Aku dan Perempuan Tua

By On Friday, March 3rd, 2017 Categories : Cerita

Namaku Lyra. Usiaku 15 tahun. Sejujurnya aku tak suka nama itu, terkesan terlalu cengeng. Tapi perempuan tua yang selalu mengetik sepanjang malam memberiku nama tersebut. Aku tak bisa mengelak ataupun memprotes sedikitpun padanya, sebab kisah hidupku sudah sepenuhnya ia yang menetukan.

Meskipun sejatinya aku berasal dari keluarga penenun, tapi aku pandai. Aku pandai sekali melukis. Lukisanku pun mulai mengikuti pameran demi pameran. Sudah bukan rahasia lagi bahwa aku adalah pelukis termuda dalam pameran yang diadakan setiap libur musim panas dan musim dingin.

Suatu ketika, perempuan tua itu menakdirkan seorang lelaki memintaku untuk melukis seluruh sisi istananya, baik luar maupun dalam. Tentunya aku tak dapat menolak tawaran ini karena menurut perempuan tua aku akan mendapatkan imbalan yang tak pernah kuduga. Aku pun mulai menyicil proyek besarku setiap pulang sekolah. Ternyata laki-laki berjenggot yang biasa disapa Eyang Elang oleh warga kerajaan itu memiliki seorang cucu laki-laki. Namanya Altair. Orangnya tampan dan pekerja keras. Menurut pelayan istana, Altair adalah satu-satunya pewaris tahta Kerajaan Muchu karena Eyang Elang hanya memiliki seorang anak perempuan dan ia adalah satu-satunya cucu laki-laki.

Terkadang jika malas menenun, aku mulai mengerjakan proyek sejak pagi. Alih-alih melukis rumah kakeknya, aku seringkali pergi berdua bersama Altair seusai melukis. Kami seringkali pergi ke sungai Milky untuk memancing, tapi tak jarang ia memintaku menemaninya latihan memanah di sekitar istana.

Pekerjaan ini pun menjadi sangat menyenangkan buatku hingga aku mulai lupa kalau tugas utamaku adalah menenun. Lagipula Eyang Elang terlihat sangat gembira atas kedekatanku dengan cucunya. Eyang pernah bilang pada orangtua Altair bahwa ia akan menikahkanku dengan cucunya setelah merampungkan proyek ini. Dia bilang, ini adalah bonus kerja kerasku mempercantik istananya. Altair yang tak sengaja mendengar percakapan Eyang dengan Ayahnya menjadi semakin menggebu. Bak gayung bersambut. Sudah saling cinta, akan dinikahkan pula.

Hal ini membuatnya bersemangat dan membantuku menyelesaikan proyek setiap hari. Altair mengerjakan bagian yang mudah sedangkan bagian yang sulit akulah yang ambil alih. Setiap hari selalu kami lewati bersama dengan rajinnya. Hingga Altair pun tak pernah lagi terlihat di setiap jam latihan perang. Kabar ini sampailah ke telinga Eyang. Sejujurnya Eyang geram dengan perubahan yang dialami cucunya. Dan mungkin juga perempuan tua itu. Sehingga Eyang menugaskan Altair menangkap pemburu domba yang sering mencuri domba warga. Entah ini atas suruhan perempuan tua atau bukan.

Dengan membawa pasukannya, pergilah Altair ke suatu desa yang amat jauh dari kerajaan, yaitu di hilir Sungai Milky. “Tugas ini membutuhkan waktu yang lama. Pemburu domba tak mudah ditaklukkan. Kesaktiannya sudah tersohor dimana-mana. Ia juga memiliki pengawal setia yang tak kalah cerdik, dua ekor anjing yang mengawalnya kemanapun ia pergi berburu,” ujarnya saat hendak pergi.
“Kita sama-sama sedang menjalankan tugas kerajaan. Kanda bertugas menyejahterakan rakyat sementara Dinda bertugas menjadikan istana kita lebih indah. Kita akan menjadikan kerajaan kita tak tertandingi oleh kerajaan manapun,” jawabku penuh harap.
Altair tersenyum bangga dengan pemikiranku. Ia pun meminta satu hal padaku sebelum menunggangi kudanya, “Dinda, maukah kau berjanji padaku untuk setia menungguku? Ingat janji Eyang,” pintanya.
Aku mengangguk mantap. “Saat Kanda kembali, selesailah aku mempercantik istana. Lalu kita akan menikah dalam suasana istana baru.”
Lalu Altair pergi dengan membawa harapan terbesar, begitu pula aku.

