Aku dan Ceritaku

By On Saturday, March 4th, 2017 Categories : Cerita

Namaku Aditya Prahasta, hobiku menggambar. Saat menggambar aku hampir sering lupa waktu. Itu membuatku jarang bersosialisasi dan membuatku hanya punya sedikit teman atau sering kusebut sahabat. Aku seorang pemalu tapi saat bersama sahabatku, aku seperti orang yang tidak punya malu. Untuk menjalin hubungan dengan cewek? Aku tidak mampu, terlalu malu untuk memulai itu atau hanya membuang waktu? Entahlah. yaa.. hampir 17 tahun ini aku menjomblo atau lebih tepatnya belum pernah.. pacaran. Saat ini aku kelas 2 Smk, dan di umur ke 17 inilah ekspetasiku bahwa; ‘Sayang dan cinta ke cewek adalah hal yang dilalukan oleh orang dewasa’ Terpatahkan.

Saat bel pulang sekolah berbunyi semua siswa bersiap untuk pulang termasuk aku dan dua sahabatku, Ridho Saktiawan dan Jaka Arifianto. saat kami di parkiran dan aku bersiap untuk menyalakan motorku..
“Dit.. cekrek” tiba-tiba Ridho memfotoku
“Ehh apaan sih? Kalo ngefans bilang aja fren..” ucapku
“Ini dit.. gue minta tolong sama lo, tolong lo jemput sepupu gue?” ucapnya dengan wajah serius.
“Ehh.. apaan lu, ogah gue. sama si jaka aja, kenapa musti sama gue?” Ucapku kaget sambil celingukan, baru ingat rumah Jaka hanya berjarak sekitar 100 meter dari sekolah dan tidak perlu naik kendaraan.
“Yaelah.. lu yang searah, kalo sama dia mah kejauhan kasian bolak-baliknya. Kalo sama lo kan sekalian jalan pulang” ucap ridho masih dengan wajah serius.
“Kenapa gak sama lu sekalian sih? Nyusahin orang lo!” ucapku dengan nada kesal
“Hehehe.. biasa gue harus nganterin dita (pacar ridho) pulang, kebetulan Mila (sepupu ridho) nggak bawa motor hari ini, tadi dia bbm gue suruh jemput” ucapnya sambil nyengir. Mila ini adalah sepupunya ridho, mereka tinggal satu komplek. Jarak rumah mereka sekitar 500 meter jadi meski aku sering main ke rumah ridho tidak pernah melihat atau kenal dengan Mila, hanya sekedar tahu kalau ridho punya sepupu yang sekolah di SMA 1. Setelah perdebatan singkat ini, aku mengalah dan mengiyakan untuk menolong ridho.
“Nanti lo tunggu aja di depan sekolah, gue udah ngirim foto lo ke dia. Nanti dia yang nyamperin lo” ucap ridho
“Aneh.. emang aneh lo, permintaan tolong macam apa ini? Kenal juga nggak udah disuruh jemput!” Balasku dengan nada kesal.
“Ya udah.. makasih ya fren, gue cabut dulu” ucapnya sambil berlalu.

Di depan SMA 1 semua siswa mulai keluar dari gerbang, di sini aku merasa aneh. banyak mata yang melihatku karena seragamku yang berbeda berada di area sekolah mereka. Dari kejauhan ada seorang cewek berjalan sambil membawa helm ke arahku. “Mila?” UCapku dalam hati. Karena dari sekian banyaknya siswa yang berjalan kaki, kalau mereka naik motor pasti keluar gerbang dengan kendaraannya dan kalau naik angkot kenapa bawa helm? Dan ternyata.. “Mas adit?” Ucapnya dengan senyum tepat di sampingku dan benar dia Mila.
“ehh iya, tadi aku disuruh ridho buat jemput kamu” ucapku gugup
“IYa.. tadi mas ridho udah bilang kok, maaf ya jadi ngerepotin mas adit” balasnya masih dengan senyum
“Nggak papa kok, sekalian pulang hehehe…” ucapku, entah bagaimana ekspresiku saat itu, aneh? Mungkin, karena aku juga merasa ada yang aneh dengan diriku sendiri. Di jalan kami banyak obrolan, tepatnya dia yang bertanya dan kujawab sekenanya. Mila ini orangnya ramah dan humble banget. Sampai di rumahnya.. “makasih ya mas adit, jadi ngerepotin. Mampir dulu yaa?” UCapnya setelah turun dari motor maticku
“Nggak kok, kapan-kapan deh hehehee” balasku langsung pergi.

