14 FEBRUARI

By On Friday, March 3rd, 2017 Categories : Cerita

Mentari senja mengintip dibalik bukit. Semilir angin masih melilit bumi. Hiruk piruk suara kota tak terdengar lagi. Jauh diatas bukit, di balik mentari senja itu aku berdiri. Dibawah pohon besar nan kokoh. Kulangkahkan kakiku perlahan. Dengan keyakinan dan senyum tipis, kuhadapkan diriku pada makam itu. Mataku mendadak sayu, senyumku menjadi pudar dan aku larut dalam kesenduan. Butiran-butiran air mata kini membasahi pipi merahku. Perlahan aku menutup mata sejenak, lalu mengambil nafas dalam dalam.

Setangkai mawar putih masih kugenggam. Ingin kusandingkan mawar putih di makam itu. Namun sang bayu membawanya. Menerbangkan satu persatu kelopak indahnya. Seketika aku teringat kisah kita dulu. Kisah abadi yang tak pernah padam, yang terlukis diatas selembar kertas putih.

 ***

“Hai mata kodok!” sapa seorang anak lelaki bertubuh tinggi, berwajah tampan, berhidung mancung, berkulit sawo matang dan memakai topi. Ia selalu memanggilku dengan sebutan itu, karena mataku sedikit lebih besar dengan bulu mata yang lentik.

Kutatapi wajahnya sejenak, lalu kupalingkan wajahku. Anak lelaki itu menyikut bahuku, seolah ingin mengajakku berkomunikasi. Tapi aku tak bergidik. Tetap seperti posisiku semula, tak bergerak sama sekali.

“Hai mata kodok!” sapanya sekali lagi. Kini suaranya terdengar lebih tinggi. Aku menatapnya, menaikkan sedikit alis lalu kembali keposisi semula.
“Nyebelin banget sih lo! Budek ya? Gue tuh ngomong sama lo! Respon kek”, cetusnya kesal.             “Ziel! Berisik banget sih lo! Bawel, tau gak?!” balasku.
“Eits, gue bukan ikan bawal!!”
“Eh sedeng! Yang bilang lo ikan bawal siapa? Gue bilang lo itu bawel, bukan bawal! Ah, udah ah. Gue males ngomong sama lo,”ucapku seraya pergi meninggalkan Ziel yang duduk di kursi koridor sekolah.
“Eh, mata kodok! Tunggu dulu! Tungguin gue!”

Ziel mengejarku, lalu mencoba mensejajarkan langkahnya denganku. Ia menatapku. Sangat tajam, tatapan yang tak dapat kuartikan. Aku menunduk, tak berani menatap mata coklatnya. Kututupi wajahku dengan rambut panjang yang kugeraikan. Ia semakin menatapku, lalu menghentikan langkahku.

Tangan kanannya menyentuh pipiku. Menengadahkan wajahku. “Emiko, lo kenapa? Apa gue ada salah?” tanya ziel penasaran. Kukerutkan dahiku seolah tak mengerti.             “ziel, gue gak apa-apa kok. Gue itu sehat wal afiat kok”
“Jangan bohong, deh!”
“gue gak bohong!”
“Gue gak percaya!”
“ya udah, kalau gak percaya! Bodo amat ah! Gue pusing nih! Gue mau ke kelas dulu.
” Ucapku ketus seraya meninggalkan ziel yang tampak kebingungan. Ziel pun hanya menatap kepergianku dengan bibirnya yang dimanyunkan.

                                           ***

Ups! Sekarang pukul 20:00. Dewi malam pun semakin lihai menari bersama bintang dilangit malam. Aku menatap dewi malam itu. Ia tampak tersenyum kepadaku, mungkin ia sedang gembira. Tapi tidak denganku. Aku sama sekali tak segembira bintang dilangit. Entah lah, akhir-akhir ini moodku  sedang jelek.

