Beberapa Sistem Pemilihan Umum dalam Dunia Politik

SISTEM-SISTEM PEMILIHAN – Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilihan umum, akan tetapi umumnya berkisar pada dua prinsip pokok, yaitu:

  • Single Member Constituency (satu daerah pemilihan memiliki satu wakil; biasanya disebut Sistem Distrik).
  • Multi Member Constituency (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil; biasanya dinamakan Proportional Representation atau Sistem Perwakilan Berimbang).

Sistem Distrik
Sistem ini merupakan sistem pemilihan yang paling tua dan didasarkan atas kesatuan geografis. Setiap kesatuan geografis (yang biasanya disebut distrik karena kecilnya daerah yang diliputi) mempunyai satu wakil dalam dewan perwakilan rakyat.

Untuk keperluan itu negara dibagi dalam sejumlah besar distrik dan jumlah wakil rakyat dalam dewan perwakilan rakyat ditentukan oleh jumlah distrik. Calon yang dalam satu distrik memperoleh suara yang terbanyak menang, sedangkan suara-suara yang ditujukan kepada calon-calon lain dalam distrik itu dianggap hilang dan tidak diperhitungkan lagi, bagaimana kecil pun selisih kekalahannya.

Jadi, tidak ada sistem menghitung suara lebih seperti yang dikenal dalam Sistem Perwakilan Berimbang. Misalnya, dalam distrik dengan jumlah suara 100.000, ada dua calon, yakni A dan B. Calon A memperoleh 60.000 dan B 40.000 suara. Maka calon A memperoleh kemenangan, sedangkan jumlah suara 40.000 dari calon B dianggap hilang. Sistem pemilihan ini dipakai di Inggris, Kanada, Amerika Serika dan India.

Sistem “Single Member Constituency” mempunyai beberapa kelemahan:

  • Sistem ini kurang memperhitungkan adanya partai-partai kecil dan golongan minoritas, apalagi jika golongan ini terpencar dalam beberapa distrik.
  • Sistem ini kurang representatif dalam arti bahwa calon yang kalah dalam suatu distrik, kehilangan suara-suara yang telah mendukungnya. Hal ini berarti bahwa ada sejumlah suara yang tidak diperhitungkan sama sekali; dan kalau ada beberapa partai yang mengadu kekuatan, maka jumlah suara yang hilang dapat men­capai jumlah yang besar. Hal ini akan dianggap tidak adil oleh golongan-golongan yang merasa dirugikan.

Di samping kelemahan-kelemahan tersebut di atas ada banyak se­gi positifnya, yang oleh negara-negara yang menganut sistem ini di­anggap lebih menguntungkan daripada sistem pemilihan lain:

  • Karena kecilnya distrik, maka wakil yang terpilih dapat dikenal oleh penduduk distrik, sehingga hubungannya dengan penduduk distrik lebih erat. Dengan demikian dia akan lebih terdorong un­tuk memperjuangkan kepentingan distrik. Lagipula, keduduk­annya terhadap partainya. akan lebih bebas, oleh karena dalam pemilihan semacam ini faktor personalitas dan kepribadian sese­orang merupakan .faktor yang penting.
  • Sistem ini lebih mendorong ke arah integrasi partai-partai politik karena kursi yang diperebutkan dalam setiap distrik pemilihan hanya satu. Hal ini akan mendorong partai-partai untuk me­nyisihkan perbedaan-perbedaan yang ada dan mengadakan kerja­sama. Disamping kecenderungan untuk membentuk partai baru dapat sekedar dibendung, sistem ini mendorong ke arah pe­nyederhanaan partai tanpa diadakan paksaan. Maurice Du­verger berpendapat bahwa dalam negara seperti Inggris dan Amerika. sistem ini telah memperkuat berlangsungnya sistem dwi­partai.
  • Berkurangnya partai dan meningkatnya kerjasama antara partai-­partai mempermudah terbentuknya pemerintah yang stabil dan mempertingkat stabilitas nasional. Sistem ini sederhana dan murah untuk diselenggarakan.

Sistem Perwakilan Berimbang
Sistem ini dimaksud untuk menghilangkan beberapa kelemahan dari sistem distrik. Gagasan pokok ialah bahwa jumlah kursi Yang diperoleh oleh sesuatu golongan atau partai adalah sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya.

Untuk keperluan ini ditentukan se­suatu perimbangan, misalnya 1 : 400.000, yang berarti bahwa se­jumlah pemilih tertentu (dalam hal ini 400.000 pemilih) mempunyai satu wakil dalam dewan perwakilan rakyat. Jumlah total anggota de­wan perwakilan rakyat ditentukan atas dasar perimbangan (1 : 400.000) itu.

Negara dianggap sebagai satu daerah pemilihan yang besar, akan tetapi untuk keperluan teknis-administratif dibagi dalam beberapa daerah pemilihan yang besar (yang lebih besar dari pada distrik dalam Sistem Distrik), di mana setiap daerah pemilihan memilih sejumlah wakil sesuai dengan banyaknya penduduk dalam daerah pemilihan itu. Jumlah wakil dalam setiap daerah pemilihan ditentukan oleh jumlah pemilih dalam daerah pemilihan itu, dibagi dengan 400.000.

Dalam sisitim ini setiap suara dihitung, dalam arti bahwa suara ­lebih yang diperoleh oleh sesuatu partai atau golongan dalam se­suatu daerah pemilihan dapat ditambahkan pada jumlah suara yang diterima oleh partai atau golongan itu dalam daerah pemilihan lain. untuk menggenapkan jumlah suara yang diperlukan guna mem­peroleh kursi tambahan.

