Aku, Kamu, Bukan Kita

By On Friday, March 3rd, 2017 Categories : Cerita

Saat itu, perasaan yang katanya hal lumrah dirasakan oleh setiap remaja SMA menghampiri hatiku. Aku, Aisyiah Rahma Sari siswa SMA kelas 10 yang sedang merasakan betapa hebatnya jatuh cinta. Memandang wajahnya menjadi hobi baruku kala itu, aku tak kunjung bosan berpatroli di sekitar kelasnya hanya untuk melihat kegiatan apa yang sedang ia lakukan. Aku jatuh cinta kepadanya.

Vito Cristian Tarigan, darah Batak yang tengah memenuhi setiap ruang di hatiku. Wajahnya tidak terbilang tampan, namun aura dalam dirinya yang mampu menarik hatiku. Entah sejak kapan aku memperhatikannya, hingga teman-temanku hanya dapat menggelengkan kepala apabila aku menunjukkan betapa tergila-gilanya aku terhadap dirinya.

“Ai, dia beda, kalian susah buat jadi satu.” Tegur Aulia, sahabat karibku saat aku menceritakan tentang Vito, yang memang status agamanya beda denganku.
“So? Tuhan aja mempertemukan kita, ini takdir Aulia. Yang beda akan jadi satu,” tetapi jawaban yang sama selalu terlontar dari bibirku ketika teman-temanku menegur bahwa perasaan yang kumiliki salah.

Hari berganti hari aku juga tak tahu dengan jelas bagaimana prosesnya, tanpa disengaja aku bisa dekat dengan Vito. Dia ternyata lebih menakjubkan dari apa yang aku pikirkan, dia pantang sekali melihat perempuan menangis.
“Walaupun katanya orang Batak itu kasar-kasar, tapi jujur aja hatiku teriris banget kalau lihat perempuan nangis. Mungkin aku ini orang Batak yang hatinya paling lembut seIndonesia, hahaha,” katanya. Kata-kata itu pun selalu terngiang dalam benakku, benar saja dia tak pernah membuatku menangis. Bahkan, ketika dia berbuat kesalahan kepadaku walaupun itu hanya kesalahan kecil, dia akan mengucapkan beribu kata maaf kepadaku. Kebiasaannya yang sangat takut membuat orang lain marah dan seringnya meminta maaf kerapkali aku jadikan sebagai bahan candaan bersama teman-temanku.
“Aku mau kita lebih dari teman Aisyah Rahma Sari.” Ucapan yang hampir membuat jantungku lompat dan menari-nari di udara. Ucapan yang paling aku tunggu-tunggu.
“Ih, namaku Aisyiah bukan Aisyah.” Aku sengaja mengalihkan pembicaraan agar ekspresi gugupku tak terbaca olehnya.
“Beda ya? Maaf deh. Terus jawabannya apa?” lagi-lagi kata maaf.
“Kasih aku waktu 3 hari” aku sengaja meminta waktu untuk berpikir, agar tak terlihat terlalu agresif di matanya. Bisa jatuh harga diriku sebagai pelajar teladan di sekolah (memangnya apa hubungannya?). padahal aku ingin sekali langsung menjawab “iya”.
“Tidak kelamaan? Baiklah akan aku tunggu.”

Sungguh panjang rasanya menunggu hari ketiga itu datang. Karena aku tak sabar menunggu, akhirnya keesokan harinya aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan kepala. Betapa bahagianya dia sore itu sepulang sekolah. Awalnya teman-temanku tak habis pikir dengan tindakanku untuk berpacaran beda agama, tapi seiring berjalannya waktu mereka menerima keputusanku. Orangtuaku sudah pasti tidak tahu, untuk berpacaran saja aku dilarang keras apalagi jika mereka tahu aku berhubungan dengan Vito yang latar belakangnya adalah pemeluk agama kristen.

Aku bahagia menjalin kasih dengan Vito, hubungan kami tak pernah diluar batas. Vito sangat menghargai aku sebagai pemeluk agama islam, bahkan dia sering mengingatkanku untuk menunaikan sholat 5 waktu yang menjadi kewajiban untuk setiap orang muslim, sesekali dia juga ingin merasakan bagaimana rasanya berpuasa. Aku pun sebaliknya, aku juga menghargai agama yang diyakininya.