“Emiko! Emiko! Cepat turun kesini, sayang!” ucap mama setengah menjerit. Tanpa menjawab panggilan mama, aku lekas turun ke lantai 1 rumahku. Kuedarkan pandangan kesekitar ruang tvku. Tak ada siapa pun hanya mama dan… OMG! Ziel. Sedang apa ia di rumahku?

“Emiko, ini Ziel mau bicara sama kamu katanya tuh. Mama tinggal dulu ya!” ucap mama seraya pergi meninggalkanku dengan Ziel.
“Ngapain lo kesini?!” tanyaku tanpa basa-basi kepada ziel.
“Eits! Kenapa sih, akhir akhir ini lo galak banget ke gue! Kita itu kan udah temenan selama 5 tahun! 5 tahun, men! Ga biasanya lo begini banget ke gue.
” Balasnya
Aku menghela nafas pendek sebelumnya menjawab pertanyaan dari Ziel.
“Gue badmood ,
” ucapku dengan bibir dimanyunkan.
“jalan yuk!”
“kemana?”
“nyari angin, sekalian buat hilangin badmood  lo!”
“ga mau gua”
“harus mau! Tenang aja, gua bakal bawa lo ketempat yang keren dah pokoknya”
“ ok, gua percaya. Tapi gue ganti baju dulu ya!
“ya udah, cepetan. Gue tunggu 10 menit”

Aku lekas naik kelantai 2 rumahku. Berganti pakaian dan menyisir rambut. Aku menggunakan t-shirt  dan waist dengan balutan warna biru donker dan trousets hitam polos.
Setelah siap berganti pakaian, aku menuruni anak tangga yang membawaku ke lantai 1.
Kudapati mama dan Ziel sedang berbincang.
Memang mamaku sudah mengenal Ziel dengan dekat.
Bagaimana tidak, Ziel sudah sering main kerumahku, begitu pun aku, kami sudah tak canggung lagi untuk bertemu orang tua aku atau pun dia. Bagaimana canggung, kalau selama 5 tahun berturut-turut ia selalu berkunjung kerumahku.

“Berangkat yuk?!” ucapku menyela perbincangan mama dan Ziel.
“Eh, dasar lo ga sopan! Gue lagi ngomong sama nyokap lo nih, main yela-nyela aja!” balas Ziel.
“iya, iya. Maaf deh. Ya udah, kita jadi berangkat gak?”
“jadi dong. Tante, aku pergi dulu ya sama anak tante yang galak ini”, pamit Ziel kepada mama. Aku hanya meliriknya, lalu memanyunkan bibir.
“ya sudah, hati-hati ya! Pulangnya jangan larut malam!” balas mama. Aku dan Ziel pun mengannguk. Aku dan Ziel pun segera pergi.
Tak sampai satu menit kemudian, Ziel sudah memajukan motornya memasuki jalan raya menuju sebuah tempat yang masih ia rahasiakan.

***

Wow! Ziel benar-benar membawaku ketempat yang sangat memanjakan mataku, juga hatiku. Aku masih membulatkan mata saat melihat ke sekelilng. Now, i’m feel better. Moodku  kembali normal. Aku gak merasa bete lagi. Kutatapi Ziel yang duduk disampingku. Aku tersenyum kepadanya. Ia melirikku dengan alis yang dinaikkan sebelah.

“woy! Kenapa lo? Tiba-tiba ngelirik gue ga jelas kaya gitu”, ucap Ziel ketus.
“ya elah! GR banget sih lo?” balasku ketus.
“kenyataan kan? Kenapa sih lo ngelirik-ngelirik gue? Gue cakep  ya?” ucapnya cengengesan.             “oh Tuhan, please cabut aja telinga gue! Gue udah cukup dengar si Ziel overdosis GR nya! Selama 5 tahun telinga gue nyesek, Tuhan!” Ziel tertawa terbahak-bahak mendengar permohonanku. Aku membulatkan mata kepadanya.

