| Meluruskan Pensil Yang Bengkok - Islamic Article | | Print | |
Seperti yang
biasa dialami siswa kelas
Suatu hari,
seorang teman berkata padaku bahwa biar bagaimanapun bayangan itu akan
mengikuti tubuh aslinya. Jika tubuh aslinya bengkok, maka bayangannya juga akan
bengkok dan begitu sebaliknya. Kami sama sekali tidak sedang berbicara tentang
percobaan ilmu pengetahuan alam. Dia datang padaku untuk mengemukakan sebuah
kenyataan, bahwa masyarakat sering memperlakukan seseorang berdasarkan stigma
(cap) tertentu pada seseorang dimana stigma itu sama sekali tidak akan
terhapuskan seumur hidupnya.
"Tiang
yang bengkok akan memantulkan bayangan tiang yang juga bengkok; tiang yang
lurus akan menghasilkan bayangan yang lurus."
Aku terdiam
mendengar penuturannya. Terus terang; aku sama sekali tidak setuju dengan
pepatah itu.
Sesuatu yang
lurus akan menghasilkan bayangan yang lurus, itu memang benar. Tapi, bukan
berarti bahwa keadaannya akan demikian. Kisah tentang pantulan bayangan pinsil
di dalam gelas air yang kelihatan bengkok itu adalah contohnya. Selurus apapun
batang pinsil tersebut dia tetap akan bengkok jika dimasukkan ke dalam gelas
yang berisi air.
Ah. Pikiranku
jadi melayang pada seorang temanku yang berusaha untuk meniti jalan taubat
dengan susah payah. Hm, dia seorang wanita muslimah yang masih muda. Usianya
belum lagi genap 22 tahun. Tapi ketika remaja dia melalui masa remajanya dengan
pergaulan yang salah. Ganja, narkotika hingga seks bebas semua pernah
dilakoninya. Membuat tubuhnya kurus dan terlihat lebih tua dari usia belianya
yang sesungguhnya. Dia pernah mengikuti rehabilitasi untuk pengguna narkoba dan
disinilah hidayah Allah datang padanya. Keluar dari rehabilitasi, dia bukan
hanya bisa menghentikan rasa ketergantungan obatnya alias sembuh, tapi juga
berubah menjadi seorang muslimah yang berusaha untuk menjalani kehidupan islami
secara kaffah.
Jilbab lebar
tidak pernah lepas dari tubuhnya. Al Quran dan tasbih selalu menemaninya
kemanapun dia pergi. Perilakunya pun terjaga. Dia benar-benar berusaha untuk
taubat. Sayangnya, lingkungan tempatnya tinggal sudah terlanjur mencapnya
sebagai gadis "tidak baik" yang akan "Tidak baik"
selamanya. Jika dia mengaji, orang akan mencemoohnya sebagai berpura-pura
mencari perhatian. Jika dia berderma, orang akan menaruh prasangka bahwa dia
sedang mencari muka. Jika dia memberi nasehat, maka tidak ada seorang pun yang
percaya.
"Alah,
perbaiki ajah diri kamu sendiri. diri sendiri belum bener kok mau nasehati
orang lain!!" kalimat pedas itu kerap kali dia dengar. Lebih parahnya
lagi, orang tuanya tidak percaya jika dia sekarang sudah berubah. Jika dia
berpuasa sunnah, orang tuanya menuduhnya sedang memakai obat hingga dia tidak
nafsu makan. Jika dia diam mengaji di kamar orang tuanya menegurnya sebagai
gadis yang kehabisan uang saku sehingga tidak bisa lagi menghabiskan malam
panjang di luar
"Ayolah,
kamu
"Aku
harus bagaimana mbak ? Lelah rasanya menghadapi lingkungan yang tidak pernah
mau percaya bahwa aku sudah berusaha untuk bertobat. Jika ini memang ujian atas
hijrahku di jalan Allah, mengapa ujian ini tidak memperlihatkan satupun tanda
sebagai jalan keluar yang mudah. Aku khawatir akan kalah dalam hal ini. Aku
takut jadi orang yang kalah dalam menerima ujian Allah." Dengan tersedu
dia mencurahkan perasaannya padaku. Kesedihan dan kekhawatirannya adalah
kesedihan dan kekhawatiran jika dia kembali mundur seperti dulu. Godaan untuk
melakukan maksiat yang selalu disodorkan sepanjang waktu; bukan tidak mungkin
suatu saat bisa meruntuhkan iman seseorang. Ledekan dan hinaan yang terdengar
terlalu sering bukan tidak mungkin suatu saat akan membuatnya merasa kelelahan
dan akhirnya membenarkan apa yang selama ini dituduhkan oleh lingkungan.
Bukankah akan lebih mudah dan ringan berenang sesuai dengan arus yang mengalir
daripada berenang dengan melawan arus ?
Seperti itulah
gambaran kehidupan temanku. Dia seperti pinsil yang tegak dan lurus. Tapi
karena berada di dalam sebuah gelas yang berisi air, maka bayangannya akan
selalu terlihat bengkok. Sekeras apapun usaha yang dia lakukan tak ada yang
bisa melihatnya lurus. Kecuali jika pinsil itu dipindahkan ke sebuah media yang
lain. Media kering yang memperlihatkan keseluruhan tubuh pinsil itu. Mungkin di
atas buku tulis. Atau di atas meja. Atau bahkan di atas lantai. Lihat pinsil
itu dan lihatlah, apapun posisi yang diberlakukan semua akan setuju bahwa
pinsil itu lurus. Tegak, terbalik, tidur, loncat-loncat, diam atau bergerak.
