Adaptasi Makhluk Hidup

By On Friday, February 24th, 2017 Categories : Sains

Makhluk hidup umumnya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya serta melestarikan keturunannya. Kemampuan mahluk hidup untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan nya disebup adaptasi. Dalam biologi Adaptasi adalah proses dimana suatu makhluk hidup menjadi lebih cocok dengan lingkungannya.

Istilah ini juga diterapkan pada hasil proses tersebut. Dalam banyak organisme terdapat adaptasi struktural, fungsional, dan adaptasi warna, dan pada hewan ada juga adaptasi dalam naluriah perilaku. Terdapat tiga macam adaptasi yang di lakukan mahluk hidup, yaitu adaptasi morfologi , pisiologi, dan tingkah laku.

1. Adaptasi morfologi

Adaptasi morfologi adalah penyesuaian bentuk tubuh , stuktur tubuh, atau alat- alat tubuh organisme terhadap lingkungan nya.

a. Adaptasi morfologi pada hewan.

Mengapa bentuk paruh burung ber macam-macam ?bentuk paruh burung ber macam-macam karna di sesuaikan dengan jenis makanannya. Burung kolibri, paruhnya sesuai untuk pengisap madu dari bunga. Burung pelikan, paruhnya sesuai untuk menangkap ikan. Burung elang, paruhnya sesuai untuk mengoyak daging mangsanya. Burung platuk, paruhnya sesuai untuk memahat batang pohon dan menangkap serangga di dalamnya. Selain pada bentuk paruhnya, adaptasi pada burung juga dapat di lihat pada bentuk kakinya.

b. Adaptasi morpologi pada tumbuhan

Berdasarkan pada tempat hidupnya, tumbuhan di bedakan menjadi:

1) Xerofit , yaitu tumbuhan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kering, contohnya kaktus. Cara adaptasi xerofit , antara lain mempunyai daun berukuran kecil atau bahkan tidak mempunyai berdaun (mengalami modifikasi menjadi duri ), batang dilapisi lapisan lilin yang tebal, dan ber akar panjang sehingga berjangkauan sangat luas.

2) Hidrofit, yaitu tumbuan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan berair, contohnya teratai. Cara adaptasi hidrofit , antara lain berdaun lebar dan tipis, serta mempunyai banyak stomata.

3) Higrofit, yaitu tumbuhan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan lembap, contohnya tumbuhan paku dan lumut.

2. Adaptasi fisiologi

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian fungsi alat-alat tubuh organisme terhadap lingkungannya. Adaptasi fisiologi sulit di amati karena adaptasi fisiologi menyangkut fungsi alat-alat tubuh yang umum nya terletak di bagian dalam tubuh.

a. Adaptasi fisiologi pada hewan

Ber dasarkan jenis makanannya, hewan dapat dibedakan menjadi karnivora (pemakan daging), herbivore (pemakan tumbuhan), serta omnivore(pemakan daging dan tuimbuhan). Penyesuaian hewan-hewan tersebut terhadap jenis makanannya, antara terdapat pada ukuran (panjang) usus dan enzim pencernaan yang berbeda. Untuk mencerna tumbuhan yang umumnya mempunyai sel-sel dengan dinding sel yang keras, rata-rata usus herbivore lebih panjang dari pada usus karnivora.

b. Adaptasi fisiologi pada tumbuhan.

Contoh adaptasi pada tumbuhan, antara lain:

1) Tumbuhan yang menyerbukannya dibantu oleh serangga mempunyai bunga yang berbau khas.

2) Tumbuhan tertentu menghasilkan zat khusus yang dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan lain atau melindungi diri terhadap herbivora. Misalnya,semak azalea di jepang menghasilkan bahan kimia beracun sehingga rusa memakan daunnya.

c. Adaptasi fisiologi pada manusia

Adaptasi fisiologi yang dilakukan manusia, antara lain:

1) Jumlah sel darah merah orang yang tinggal di pegunungan lebih banyak jika dibanding dengan orang yang tinggal di pantai/daratan rendah.