Tapi ia tak menghiraukan tatapanku. Ekspresi wajahnya sangat menggemaskan. Wajahnya yang tampan makin jelas terlihat, apa lagi ketika ia tertawa seperti itu, lesung pipitya menampakkan diri.
Ziel menarik nafas pendek sembelum bertanya padaku. “Gimana? Badmood  lo udah hilang?”
Aku tersenyum padanya lalu mengangguk pelan.
“Makasih ya, udah buat badmood gue hilang.
Lo emang sahabat yang paling ngertiin gue.” Ziel membalas senyumku lalu mengangguk.             “Buat lo apa sih yang enggak. Kita kan sahabatan!”
“Cie, ucapan lo sweet  banget,” ucapku cengengesan.
“ih, apaan sih lo! Norak banget deh!” balasnya kesal. Aku hanya tertawa melihat

tingkah lakunya. Kurayu dia untuk tertawa bersamaku. Awalnya ia tak tergoda. Tapi aku terus merayunya hingga ia pun tertawa terbahak-bahak. Malam itu aku tertawa bersama Ziel, dewi malam, dan ribuan bintang yang menatap kami sedari tadi.

******

Kring..kring..kring! Jam weker berteriak persis disebelah telingaku. Ups! Jam 07.30 pagi. Ah, sial! Lagi-lagi aku terlambat bangun. Tak kuhiraukan lagi panggilan mama yang sedari tadi menggoyangkan tubuhku, mencoba membangunkanku. Aku sekarang hanya terbujur lemas di atas kasur dengan bantal yang menutupi kepalaku.

“Emiko! Bangun! Kamu kan harus sekolah! Ini udah terlambat tau!” ucap mama dengan nada tinggi. Kulihat mama sekejap, lalu aku kembali tidur.
“Emiko!!” cetus mama lagi. Kali ini aku tersentak. Aku langsung duduk diatas kasur. Kutatapi mama dengan wajah memelas. Tapi mama tak menghiraukan.
“cepat mandi lalu ganti pakaian! Ziel udah nunggu kamu dari tadi!
” Aku membulatkan mata ketika mendengar perkataan mama. Apa? Ziel? Kenapa dia datang pagi-pagi sekali. Pasti ia mau menjemputku. Untuk apa sih dia repot-repot menjemputku!
“Ziel mana ma?”
“itu, dia nunggu diruang tamu!”

Tanpa menghiraukan mama lagi, aku lekas mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi. Tak sampai 10 menit, aku sudah berpakaian rapi, lengkap dengan bando yang menghias di atas rambut panjang yang kugeraikan. Kuturuni anak tangga dengan langkah cepat. Kuhampiri Ziel diruang tamu yang sudah memasang muka masam.
“lama banget sih lo! Ini udah kesekian kalinya lo terlambat bangun! Gue udah capek nunggu lo” ucap Ziel kesal.
“eh, siapa yang suruh lo buat jemput gue? Gue kan ga nyuruh lo!” balasku galak.
“udah deh, jangan banyak bicara! Mending kita berangkat sekarang aja! lo tau kan, jam segini SMA Pertiwi udah mau mulai jam pelajarannya!”
“ya udah, tunggu sebentar, gue mau pamitan dulu sama mama!”
“ya udah gue tunggu lo di motor ya!”

Tiga menit kemudian, kuhampiri Ziel yang sudah menunggu diatas motornya dengan memakai helm. Ia menyodorkan helm satunnya kepadaku. Aku menerimanya lalu memasangnya diatas kepalaku. Kami pun segera melaju ke jalan raya.

Delapan menit kemudian, aku dan Ziel sudah memasuki halaman parkir SMA Pertiwi. Ziel berhasil mempersingkat waktu berangkat menuju SMA, biasanya jarak dari rumahku ke sekolah adalah 12 menit. Tapi Ziel berhasil mempersingkatnya. Ups! Tapi upaya Ziel mempersingkat waktu perjalan dan untuk mencoba datang tidak terlambat bersamaku percuma.