“Ai, kok kamu gak pakai jilbab sih kayak teman-teman perempuan muslim kita yang lain?” Vito menanyakan hal yang tidak kuduga, saat kami sedang belajar bersama di perpustakaan.
“Memangnya kenapa? Aku jelek gitu kalau gak pakai jilbab?”
“Bukannya gitu, cuma kayaknya kalau pakai jilbab kamu tambah cantik deh.”
“Gombal banget. Aku belum siap Vit.” Jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari buku-buku di depanku.
“Tapi katanya menutup aurat itu wajib untuk perempuan muslim. Jadi semua perempuan muslim harus pakai dong, siap gak siap.” Aku merasa tertohok dengan kata-kata Vito kala itu.

Saat pulang sekolah aku diberitahukan oleh mamaku bahwa sehabis ujian kenaikan kelas, aku akan pindah ke pulau Sulawesi. Betapa terkejutnya aku, pikiranku langsung tertuju pada Vito, bagaimana hubunganku jika harus berada pada jarak yang jauh dengannya. Aku tak terima dengan keputusan orangtuaku itu, aku berlari keluar rumah mencari tempat untuk melampiaskan kemarahanku. Aku duduk di bangku taman sambil menutupi wajahku yang telah berlinang air mata, tanpa kusadari seseorang telah duduk sedari tadi di sampingku.

“Kamu nangis? Kenapa? Ayo cerita sama aku.” Ternyata Vito.
Cukup lama aku berpikir, merangkai kata yang harus aku keluarkan.
“Aku mau pindah ke Sulawesi Vit.” Aku pun membuka suara.
Terlihat ekspresi terkejut dari wajah Vito, dia tak mengucapkan sepatah katapun. Hening, hanya desiran angin yang membelai lembut tubuh kami berdua.
Setelah beberapa menit saling berdiam diri, Vito pun mengeluarkan suaranya.
“Aku antar pulang ya. Udah hampir gelap, kamu mau sholat maghrib kan?” dia langsung berdiri untuk menghampiri motornya tanpa menunggu respon dariku, aku pun hanya mengikutinya dari belakang.

Sejak hari itu Vito seperti menghindar dariku, dia tak ingin berpapasan denganku. Apabila ia melihatku dari kejauhan, dia akan berpindah tempat untuk menghindariku. Aku datang ke kelasnya, teman-temannya selalu mengatakan dia tidak ingin diganggu.

Ujian kenaikan kelas sudah hampir selesai, itu artinya hari keberangkatanku ke Sulawesi akan semakin dekat. Aku bingung bagaimana caranya mengucap salam perpisahan dengan Vito kalau dia saja tak ingin bertemu denganku.
“Vito… Jangan lari, aku capek.” Sepulang sekolah aku mengejarnya untuk bisa berbicara dengannya. Mendengar suaraku dia pun menghentikan langkahnya. Aku maju beberapa langkah agar bisa sejajar dengan tempatnya berdiri. Tapi dia mencegahku.
“Cukup di situ, aku gak kuat melihat wajahmu kalau kamu cuma mau bilang pisah sama aku.” Aku menurutinya, aku berdiri sekitar 5 meter di belakangnya.
“Hei, siapa yang mau pisah sama kamu? Aku cuma pindah tempat tinggal Vito Cristian Tarigan, tapi hati aku tetap di sini. Jangan jadi pengecut Vito, liat muka aku. Mungkin hari ini, hari terakhir aku di sini. Pesawatku jam 8 nanti malam.” Tanpa terasa bulir bening telah membasahi pipiku.
“aku pulang.” Hanya itu respon yang diberikan Vito.

Pukul 19.00, Bandar Udara Achmad Yani, Semarang.
Udara dingin khas malam hari merasuki tubuhku, aku merapatkan jaketku sambil berjalan menuju ruang tunggu. Handphoneku bergetar mengagetkanku. Ternyata bbm dari Vito, buru-buru aku melihatnya.
“PING!!!”
“Aku di lobby, masih mau lihat wajah menjengkelkanku?”