Sistem Perwakilan Berimbang ini sering dikombinasikan dengan beberapa prosedur lain antara lain dengan Sistem Daftar (List Sys­tem).

Dalam Sistem Daftar setiap partai atau golongan mengajuktin satu daftar calon dan si pemilih memilih salah satu daftar darinya dan dengan demikian memilih satu partai dengan semua calon yang diajukan oleh partai itu untuk bermacam-macam kursi yang sedang direbutkan.

Sistem Perwakilan Berimbang dipakai di Negeri Be­landa, Swedia, Belgia, Indonesia tahun 1955 dan 1971 dan 1976. {mospagebreak}

Dalam sistem ini ada beberapa kelemahan:

  • Sistem ini mempermudah fragmentasi partai dan timbulnya par­tai-partai baru. Sistem ini tidak menjurus ke arah integrasi ber­macam-macam golongan dalam masyarakat; mereka lebih cen­derung untuk mempertajam perbedaan-perbedaan yang ada dan kurang terdorong untuk mencari dan memanfaatkan persamaan-­persamaan. Umumnya dianggap bahwa sistem ini mempunyai akibat memperbanyak jumlah partai.
  • Wakil yang terpilih merasa dirinya lebih terikat kepada partai dan kurang merasakan loyalitas kepada daerah yang telah mernilih­nya. Hal ini disebabkan oleh karena dianggap bahwa dalam pe­milihan semacam ini partai lebih menonjol peranannya daripada kepribadian seseorang. Hal ini memperkuat kedudukan pimpin­an partai.
  • Banyaknya partai mempersukar terbentuknya pemerintah yang stabil, oleh karena umumnya harus mendasarkan diri atas koalisi dari dua partai atau lebih.

Di samping kelemahan tersebut, sistem ini mempunyai satu ke­untungan yang besar, yaitu bahwa dia bersifat representatif dalam arti bahwa setiap suara turut diperhitungkan dan praktis tidak ada suara yang hilang. Golongan-golongan bagaimana kecil pun, dapat menempatkan wakilnya dalam badan perwakilan rakyat. Masya­rakat yang heterogeen sifatnya, umumnya lebih tertarik pada sistem ini, oleh karena dianggap lebih menguntungkan bagi masing-masing golongan.{mospagebreak}

Sistem Satu-Majelis dan Sistem Dua-Majelis
Ada negara di mana badan legislatif terbagi dalam dua majelis (bi-kameralisme), sedangkan di beberapa negara lain hanya terdiri dari satu majelis (uni-kameralisme).

Boleh dikatakan bahwa semua negara federal memakai sistem dua majelis oleh karena satu di an­taranya mewakili kepentingan negara bagian khususnya ( India, Amerika Serikat. Uni Soviet, Republik Indonesia Serikat).

Negara kesatuan yang memakai sistem dua majelis biasanya ter­dorong oleh pertimbangan bahwa satu majelis dapat mengimbangi dan membatasi kekuasaan dari majelis lain.

Dikhawatirkan bahwa sistem satu majelis memberi peluang untuk menyalahgunakan kekuasaan oleh karena mudah dipengaruhi oleh situasi politik. Bagai­manapun juga, majelis tambahan biasanya disusun sedemikian ru­pa sehingga wewenangnya kurang daripada badan yang mewakili rakyat.

Badan yang mewakili rakyat umumnya disebut Majelis Ren­dah (Lower House) sedangkan majelis lainnya disebutkan Majelis Tinggi (Upper House atau Senat).

Tags: ,

Persebaran Agama Islam dan Agama Lainnya pada Masa Kolonial

Di subbab depan telah dikemukakan, bahwa pemerintah Hindia Belanda memberi izin khusus di daerah-daerah tertentu untuk persebaran agama Kristiani. Daerah penyebaran Kristiani dilakukan di daerah-daerah yang belum terkena pengaruh agama Hindu Buddha maupun Islam. Misalnya wilayah Ambon, Batak, Papua,...

Mengenal Gangguan Sistem Pernapasan

Mengenal Gangguan Sistem Pernapasan – Gangguan sistem pernapasan dapat terjadi karena faktor genetik, pola hidup tidak sehat, maupun infeksi mikroorganisme dan virus. Jika dibiarkan begitu saja, dapat mengganggu bahkan membahayakan hidup kita. Berikut merupakan beberapa gangguan sistem pernapasan manusia....

Pengertian dan Definisi Belajar Konsep

(Pengertian dan Definisi Belajar Konsep) – Definisi konsep menurut sebagian besar orang adalah sesuatu yang diterima dalam pikiran atau ide yang umum dan abstrak. Menurut salah satu ahli, konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas objek, kejadian, kegiatan,...

Pengertian Rantai Makanan dan Contoh Rantai Makanan

Pengertian Rantai Makanan dan Contoh Rantai Makanan – Setiap makhluk hidup membutuhkan energi untuk hidup. Setiap hewan melakukan sesuatu (berlari, melompat) mereka menggunakan energi untuk melakukannya. Hewan mendapatkan energi dari makanan yang mereka makan, dan semua makhluk hidup mendapatkan...

Pengertian Lengkap Tenaga Eksogen dan Endogen

Pengertian Lengkap Tenaga Eksogen dan Endogen – Permukaan bumi terbentuk karena adanya proses alamiah yang berlangsung terus-menerus. Peristiwa alamiah tersebut digerakkan oleh suatu tenaga alamiah yang berasal dari dalam maupun luar bumi. Tenaga-tenaga yang berasal dari dalam bumi dan bersifat membentuk permukaan bumi...