Dua bulan berlalu sejak kali pertama Eyang Elang memberikan proyek besar padaku, dan ini sama dengan satu bulan kepergian Altair memburu si pemburu domba.

Tiga bulan kutunggu, empat bulan tak kunjung pulang. Hingga tibalah musim panas. Proyek besar istana membuatku lupa segalanya, termasuk momen pameran 2 kali setahun yang kutunggu-tunggu. Alpa dari event besar yang membangun namaku, aku baru tersadar ketika hal itu sampai di telinga Ayahku yang sekaligus marah besar karena aku tak pernah lagi menenun hingga Ibuku jatuh sakit karena terlalu sering lembur untuk menyelesaikan tenunannya.
Aku heran mengapa perempuan tua membiarkan ayahku menyelidiki penyebab aku enggan menenun.

Sampailah ia di kerajaan dan mendapatkan jawaban. Ia pun menyimpulkan bahwa calon pewaris tahta kerajaan membuatku jadi lupa segalanya. Padahal sama sekali bukan itu. Asmara yang terjadi sama sekali tak dipengaruhi harta, bahkan tahta.

Tanpa pikir panjang, ayahku memutuskan untuk memisahkanku dengan Altair selamanya dengan menempatkanku di suatu desa yang amat jauh, yaitu di hulu Sungai Milky. Ia sengaja merahasiakan ini dari siapa pun, termasuk keluarga kerajaan di mana proyek yang kukerjakan belum selesai. Dengan Eyang Elang, ia mengaku putrinya sudah dipinang oleh orang lain dan dibawanya tinggal bersama di suatu desa yang sengaja ayahku tak menyebutkannya.

Sesungguhnya aku amat sedih menjalani hidupku tanpa orang-orang yang kucinta, Ayah, Ibu, Altair, termasuk kebiasaan yang amat menyenangkan bagiku, melukis. Perempuan tua juga hanya membiarkanku hanya menenun dan menenun setiap hari tanpa berbuat apa-apa. Aku sadar. Aku hanyalah lakon dalam cerita yang ia ketik sepanjang malam. Tapi ia tak pernah membayangkan betapa pilunya menjalani hidup sebagai Lyra yang dipisahkan dari harapan terbesarnya, Altair. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri sampai lupa makan, lupa tidur, lupa mandi demi menyelesaikan cerita yang ia ciptakan ini.

Jika saja lakon punya hak untuk berbicara di luar tema, aku akan berteriak pada perempuan tua untuk berhenti memainkan peran menyedihkan ini. Tetapi suatu hari perempuan tua itu memberiku seorang teman yang amat setia, Deneb. Cantik dan pandai menghibur. Dialah satu-satunya teman yang kumiliki di dunia asing ini.

Suatu ketika aku merenungi nasib di pinggir sungai, perempuan tua itu menghadirkan sekawanan burung yang seolah-olah ikut merasakan kesedihanku. Ia juga berkata bahwa mereka ingin sekali membantuku bertemu kembali dengan pujaan hatiku, Altair. Namun kurasa ia hanya sedikit memberiku harapan. Mempermainkanku agar ceritanya terkesan menarik sehingga banyak orang yang ingin membaca. Awalnya aku sedikit gembira ketika pemimpin kawanan burung itu berjanji akan membuatkan jembatan dengan bulu-bulunya, agar aku dapat meninggalkan tempat terkutuk ini dan kembali menjumpai kekasihku. Namun, hingga musim panas usai jembatan itu belum juga selesai dibuat.

Keadaan menjadi semakin mengenaskan buatku karena jembatan yang sedang dibangun itu rusak total ketika hujan lebat di awal musim dingin. Pupus sudah harapanku untuk bertemu kekasihku. Dugaaanku benar. Perempuan tua memang sengaja mempermainkanku. Tapi sejak aku diasingkan ke tempat ini, ia terlihat sedih. Wajahnya selalu murung setiap saat mengetik. Dan kali ini ia mulai menangis. Entahlah. Kupikir ia frustasi karena editor menagih ceritanya, seperti deadline misalnya, atau karena tabungannya menipis sementara ceritanya belum selesai ia buat? Ah aku tak tahu, toh aku hanya lakon yang tak bisa berbuat apa-apa.

Sekawanan burung meminta maaf padaku karena mereka tak dapat membuatkan jembatan di musim dingin. Mereka akan mati kedinginan jika bulu-bulunya mereka cabuti. Lagipula hujan dan angin akan membuat pekerjaan menjadi sia-sia. Kesedihan menyelimutiku sepanjang musim dingin.