Aku dan Ziel dihukum menyapu halaman sekolah. Kalau aku sudah biasa melakukan hal ini, karena aku sudah tidak asing lagi dengan kata ‘hukuman’. Aku sudah sering terlambat datang ke sekolah karena alasan bergadang untuk nonton bola. Sedangkan Ziel? Cowok terganteng di SMA Pertiwi itu baru kali ini mendapat hukuman karena datang terlambat. Semua siswa/i SMA Pertiwi melirik aku dan Ziel. Aku tak bergeming mendengar omongan teman-teman sekolahku. Ziel memasang wajah masam. Kutatapi dia dengan alis terangkat. Tak ada percakapan diantara kami selama 5 menit.

“Ziel! Lo kenapa?” akhirnya aku memulai pembicaraan.
“Gue kesel sama lo!” ucapnya ketus.
“Loh, kok gue?!” balasku seraya membulatkan mata.
“Kalau bukan karena lo yang bangun terlambat, pasti gue gak bakal kena hukuman kayak gini! Sumpah deh! Gue malu banget!”
“eh, gue kan gak pernah nyuruh lo buat jemput gue! Gue juga nyesel udah nerima tawaran lo buat pergi sekolah bareng sama lo!”
“Gara-gara lo, gue jadi bahan pembicaraan anak-anak di sekolah ini! Lo tau kan, kalau gua ini orang yang famous! Gue nyesel banget!!” kini suaranya terdengar sedikit lebih keras dan tinggi.

“terus mau lo apa?”
“Gue mau lo gak usah deket-deket gue lagi!”
“Ok, fine. Gue benci lo!!” cetusku dengan nada setengah menjerit.
“Gue lebih benci sama lo! Benci banget!!” balasnya membentak.

Aku kaget melihat perlakuan Ziel yang begitu keras padaku. Tak biasanya ia kesal kepadaku sampai segitunya. Aku menahan tangis dihati. Rasanya sedih sekali melihat orang yang aku sayang berlaku kasar seperti ini. Jujur, sebenarnya aku sudah menyukai Ziel selama 2 tahun belakangan ini. Tapi aku menyembunyikannya. Aku tak ingin terlihat seperti orang bodoh di depan orang yang aku sukai.             kuhempaskan sapu yang kugenggam sedari tadi ke tanah. Aku menahan tangis. Sesak sekali! Aku benci Ziel yang sekarang! Ia berbeda!

“Dari dulu gue tuh ga pernah mau lo jemput! Gue ga mau lo ikut-ikutan terlambat gara-gara gue yang selalu bangun telat, makanya gue ga pernah mau lo jemput! Tapi apa? Tadi pagi tiba-tiba aja lo datang, terus nawarin gue pergi bareng ke sekolah. Apa itu semua masih salah gue? Lo pikirin itu!!” ucapku dengan nada sedikit lebih tinggi. Aku pergi meninggalkan Ziel dihalaman sekolah dengan sapu ditangannya.

Ziel mendeham keras. Tanda ia menyesali perbuatannya padaku. Tapi ia tak mengejarku, ia membiarkan aku berlalu. Aku kesal dengan ziel! Kesal sekali!

Sudah dua minggu berlalu semenjak kejadian di sekolah itu. Selama itu juga aku dan Ziel tak saling bertemu. Bahkan aku dan Ziel tak pernah memberi kabar, untuk meng-sms aku saja ia tak pernah melakukannya. Entahlah. Aku merasa ada yang ganjal dalam kehidupanku. Aku merasa gak bahagia lagi. Semenjak aku dan Ziel tak bicara, aku sering melamun. Jujur, aku merindukan sahabatku yang menjengkelkan itu. Dua minggu belakangan ini dia tak tampak di sekolah. Aku ingin mendatangi rumahnya. Tapi aku tak punya cukup keberanian untuk melakukannya.

