7200 Hari

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Hari ke 6120 dalam hidupku. Dari pertama aku lahir, sampai tepat pada ketujuh belas usiaku. Aku tidak setua itu, kan?
Tujuh belas tahun adalah masa di mana aku harus bisa menahan diri. Sekuat tenaga tidak memikirkan hal lain selain pendidikan SMA yang tinggal beberapa bulan lagi. Tahu tidak mengapa orang menganggapku udik?
Bukan karena penampilan, kok. Otak juga tidak. Melainkan karena aku sama sekali belum pernah pacaran. Ah, aib!
Kok, aib, sih? Memang benar, bukan? Aku cewek introvert. Tidak suka macam-macam, apalagi soal rasa. Sudah banyak berjanji pada diri sendiri kalau pacaran itu bukan prioritas utama.
Tetapi seseorang lain sepertinya ingin mematahkan janjiku itu.

“Gelia, kenapa? Mikirin apa, kamu?”
Rina melongok ke arahku yang tengah menopang dagu. Dia sudah rapi, aku kesal lantaran lama menungguinya.
Aku menggeleng. “Ayo, nanti kita telat lagi.” Kataku, Rina menggonyangkan kepalanya. Syal cokelatnya itu masih belum dipakai.

Kali ini kami akan ke sekolah. Entah untuk apa, yang jelas Rina bilang ‘penting’ menyangkut masa depannya. Aku menuruti saja.
Karena sesampainya di sekolah pun, Rina hanya mengobrol dengan wali kelasnya saja. Dan aku terpaksa menungguinya di kelas. Tiba-tiba saja, Rina datang memanggilku.
“Gelia. Ada yang nyari kamu.” Katanya, aku mengernyit. Di hari minggu seperti ini mana ada orang yang ingin bertemu denganku? Apalagi di sekolah. “Ayo, cepat.” Aku mengangguk dan mengikuti Rina keluar.

Mana seseorang yang mencariku? Aku membuang napas. Menoleh ke belakang, mencari Rina yang menyuruhku untuk memasuki lapangan Basket. Di mana anak itu?
“Dasar Rina!” Umpatku. Dia adalah sahabat terjail yang sialnya aku miliki.

“Gelia.”
Deg.
Seseorang memanggilku di belakang. Memegang bahu kananku membuat jantung ini berdetak cepat. Yang jelas, ini bukan hantu.

Aku membalik badan. “Fendi?” Kataku tak percaya, dia tersenyum mengangguk. “Eh, maksudku, kak Fendi.” Aku menyeringai kecil bercampur malu.
“Apa kabar?” Kata kami bersamaan membuat kami tertawa kecil. Fendi lalu tersenyum, menunjuk kursi penonton dan aku mengangguk.
Sudah lama tidak berjumpa, Fendi. Eh, maksudku, kak Fendi.
“Berapa umurmu sekarang? Kamu udah tua, ya? Pasti udah punya KTP. Statusnya kawin lagi.” Kata Fendi sambil terkekeh. Dia terlalu suka bercanda, aku hanya memukul lengannya.
“Kakak, lagi ada di sini? Lagi pulang? Gimana kuliahnya?” Aku mulai melontarkannya banyak pertanyaan. Mulut Fendi bergerak-gerak mengikuti ucapanku.
“Kamu masih cerewet, ya, Gel.” Fendi mengacak-acak rambutku. Tersenyum dan mengambil sesuatu dari tasnya.

Dia adalah kakak kelas yang paling baik. Pasti dia akan memberikanku buah tangan. “Ini,” Fendi menyodorkan sekotak kado berpita pink. Tersenyum padaku. “Tunggu sampai aku lulus, ya.” Katanya lagi. Aku mengerut tidak mengerti.
“Maksudnya kakak?” Fendi yang kutanya malah tersenyum mengelus rambutku.
“Kamu kok polos banget, sih?” Pelan tapi pasti malah beralih mengacak-acak rambut. Aku mengendus. Kesal lantaran rambut baruku rusak dan awut-awutan. “Tunggu dua atau tiga tahun lagi.”
Aku menyingkirkan tangan kak Fendi. Tidak peduli lagi akan maksud ucapannya. “Kak Leo juga di sini, ya?” Tanyaku. Kak Fendi mengangguk.
Oh, pantas. Pantas Rina tiba-tiba mengajakku ke sekolah. Alasanya, mah mau konsultasi sama wali kelas. Ternyata ada kak Leo.

