Alasan Mengapa Semakin Tua Manusia Jadi Semakin Bijak

By On Wednesday, February 1st, 2017 Categories : Sehat

Dibandingkan mereka yang masih muda orang tua cenderung berperilaku bijak dan menjauhi perilaku berisiko. Sikap tersebut bisa karena memang orang tua memiliki banyak pengalaman hidup, atau bisa juga karena struktur otaknya mendorong perilaku tersebut seperti ditemukan studi.

Tim peneliti dari Yale University dan New York University melihat bahwa semakin tua materi abu-abu (gray matter) di otak bagian posterior parietal cortex akan semakin berkurang. Bagian tersebut bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan.

Di dalam studi, para partisipan yang berusia 18-88 tahun disurvei untuk memilih antara pasti mendapat uang lima dolar atau acak mendapat lima sampai 120 dolar namun dengan kemungkinan gagal. Hasilnya seperti yang sudah diprediksi partisipan yang usianya masih muda cenderung memilih kemungkinan mendapat lebih banyak uang meski ada risiko gagal.

Peneliti lalu juga melakukan pemeriksaan otak dan mencocokkan masa abu-abu otak tiap partisipan dengan pilihannya dalam survei. Peneliti melihat ada korelasi antara tingkat materi abu-abu yang rendah dengan kecenderungan menghindari risiko.

Memang diakui bahwa korelasi keduanya kecil namun menurut salah satu peneliti Ifat Levy dari Yale University studi ini paling dekat menjelaskan sifat bijak yang dimiliki orang tua.

“Dilihat dari berbagai sisi masuk akal jika orang dewasa tua mengambil lebih sedikit risiko daripada yang lebih muda. Bisa karena mereka tidak lebih mampu menghadapi konsekuensi yang menyertai dan bisa karena mereka lebih sedikit waktunya untuk hidup sehingga tidak punya cukup ‘waktu’ untuk memperbaiki kesalahan,” ungkap Ifat kepada Live Science dan dikutip pada Rabu (14/12/2016).

Mengapa orang dewasa muda lebih cenderung untuk mengambil risiko disebut Ifat juga masuk akal. Saat muda manusia butuh banyak akses terhadap sumber daya salah satunya dengan mengambil risiko agar bisa memastikan hidup keturunannya.

“Orang dewasa muda perlu mengurus anak mereka dan sebagainya sehingga pilihan ‘aman’ mungkin masih belum cukup untuk memperoleh yang mereka butuhkan,” pungkas Ifat.