Kupandangi jendela kamarku. Kuraih ponselku, kutatapi gambar yang berada di layar handponeku . Asya! Yap, Asya! Dia pasti bisa menolongku. Asya adalah sahabatku dan Ziel. Memang aku bersahabatan dengannya, tapi tak sedekat persahabatnku dengan Ziel. Aku dan Aisya bersahabat sejak aku masuk SMA tahun lalu.

“Dia pasti bisa membantuku! Dia kan tetangganya Ziel juga! Pasti dia tau dimana Ziel sekarang! Aku harus menemuinya!” gumamku dalam hati.

Aku lekas mengambil jaket  berwarna biru langit karena sekarang musim penghujan, cuaca diluar jadi lumayan dingin. Aku berpamitan pada mama, lalu secepat kilat aku berangkat menuju rumah Asya.

Tak sampai 10 menit perjalananku ke rumah Asya. Memang jarak rumahku dan rumahnya tidak terlalu jauh, begitu pun dengan jarak rumahku dengan rumah Ziel. Tok..tok..tok.. kuketuk rumah Asya perlahan. Asya membuka pintu rumahnya. Ia tampak terkejut dengan kehadiranku yang mendadak.

“Ziel dimana?” tanyaku tanpa basa-basi.
“loh, lo datang tiba-tiba kok langsung nanyain Ziel sih?” balas Asya.
“Eh, iya! Sorry deh. Hati gue lagi gak enak nih. Gue lagi cemas!”
“cemas? Ya udah, lo masuk dulu yuk! kita ngomongin ini di dalam.” Aku mengangguk pelan, lalu mengikuti Aisya yang menuntunku ke ruang tamunya.

“Sekarang lo cerita ke gue. Ada masalah apa sih?”tanyanya dengan ekspresi wajah yang masih datar.
Aku kembali menghembuskan nafas pendek. Wajahku kembali lesu.
“Sebenarnya gue sama Ziel lagi berantem”
“What ? Berantem? Kok bisa?” tanyanya penasaran.
“ Gue kesal sama dia karena dia selalu nyalahin gue. Terlebih dia ngebentak gue. Selama dua minggu belakangan ini, gue dan Ziel gak pernah ketemu, gak pernah ada kabarnya juga tuh anak! Gue takut kalau dia bakal marah lebih lama lagi sama gue. Sebenarnya gue udah ga marah lagi sama dia. Malah gue…”
“Malah lo kenapa?” tanyanya dengan alis yang dinaikkan sebelah.
“Malah gue rindu tuh sama sahabat gue yang paling nyebelin itu!” Asya tertawa kecil mendengar ucapanku. Kutatapi dia dengan wajah datar.
“Sya, lo tau dimana Ziel?”

Asya tak bergeming. Entah apa yang dipikirkannya dalam diam. Kutatapi ia, sampai akhirnya ia menghembuskan nafas panjang sebelum berbicara.

“Ziel sekarang sedang sakit!” Aku terkejut mendengar pernyataan Asya.
“Sekarang dia dirumahnya. Dia gak mau dirawat dirumah sakit!” lanjut Asya.             “
Sya, lo serius? sekarang juga lo mesti temenin gue ke rumah Ziel! Please.
” Ucapku memohon.
“ya udah, gue bakal nemenin lo! Kapan kita perginya?”
“Kita perginya kalau 3 monyet udah bisa bilang ‘i love you’ “
“serius?”
“ya enggak lah! Kita pergi sekarang!!”
Aisya menepuk jidatnya. “oalah! Ya udah deh, kita berangkat sekarang!”

Aku dan Asya segera menuju rumah Ziel. Tak perlu waktu lama untuk mencapai rumah Ziel karena rumah Asya tak begitu jauh dari rumah ziel. Kupencet bel rumahnya beberapa kali. Tak ada jawaban. Karena penasaran, aku dan Asya langsung masuk kerumah Ziel tanpa permisi. Saat memasuki rumah Ziel, tujuan utamaku adalah kamar tidur Ziel. Yap! Itu dia! Kamar Ziel. Aku dan Asya memasuki kamar Ziel. Kulihat Ziel yang terbaring lemah diatas kasur bersama infus ditangannya. Mataku sayu melihat kondisinya. Kudatangi dia. Kugoyang-goyangkan tubuhnya. Tapi ia tak bergerak. Kupanggil namanya, tapi ia tak menyahut. Hatiku semakin cemas. Aku takut kalau Ziel harus pergi meninggalkanku begitu cepat.