Tanpa berpikir panjang, aku izin kepada orangtuaku, dan berlari ke area lobby bandara. Mataku mencari-cari sosok Vito.
“Hei cantik, aku pikir kamu gak mau lihat aku lagi.”
“Jahat.” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.
“kamu juga jahat, tega-teganya kamu ninggalin aku. Ini biar kamu selalu ingat sama aku. Maaf ya gak sempat aku bungkus.” Ucap Vito sambil menyodorkan sebuah jilbab kepadaku.
“Jilbab?” aku mengerutkan kening.
“Pakai kalau kamu udah siap.” Vito tersenyum.
“Siap bos. Aku juga punya sesuatu buat kamu. Nih, jam tangan.” Aku pun memberi kotak jam tangan kepada Vito.
“Makasih. Kenapa jam tangan?” Tanya Vito kepadaku.
“Aku mau kamu selalu ingat kenangan manis kita dari jam itu, setiap detik yang pernah kita jalani sama-sama.” Aku berusaha untuk tersenyum.
“Aku mau jangan ada tangisan malam ini. Karena kita harus yakin, malam ini bukan pertemuan terakhir kita. Kita bakal ketemu lagi nanti, aku janji dan kamu harus yakin sama aku.” Aku hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
“20 menit lagi jam 8, hati-hati ya. Aku tunggu sampai pesawat kamu berangkat”
Aku dan Vito pun berpisah.

Aku menitikkan air mata saat pesawat telah lepas landas dari Bandar Udara Achmad Yani, tapi segera kuseka air mataku saat mengingat perkataan Vito “kita pasti akan bertemu lagi”. Setelah merasakan betapa penatnya duduk di kursi, burung besi yang kami tumpangi pun mendarat di Bandar Udara Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Sulawesi Tengah.

Awalnya hubungan jarak jauh yang kami jalani memang terasa manis, tapi lama kelamaan semuanya berubah. Kita tak punya banyak waktu untuk sekadar chatingan Karena terhalang kesibukan masing-masing. Disaat aku ada waktu luang Vito malah sibuk dengan organisasinya, ketika Vito punya waktu luang aku sibuk dengan kegiatan bimbelku.
“PING!!!”
“Lgi ap?”
Vito memulai pembicaraan duluan.
“Nyatai aj. Dah lma loh Vit kita gk chatan gini.”
“Iya Ai. Sebenernya aku mau ngomong sesuatu.”
“Ap? Ngomong aj, santai kali Vit.”
“Aku sadar skrang, kita emg beda Ai. Kita gk bisa nyatu. Terlalu bnyak rintangan dlm hubngan kita, jarak kita skrang bener2 jauh Ai.”
“Hm, terus?”
“Aku rasa kita sampai sni aj Ai. Aku yakin kamu pasti juga capek buat terus sembunyiin hubungan kita dari orangtua kamu.”
“sampai sini aja Vit? Mana janji-janji manis kamu Vit? Kalau cuma kayak gini, kmu gak perlu bawa aku terbang ke langit indah kamu, kalau akhirnya kamu lepasin aku gitu aja sampai aku jatuh ke daratan dengan rasa sakit yang aku sndri gk tau gmana ngobatinnya.”
“Maaf Ai”
“Maaf? Aku bosen dengar kata maaf kamu yang gk ad gunanya itu.”
Aku langsung menonaktifkan handphoneku dan bersembunyi di balik tebalnya selimutku sambil menangis dalam diam.

Aku tak menyangka bahwa Vito melakukan ini kepadaku. Yang membuatku semakin terpuruk adalah seminggu setelah kami putus hubungan, ternyata Vito pacaran dengan Crishye teman sekelasku dulu. Pikiranku kacau, aku merasa ini tidak adil bagiku yang telah menanamkan rasa cinta di hatiku dan tumbuh dengan suburnya untuk Vito. Kenyataannya terlalu pahit bagiku. Beberapa hari bahkan bulan nilai-nilaiku turun drastis hanya karena pikiranku terfokus dengan kekecewaanku terhadap Vito. Aku juga sempat mendapat teguran dari beberapa guru yang mengajar di kelasku karena seringnya aku melamun.