2) Ukuran jantung para atlet rata-rata lebih besar dari pada ukuran jantung orang kebanyakan.

3) Pada saat udara dingin, orang cenderung lebih banyak mengeluarkan urine (air seni).

3. Adaptasi tingkah laku.

Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian organisme terhadap lingkungan dalam bentuk tingkah laku. Jenis adaptasi ini mudah untuk diamati.

a. Adaptasi tingkah laku pada hewan

Adaptasi tingkah laku yang dilakukan hewan, antara lain:

1) Bunglon melakukan mimikri, yaitu mengubah-ubah warna kulitnya sesuai dengan warna lingkungan/tempat hinggapnya. Dengan mengubah warna kulitnya sesuai dengan lingkungannya, bunglon terlindung dari pemangsanya sekaligus tersamar dari hewan yang akan dimangsanya. Dengan demikian, bunglon dapat terhindar dari bahaya, dan sekaligus lebih mudah menangkap mangsanya.

2) Cumi-cumi mengeluarkan tinta/cairan hitam ketika ada bahaya yang mengancamnya. Cumi-cumi juga mampu mengubah-ubah warna kulitnya sesuai dengan warna lingkungannya.

3) Secara berkala, paus muncul di permukaan air untuk menghirup udara dan menyemprotkan air. Paus melakukan tindakan demikian karena alat pernafasannya berupa paru-paru yang tidak dapat dimanfaatkan oksigen yang terlarut di dalam air.

4) Dalam keadaan bahaya, cecak melakukan autotoomi, yaitu memutuskan ekornya. Ekor cecak yang terputus tetap dapat bergerak sehingga perhatian pemangsanya beralih pada ekor tersebut dan cecak dapat menyelamatkan diri.

b. Adaptasi tingkah laku pada tumbuhan

Adaptasi tingkah laku yang di hasilkan oleh tumbuhan, antara lain:
1) Pada saat lingkungan dalam keadaan kering, tumbuhan yang termasuk suku jahe-jahean, akan mematikan sebagian tubuhnya yang tumbuh di permukaan tanah.

2) Pada musim kemarau, tumbuhan tropofit, misalnya pohon jati dan randu, menggugurkan daunnya.

Adaptasi struktural

Sistem akar yang luas dan daun kecil umum untuk kebanyakan tanaman gurun adalah contoh yang baik dari adaptasi struktural. Akar tersebut memungkinkan tanaman untuk mengumpulkan lebih banyak uap air yang tersedia dari lingkungan mereka yang kering. Daun kecil, karena mereka memberikan luas permukaan kecil untuk penguapan, mengurangi kehilangan air.

Adaptasi Makhluk Hidup

Adaptasi Makhluk Hidup

Adaptasi fungsional

Kemampuan untuk menyelesaikan siklus pertumbuhannya di musim tumbuh pendek merupakan adaptasi fungsional yang memungkinkan tanaman untuk bertahan hidup di lintang utara. Contoh lain dari adaptasi fungsional disediakan oleh pakaian ngengat, yang memiliki enzim khusus yang memungkinkan untuk mencerna wol.

Adaptasi warna

Ada tiga jenis umum adaptasi warna: (1) pelindung warna, (2) peringatan warna, dan (3) mimikri.

Pelindung warna memungkinkan binatang untuk berbaur dengan latar belakangnya. sehingga Hewan ini lebih kecil kemungkinannya untuk dilihat-dan, karena itu, kemungkinan besar tidak akan dimakan oleh musuh-musuhnya. Pelindung warna juga dapat membantu memudahkan binatang yang berburu untuk mendekati mangsanya.

Peringatan warna terjadi pada hewan beracun atau tidak menyenangkan jika itu dicicipi. Sebagai contoh, burung tidak akan makan kupu-kupu raja karena rasanya tidak menyenangkan; mereka mampu mengenalinya karena pewarnaan yang khas.