“Kamu mau, kan, nunggu aku?” Tanyanya.
Aku mengerjap-ngerjap. Mulai bingung lagi. “Nunggu, maksudnya, nunggu yang kaya gimana?”
Kak Fendi tersenyum. “Udah, nanti juga kamu tau.” Katanya. Bangkit dari duduk dan aku mengikutinya.

“Udah punya pacar, Gel?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Enggak kenapa-napa.”
“Enggak laku, ya?” Candanya. Aku melotot dan memukul keras. Kak Fendi terkekeh.
“Siapa bilang? Banyak kok yang ngantre. Lagian gak punya pacar bukan berarti gak laku, ya.” Aku menunjuk kak Fendi. Kesal sekali padanya.
“Kapan punya pacar?”
Aku berpikir. “Dua atau tiga tahun lagi.” Kataku, menyeringai. Kak Fendi mengangguk.
“Bagus.”
Bagus? Bagus untuk apa? Kak Fendi makin pintar saja buat aku pusing.
“Kenap, Gel?”
“Pusing!”
“Pengin kawin, ya?” Aku melotot. Sialan. Kak Fendi terkekeh lalu melompat pergi.
Itulah istimewanya dia. Selalu membuat aku tertawa dengan cara apapun itu.

Senin lagi. LKS baru lagi. Semester terakhir seumur hidupku selama menjadi anak SMA.
Aku menghela napas. Dipikir-pikir, sedih juga kalau nanti sudah lulus. Tidak akan ada lagi kumpul-kumpul di teras kelas, bernyanyi heboh meski tidak hapal lirik bareng teman. Menertawai hal konyol atau sesuatu yang tidak lucu sekalipun. Ah, masa itu, cepat atau lambat akan berubah menjadi kenangan.

“Gelia? Kemarin kak Fendi ngasih kamu apa?” Tanya Rina, mengagetkan lamunanku.
Hari ini praktikum kimia. Pengenalan dasar materi pertama semester 2. Aku menggeleng pelan. “Bukan apa-apa.”
Rina mengangkat bibir tinggi-tinggi. “Ih, Gelia pelit!” Katanya, menarik hidungku dan pergi.

Aku memberesi alat-alat praktikum. Melepas perlengkapan badan dan mengunci lab Kimia. Hari ini, lelah. Apalagi nanti awal-awal praktek UN.

“Kak Fendi ngomong apa aja sama kamu?” Tanya Rina saat kami tengah makan di kantin. Aku menghela napas. Dia kepo banget deh, akhir-akhir ini.
Aku menggeleng. “Enggak ngomong, apa-apa, Rina!” Kali ini aku yang menarik hidungnya. Terkekeh kecil saat melihat perubahan warnanya.
“Sakit tau!” Katanya, menggosok hidungnya pelan. Aku sudah tidak peduli.

Setelah batagorku habis, aku langsung kembali ke kelas. Rina kutinggal lantaran belum menghabiskan sotonya.
Mendadak aku teringat kak Fendi. Apa kabar dia? Baru beberapa minggu saja rasanya rindu, bagaimana dua atau tiga tahun yang dia janjikan? Ah, maksudnya? Aku menggeleng-geleng. Bahkan ucapanku pun tidak bisa aku mengerti.

Sudah beberapa bulan. H-3 menuju UN. Aku tidak tahu harus apa. Senang? Tidak juga. Cemas? Pasti. Yakinkah aku lulus? Harus yakinlah. Apalagi kemarin aku baru saja mendapatkan piala cerdas cermat Kimia tingkat Provinsi. Aku yakin kok, bisa lulus dan menagih dua atau tiga tahun itu.

