7 Gejala Yang Patut Diwaspadai Saat Hamil

By On Sunday, October 30th, 2011 Categories : Artikel

(7 Gejala Yang Patut Diwaspadai Saat Hamil) – Kehamilan merupakan salah satu moment yang dinanti-nantikan oleh setiap pasangan suami dan istri. Oleh sebab itu dalam masa kehamilan harus benar-benar ekstra dalam menjaga kesehatan, baik itu kesehatan jasmani dan kesehatan rohani. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan diantaranya adalah memakan makanan yang sehat, istrihat cukup, olah raga. Semasa hamil sebaiknya calon ibu juga patut mewaspadai beberapa gejala atau tanda-tanda yang dapat membahayakan kondisinya dan calon bayi.

Berikut adalah tujuh gejala yang dapat menimbulkan komplikasi serius dalam kehamilan.
1) Pendarahan pada trimester berapa pun.
Perdarahan dalam kondisi bagaimanapun dapat memiliki arti yang luas. Perdarahan yang berlebih dan disertai sakit perut serta dibarengi dengan kram seperti sedang menstruasi, atau terasa akan pingsan dan semuanya dialami pada trimester pertama, itu bisa menjadi pertanda hamil di luar kandungan,” ungkap Peter Bernstein, MD, profesor obgin klinis di Albert Einstein College of Medicine dan Montefiore Medical Center di Bronx.

Kehamilan di luar kandungan dapat terjadi jika telur yang telah dibuahi tertanam tidak di dalam rahim. Hamil di luar kandungan tersebut dapat mengancam jiwa calon ibu. Perdarahan hebat yang disertai kram juga bisa menjadi salah satu tanda keguguran pada trimester pertama atau awal trimester kedua.

Apabila terjadi pendarahan dalam usia kehamilan itu sangat berbahaya, oleh sebab itu jangan pernah menundanya untuk memeriksakan ke klinik atau dokter kandungan.

2) Mual dan muntah secara berlebihan
Mual dan muntah pada saat hamil hingga tidak dapat menahan makanan apa pun di dalam perut termasuk dalam situasi yang berbahaya. “Jika Anda tidak dapat makan atau minum apa pun, maka dehidrasi mengancam,” ungkap Bernstein.

Hal ini ditengarai bisa menyebabkan kekurangan gizi, yang bisa menyebabkan kelahiran cacat serta lahir prematur. Oleh sebab itu, sangat penting untuk segera berkonsultasi ke dokter jika mual dan muntah terus berlanjut.

3) Aktivitas janin menurun secara tiba-tiba
Apabila calon ibu mendapati aktifitas calon bayinya berubah drastis yang mana tadinya sering bergerak aktif, tiba-tiba mendadak tidak aktif seperti biasanya hal tersebut bisa jadi karena calon bayi kekurangan energi, “Jika bayi dalam kandungan tidak aktif bergerak seperti biasanya, bisa jadi janin tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi dari plasenta,” ujar Bernstein.

Lantas, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa calon bayi kekurangan oksigan dan tenaga? Bernstein menyarankan supaya calon ibu minum atau makan sesuatu yang dingin dan kemudian tidur dalam posisi miring. Tunggu sesaat apakah janin akan bergerak atau tidak.

Jumlah tendangan pun juga bisa dijadikan indikator, tidak ada patokan khusus untuk itu, tetapi 10 atau lebih tendangan dalam waktu dua jam adalah jumlah yang normal. Kalau kurang dari itu, maka sebaiknya segera hubungi dokter untuk memeriksakan kondisi kandungan, dikarenakan dokter memiliki alat-alat yang cocok untuk mengetahui apakah janin dalam kondisi normal, bergerak, dan tumbuh sesuai usia kandungan.

4) Kontraksi dini di usia trimester ketiga
Kontraksi dapat menjadi pertanda kelahiran sebelum waktunya. Namun sayangnya, banyak calon ibu yang terkecoh antara tanda kelahiran yang sesungguhnya dengan tanda kelahiran yang “palsu” (false labor).

False labor disebut juga sebagai kontraksi Braxton-Hicks. Kontraksi jenis ini sama sekali tidak dapat diprediksi, tidak beritme dan intensitasnya tidak meningkat. Biasanya akan menghilang dalam kurun waktu satu jam atau ketika calon ibu minum. Sementara itu kontraksi tanda kelahiran yang sesungguhnya memiliki interval 10 menit atau kurang dan intensitasnya semakin meningkat.

Yang peling penting dalam hal ini adalah jangna pernah main-main dengan keselamatan calon bayi dan calon ibu. Jika calon ibu mengalami kontraksi pada trimester ketiga, jangan buang waktu lagi. Segeralah periksakan ke dokter. Bila umur bayi masih terlalu muda untuk dilahirkan, dokter biasanya memiliki alat penunda kelahiran.

5) Pecahnya air ketuban
Air ketuban bisa saja pecah saat calon ibu sedang berjalan, apabila calon ibu merasa ada air dalan jumlah banyak mengaliri kedua kaki hal tersebut bisa jadi itu karena air ketuban yang pecah atau bisa juga kandung kemih. Jika tidak yakin apakah air tersebut air ketuban atau urin, cobalah untuk ke kamar mandi dan buang air kecil, apabila cairan terus mengalir berarti itu air ketuban. Sebaiknya segera ke dokter atau rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

6) Sakit kepala yang terus-menerus
Sakit kepala yang terus-menerus, sakit perut, gangguan penglihatan, dan pembengkakan selama trimester ketiga. Semua gejala itu bisa saja terjadi dan merupakan gejala terjadinya preeklampsia. Hal ini merupakan sebuah kondisi yang serius apabila terjadi selama kehamilan dan bisa berbahaya. Preeklampsia ditandai dengan tingginya tekanan darah dan adanya protein di dalam urin yang biasanya terjadi setelah pekan ke-20 kehamilan. Segera hubungi dokter dan periksakan tensi (tekanan darah) anda. Perawatan prakelahiran dapat mengatasi preeklampsia secara dini.

7) Gejala flu
Pada saat musim flu dimana anggota keluarga banyak yang mengalami flu dan batuk, ibu hamil biasanya akan dengan mudah tertular dibandingkan dengan mereka yang tidak hamil. Hal ini dikarenakan kehamilan memberi stres tambahan terhadap sistem kekebalan tubuh. Sebagai tambahan, ibu hamil memiliki potensi yang tinggi untuk terkena komplikasi serius dari flu.

Gejala flu yang termasuk diantaranya dalah demam, batuk-batuk, tenggorokan nyeri, hidung berlendir, bersin-bersin, mual, muntah, dan diare. Hindari sebisa mungkin orang-orang terdekat yang terkena flu dan kenali tanda-tandanya, supaya calon ibu tidak tertular.

Diinformasikan juga bahwa jika ibu hamil mengalami demam dengan suhu tubuh yang tinggi misalnya di atas 38 derajat Celsius, itu bisa jadi tanda adanya infeksi.

Kesehatan calon ibu dan bayi merupakan tanggung jawab bersama (suami dan istri), alangkah baiknya sang suami juga ikut memperhatikan agar keselamatan ibu dan janin tetap bisa terjaga.