Aku Bisa Apa?

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Semacam ingin pergi tapi serasa ditahan, ingin bertahan tapi serasa dibuang. Bulan nampak redup, bintang pun seakan tertunduk sedih. Angin malam nampaknya sedang tidak bersahabat, berhembus seakan tanpa tujuan, tanpa arah. Titik-titik air jernih dari langit mulai berjatuhan menimpa tanah. Bau tanah mulai tercium, begitu khas. Dingin, sangat dingin hingga terasa menusuk sampai ke tulang-tulang. Bersama air hujan itu, sebuah perasaan menjelma menjadi air mata. Sakit hati, tepatnya kecewa. Tanpa sadar air matanya mulai membanjiri pipinya. Ia menangis bak kehilangan sesuatu yang amat dicintainya, yah ia memang kehilangan seseorang. Tapi bukan orangtuanya, bukan saudaranya, bukan pula sahabatnya. Lalu siapa? Seseorang itu adalah.. entahlah! Adhara juga bingung siapakah dia sebenarnya. Ia bingung harus menganggap seseorang itu sebagai siapa. Matanya mengisahkan peristiwa yang membuat dadanya begitu sesak. Apakah seseorang itu telah menyakiti Adhara?

Bwaarr… suara petir mengagetkan gadis berkulit putih langsat itu. “Adhara, masuk gih kayaknya mau hujan lebat, ayo masuk sebelum kilat itu memotretmu lagi dan petir itu membuat jantungmu copot” teriak Alya dari dapur yang tak lain adalah kakaknya. Mendengar itu, Adhara tiba-tiba ingat dengan kalimat yang diucapkan kakaknya tadi, persis dengan chat yang ia kirimkan kepada seorang laki-laki, kira-kira enam bulan lalu yang sempat membuatnya ketawa terbahak bahak karena ia tahu laki-laki itu begitu takut dengan kilat dan petir.

Adhara, gadis yang baru saja berusia 18 tahun itu sangat suka melihat bintang, setiap malam ia selalu menyempatkan dirinya melihat bintang. Sama dengan namanya, Adhara. Adhara adalah bintang paling terang kedua pada rasi jenis major. Adhara dalam Bahasa Arab artinya perawan, mulia artinya dalam Bahasa Ibrani, atau cantik yang berasal dari Bahasa Yunani. Itulah mengapa ketika ia sedih atau sedang gembira ia selalu bercerita pada bintang-bintang di langit, walaupun tetap tak ada respon. Adhara jarang sekali bercerita (tepatnya curhat) kepada teman-temannya, termasuk juga pada keluarga dekatnya. Ia begitu tertutup jika cerita tentang kisah pribadinya. Adhara adalah sosok pendengar yang baik lagi bijak. Setiap kali temannya curhat, pasti selalu ada saja solusi untuk menenangkan keresahan hati temannya, tapi ia begitu enggan curhat balik ke teman-temannya. Teman-temannya pun mengira Adhara tak memiliki masalah apapun, tapi dibalik semua itu tersimpan rasa sakit yang mendalam. Adhara adalah sosok perempuan yang ceria, suka blak-blakan, suka ngebully, namun tentunya ia tahu batasnya. Banyak orang yang segan padanya, sepertinya ia pun tak memiliki musuh sama sekali. Yah walaupun ia termasuk orang yang moody. Ketika moodnya sedang buruk, ia pasti langsung menjauh dari teman-temannya. Menjauh dari orang yang akan membuat moodnya bertambah buruk. Satu-satunya moodbooster dikala ia sedang bad mood adalah dengan cara menyendiri di suatu tempat dimana tak ada makhluk lain di tempat itu, atau setidaknya di tempat yang tak ada suara atau orang yang menjengkelkan lainnya.

Shihab, nama yang sama dengan namanya yang juga diambil dari salah satu nama bintang. Adhara pertama kali bertemu dengan Shihab waktu masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Ketika itu Adhara mengikuti kegiatan Pensi (pentas seni) antar sekolah yang diadakan oleh suatu komunitas. Semuanya berawal dari Adhara yang mengagumi Shihab yang begitu lihai memainkan petikan gitarnya untuk menghibur para peserta. Adhara suka dengan sosok laki-laki yang pandai memainkan gitar, terlihat lebih keren menurutnya. Tapi hal itu tidak membuat Adhara menyimpan rasa pada Shihab. Melainkan ketika Shihab mulai menghubungi Adhara di socmed setiap saat. Lambat laun rasa nyaman Adhara pada Shihab mulai muncul. Adhara merasa Shihab adalah laki-laki yang berbeda dengan laki-laki pada umumnya, semua yang dikagumi Adhara ada pada diri Shihab. Sepertinya Shihab adalah orang yang tepat. Laki-laki itu selalu saja punya cara untuk menghilangkan bad mood Adhara, seakan punya 1001 cara pemusnah bad mood.

“Menyapa dan hilang, terbit lalu tenggelam bagai pelangi yang indahnya hanya sesaat. Jujur, aku sudah sangat lelah. Entah sampai kapan aku bisa menyimpan beban di hati ini, semua masih menjadi tanda tanya. Aku sadar melepas itu menyakitkan, tapi kupikir sepertinya menunggu adalah sebuah kesia-siaan yang manusia ciptakan dalam bentuk yang lebih menyakitkan” batin Adhara memberontak. “Wooy.. melamun terus, wake up.. wake up udah siang nih” sambar Lia yang mengagetkan Adhara dari belakang. “Aish apaan sih, siapa yang melamun coba” bantah Adhara. “Hahaa trus apa dong? Ooh aku tahu, pasti kamu lagi mikirin Shii..” kata Lia. “Huustt ngomong apa sih kamu, udah ah temenin aku ke kantin yuk, laper nih” Kata Adhara sambil mengusap air mata yang sudah lama ia tahan agar tidak jatuh. Lia memang sedikit tahu hubungan Adhara dengan Shihab karna sebenarnya Lia adalah sepupu Shihab. Lia sendiri yang memberikan kontak Adhara kepada Shihab.