Dalam mimikri, hewan yang relatif berdaya (disebut meniru) memiliki kemiripan superfisial dengan hewan (disebut model) dengan kualitas yang menyebabkan predator untuk menghindarinya. kupu-kupu Raja muda, misalnya, terlihat sangat mirip kupu-kupu raja, dan karena burung menghindarinya juga.

Adaptasi perilaku

Contoh adaptasi perilaku dapat mudah ditemukan di daerah di mana terjadi perubahan musiman yang ditandai cuaca. Tupai menyimpan kacang untuk musim dingin. Banyak burung bermigrasi ke selatan untuk menghindari musim dingin di utara yang dingin. Ada juga hewan yang melakukan hibernasi ketika cuaca dingin tiba dan makanan menjadi langka.

Adaptasi dan Kelangsungan Hidup

Lingkungan cenderung untuk menghilangkan hal-hal yang tidak cocok untuk dapat hidup. Sebuah pabrik yang tidak menyesuaikan dengan menghemat air akan segera mati di padang gurun; hewan yang menonjol dari lingkungannya akan menjadi yang paling mungkin untuk menjadi mangsa musuh-musuhnya. Proses eliminasi disebut seleksi alam. Ungkapan “survival of the fittest” mengacu pada seleksi alam. Seleksi alam merupakan faktor penting dalam evolusi.

Contoh adaptasi yang melibatkan seleksi alam ditemukan dalam kasus DDT dan lalat. Ketika insektisida ini pertama kali digunakan pada awal 1940-an, hampir semua lalat tewas. Tetapi beberapa selamat dan terus bereproduksi. Akhirnya hanya jenis lalat yang tahan akan tersisa di daerah di mana DDT digunakan selama bertahun-tahun.

Adaptasi tidak sadar, tetapi didasarkan pada ciri-ciri yang diwariskan. Keragaman sifat-sifat yang diwariskan ini terutama akibat dari mutasi. Mutasi adalah perubahan dalam karakteristik yang diwariskan dari suatu organisme yang menghasilkan sifat-sifat baru yang akan diteruskan kepada keturunan organisme. Dalam setiap lingkungan tertentu, beberapa ciri akan menguntungkan dan yang lain tidak. (Di hutan, kemampuan hewan untuk memanjat pohon mungkin merupakan adaptasi untuk bertahan hidup, tetapi di padang rumput terbuka kecepatan akan lebih menguntungkan.) Organisme yang paling cocok untuk lingkungan yang paling mungkin untuk bertahan hidup dan bereproduksi, dan ciri-ciri yang tidak menguntungkan cenderung bertahap akan dihilangkan.

Radiasi adaptif dan konvergensi

Sebagai hasil dari kompetisi untuk makanan dan ruang hidup, makhluk hidup cenderung menyebar ke banyak daerah karena mereka dapat mencapai dan bertahan hidup masuknya evolusi dari satu kelompok ke berbagai bentuk penyesuaian dengan lingkungan yang berbeda dan cara hidup disebut radiasi adaptif.

Contoh radiasi adaptif ditemukan di antara teleosts (ikan ray-bersirip). Dari jenis umum ini berevolusi lebih dari 20.000 spesies, mampu hidup di hampir setiap jenis lingkungan air. Flounders dengan tubuh rata tinggal di dasar laut, sementara teleosts lain, seperti kuda laut, telah beradaptasi dengan kehidupan di antara rumput laut dan terumbu karang.

Kelompok organisme yang hanya jauh terkait, tetapi yang hidup dalam jenis yang sama lingkungan, cenderung untuk mengembangkan struktur yang terlihat serupa, karena mereka adalah adaptasi terhadap lingkungan yang sama. Ini kesamaan struktur berkembang melalui proses yang disebut adaptasi konvergensi. Misalnya, Pesut, segel, dan ikan semuanya mengembangkan tubuh ramping yang memfasilitasi gerakan mereka di dalam air.