Setelah kejadian itu Aku dan Mila semakin akrab. Dan disinilah tuduhan bahwa aku dan Mila berpacaran mulai menyebar, awalnya aku cuek dengan itu. Bahkan dengan adanya kabar itu aku dan dia semakin dekat tapi hanya sebatas teman atau kakak adek? Mungkin saja. Tapi secuek-cueknya manusia, saat dia dibuat nyaman dia akan sayang juga. Sepertinya aku mulai paham pepatah jawa “witing tresno jalaran soko kulino” (rasa suka ada karena terbiasa) itu ada. Dan saat di ulang tahunku yang ke 18 dialah orang pertama seumur hidupku yang memberikan kue ulang tahun dan merayakan ulang tahunku. ini yang memberiku kekuatan untuk bilang sayang sama dia, ya harus diungkapkan! tapi lagi-lagi rasa takut lebih dominan. Ya.. sifat dasar manusia adalah takut pada sesuatu yang belum terjadi dan aku kalah lagi, dengan diriku sendiri. Tidak lama setelah itu, ada kabar Mila sudah punya pacar. Cewek yang kugambar sketsa wajahnya untuk menghiasi setiap sudut kamarku dan kukagumi selama hampir satu tahun sudah lebih dulu ditembak orang. Drop.. inilah pertama kalinya aku merasakan pahitnya patah hati. Kenapa harus dibuat nyaman saat akan dijatuhkan? Kenapa?.

Semenjak dia punya pacar hubungan kami tidak sedekat dulu, ya tentu saja karena kami menghargai hati orang lain. Bahkan belakangan semakin renggang, aku sengaja menjauh, ingin melupakan? Bukan, sekedar menyembuhkan.

Setelah beberapa bulan Hari-hariku kembali normal, seorang remaja aneh dengan dua sahabatnya yang seperti siswa kelas 3 kebanyakan sibuk dengan try out dan ujian praktek kejuruan. Saat duniaku sudah teralihkan dengan kebiasaan lamaku, kabar menakjubkan datang saat kami berkumpul di rumahku..

“Si mila kenapa gak lo pacarin aja sih dit?” ucap ridho disela obrolan kami
“Lha emang kenapa? Dia kan udah punya cowok?” Balasku
“Udah putus.. kasian kerjaannya ngegalau mulu dia”
“Sikat dit, keburu gue tikung lo” sambar si jaka
“Lo nikung pake apa?” Balasku
“Pakek nanya.. ya pakek motor sport gue lah”
“Yaelah motor butut gitu, gue naek bis malam hayo mau apa lo?”
“Hahahah” tawa kami bersama dengan canda dan obrolan ini.

Setelah beberapa hari aku berpikir, mungkin ini kesempatan kedua dari Tuhan. Tidak boleh jatuh ke lubang yang sama! Sekarang atau… setelah merasakan betapa pahitnya rasa yang tertinggal, aku tidak akan mengulangi membuat luka yang bukan kubuat sendiri, sebuah luka karena berperang bukan luka karena hanya diam menerima hantaman keadaan.

Setelah dekat (lagi) hampir satu bulan, malam itu aku berusaha tidak menjadi diriku melainkan menjadi orang lain dengan tingkat kepercayaan diri diatas rata-rata. Inilah keputusanku, ditolak atau terima! Sekalipun diterima hanya untuk pelampiasan. yang terpenting aku bertindak mengikuti kata hati, melalukan hal yang seharusnya aku lakukan, bukan kalah dari diri sendiri dan menyerah dengan keadaan.

“ada yang mau aku omongin” kataku dengan sekujur tubuh terasa dingin
“Ngomong apa?” Balasnya dengan senyum seperti biasa
“AKu suka sama kamu, mau nggak kamu jadi pacarku?”
Dia hanya menganggukan kepala tanda “iya”