“Ziel!! Bangun! Jangan nakut-nakutin gue deh!” ucapku putus asa. Masih tak ada jawaban.             “Ziel!! Jangan gini dong! Lo bangun! Gue kesini karena mau minta maaf ke lo! Maaf kalau karena gue, lo dihukum!”
“Ziel, gue sayang lo dan gue suka sama lo! Please, bangun!” ucapku setengah terisak. Tangan Ziel menggenggam erat tanganku. Kutatapi dia. Ia bangun! Ya ampun Ziel bangun! Apa dia mendengar perkataan terakhirku tadi?

“Gue juga sayang lo !” balas Ziel setengah terbata.
“dan gue…” lanjutnya.
“dan lo kenapa?” tanyaku balik.
“dan gue sebenarnya pura-pura sakit! Gue Cuma mau ngetes lo aja! ternyata lo sayang sama gue ya? ecie” ucapnya seraya tertawa terbahak-bahak.
Refleks mataku membulat. Kutatapi wajahnya dengan bingung. Tak mengerti dengan ucapannya.
“maksud lo? Lo gak beneran sakit?”
“iyap! That’s right. Gue udah rencanain ini! Gue dibantu sama si Asya tuh!” balasnya santai.             Kulirik Asya dengan tatapan kesal. Aku kena jebakan batman  kalau begini. Ah, sial! Asya hanya tertawa geli disudut kamar.
“ngomong-ngomong, lo beneran suka sama gue?” tanya Ziel penasaran.
“Iya tuh, Ziel! Si Emiko kiko itu suka sama lo!” cetus Asya.
“ apaan sih lo Sya. Nama gue tuh Emiko, bukan Emiko kiko. Lo kira es!” balasku kesal.
“lo beneran suka sama gue, ko?” tanya Ziel lagi.
Aku tak menjawab, hanya menunduk untuk menutupi wajahku yang sudah memerah. Merah sekali! Aw! Malu banget ketahuan kayak gini! Oh Tuhan, apa aku harus jujur?
“itu.. e.. itu..” ucapku tak karuan.
Ziel tersenyum, menampakkan lesung pipit di kedua sudut bibirnya. “sebenernya gue suka sama lo!” ucap Ziel dengan PD.

Refleks, aku menengadah. Kulihat tatapan Ziel yang begitu tulus. Wajahku kini kembali merah padam! Sangat merah!
“lo serius?” bisikku tak percaya.
“gue serius! Banget malahan!”
“gue juga suka sama lo! Eh!” refleks aku menutup bibirku. OMG! Aku keceplosan! Ya ampun!
“haha, akhirnya lo ngaku juga! Sebenernya gue itu udah suka sama lo sejak 2 tahun yang lalu! Tapi karena kita sahabatan, mana berani gue ngungkapinnya.”
Aku tersentak.
“loh, kita kok sama?! Gue juga suka sama lo sejak 2 tahun yang lalu!”
“uhuk..uhuk.. cie, ada yang lagi kasmaran nih.” Ucap Asya setengah tertawa geli.
“Asya setres! Dari tadi ketawa-ketawa mulu!” balasku. Ziel hanya tertawa kecil.
“ jadi gimana?” tanya Ziel.
Gimana apanya?”
“lo mau gak jadi pacar gue?” Bisik Ziel serius. Spontan aku menjawab iya.

Entahlah, aku memang sedikit ceplas ceplos. Asya langsung bersorak riang, Ziel pun mengikuti Asya. Mereka seperti orang tidak waras saja, loncat kesana kemari. Asya tak henti hentinya memberikan ucapan kepadaku dan Ziel.