Ponselku tiba-tiba berdering. Aku bangkit dari tidur dan mengangkatnya. “Gelia.
Aku mengernyit. Suara kak Fendi? Dari mana dia dapat nomor ponsel baruku ini?
“Gelia. Ini kamu, kan? Gel, kok gak ada suaranya, sih?”
Aku mengerjap-ngerjap. Berlari ke arah cermin sambil memandangi wajah. Kali ini kau seharusnya senang Gelia, bukan bingung!

“Iya. Ini, aku. Ini.. Kak Fendi?” Tanyaku, hati-hati.
“Iya. Kamu apa kabar?”
“Baik. Baik-baik. Kak Fendi?”
“Baik. Kamu lagi apa? Lagi nunggu dua atau tiga tahun ke depan, ya?” Katanya disertai nada bergurau.
“Apaan, sih kak. Aku lagi belajar buat UN lusa, tau.”
“Oh. Sekarang kamu rajin, nih? Sejak kapan?”
“Dari dulu kali. Gimana kuliahnya, kak? Lancar?”
“Lancar. Eh, sebenernya, aku ganggu gak sih?”
“Ganggu. Kan lagi belajar.”
“Ya udah. Nanti aku telepon lagi ya? See you.”
Kak Fendi mematikan telepon. Aku mencoba menyadarkan diri. Gelia? Hey? Are you oke, now?
Aku menggeleng-geleng. Bangkit lagi menuju kasur dan bermimpi indah. Semoga apa yang dikatakannya itu benar.

UN telah tiba. Hari ini berat sekali. Belajar sehari semalam di hari pertama membuat aku nyaris darah rendah. Papa marah-marah karena aku susah diatur. Terlalu memforsir waktu. Lupa makan. Semangat belajar tinggi sampai hampir diinfus sehari yang lalu.
Tetapi hari ini aku serasa baik-baik saja. Seseorang yang memberikan semangat melalui SMS membuat aku jadi lebih cepat sembuh.

Rina mendorong kursiku. Berbisik memanggil-manggil. “Gel. Kamu udah?” Aku mengangguk. Rina melotot tidak percaya.
Entah mengapa aku jauh lebih cepat mengerjakan tugas dari biasanya. Kertas LJK segera kukumpulkan dan keluar.

Saat keluar, di tepi pintu aku menemukan seseorang yang tak asing. Dia tersenyum melambaikan tangan menyuruhku segera menghampirinya. Kak Fendi.

“Kak Fendi? Kok ada di sini?”
“Suprise, dong. Kata papa kamu, kamu sakit ya?”
Aku menggeleng. “Enggak.” Kataku, menarik tangannya dan meletakkannya ke dahi. “Enggak, kan?” Aku menyeringai.
“Iya, ya. Enggak demam ini.” Kak Fendi, menyeringai. Aku terlihat seperti anak kecil saat ini.

Saat ini kak Fendi mengajakku ke restoran. Gift tanda keberhasilanku melewati UN yang mendebarkan dada selain cinta. Kami hanya memesan steak dan kopi latte.
Kulihat kak Fendi malah memerhatikan aku yang tengah makan. “Kak. Kok bengong, sih?”
Kak Fendi tersenyum. Menggeleng lalu meminum kopinya. “Enggak.”
“Mikirin aku, ya?”
“Ih, kamu GR.” Katanya. Aku mengerucut. Berpura-pura ngambek.
“Ya, ngambek deh. Padahal kan becanda.” Kata kak Fendi. “Ya udah. Kalo gitu ikut aku, yuk?”
Kak Fendi menarikku keluar resto. Kembali menaiki mobil.

“Kita mau ke mana, kak?”
“Tempat yang indah.” Kata kak Fendi. Dia kembali fokus mengemudi. Aku masih tidak mengerti.

Semua tempat bagiku adalah indah, cuma bedanya akan jauh lebih spesial jika kita lewati dengan orang yang kita sayangi.

Aku melempar pandang ke arah pantai pasir putih yang indah. Kak Fendi menoleh ke arahku. “Ini masih kalah indah dari kamu Gel.” Kata kak Fendi. Aku tersipu.

