Mukjizat Al Qur`an – Qur’an

Alquran adalah kitab petunjuk bagi seluruh manusia (hudan li al-nas), yang di dalamnya juga mengandung penjelasan (bukti-bukti) sebagai petunjuk. Bukti-bukti itulah yang kita katakan sebagai mukjizat, karena dengan bukti-bukti tadi manusia tidak dapat mengingkari kebenaran isi Alquran.

Selain mukjizat dari segi kekuatan bahasa, ketepatan berita sejarah maupun kejadian yang akan datang, serta keadilan hukum-hukum yang dikandungnya, terdapat pula mukjizat dari segi ilmiah (sains dan teknologi) yang beberapa faktanya baru bisa kita saksikan di zaman mutakhir ini.

Dalam Seminar Internasional Mukjizat Alquran dan Asunah tentang iptek di Bandung yang diikuti oleh peserta dari berbagai penjuru dunia, terungkap pengakuan para pakar iptek Muslim maupun non-Muslim tentang ketepatan ungkapan Alquran dalam menjelaskan fenomena sains dan teknologi. Beberapa contoh berikut ini hanya merupakan sebagian kecil cuplikan dari ungkapan para pakar tersebut.

Bidang embriologi: Sampai abad ke-17 ilmuwan Barat beranggapan bahwa penciptaan manusia terjadi sempurna sekaligus, yaitu sudah berbentuk utuh ketika dikeluarkan dari bibit bapaknya (sperma). Pada abad ke-18 ditemukan mikroskop yang menunjukkan bahwa sel telur ibu (ovum) lebih besar ukurannya dari sperma, sehingga anggapan tersebut bergeser ke pembuahan di ovum sebagai awal kesempurnaan terbentuknya seluruh anggota badan manusia. Baru pada abad-abad berikutnya dunia kedokteran Barat mengetahui bahwa manusia terbentuk sempurna secara bertahap dalam rahim ibunya.

Padahal, umat Islam sudah meyakini sejak 15 abad yang lalu, berdasarkan berita Alquran, bahwa manusia tercipta secara bertahap (Q.S. Nuh: 13-14 ), dalam tiga lapis kegelapan di perut ibunya (Q.S. Az -Zumaar: 6), dan mempunyai nama-nama tahapan yang menggambarkan keadaan embrio secara akurat, ‘alaqah, mudhghah, ‘izhaam, kisaail ‘izhaam bil lahm (Q.S. Al Mu’minuun : 12-14), sebelum terbentuk menjadi manusia secara utuh (khalqan akhar).

Bidang kosmologi: Kebanyakan kepercayaan batil beranggapan bahwa dunia dan alam semesta ini langgeng, tidak bermula dan tidak berakhir. Baru setelah dipelajarinya kosmologi (ilmu tentang asal usul alam semesta) dengan dukungan kemajuan fisika, terutama fisika nuklir, diketahui bahwa alam semesta ini bermula dan akan berakhir. Bermula dari suatu “dentuman besar” (big bang), kemudian terus mengembang (the expanding universe), dan diperkirakan akan berakhir dalam suatu “runtuhan besar” (big crunch).

Walaupun pernyataan-pernyataan tersebut baru bersifat teoretis dalam kosmologi, namun Alquran sudah memastikan sejak 15 abad yang lalu, bahwa langit dan bumi berasal dari satu paduan yang kemudian terpisah (Q.S. Al-Anbiya: 30), alam semesta ini diluaskan (Q.S. Adz Dzaariyaat: 47), kemudian akan dihancurkan seperti kertas yang digulung (Q.S. Al Anbiyaa: 104).

Bidang metalurgi dan astronomi: Kalau kita buka terjemahan Alquran Surah Al-Hadid ayat 25, akan kita dapati ungkapan “… dan Kami ciptakan besi …”, padahal dalam kalimat aslinya berbunyi “… wa anzalna al hadida … (dan Kami “turunkan” besi) …”. Ternyata besi (ferum) yang massa atomnya 56-57 kali massa atom hidrogen, memang hanya bisa terbentuk di bintang-bintang nun jauh di sana. Matahari kita saja yang besarnya lebih dari sejuta kali bumi ini, hanya mampu mengubah atom-atom hidrogen menjadi atom baru yang dinamai helium, dengan kehilangan sebagian massa pembentuknya.

Massa yang hilang inilah yang dipancarkan terus-menerus sebagai energi matahari sejak sekitar lima miliar tahun yang lalu. Kenyataan bahwa besi benar-benar diturunkan dari luar bumi diketahui setelah penemuan astronomi modern yang mendapati bahwa terbentuknya besi hanya bisa terjadi di bintang-bintang dengan massa lebih dari empat kali massa tata surya kita.