“Congratulation  ya, Ziel, Emiko!!! Ziel, ternyata rencana kita berhasil.” “rencana?” tanyaku bingung. “haha, iya rencana buat Ziel nembak lo!” balas Asya.

Aku hanya melirik kearah Ziel sekilas. Ups! Tiba-tiba saja Ziel membisikkan sesuatu kepadaku.

“Besok kan hari Valentine! Gue mau lo tunggu gue ditaman jam 2 siang! Gue bakalan ngasih kado terindah yang gak bakalan bisa orang lain ngasih ke lo!” bisik Ziel.
“ha? Serius? Kalau gitu gue jadi penasaran deh. Gue bakal tagih janji lo!” bisikku lagi.
“ woy, apaan sih tu kok bisik-bisik! Bagi-bagi cerita dong! Mentang-mentang baru jadian, gue diabaikan.” Ucap Asya setengah menjerit.
Aku dan Ziel hanya menggeleng kecil.  Lalu tiba-tiba tawa pecah diantara kami. Aku memandang Asya yang masih tampak bingung dengan kelakuan kami.
“Dasar kepo!” cetus Ziel.

Yaya! Ini sudah jam 2 siang. Aku sedang dalam perjalanan menuju taman. Sekitar 5 meter dari taman, sudah kulihat seorang anak laki-laki seumuranku duduk diatas bangku taman dengan lampu-lampu berbentuk hati di sekelilingnya. Kupanggil dia. Dia menoleh, senyumnya mengembang. Lesung pipitnya kembali menampakkan diri. Aku berjalan perlahan menuju taman, dari arah samping kananku terlihat truk melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tak dapat menghindar. Dan akhirnya BRUK!!!!!!! Aku terhempas sejauh 3 meter. Aku tak merasakan apa pun lagi. Aku hanya melihat darah dan.. Ziel! Dia meneteskan air mata! Aku tak tahu apa-apa lagi. Semuanya gelap!

Alat pendeteksi detak jantungku masih berbunyi. Entah dimana aku sekarang, aku hanya dapat melihat samar-samar. Banyak sekali peralatan medis yang membalut tubuhku. Aku hanya bisa terbujur lemas diatas tempat tidur. Aku tak bisa bergerak, tak bisa bangun, tubuhku terasa nyeri sekali.

“Alhamdulillah, nak! Kamu sadar juga! Sudah 4 hari kamu tak sadarkan diri” ucap mama berlinangan air mata.
“empat jam? Selama itu?” balasku. Mama mengangguk pelan

Kutatapi semua orang. Semua orang yang kusayang hadir, mulai dari mama, papa, Asya dan.. Ziel gak ada! Dia ga hadir buat jengukin aku. Tubuhku semakin lemas, hatiku menjadi layu.

“Ziel mana?” tanyaku serak.
Semua orang yang berada didekatku tak bergeming. Mereka tak menjawab pertanyaanku.

“kenapa malah diam? Ziel mana?! Bawa aku ke Ziel sekarang!” bentakku. Tak ada satupun orang yang bergeming. Aku mencoba bangkit. Tapi aku tak kuat, tubuhku serasa ngilu. Sangat ngilu dan sangat sakit. Sakit ini sungguh menyiksaku.

“jangan paksain diri kamu, nak.” Ucap papa.
“tapi pa, aku mau ketemu Ziel!”
“Sya, Ziel mana? Perasaan dia yang nolongin gue tadi!” lanjutku.
Air mata Asya tumpah begitu saja. Bendungan di matanya ambruk, membuat air matanya meluap.
“Ziel..dia..” ucap Asya terbata.
“iya, Ziel kenapa? Dia dimana?”
“Dia disurga, Ko!” balas Asya terisak.

Aku melotot kearah Asya. Apa maksudnya Ziel berada di surga. Aku tak mengerti dengan semua ini.

“Maksud lo apaan sih? Ini tuh ga lucu tau!
”  Asya terlihat sedang mengatur nafasnya sebelum berbicara kembali.