Namun, aku merasa harus bangkit. Aku mulai mencari kesibukan dengan menambah jadwal bimbelku, agar dapat dengan mudah melupakannya. Pagi, siang, sore, malampun aku gunakan untuk membaca buku-buku yang sempat aku beli disela-sela sibuknya kegiatan bimbelku, sengaja aku membeli buku-buku yang berukuran tebal agar waktuku tersita untuk menyelesaikan bacaanku. Alhasil, saat pengumuman kelulusan aku menjadi 3 besar peraih nilai UN tertingi di sekolahku. Orangtuaku sangat bangga, dan aku berhasil masuk di universitas ternama di kota Makassar.

Di sinilah aku sekarang, Makassar. Aku memulai tahap hidupku selanjutnya sebagai mahasiswa jurusan psikolog. Aku memilih untuk tinggal di sebuah kosan sederhana dekat kampusku, daripada tinggal di rumah keluarga mamaku. Selain tidak ingin merepotkan, aku juga ingin belajar mandiri.

Saat aku ingin berangkat ke kampus, tak sengaja aku menemukan jilbab yang dulu diberikan Vito kepadaku. Aku mencobanya dan berpikir apakah memang lebih cantik memakai jilbab seperti yang dikatakan Vito dulu? Aku tersenyum melihat pantulan wajahku dari cermin, aku jadi teringat Vito.

Sesampaiku di kampus, aku sibuk mencari kak Mirna, senior yang memang sangat dekat denganku. Setelah berkeliling tapi aku tak menemukan batang hidungnya, aku pun mengirim pesan kepadanya untuk menemuiku di kantin. Aku rasa tidak sopan memang menyuruh senior untuk mendatangiku, tapi untuk kak Mirna itu tidak masalah.

“Assalamualaikum, kenapa ki’ dek? Kayak penting sekali yang kita mau bilang,” kak Mirna menghampiriku dengan logat kental makassarnya. Perempuan syar’I yang menjadi gudang tempatku bertanya.
“Walaikum salam kak, sekitar 3 tahun yang lalu toh mantanku kasih ini ke saya kak.” Sambil memperlihatkan jilbab yang diberikan Vito kepadaku. Semenjak sering bergaul dengan kak Mirna, aku jadi ikut-ikutan berlogat Makassar.
“Aih, nasuruh ki’ itu tutup aurat ta’ dek.”
“Begitukah kak?”
“Iyalah, percaya moko sama saya. Lagipula cantik ki’ juga kalau pake hijab dek, baru bebas ki’ dari godaan laki-laki nakal.”
“Kristen itu mantanku kak.”
“Begini dek, pacaran itu tidak boleh dalam agama ta’ saya yakin kita tahu ji juga toh? Apalagi ini pacaran sama beda agama. Susah ki’ dek, kalau memang ada orang yang kita suka cintailah dia dari doa dek. Allah paling suka orang begitu. Tutup mi aurat ta’ dek, baru minta ampun ki’ sama Allah, janji tidak mau ki’ lagi buat kesalahan yang sama. Insya Allah belum terlambat ki’ untuk tobat dek. Pergi ka’ dulu nah ada jam kuliahku ini. Dadah.” Kak Mirna melambaikan tangan kepadaku. Aku merenungi kata-kata kak Mirna barusan, tanpa sadar bulir bening berhasil lolos dari pelupuk mataku mengingat seberapa banyak dosa yang telah kuperbuat.

Hari ini seperti hari-hari sebelumnya aku berangkat kuliah pagi-pagi dan sampai di kampus dengan tujuan pertama adalah kantin. Namun, ada yang sedikit berbeda dariku hari ini, hari ini kepalaku ditutupi oleh kain cantik pemberian Vito dengan pakaian longgar berwarna senada. Ya, aku memutuskan untuk memakai jilbab mulai sekarang. Aku sadar sedari dulu telah banyak aturan yang aku langgar, namun hari ini aku ingin menebus semuanya. Menjadi insan yang patuh dan taat oleh ketetapan yang telah ditetapkan-Nya. Aku bukannya telah menjadi orang paling baik sekarang, tapi aku sedang dalam perjalanan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Terima kasih Vito, yang kamu dan teman-temanku katakan memang benar. Kita beda, kita susah buat nyatu, tapi setidaknya kita bisa satu dalam ikatan pertemanan. Aku berharap suatu hari nanti kamu dapat menemukan pasangan hidupmu yang tentunya lebih baik dari Aisyiah Rahma Sari ini yang memiliki setumpuk kekurangan.