Inilah tempat yang kak Fendi maksud. Pantai yang indah dengan ombak kecil-kecil. Ditambah angin sore yang menelisik serta surya yang akan segera lenyap. Ini indah, sekali.

“Kenapa kamu masih belum dibolehin pacaran, Gel? Kan, kamu udah lulus?” Tanya kak Fendi.
“Karna aku masih labil.” Jawabku. “Kalau aku labil, nanti susah dilurusin. Biasanya remaja itu, kan ngekang banget.”
“Kan ada aku yang bakal lurusin. Semua yang terbaik bakal aku berikan buat kamu.” Kata kak Fendi membuat aku ingin fly.
Aku menggeleng-geleng. “Dua atau tiga tahun lagi. Kakak bosen, ya, nunggunya?” Tanyaku, kak Fendi diam. “Kalo kakak bosen, udahan aja.” Aku tersenyum.
“Gel, kok kamu ngomong gitu, sih?” Kata kak Fendi. Dia bangkit dengan raut kecewa. Aku masih tersenyum.
“Aku cuma gak mau kak Fendi ngerasa terpaksa saat jalan bareng aku. Kata kakak, dua atau tiga tahun itu gak lama, kok. Iya, kan?”

Kak Fendi masih diam. Aku menangkupkan tangan pada kedua pipinya. “Kalo kakak capek. Kakak bisa kok, cari yang lain.”
Kak Fendi kembali terlihat kesal. Aku bangkit. Sebenarnya aku juga merasa sakit. Cuma…

“Gel. Maksud kamu apa nyuruh aku cari yang lain?” Kak Fendi berjalan cepat mengejarku. Inilah yang aku takuti. Pertengkaran. Meski kami sebenarnya belum murni menjalin cinta. “Gel. Kok, kamu gini, sih?”
Aku terhenti. Kak Fendi sudah ada di depanku. “Beda. Kamu berubah.”
“Kalo kakak gak bisa terima syarat itu. Batalin aja janji-janji dulu. Lagian, cinta bukan kontrak kerja yang akan habis masa aktifnya.”
“Gel. Dua atau tiga tahun lagi masih lama. Dan minggu depan, aku harus ke luar negeri.” Kata kak Fendi. Aku masih berusaha tersenyum.
“Siapa yang janjiin itu? Kakak, kan? Jadi, terserah kakak mau dilanggar ataupun tidak.”
“Gel. Masalahnya minggu depan aku bakal pergi.” Aku terdiam menatap kak Fendi penuh pertanyaan. “Aku dapat beasiswa dari Jerman. Aku bakal enggak ada dua atau tiga tahun seterusnya.”
“Jadi? Kalo kakak pergi, rasa itu juga pergi?” Sekarang, tangisku sudah mulai pecah.
“Bukan itu maksudnya.”
“Aku gak ngerti sama orang dewasa. Cinta. Dan semua janji-janji pengkhianat yang nyatanya cuma klise.” Kataku tak bisa menahan diri. Kak Fendi terdiam menunduk. Dia tidak bisa melihat aku menangis.
“Kalo gitu. Sampai di sini. Tiga tahun ke depannya cuma mimpi cewek labil seperti aku. Lupaian aja, aku.” Aku melepaskan gelang couple pemberiannya. Tersenyum sekilas saat kak Fendi berani menegakkan wajahnya. Dia meringis, seperti ngilu melihat perempuan yang dia sayangi menangis.
Aku segera berlari saat kak Fendi hendak menggapai pipiku, hendak menghapus air mata.

Cinta, belum dua, tiga tahun pun sudah sia-sia. Bagaimana nanti? Aku tidak mengerti mengapa kak Fendi bisa berubah fikiran. Yang aku tahu sekarang adalah sakittt, sekali. Sakittt. Akhirnya aku merasakannya juga.