“Ziel meninggal!” cetus Asya.
“Apa? Ga mungkin! Lo bohong kan, Sya!”
Asya menggeleng, lalu melanjutkan penjelasannya. “Saat lo kecelakaan, keadaan lo itu kritis. Sumsum tulang belakang lo itu patah! Dalam waktu yang begitu singkat lo harus dapat donor sumsum tulang belakang yang cocok. Waktu di test, ternyata sumsum tulang belakang Ziel cocok buat lo! Dia gak mikir-mikir lagi buat ngedonorin sumsum tulang belakangnya. Padahal dia tau resikonya, dia bakalan mati! Tapi dia ga peduli, Ko! Dia rela demi Lo!” jelas Asya.

Aku terdiam. Butiran air mata begitu deras membasahi pipiku. Aku bergemetar hebat, membuatku semakin terisak. Hatiku kini kusut. Kenapa Tuhan? Kenapa dia yang mesti kau bawa ke pangkuanmu duluan. Kenapa bukan aku, Tuhan? Mengapa kau ambil orang yang aku sayang?!

Asya menyodorkan sepucuk surat berwarna pink muda. Kuraih lalu kubaca surat itu. Surat terakhir dari Ziel.

Dear Emiko

Maaf, aku gak bisa nepatin janji.  Soal hadiah itu. kini lo udah ngedapatin itu. masih ingat saat gue bilang kayak gini ‘ Gue bakalan ngasih kado terindah yang gak bakalan bisa orang lain ngasih ke lo.’ Gue gak bohong kan? Terima sum sum tulang belakang dari gue. Itu kado spesial buat lo! Dan perlu lo tau, gak bakalan ada orang yang bakalan bisa ngasih kado sum sum tulang belakang di hari valentine kecuali gue! Pacar baru sekaligus sahabat lo! Gue gak bakalan pergi jauh dari lo! Gue tuh ada di diri lo! Menyangga tubuh lo!  Gue sayang lo selamanya, my girlfriend and my bestfriend. Inget gue terus, sayang..

Ziel

Aku semakin terisak membaca surat itu. tak ada yang dapat menghentikanku untuk meluapkan kekecewaan pada diriku  sendiri. Oh Tuhan! Terimakasih telah membiarkanku sempat berada disampingnya selama 5 tahun. Tapi waktu 5 tahun gak cukup, Tuhan! Kenapa engkau tidak mengizinkan aku berada di sampingnya saat detik-detik terakhir dalam sisa hidupnya. Aku belum bisa menerima kenyataan ini, Tuhan.

Sudah 2 jam lebih aku terpaku di makam itu. Menatap Nisannya. Tertulis nama Ziel dan tanggal kematiannya, 14 februari di sana. Air mataku kembali meleleh.  Sudah 3 tahun lamanya ia meninggalkanku. Aku belum bisa menemui orang seperti dia di dunia ini. Sang bayu kembali melilit tubuhku. Scarfku terbang dibawa sang bayu. Aku menjongkok di sebelah makamnya, bersanding disebelahnya, lalu kupanjatkan do’a.

“Terimakasih Ziel. Makasih buat kado terindah itu. sum-sum tulang lo yang dicangkokin ke tubuh gue bakal gue jaga baik-baik. Ini kado terindah. Makasih, makasih banyak! Makasih udah nemenin gue selama 5 tahun. Semua kenangan kita it, ga bakal gue lupain kok! Dan jujur, gue rindu lo!” ucapku tersenyum tipis.

Kutebarkan kembang yang sempat kubeli di perjalan kemakam tadi. Setelah itu, aku meninggalkan Ziel. Aku meninggalkan makam itu. Lebih tepatnya pulang kerumah. Karena aku tak akan pernah meninggalkan Ziel.  Ziel selalu bersamaku di setiap waktu. Aku pasti akan kembali ke makam itu. Pasti! Itu janjiku Ziel!