“Cause you’re sky full of stars, cause you light up the path..” tiba-tiba Adhara tersontak kaget mendengar lagu itu. Matanya mulai memerah “Oh tuhan, cukupkan semua ini” batin Adhara.

“Kamu berubah Shihab. Kamu sebenarnya kenapa? Apa aku punya salah?”
“Gak, kamu gak salah apa-apa. Akulah yang bersalah, maafkan aku yang telah memberimu harapan yang tak pasti”
“Tapi bukankah kita sudah berkomitmen untuk selalu bersama? Yah walaupun kita tak punya hubungan yang mengikat. Atau hanya aku yang merasakan semua ini?”
“Maafkan aku Adhara..”
“Jadi apa arti dari semua yang kau ucapkan waktu itu? Lagu itu.. lagu yang kau nyanyikan untukku waktu itu. Dan..”
“Maaf. Aku tahu semua ini menyakitkan, tapi.. Aku bisa apa..”
“Aku bisa apa? Apa maksudmu Shihab? Semudah itu kah kau mengucapkan kalimat itu? Bukan kah kau sudah berjanji padaku?”
“Sudah kucoba berbagai cara agar aku tetap bersamamu, tapi..”
“Yahh semua ini memang salah aku karena udah nyaman sama orang yang salah. Aku memang keliru menanggapi semua ini”
“Aku…akuu akan pergi Adhara, jauh darimu. Maaf.”

“Maaf”, kata terakhir Shihab sebelum ia benar-benar menghilang dari kehidupan Adhara. Jika saja Shihab pergi dengan alasan yang pasti, Adhara tidak akan begitu kecewa. Tapi Shihab pergi begitu saja setelah merangkai kisah indah bersama Adhara.

Lia menghampiri sahabatnya yang duduk termenung di taman yang letaknya tidak jauh dari kantin kampusnya. Lia begitu terharu melihat sahabatnya yang akhir-akhir ini tidak bersemangat karena memikirkan sepupunya itu.
“Lepaskanlah, semoga yang lebih baik akan datang dan semoga suasana hatimu akan lebih ringan” kata Lia yang langsung duduk di dekat Adhara.
“Aku udah berusaha menyibukkan diriku. Segala hal yang bisa kulakukan maka aku lakukan jika memang itu berguna untukku. Tapi.. sulit bagiku melupakan semua ini Lia”
“Bersabarlah Adhara, perlahan semua ini akan berlalu”
“Jika Tuhan menciptakan hati seorang perempuan untuk membuatnya setia pada satu laki-laki, tapi kenapa Ia tak membuat laki-laki bertahan pada satu perempuan? Aku kira cinta sejati itu benar-benar ada, tapi ternyata aku salah”
“Cinta sejati itu adalah Allah Adhara, memang gak ada jaminan selama hubugan itu terhadap sesama manusia. Bukankah rasa cinta itu berasal dari hati, sedang hati itu sendiri berada dalam genggaman jemari Allah, maka mudah saja Allah membolak balikkannya. Semua makhluknya pasti akan atau pernah merasakannya, namun kita bisa menyikapinya bahwa masih banyak laki-laki yang baik di dunia ini dan mengerti arti sebuah cinta karena Allah”
Mata Adhara berkaca-kaca dan kemudian memeluk sahabatnya itu dengan erat.
“Belum tentu juga Shihab meninggalkanmu karena ia tak setia padamu Adhara” sambung Lia.
Lia menatap tajam sahabatnya dan berkata “Ikhlaskan dia Adhara, jangan habiskan waktumu untuk seseorang yang tidak pernah tahu bahwa bahwa kamu menghabiskan waktu untuknya.”
“Kamu benar Lia. Tuntunlah aku Lia karena yang aku takutkan aku hanya larut dalam kisah ku ini. Kisah yang tidak memiliki arah dan tujuan dan hanya menjadi seorang yang senang berangan-angan” kata Adhara
“Ketika aku menjadi pemaaf dan tidak mempunyai rasa dengki maka hatiku menjadi lega dan jiwaku bebas dari pada bara permusuhan, itu kata pepatah Imam Syafi’i, tanamkanlah kalimat itu dalam hatimu Adhara. Fighting Adhara, kamu pasti bisa” sambung Lia menyemangati Adhara.

Setelah percakapannya tadi dengan Lia di kampusnya, Adhara berjanji akan kembali seperti dirinya yang dulu “Yang bisa aku lakukan saat ini adalah dengan mengikhlaskanmu agar aku bisa tak menghadirkan sosokmu dalam pikiranku, walau berkat hal ini pula aku juga kadang terluka. Namun akan ada sebuah hal yang bisa kurelakan setelah ini, yaitu dirimu Shihab.
Ajari aku untuk selalu dekat denganmu Ya Allah, walau setiap saat aku hilang darimu. Buatlah aku seperti yang aku inginkan agar aku bisa pergi dari dirinya dengan perasaan yang menenangkan.” batin Adhara bersemangat.

Tamat

19480931, 19480932, 19480933, 19480934, 19480935, 19480936, 19480937, 19480938, 19480939, 19480940, 19480941, 19480942, 19480943, 19480944, 19480945, 19480946, 19480947, 19480948, 19480949, 19480950, 19480951, 19480952, 19480953, 19480954, 19480955, 19480956, 19480957, 19480958, 19480959, 19480960, 19480961, 19480962, 19480963, 19480964, 19480965, 19480966, 19480967, 19480968, 19480969, 19480970