Dr. Abdul Majid Az-Zindany, Sekretaris Umum Haiatu al i’jazil ‘ilmiy fi Alquran wa al Sunnah (Komisi Mukjizat Ilmiah dalam Alquran dan As Sunnah) Rabithah Alam Islami yang berpusat di Mekah Al-Mukaramah, memberikan panduan berkaitan dengan mukjizat ilmiah ini. Menurut dia, suatu penemuan iptek merupakan mukjizat ilmiah Alquran maupun As-sunah dengan berpijak bahwa:
Ilmu Allah SWT. bersifat universal dan kebenarannya bersifat mutlak. Adapun ilmu manusia bersifat terbatas dan kebenarannya nisbi, bisa benar bisa pula salah.
Ada nas-nas wahyu (Alquran) yang memiliki dilalah (penunjukan) pasti, demikian pula ada realitas ilmiah yang indikasinya juga pasti.
Ada juga ungkapan wahyu yang tidak memberikan penunjukan pasti (zhanniy al dilalah atau mutasyabihat), sebagaimana pula ada teori ilmiah yang belum bersifat pasti.
Tidak mungkin terjadi pertentangan antara yang pasti dari wahyu dengan yang pasti dari realitas ilmiah. Kalau terjadi pertentangan pastilah ada kesalahan dalam menentukan kepastian salah satunya.
Jika Allah SWT menampakkan kepada hamba-hamba-Nya ayat-ayat-Nya di ufuk dan dalam diri manusia, yang menunjukkan kebenaran ayat-ayat dalam kitab-Nya atau hadis Rasul-Nya, maka pemahaman nas menjadi jelas, kesesuaiannya menjadi sempurna, penafsirannya menjadi kokoh, dan penunjukan (dilalah) lafal nas tersebut jadi tertentu; yaitu sesuai dengan penemuan ilmiah tersebut yang berupa realitas fakta di alam. Inilah yang disebut mukjizat ilmiah.
Sesungguhnya teks (nas) wahyu diturunkan dengan lafal yang komprehensif, mencakup segala konsep yang baru dalam topik-topiknya. Kebenaran kandungannya terus-menerus muncul dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Jika terjadi pertentangan antara nas yang penunjukannya pasti (qath’iy al dilalah) dengan suatu teori ilmiah, maka teori tersebut harus ditolak. Hal ini disebabkan nas wahyu berasal dari Zat Yang Maha Berilmu. Adapun jika terjadi kesesuaian, maka nas wahyu menjadi patokan kebenaran teori tersebut (dan bukan sebaliknya). Sedangkan jika nas tadi penunjukannya tidak pasti (zhanniy al dilalah) padahal realitas alamnya sudah bersifat pasti, maka nas tersebut harus ditakwilkan pada pengertian yang sesuai dengan kenyataan ilmiah tersebut.
Jika terjadi pertentangan antara realitas ilmu yang pasti dengan hadis (pengetahuan atau peristiwa) yang ketetapannya belum pasti (zhanniy al tsubuut), maka pengertian hadis tadi harus ditakwilkan sesuai dengan kepastian pengertian ilmiah itu. Adapun jika tidak ada kesesuaian, maka yang pasti (qath’iy al dilalah) harus didahulukan dari yang tidak pasti (zhanniy al dilalah). Wallahu a’lam. (H. Abuyahya Purwanto, S. Si., alumnus Astronomi ITB, praktisi dakwah Islam, anggota PiSQ-ICMI).***

Tags:

Pengertian Penyakit Psitacosis

Walaupun belum ada laporan tentang kasus penyakit Psittacosis yang diderita oleh manusia tetapi penyakit yang disebarkan oleh burung paruh bengkok (nuri dan kakatua) ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan. Penularannya bisa lewat kotoran burung yang kemudian terhirup oleh manusia. Gejala...

Mengapa permukaan laut turun sebelum terjadi tsunami?

(Mengapa permukaan laut turun sebelum terjadi tsunami?) – Tsunami adalah gelombang laut raksasa yang timbul akibat gempa di dasar laut atau gunung meletus. Tsunami yang muncul diawali dengan peristiwa ini adalah tsunami yang disebabkan oleh gempa tektonik. Saat dasar...

Daur Nitrogen dalam Biogeokimia

(Daur Nitrogen dalam Biogeokimia) – Di alam, Nitrogen terdapat dalam bentuk senyawa organik seperti urea, protein, dan asam nukleat atau sebagai senyawa anorganik seperti ammonia, nitrit, dan nitrat. Tahap pertama Daur nitrogen adalah transfer nitrogen dari atmosfir ke dalam...

Beberapa ruang yang terdapat pada jantung

(Beberapa ruang yang terdapat pada jantung) – Jantung diketahui memiliki beberapa ruang seperti serambi kanan, bilik kanan, serambi kiri dan bilik kiri. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang ruang-ruang yang terdapat dalam jantung, dapat menyimak penjelasan berikut ini. 1. Serambi...

Pengertian Bridge jaringan

(Pengertian Bridge jaringan) – Bridge jaringan adalah sebuah komponen jaringan yang digunakan untuk memperluas jaringan atau membuat sebuah segmen jaringan. Bridge jaringan beroperasi di dalam lapisan data-link pada model OSI. Bridge juga dapat digunakan untuk menggabungkan dua buah media...