Tiga tahun kemudian. Semua seakan-akan baik-baik saja. Angin sore yang dingin bertiup kencang. Menerbangkan helaian rambut hitamku yang semerbak bau shampo. Hari ini setelah pulang kuliah, entah mengapa, Rina yang baru pulang dari luar negeri memaksaku ke pantai. Berkata kalau dia akan melakukan penelitian biologi di sini.

Aku tidak peduli. Lagian kejadian tiga tahun lalu itu sudah berusaha aku lupakan. Kenangan yang menyakitkan hati. Melukai. Mengkhianati. Aku sudah tidak terlalu memikirkan itu.

Kata-kata indah. Kenangan manis. Suasana menyenangkan. Sesungguhnya sedang berusaha kulupakan. Kak Fendi, jujur, aku masih mencintaimu. Menunggu janji tiga tahun lalu. Yang nyatanya sekarang sudah rapuh seperti karang yang menjadi pasir yang kuinjak saat ini.

“Gelia.” Aku masih memejamkan mata. Menggeleng saat alam sadarku menangkap suara yang familiar. “Gelia.”

Aku kesal. Menggenggam tanganku erat sambil memukuli batu besar yang kududuki. Itu bukan suara kak Fendi, kan?

“Ini aku.” Kata suara itu. “Fendi.”

Dalam hati aku sudah mulai berharap. Menoleh dan mendapati kak Fendi yang jauh lebih tampan. “Apa kabar?”

Dia datang untukku, kah? Atau hanya sekedar menepati janji-janji?

Aku mengangguk. “I’m very well.”

“Aku ke sini, mau ngasih kamu, ini.”

Hadiah lagi? Kak Fendi menyerahkan kotak yang mirip dengan hadiah yang pertama dia berikan. Cuma bedanya kali ini dengan pita kuning. Warna yang melambangkan persahabatan. Persahabatan?

“Ini apa?” Tanyaku, kak Fendi tersenyum getir. “Ini maksudnya apa?” Aku mulai mepermasalahkan warnanya. Kak Fendi tersenyum tipis.
“Tiga tahun itu, aku berhasil menemukan seseorang. Kamu, kan yang nyuruh aku buat cari orang lain? Dan aku udah nemu orangnya.” Kata kak Fendi. Aku semakin tidak mengerti.
“Dan kado itu. Itu tanda persahabatan kita. Aku tahu rasanya sulit dilupain tiga tahun yang lalu. Tapi, kita udah sama-sama dewasa. Kamu udah enggak labil lagi, Gel.”
“Maksud kakak apa?”
“Sekarang, aku bakal kenalin kamu sama seseorang itu.”

Kak Fendi menggeser tubuhnya ke kanan. Rina tiba-tiba muncul dari belakang. Dia tersenyum takut-takut. “Gel. Aku..”
“Rina??” Sontak aku tidak percaya. Kak Fendi mengangguk.
“Iya. Rina.” Kata kak Fendi.
Aku memejamkan mata sejenak. Mencoba bertahan. Bertahan. Bertahan. Ah, sial. Air itu akhirnya menetes bersama derasnya hujan.

“Aku gak ngerti samu kamu Rin. Jadi selama ini…” Rina menggeleng. Mendekatiku. Aku menepisnya cepat.
“Gel, kamu marah, ya..” Aku terkekeh, tersenyum hampa.
“Cuma sahabat sejati yang tahu apa yang aku rasain.” Kataku, parau.

Aku benci! benci! benci! benci semua rasa yang pernah ada ini. Benci! benci! benci! benci! benci ikatan persahabatan yang katanya sejati ini. Aku benci!

“Gel.” Rina berteriak.

Kilat menggelegar. Menyambar langit saat aku berlari meninggalkan semuanya. Menangis memang bukan solusi tapi setidaknya aku masih punya cara untuk meluapkan hati. Aku menoleh, menyeka air mata. Ini 7200 hari selama aku hidup. Dan baru kali ini merasa sakit dan dikecewakan. Aku tidak tahu harus apa. Menyalahkan kak Fendi pun tidak berhak. Lalu? Ya, diam. Menangis. Lupakan semuanya. Pura-pura tegar saja. Biarkan hujan menghapus jejak tiga tahun yang lalu itu.