidik Amran.

Rendy hanya menepuk dadanya seolah berkata, “tenang saja. Semua aman.”

(***)
Hari perlombaan pun datang. Amran pun bersiap-siap.

“Om, tante, izinkan Amran ikut lomba nyanyi yah?” bujuk Rendy pada orangtua Amran saat mereka akan pergi.

“Nggak, Ren.. Tante nggak izinin. Buat apa nyanyi, mending dia belajar biar jadi dokter atau arsitek,” kata ibu Amran.

“Tapi kan, Amran punya suara yang bagus, tante. Boleh ya? Sekali ini saja.” Sekarang gantian Shandy yang membujuk ibu.

“Pokoknya, kalau tante bilang nggak ya nggak. Sudah, daripada kalian kayak gini, mending belajar, biar tambah pinter.”

Tiba-tiba, Amran datang dan langsung merayu ibunya. “Ibu, sekali ini saja. Yah? Gini deh, kalau Amran gagal, maka Amran nggak akan lagi minta untuk lomba. Ya bu? Mau ya?”

Ibunya pun diam dan berpikir sejenak. Ia menghela nafas. “Baiklah… Hanya sekali ini saja ya.”

“Yeeeeyyyy,” sorak ketiga anak ini. Amran pun membatin akan memberikan yang terbaik untuk teman-temannya yang sudah iuran demi biaya pendaftaran, Rendy dan Shandy, dua sahabat setianya, serta tentu saja ibunya. Ia akan membuktikan pada ibunya, ia bisa bernyanyi.

(***)
“Hanya ini kunyanyikan senandung dari hatiku untuk mama. Hanya sebuah lagu sederhana, lagu cintaku untuk mama.”

Suara tepuk tangan riuh rendah bersahutan. Amran mendapat sambutan yang paling meriah di antara semua peserta. Ya, suaranya yang merdu, penampilan yang apik, membuat semua orang memberikan tepuk tangannya.

Termasuk sang ibu. Matanya tampak berkaca-kaca. Berkali-kali, ia harus membalas jabat tangan dari beberapa penonton. Ia tak menyangka, jika suara Amran begitu merdu.

“Dan, pemenang lomba menyanyi tahun ini adalah Amran dari SD Tunas Bangsa,” kata ketua dewan juri saat pengumuman pemenang.

Tepuk tangan sekali menggema. Amran menggenggam pialanya erat-erat. “Piala ini untukmu, ibu. Terima kasih sudah memberikan kepercayaan kepada Amran. Amran tidak akan pernah mengecewakan. Terima kasih, ibu.” (*)

Nama Penulis: Sri Juliati