Larut dalam kesedihan membuatku tak sadar jika musim panas telah tiba. Burung-burung itu kembali datang padaku dan melakukan hal yang sama seperti tahun sebelumnya. Harapanku mekar kembali. Namun di ujung musim kegagalan serupa terulang kembali. Aku menangis sejadi-jadinya. Perempuan tua sama sekali tak berbuat apa-apa. Ia malah ikut menangis.

Dan begitulah kisah hidup memilukan yang kualami di hulu Sungai Milky dari tahun ke tahun. Harapan dan musibah yang terus terjaadi berulang-ulang. Aku lelah dengan semua ini. Tak ada lagi harapan untukku menjemput kebahagiaan. Bagi perempuan tua, ia hanya menghabiskan berjam-jam untuk melengkapi penderitaanku, tapi ini terasa sangat lama bagiku. Bahkan aku tak tahu berapa usiaku sekarang karena larutnya aku dalam penantian tak berkesudahan.

“Sebaiknya sudahi saja cerita yang kau karang. Lekas kau serahkan aku pada editor. Aku berharap editor sudi merubah jalan hidupku yang malang. Lalu kau akan mendapat uang dari orang-orang yang membeli bukumu.”
Meski setiap malam aku selalu menyuarakan protes itu, tetapi perempuan tua tak pernah berkesudahan. Hingga malam ini ia menuliskan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Setiap kata-katanya kupahami dengan seksama. Perlahan air matanya menetes. Semakin menetes. Semakin deras, hingga ia menangis sejadi-jadinya. Ia menuliskan takdirku ini dengan hruf kapital keseluruhan. “AKU SUDAH LELAH DENGAN SEMUA PENANTIAN INI. BENCANA YANG BERULANG SETIAP TAHUN. TAK BERKESUDAHAN. TAK MEMBERIKU HARAPAN. BODOHNYA AKU YANG SELALU MENUNGGUMU HINGGA AKU MERASA TAK ADA LAGI GUNANYA HIDUP. SEHARUSNYA DARI DULU SAJA AKU MATI.”
Nanar perasaanku merasakan paragraf yang baru saja ia ketik.

Hal yang kutunggu-tunggu akhirnya sampai juga. Bukan perjumpaan dengan kekasihku, tapi akhir hidupku. Rupanya ia sudah mendengar protes yang kuteriakkan setiap malam. Tapi setelah puas menyiksaku, perempuan tua benar-benar tak punya perasaan. Ia menghabisiku dengan cara yang amat kejam. BUNUH DIRI. Aku dipaksa menggoreskan belati ke nadiku sendiri. Pedih. Pegal. Nyeri. Sungguh tega. Teriakanku tak lagi digubris perempuan tua hingga parau suaraku, sesak napasku, hilang penglihatanku. Dan akhirnya aku mati dengan cara mengenaskan.

Ia tak lantas menutup kisahku dari lembar kerjanya meski cerita yang ia karang telah usai. Ia membiarkanku melihat apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Sepotong belati tajam ia goreskan ke pergelangan tangannya yang keriput dimakan usia. Sama persis seperti caranya membunuhku. Aku melihatnya meringis kesakitan, sama seperti yang kurasakan. Aku tak tahu apa motivasinya mengakhiri hidup dengan cara demikian. Ia kejam padaku, tapi juga kejam pada dirinya sendiri. Detik-detik menjelang kematiannya, perempuan tua itu mengucapkan paragraf tadkirku yang ia ketik dengan huruf kapital keseluruhan. Ia mengucapkannya juga sama persis seperti yang ia ketik. Setelah itu, ia pun mati.

Kini aku tahu. Aku bukan lakon hasil karanganyanya. Aku adalah dirinya yang ia tulis dalam sebuah cerita. Aku dibiarkannya menjadi saksi bisu akhir hidupnya yang mengenaskan. Aku juga menjadi memori kisah hidupnya yang mamilukan. Tak ada seorang pun yang menjamah rumah ini karena memang (aku) tak pernah mendapat kunjungan dari siapapun, termasuk orangtuaku. Sampai akhirnya seorang tetangga mencium bau busuk dari rumah ini. mereka lalu mendobrak pintu dan menemukan jasadku sudah membusuk. Dengan terpaksa mereka mengurusi dan menguburkan jasadku demi kebaikan bersama.

Mereka telah menemukan jasadku dan menguburnya. Tapi aku tak yakin akankah ada seseorang yang menemukan memoriku yang mulai usang dimakan waktu?