Pinsil itu lurus, tidak bengkok. Jadi jawaban untuk pertanyaan anak SD yang
ingin tahu cara meluruskan pinsil yang bengkok yang ada di dalam gelas berisi
air adalah dengan cara mengeluarkannya dari dalam gelas berisi air tersebut.
Itulah jawaban
Allah atas doa-doa yang dipanjatkan temanku itu setiap kali dia berdoa meminta
perlindungan Allah selalu dalam usahanya untuk hijrah dari kehidupan
jahiliyahnya dahulu. Alhamdulillah, akhirnya temanku itu menikah dan pindah ke
lingkungan yang jauh berbeda dengan lingkungannya yang lama. Tidak ada yang
tahu bagaimana masa lalunya dahulu dan kalaupun tahu tidak ada yang peduli
karena yang mereka lihat adalah masa kini. Keshalehannya kian terlihat dan
terasah. Dia sendiri bisa menikmati kemesraan mencintai Allah dengan lebih
bahagia.
"Aku
tidak setuju dengan pernyataan kamu tentang tiang dan bayangannya."
Setelah bernostalgia dengan pengalaman perjalanan tobat temanku, aku segera
memberikan jawabanku atas pernyataan temanku.
"Tapi itu
peribahasa yang sudah umum berlaku mbak. Coba mbak pikirkan, apakah bisa sebuah
bayangan melenceng jauh dari tubuh asli yang dipantulkannya ?" Temanku
bertanya ringan tapi aku merasa kian tertantang untuk memberikan jawaban.
"Bisa."
Jawabku mantap dan yakin. "Bisa ? Bagaimana ? Bagaimana membuat bayangan
yang berbeda dari tubuh yang dipantulkan ?" Temanku bertanya tidak
percaya. Lagi-lagi aku bersyukur karena bergaul dengan anak SD yang duduk di
kelas
"Jika
kamu berjalan di pagi hari menghadap ke arah barat. Coba lihat bayanganmu ?
Ukur tingginya, apakah tinggi tubuhmu setinggi bayangan itu ? Tidak. Bayangan
itu sudah menipumu. Tinggi tubuhnya jauh lebih tinggi dari tubuh aslimu."
"Tapi
bayangannya sama
"Bengkok.
Bisa bengkok, jika jalanan di depan kamu adalah sebuah lubang yang cekung, atau
sebuah dinding yang membuat bayangan itu patah, maka bayangannya akan bengkok.
Kenapa harus melihat pada bayangan padahal bayangan itu adalah sesuatu yang
gelap dan sifatnya selalu menipu pandangan. Peribahasa itu dibuat untuk
menguatkan pandangan masyarakat akan pentingnya melihat keseluruhan seseorang.
Seseorang yang baik itu adalah seseorang yang punya masa lalu yang baik, masa
depan yang baik, masa kini yang baik, keluarga yang baik, teman yang baik,
musuh yang baik. Tapi apakah ada orang yang sempurna seperti itu ? Padahal
Allah-lah Yang Maha Mengetahui segalanya tapi hidayah-Nya bisa datang pada
siapapun, dimanapun dan kapanpun tanpa melihat masa lalu, keluarga dan
sebagainya."
Dalam hati aku
ingin mengatakan bahwa apakah anak seorang yang orang tuanya haji akan jadi
jaminan bahwa si anak akan bermental baik dan islami ? Apakah anak seorang
pelacur akan juga jadi pelacur ? Tidak. Jawaban "Tidak" disini untuk
dua hal. "Tidak" yang pertama untuk mengatakan bahwa tidak selalu
keadaannya akan seperti itu dan jawbaan "Tidak" yang kedua karena
ternyata aku tidak mengemukakan contohku itu dalam diskusi kami. Contoh itu
terlalu lazim digunakan dan biasanya seseorang yang sudah tahu akan merasa
bosan disodori sesuatu yang lazim. Percuma contoh itu aku utarakan,
keberadaannya akan dipandang remeh oleh mereka yang merasa sudah hapal.
Sekali lagi,
tanpa aku sadari aku membandingkan dua orang yang berbeda dalam kepalaku. Yang
pertama adalah temanku yang insya Allah telah berhasil untuk hijrah ke jalan
yang lurus dan insya Allah diridhai Allah. Yang kedua adalah seseorang yang
baru saja aku temui setelah sekian tahun tidak pernah bertemu. Sewaktu kuliah
dulu, dia adalah muslimah yang tidak pernah melepas jilbabnya kemanapun dia
pergi. Tapi ketika bertemu kembali ternyata jilbabnya sudah dia tanggalkan dan
Hidayah Allah
sungguh bisa datang pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tapi rasanya,
jika hidayah itu sudah datang, maka usaha untuk mempertahankannya adalah usaha
yang tidak kenal batas lelah dan hanya berakhir ketika kematian tiba. Jadi,
jika hidayah Allah datang dan diberikan, genggamlah dia selalu meski rasanya
seperti menggenggam bara, jangan pernah dilepaskan. Perjalanan masih sangat
panjang dan akhiratlah tujuan akhir yang ingin kita tuju bersama.
(oleh: Ade Anita, oleh-oleh dari hasil diskusi dengan beberapa sahabat dan yang
tersayang, Ibam)
(Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata: "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang yang membenarkan (hari berbangkit)?. Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan?" Berkata pulalah ia: "Maukah kamu meninjau (temanku itu)?" Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata (pula): "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka. (Qs 37: 51-57) .(katz)
| Users' Comments (0) |
|
No comment posted






